– PAROUSIA

Selalu menyenangkan saat tulisan kita diapresiasi pembaca. Seorang penulis yang sinis sempat berkata, “Barangkali itulah kebahagiaan – satu-satunya kebahagiaan – buat penulis dinegeri ini!”. Adakah hal lain yang membahagiaan seorang penulis? Karenanya, email dari Pater Budi Kleden yang menanggapi cerpen saya “Parousia” yang muncul di Kompas, 23 Desember 2007 lalu, pun membuah saya bahagia. Ia menyebut antara lain, bahwa cerita itu “inspiratif dan jeli”, yang disusul dengan satu nada gundah menyangkut tema cerita itu, yang menggambarkan “dunia iman” di abad-abad depan. “Ya, menjadi pemikiran kita semua, apa jadinya dunia, masyarakat, juga dan terlebih dengan institusi-institusi keagamaan nanti. Namun tentu kita tidak hanya tenggelam dalam kecemasan, tetapi terus memanfaatkan semua peluang yang ada sekarang untuk melakukan seseatu yang baik”. Langkah indahnya: sesuatu yang baik. Bukankah itu, yang saat ini, sulit kita temui dalam kehidupan kita?

Cerpen “Parousia” saya tulis ketika berada di Ledalero, ketika saya menghadiri Festival Ledalero. Sebuah kota sepi namun hangat, yang inspiratif, dan membuat saya ingin kembali lagi: untuk menulis. Inilah cerpen “Parousia” itu…

imagessalib-1.jpg

PAROUSIA
Cerpen Agus Noor

PADA malam Natal tahun 3026, aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Aku keluar dari cangkang kesunyianku. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Tak ada bintang, dan langit hanya basah. Di kulitku yang licin, udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells mengalun dari juke box di etalase hypermarket, seperti rintihan kesepian. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik mendesing lalu-lalang di jalanan. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di trotoar. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Kota dimana bertahun-tahun lampau, dalam kehidupanku yang lain, aku pernah begitu menyintainya.

Dulu aku memang berharap, aku ingin dilahirkan kembali di kota ini, tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Aku tak pernah mengerti, kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin mereka butuh hiburan. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Apabila melihat aku lagi berjalan, orang-orang akan menghentikanku. Memberiku moke,i yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mereka tertawa-tawa melihat aku menari-nari. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Biasanya, mereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku.

Berapa dua ditambah dua?”

Tujuh” jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.

Mereka tertawa.

Kalau tiga ditambah empat”

Tujuh” jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.

Dan mereka kembali tertawa.

Dasar idiot!”

Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Mungkin karena mulutku yang peyot. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Mungkin karena itulah orang-orang melihatku dengan jijik. Aku ingat, bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila melihatku memasuki halaman rumah mereka. Aku tak mengerti, kenapa orang-orang tak memperbolehkan aku masuk rumah mereka. Padahal, bila ada ular masuk ke pekarangan, mereka tak pernah mengusirnya. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Bila ada ular masuk ke rumah, mereka selalu memberi telur atau sejumput beras buat ular itu. Alangkah menyenangkan jadi ular. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang banyak berkeliaran di kota ini. Aku sering bertemu ular-ular itu. Di ladang, di pinggir jalan, di pepohonan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan, dan semua kendaraan yang lewat berhenti. Kurasakan, betapa orang-orang lebih menyukai ular ketimbang diriku.

Dari omongan orang-orang (yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku fahami) aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Mereka percaya: ular-ular itulah leluhur mereka. Ketika mula dunia tercipta, ketika bumi masih rapuh, kabut bagaikan putih telur, ketika batu masih berupa buah muda, saat tanah masih serupa kuntum yang ranum, ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau.ii Leluhur yang selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Sejak itulah aku mulai berkhayal, betapa enaknya jadi ular. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi ular. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular.

Aku mendesis, takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Kerlap-kerlip pohon Natal menjulang di tengat-tengah plaza. Lampu-lampu aneka warna menerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Seingatku, sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan, juga beberapa rumah kayu sederhana. Dulu, setiap hari, aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini, yang berkelok turun menuju bukit kecil. Kini terentang jalan layang, dan jembatan penyeberangan yang bagai digantungkan begitu saja di udara. Mestinya, di pojokan itu ada sebuah gereja. Tapi di situ, kini aku melihat sebuah mal yang megah. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa menganga menghisap orang-orang yang lalu-lalang. Cahaya seperti telah menyihir kota ini dan membuatku tak mengenalinya lagi.

Kudengar lonceng gereja. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku suka berjalan mengililingi kota, karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Aku senang dan merasa tenang bila mendengar suara lonceng gereja yang mengapung mengetarkan udara senja. Dulu, kota ini penuh dengan gereja. Kota dengan seribu gereja. Kudengar kembali gema lonceng itu, seperti memanggilku. Aku merayap menyebangi jalan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan.

Ular! Ular!”

Kulihat orang-orang beringsut ketakutan, menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Meski terkejut dengan reaksi mereka, aku mencoba tak panik. Aku teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular leluhur mereka. Tapi kudengar seseorang berteriak, “Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat.

Instingku merasakan bahaya, dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Terdengar suara-suara tong ditendang. Aku begitu ketakutan, menghilang dalam kegelapan. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan.

Ssttt… Cepat sini…” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. “Cepat sembunyi sini…”

Aku memandanginya ragu. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Ia mengulurkan tangan, memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan sampah. “Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong…” Ia berkata sambil mengelus kepalaku.

Kupandangi mata gadis itu, seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini.

Dengan tangannya yang mungil, gadis itu memungutku. Aku merasa nyaman dalam dekapannya. Kemudian ia berjalan mengendap-endap, menjauhkan aku dari orang-orang yang kudengar masih memburuku. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Di belakangku, cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi, kulihat gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Kulihat rosario itu menyala kemerahan, memancarkan sulfur cahaya. Di tentengnya rosario itu seperti ia menenteng lentera. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui – lorong yang berkelok-kelok, membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian.

Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh, berdesakan dan bau tengik.

Kita sampai,” kata gadis cilik, sambil menurunkanku dari dekapannya. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Kulihat puluhan ular, ratusan ular, mendesis-desis menatapku.

KUDENGAR lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Aku diam melingkar di pojokan, menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Aku merasa asing, meski aku bisa segera mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu, reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata, juga bayangan bukit-bukit di kejauhan, dimana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan.

Dan seperti menyusuri ingatan, aku merayapi jalanan kota ini, belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Aku kemudian tahu, bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu, hanya dipisahkan oleh kenangan. Lorong dimana dulu gadis cilik itu membawaku, adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Tapi ular-ular yang kutemui selalu mengingatkan, agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul di kota itu. Cara mereka mengingatkanku, seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik bagi ular macam kami adalah di kota ini

Di kota ini, kami – ular-ular – memang dibiarkan berkeliaran. Para penduduk memberi kami sisa makanan mereka, meski kadang busuk dan berjamur. Sering kami duduk-duduk dekat anak-anak, saat mereka berkumpul mendengarkan orang tua mereka mendongeng. Aku sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan, terdengar seperti tengah menyanyikan kesedihan. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan terpinggirkan dari kota. Ketika kota mempercantik diri. Ketika bangunan-bangunan bertingkat mulai dibangun. Ketika banyak gereja diruntuhkan, untuk diganti dengan mal-mal. Pada saat itulah, sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu, membawannya masuk ke dalam kabut kesunyian. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Mereka memunguti puing kota lama yang dihancurkan kemajuan. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka, dengan nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Dan ular-ular mengikuti mereka, karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Di kota yang remang dalam ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Dan pada malam hari mereka memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit.iii

Aku belajar menyintai kota ini. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan, seakan-akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Kami bercaka-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Ia bercerita, bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk mencapai kota di seberang sana. Aku menemukannya tak sengaja, katanya. Dulu aku sering pergi lewat jalan itu, kalau aku mau menjual rosario. Dulu, bila menjelang Natal, kami memang sering berjualan rosario. Kami mesti menjualnya diam-diam. Sebab bila ketahuan, kami bisa ditangkap petugas keamanan. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu, berjualan biji-biji embun dan bermacam daun, rempah-rempah dan artefak kenangan, menjualnya di lapak trotoar, tetapi selalu diusir. Ia kemudian mengatakan, kalau sekarang ia makin sulit menjual rosario. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas, tetapi karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Sudah lama, anak-anak di kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Padahal rosario buatan kami luar biasa. Kamu sudah melihatnya, kan?

Aku mendesis mengangguk. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Aku pernah melihat, bagaimana rosario itu dibuat. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Salib itu menjulang, tapi terlihat rapuh, dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil, dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Itulah selang yang dipakai untuk menampung airmata Kristus. Dalam keremangan, salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Para penduduk di kota ini menampung airmata Kristus, yang mereka percaya, pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Kadang airmata itu menetes bening. Kadang merah serupa darah. Butiran airmata itulah yang kemudian mereka kumpulkan, untuk diuntai jadi rosario. Kemudian di jual. Aku ingat, gadis cilik itu pernah berkata padaku. “Begitulah, dulu kami bertahan: dengan menyadap airmata Tuhan…”

Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu, aku juga penduduk kota ini.

Wow, siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu,” teriaknya riang.

Tidak. Aku tidak menikah, kataku.

Kamu Pater?”

Aku mendesis tersenyum. Dulu aku idiot. Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot.

Tapi aku suka kamu!”

Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap-kejap. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St. Paulus yang sering kudatangi dulu.

Kau tahu,” katanya, “itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri, boleh jadi sebagai tugu kenangan.

Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Ah, ia memang gadis yang usil dan nakal, tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Kita bisa diam-diam ke sana, katanya.

Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian, gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu, katanya. Ketika ia berjalan, ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan menentramkanku. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Kami keluar dari gorong-gorong, tepat di belakang gereja. Dari dalam keranjang anyaman, samar-samar bisa kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Pasti mereka mengusir kami…

Puji Tuhan, kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam gereja. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. Kusaksikan ruangan yang remang, seperti rongga semesta. Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Terdengar syahdu dan megah. Cahaya terasa ultim, dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar.

Sampai kemudian aku menyadari, betapa sunyi gereja ini. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal, tenyata. Di dekat altar, kulihat stereo set diputar untuk mengumandangkan nyanyian puji-pujian. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Mataku nanar melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong.

Ledalero, 2006.

Catatan:

iNama tuak/minuman keras lokal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.

ii Disitir, dan ditulis ulang, dari syair tradisi yang mengisahkan penciptaan alam semesta, versi Krowe-Sika.

iii Dikutip, dan ditulis ulang, dari puisi “Ibu yang Tabah” karya Joko Pinurbo.

5 Responses to “– PAROUSIA”


  1. 1 raisa Maret 28, 2008 pukul 10:31 am

    wah Om Agus baik sekali !
    komenku bisa-bisanya dibalas!
    jadi malu deh…
    hikhikhik.
    oke deh, Om.
    kapan- kapan ke Aceh ya Om biar kita
    bisa berbagi ilmu.
    selamat ya masuk pena kencana award.
    cerpen si Om aku bacain sama anak
    murid aku loh!

  2. 2 eronian Desember 18, 2008 pukul 10:21 am

    salam kenal mas agus. bahasa tuan begitu mengalir. mencegahku untuk berhenti membaca di tengah cerita. satu kata untukmu, tuan. hebat.

  3. 3 Tarsis Januari 9, 2010 pukul 6:11 pm

    Cerpennya indah nian, seolah2 bener2 terjadi. Mengingatkan diriku akan si Wanto, penghuni ttp ledalero yg baru dipanggil Tuhan. Wanto, berisitirahatlah dalam damai abadiNya. terima kasih buat Sang Pujangga yg bisa mengaktualkan kenangan ledalero dlm sebuah wacana imaginasi tapi serasa real dan hidup… Maju Terus, ditunggu karya2nya selanjutnya…

  4. 4 agusnoorfiles Januari 10, 2010 pukul 11:21 am

    Semoga arwah Wanto diterima di sisi Tuhan, di Rumah Paling Indah nun di sana. Ya, kisah itu, memang akan membuat saya selalu ingat akan Wanto, yang sempat sejenak saya kenal, dan menginspirasikan saya menulis kisah itu…

  5. 5 sil Juli 2, 2010 pukul 7:54 am

    Pak Agus,

    Kisah hidup Wanto pernahku saksikan sebentar saja. Semoga Sang Khaliq menerima Wanto dalam damai abadi kandunganNya.
    Tetapi bebas aku mengartikan cerita ini. Air mata ibu dan Kristus bagaikan air hujan yang jarang mengunjungi Flores dan NTT pada umumnya. Orang Flores and NTT, bagiku, menggantungkan hidup mereka pada rahmat Sang Khaliq. Terkadang datang terkadang terasa nun jauh, pikir budi manusia Flores dan NTT. Terima kasih atas cerita yang begitu menarik – parousia. Menjadi idiot tidak diterima, menjadi ular pun cukup melarat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Lebih Banyak Foto

Catagories of Files


%d blogger menyukai ini: