PERIHAL NASKAH “SIDANG SUSILA”

Berbincang Bareng Ayu Utami dan Agus Noor

BAGAIMANA sesungguhnya sebuah ide bergulir dan berkembang dalam produksi teater? Obrolan ini barangkali bisa memberikan ilustrasi bagaimana ide pertunjukan Sidang Susila berkembang. Sejak dari mula gagasan dalam kepala penulisnya hingga kemudian menyosok dalam panggung pertunjukan. Lewat email, Ayu Utami dan Agus Noor, duo yang menuliskan Sidang Susila, mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut:Bisa jelasin, gimana proses penulisan lakon Sidang Susila?

Ayu Utami: “Naskah Sidang Susila saya tulis karena gemes sama perkembangan RUU Pornografi dan Pornoaksi. RUU ini sekarang masih digodok oleh pemerintah, karena DPR telah menyerahkannya keayu.jpg pemerintah. RUU ini sangat konyol sehingga kalau diterapkan secara harafiah dia bisa menyeret tukang jual mainan anak-anak ke meja hijau dengan tuduhan pornografi. Sebab, segala hal dalam RUU ini bisa dianggap membangkitkan syahwat. Misalnya, ada aturan bahwa orang dilarang melakukan gerakan yang menyerupai tindakan bersetubuh atau masturbasi. Lha, cara orang bersetubuh dan masturbasi kan lain-lain. Nanti push up dikira menirukan persetubuhan. Kan gawat. Karena itu, saya menekankan hal-hal konyol dari RUU ini dalam naskah Sidang Susila.”

Agus Noor: “Saya sebenarnya cuman “menulis ulang” naskah Ayu yang sudah jadi. Begini awal-mulanya: Butet pingin pentas monolog, aku bilang, “Tet, sesekali kamu mainan naskah ‘orang lain’, pasti menarik”. Kan selama ini Butet cenderung memainkan naskah-naskah yang ditulis ‘temen-temen yang tumbuh di lingkungan komunitas yang sama’, seperti saya atau Indra Tranggono… (Catatan: meski sesungguhnya Butet pernah pula memainkan lakon monolog Racun Tembakau karya Anton Chekov, penulis Rusia). Nah, saat itu Ayu merespon, dan mau menulis naskah lakon itu. Seperti yang dikatakan Ayu, naskah itu merespon soal RUU Pornografi dan Pornoaksi itu. Seperti biasa, kami mendiskusikannya, dan saat proses latihan terasa benar kalau naskah Ayu ini akan lebih ‘nendang’ bila diwujudkan dalam repertoar teater, dan kami memikirkan agar Gandrik yang melakonkan. Atas ide itulah, saya menulis ulang naskah Ayu yang sudah jadi. Dalam proses penulisan itulah gagasan dasar Ayu saya kembangkan, setidaknya agar memenuhi standrar dramaturgi dan dramatik lakon teater. Karena sebenarnya “tugas saya” ada di situ: agar lakon ini lebih ndrama – begitu istilah temen-temen Gandrik. Semangat awal yang dituangkan Ayu tetap menjadi semangat lakon Sidang Susila ini…”

Semangat apa itu?

Agus Noor: “Semangat untuk melihat sesuatu persoalan sosial secara kritis, tetapi tak kehilangan kejenakaannya. Nah, seperti kata Butet, ini sangat Gandrik banget. Dan itu yang terasa dalam naskah Ayu. Ibaratnya, Sidang Susila ini sebuah komedi satir yang getir…”

Ayu Utami: “Ya, Sidang Susila adalah komedi. Komedi itu lucu jika terjadi di panggung. Tapi, ingat, dia berbahaya sekali jika terjadi dalam sidang peradilan di kehidupan yang sebenarnya.”

Agus Noor: “Dan itulah yang dihadirkan dalam panggung: bagaimana bila Undang-undang Susila itu dilegalkan, dan menjadi satu-satunya kebenaran moral.”

Apa sebenarnya yang diinginkan dengan semua penggambaran itu dalam lakon?

Ayu Utami: “(Setidaknya) agar orang bisa melihat kekonyolan dari proses pembuatan hukum yang sekarang terjadi di negeri ini.”

Dan bagaimana Teater Gandrik memproses lakon ini?

Ayu Utami: “Pokoknya, saya telah menyerahkannya pada Gandrik. Saya percaya pada Gandrik dan teman-teman untuk menyesuaikannya dalam gaya mereka.”

Agus Noor: “Setiap kelompok teater, saya kira memiliki otoritas untuk menafsir naskah lakon ini. Begitu pun dengan Gandrik. Bagaimana pun Gandrik adalah kelompok teater yang sudah tumbuh dengan ‘konsep artistik’ yang diyakininya. Dengan seluruh perangkat artistik yang dimilikinya itulah, Gandrik menafsir naskah lakon ini. Mentransformasikannya dari ‘jagat teks‘ ke ‘jagat panggung‘. Penulis, biasasaya cukup berdiri di pinggir panggung. Jadi teman diskusi. Sesekali nemenin latihan, sekadar untuk agus-noor-3.jpgmenjadi kawan berdiskusi untuk menafsir dan mengembangkan bagian-bagian yang memang perlu dikembangkan. Karena dalam proses latihan itu pun, sesungguhnya naskah akan selalu berkembang. Dan karenanya, ketika sudah mewujud dalam panggung, itulah hasil dari tafsir kreatif Teater Gandrik. Penulis sudah susut di belakang panggung.”

Ayu, ini kan boleh dibilang naskah lakon pertama yang kamu tulis. Apa menariknya bila dibanding saat kamu menulis novel, misalnya…

Ayu Utami: “Naskah Sidang Susila lebih merupakan kerja politik daripada kerja kesenian, buat saya. Dan kerja untuk perjuangan adalah kerja bersama. (Sementara) dalam novel, saya tidak terlalu keras dengan pendapat dan ideologi saya sendiri. Saya feminis, misalnya, tapi novel saya bisa tidak tampak feminis. Dalam menulis Sidang Susila, sikap saya sangat jelas. RUU Pornografi seperti yang kita ketahui adalah kekonyolan besar.

18 Responses to “PERIHAL NASKAH “SIDANG SUSILA””


  1. 1 perca Februari 20, 2008 pukul 7:34 am

    aku mau nonton ah!
    berapa ya harga tiketnya?

  2. 2 perca Februari 20, 2008 pukul 7:36 am

    aku mau nonton ah
    berapa harga tiketnya?

  3. 3 basori Februari 20, 2008 pukul 5:21 pm

    Ger, gimana kalau kamu bikin script untuk whani, aku dan kamu..pleret boleh gabung tapi kru, dewo pengantar acara saja dijamin lebih seru dari sidang susilo…

  4. 4 desy Februari 22, 2008 pukul 10:14 pm

    Pyiiuuh tak terperikan bagaimana perjuangan untuk bisa sampai di TIM pada gladi bersih pementasan Gandrik. Hujan deras tiba2 mengguyur Jakarta tepat ketika motorku meluncur ke jalan. Anjriit.

    Tapi perjuangan basah kuyup tiba di GBB tidak sia-sia. Aku tidak hanya senang dan terhibur, tapi penampilan TG memuaskan dahaga pada sebuah pementasan teater yang “gandrik” banget hehehehe.

    Haduuuh, jadi pengen ke Jogja lagi. Kangen maen teater kampus lagi, maen musik etnik lagi, berpentas di kafe, di kampus-kampus….

    Mas Agus kenal orang2 di Komunitas Suling Bambu Jogja???

  5. 5 MAZ PLERED Februari 26, 2008 pukul 6:36 pm

    yang mau lebih tahu tentang Agus Noor “Jeger “, silahkan hubungi aku. selain tinggi, romantis, lembut. Jeger juga tidak pernah sombong, dermawan, dan suaranya kalo nyanyi… Ahmad Dhani Lewat..Once ?, apalagi..selain jago nulis. dia juga jago joget nyanyi Ndangdut. lagu andalannya adalah : mandul, malem terakhir dan jandaku……..Nga..ngkaaaaaaaaaaaaaaaat !!!

  6. 6 jenny Februari 27, 2008 pukul 11:00 am

    kapan pentas di surabaya?

  7. 7 [D2R3D2] Maret 2, 2008 pukul 9:29 pm

    sayang saia ndak nonton T-T, jadi ndak bisa berkomentar lebih
    jauh lagi hehehe
    pokoknya jangan lupa bertandang ke web saia ya kak
    http://greater-love.blogspot.com
    dan jangan lupa untuk sekedar mampir dan berkomentar ^-^
    saia tahu puis-puisi saia masih kacangan amat sangat belum pantas
    untuk dibukukan dan diperjualbelikan walau hanya di iDea hahahaha
    pokoke jangan sampai MU kalah dech…

    “Ger, gimana kalau kamu bikin script untuk whani, aku dan kamu..pleret boleh gabung tapi kru, dewo pengantar acara saja dijamin lebih seru dari sidang susilo…
    >>> wah mas pleret sang pasukan katak dan
    mas dewo sang rapper kawakan <<

  8. 8 Agustinus Suyoto Maret 28, 2008 pukul 2:52 am

    Mau tanyaa nih.. Apakah ada rekaman pentas SIDANG SUSILA. Kalau ada, gimana cara mendapatkannya. Soalnya saya membutuhkan sekali rekaman itu untuk pembelajaran di kelas. Terima kasih sebelumnya.

  9. 9 agusnoorfiles April 7, 2008 pukul 4:51 pm

    Tunggu, ya, semoga saja bisa diproduksi rekaman cd/vcd-nya. Kalo emang nanti sudah diproduksi, nanti saya woro-woro lewat blog ini

  10. 10 LieCute Maret 31, 2009 pukul 7:35 am

    Boleh ga ya kalau saya mementaskan Sidang Susila?
    dari Bandung

  11. 11 agusnoorfiles Maret 31, 2009 pukul 9:53 am

    Silakan….silakan…dengan senang hati…

  12. 12 LieCute April 6, 2009 pukul 3:01 am

    syarat-syarat untuk dipentaskan bagaimana ? Kerjasamanya bagaimanas ?

  13. 13 agusnoorfiles April 6, 2009 pukul 8:02 am

    Silakan bila hendak mementaskan “SS” ini. Tinggal memberitahukan saja Tak perlu lapor RT/RW atau membawa surat keterangan untuk ngambil BLT dan lain-lain…

  14. 14 LieCute April 7, 2009 pukul 8:13 am

    Ok dech!!!
    hha…..

  15. 15 wied Desember 9, 2009 pukul 7:05 am

    kediri kapan ditontoni gandrik om ?


  1. 1 NGOBROL BARENG BUTET DAN DJADUK SEPUTAR “SIDANG SUSILA” « Agus Noor_files Lacak balik pada Mei 14, 2008 pukul 3:17 pm
  2. 2 NASKAH “SIDANG SUSILA” « Agus Noor_files Lacak balik pada Mei 20, 2008 pukul 2:52 pm
  3. 3 - TEATER GANDRIK KEMBALI PENTASKAN “SIDANG SUSILA” « Agus Noor_files Lacak balik pada Desember 7, 2008 pukul 7:44 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: