Arsip untuk Januari, 2008

– “SIDANG SUSILA” TEATER GANDRIK DI TIM

poster-sidang-susila.jpg

Sidang Susila, repertoar Teater Gandrik akan dipentaskan pertama kali di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada tanggal 21-23 Februari 2008. Sebuah lakon satir tentang kehendak memonopoli kebenaran moral melalui Undang-undang Dasar Susila, yang ditetapkan sebagai satu-satunya azaz moral negara. Naskah lakon ini ditulis oleh Ayu Utami dan Agus Noor. Disutradarai oleh Butet Kartaredjasa. Penata musik: Djaduk Ferianto, dkk. Dengan para pemain antara lain: Susilo Nugroho, Butet Kartaredjasa, Whani Darmawan, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto, Sepnu Nugroho, Jujuk Prabowo. Penata Artistik: Ong Harry Wahyu

– PAROUSIA

Selalu menyenangkan saat tulisan kita diapresiasi pembaca. Seorang penulis yang sinis sempat berkata, “Barangkali itulah kebahagiaan – satu-satunya kebahagiaan – buat penulis dinegeri ini!”. Adakah hal lain yang membahagiaan seorang penulis? Karenanya, email dari Pater Budi Kleden yang menanggapi cerpen saya “Parousia” yang muncul di Kompas, 23 Desember 2007 lalu, pun membuah saya bahagia. Ia menyebut antara lain, bahwa cerita itu “inspiratif dan jeli”, yang disusul dengan satu nada gundah menyangkut tema cerita itu, yang menggambarkan “dunia iman” di abad-abad depan. “Ya, menjadi pemikiran kita semua, apa jadinya dunia, masyarakat, juga dan terlebih dengan institusi-institusi keagamaan nanti. Namun tentu kita tidak hanya tenggelam dalam kecemasan, tetapi terus memanfaatkan semua peluang yang ada sekarang untuk melakukan seseatu yang baik”. Langkah indahnya: sesuatu yang baik. Bukankah itu, yang saat ini, sulit kita temui dalam kehidupan kita?

Cerpen “Parousia” saya tulis ketika berada di Ledalero, ketika saya menghadiri Festival Ledalero. Sebuah kota sepi namun hangat, yang inspiratif, dan membuat saya ingin kembali lagi: untuk menulis. Inilah cerpen “Parousia” itu… Lanjutkan membaca ‘– PAROUSIA’

– Potongan Fragmen “SIDANG SUSILA”

Inilah bocoran dari naskah Sidang Susila, yang akan di pentaskan Teater Gandrik!

Mulai tanggal 21 Februari 2008, Teater Gandrik akan mementaskan lakon Sidang Susila. Naskah lakon ini ditulis oleh Ayu Utami dan Agus Noor. Sebuah kolaborasi estetis yang cukup memikat, mengingat keduanya merupakan dua penulis papan atas Indonesia. Teater Gandrik sendiri merupakan kelompok yang bermastuatin di Yogyakarta, dan telah menghasilkan beberapa repertoar yang menjadi bagian sejarah teater Indonesia. Ciri khas dari kelompok Teater Gandrik ialah pola teater sampakan, yang mengolah jagat pemanggungan sebagai bangunan dramatik yang serius tetapi juga main-main dalam pemahaman semangat teater rakyat.

Latihan awal “Sidang Susila” Teater Gandrik
Sidang Susila merupakan lakon bergaya satir seputar rezim yang ingin memonopoli kebenaran moralitas. Rezim Moral itu berkeyakinan bahwa proyek moral mesti diselenggarakan untuk mencapai ketertiban moral. Untuk itulah diperlukan Undang-undang Dasar Moral Negara. Ketika undang-undang tersebut ditetapkan, maka monopoli dan penguasaan atas kebenaran moralitas pun menjadi cara untuk menangkapi para warga yang dianggap mengganggu stabilitas moral negara. Nah, salah satu warga yang dianggap tidak bermoral itu adalah Susila. Dia menjadi orang yang dianggap sebagai “penjahat moral” pertama yang ditangkap dan disidangkan.

Kira-kira begitu inti ceritanya.

Ssssstttt…

Ada juga bocoran yang pasti menarik: lakon Sidang Susila ini juga akan disutradarai oleh Butet Kartaredjasa. Wow! Jelas menarik, kan? Butet yang selama ini lebih banyak tampil sebagai aktor, kini “naik derajatnya” jadi: sutradara. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Butet jadi sutradara teater. Sebelumnya ia juga pernah menyutradarai lakon Inspektur Agung (karya Nicolas Gogol) bersama Teater Paku. Ada satu hal lagi yang menarik: pada Sidang Susila ini, Butet juga akan memerankan satu karakter tokoh yang menarik… (Tahu gak, sepanjang karier keaktorannya, baru kali inilah Butet memerankan karakter sebagaimana di Sidang Susila ini! Tapi, Maaf, untuk sementara belum bisa dibocorkan). Penasaran, kan? Makanya, jangan sampai lewatkan pertunjukan ini.

Tapi kalau pingin tahu bocoran naskah Sidang Susila, sudah diijinkan. Simak saja petikan fragmen dari lakon tersebut di bagian berikut. Sebuah fragmen yang menggambarkan bagaimana Susila disidang sebagai pesakitan moral. Lanjutkan membaca ‘– Potongan Fragmen “SIDANG SUSILA”’

– A Full Moon Rising over the Town

tuk-wp.jpgForce Majeure” merupakan tema Utan Kayu International Literary Biennale tahun 2007. Pada event sastra itu, para sastrawan dari pelbagai Negara bertemu dan membacakan karya-karyanya. Datang, antara lain Arup Kumar Dutta (India), Chris Keulemans (Netherlands), Cyril Wong (Singapura), Edmundo Paz Soldan (Bolivia), Feryal Ali-Gauhar (Pakistan), Gassan Zaqtan (Palestine), Hau Yu-hsiang (Taiwan) Hassan Daoud (Lebanon), Idanna Pucci (Italy), Jerome Kugan (Malaysia), Kimberly M. Blaeser (USA), Sam Wagan Watson (Australia), Sharanya Manivannan (India), Shin Joon Seun (South Korea), dll. Sementara sastrawan dari Indonesia antara lain Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Shindunata, Darmanto Jatman, Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Agus Noor dan beberapa nama lainnya.

Pada Utan Kayu International Literary Biennale itu, Agus Noor tampil membawakan repertoar pendek yang didasarkan atas cerpennya Purnama di Atas Kota. Terjemahan cerpen tersebut, A Full Moon Rising over the Town, bisa dibaca di sini:
Lanjutkan membaca ‘– A Full Moon Rising over the Town’

– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008

Pada saya datang satu surat, dari Panitia Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen saya, ujar surat itu, terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008. Anugerah Sastra Pena Kencana, sebagaimana dinyatakan dalam surat, ialah penghargaan yang diberikan kepada cerpen-cerpen (dan juga puisi) yang telah dipublikasikan dalam satu kurun waktu lewat. Tahun 2008 merupakan kali pertama anugerah ini dilaksanakan, dan disebutkan rencananya akan diselenggarakan setiap tahun. Pada setiap tahun itulah, akan dipilih 20 cerpen (yang dianggap terbaik), dan 100 puisi (yang juga dianggap terbaik) yang terbit di media masa Indonesia. Pada penjurian kali ini, media masa yang menjadi sumber pemilihan ialah: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Pontianak Pos, Lampung Pos, Fajar, Bali Pos.

Begitulah, para juri, yang komposisinya adalah Budi Darma (selaku ketua juri), Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, dan Sitok Srengene, memilih cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang terbit di koran-koran itu, untuk disuling menjadi 20 Cerpen Terbaik dan 100 Puisi Terbaik.

Baiklah, tiada salah bila saya kutipkan satu frase yang ada dalam surat, untuk menjelaskan kenapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini diadakan. “Tujuan penyelenggaraan anugerah ini antara lain untuk memberikan penghargaan… sebagai pengakuan kualitas akan karya cipta sastra”. Tentu, terdengar gagah. Tak apalah. Toh itu niat mulia. Sebagai seorang penulis, sesungguhnya saya tak terlalu antusias dengan hal-hal semacam itu. Bukan penghargaan berupa hadiah yang penting, tetapi penerimaan masyarakat pembaca itulah yang selalu menumbuhkan elan kreatif seorang penulis (setidaknya bagi saya) untuk terus meyakini dunia yang dipilihnya, bahwa apa yang dikerjakannya juga merangsang energi keatif orang lain, dan karena itu tidaklah terlalu merasa sia-sia.

Satu hal yang menarik dari Anugerah Pena Kencana ini, cerpen-cerpen (dan puisi-puisi) yang terpilih itu kemudian dibukukan (oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama), lantas para pembaca diberi kesempatan untuk memilih cerpen yang mereka sukai. Mungkin mirip-mirip Indonesian Idol, gitu lah – minus kirim-kiriman SMS kali. Secara tekhnis saya tak tahu persis, tetapi setelah dibukukan dan diterbitkan, panita akan memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih mana cerpen yang mereka sukai atau mereka anggap baik. Dari 20 cerpen dalam buku itu, akan dipilih 1 cerpen yang dianggap terbaik menurut para pembaca.

Saya menganggap hal itu menarik, karena saya memang percaya pada pembaca sastra kita, sebagaimana saya nyatakan sebelumnya. Karena di haribaan pembacalah, sesungguhnya dinamika sastra kita menemukan relevansinya. Apalagi ketika dunia sastra kita minus kehadiran kritikus sastra.

Apa yang telah dilakukan oleh PT. Kharisma Pena Kencana, sebagai penaja dan penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana, tentu saja patut kita apresiasi. Apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang diupayakannya dengan melibatkan pembaca, semoga akan semakin membuat pertembuhan sastra di negeri yang belum terlalu menghargai sastra ini menjadi lebih menyegarkan.

Selain saya, saya belum tahu, siapa saja penulis yang cerpen (atau puisi)-nya masuk Anugerah Sastra Pena Kencana. Jadi, saya pun belum tahu, karya-karya yang mana saja yang termaktub dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan terbit Februari 2008 ini.. Tapi saya bisa menyertakan di sini, cerpen saya, “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi” (di Koran Tempo Minggu, 8 April 2007), yang terpilih sebagai satu diantara 20 Cerpen Terbaik itu. Anda, bisa membaca selengkapnya cerpen tersebut berikut ini, dan siapa tahu Anda akan tergoda memilih cerpen ini sebagai cerpen terbaik: Lanjutkan membaca ‘– ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008’

– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor

Seseorang datang dengan banyak pertanyaan. Kami memang sudah berjanji, sore itu. Dan percakapan membawaku pada suatu periode kepenulisanku. Aku seperti kembali meniti waktu dan imaji. Harum kopi, uapnya yang hangat, percakapan-percakapan ringan, mendadak berbaur dengan lesatan kengerian yang pernah memenuhi mimpi dan jagaku. Dulu. Pada suatu waktu yang gelisah. Untuk itulah, aku mesti mengucapkan terimakasih pada Arwi, seseorang yang mengajakku bercakap-cakap sore itu. Ia, tiba-tiba, menyodorkan buku lamaku, Memorabilia, yang saya sendiri sudah tak punya copy-nya.

Darinya pula, satu artikel lama yang ditulis oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU., bisa kubaca kembali. Meski aku termasuk orang yang senang menyimpan kenangan, terus terang, aku bukanlah orang yang rapi menyimpan catatan, arsip atau foto-foto lama dan sejenisnya. Karenanya, aku merasa benar-benar beruntung, ketika Arwi memperlihatkan catatan yang ditulis Pak Bakdi – begitu aku biasa memanggil – Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada itu, ketika membahas kumpulan cerpen Memorabilia-ku.

Aku sering menyebut periode ini sebagai periode eksplorasi untuk menghadirkan apa yang sering kusebut sebagai “estetika kekerasan”. Atau suatu konvensi “estetika mual”, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam tulisannya itu. Estetika kekerasan dan memualkan seperti itu, memang memiliki akar yang cukup lama dalam sastra kita. Sejak Rendra, bahkan Chairil Anwar sebelumnya. Seperti yang ditulis Bakdi Soemanto ini: “…hal-hal yang ‘memualkan’ sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang daam sastra Indonesia. Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian!”

memo2-wp.jpgItulah periode kepenulisanku yang sering ditandai dengan pergulatan tema absurdisme dan surealisme, dengan pemerian narasi yang dipenuhi imaji kekerasan dan kekejaman. Itu memang sebuah zaman yang penuh kengerian, sesuatu yang sesungguhnya terus menyelusup dalam alam bawah sadarku, dan juga alam sadarku. Seperti sore itu, ketika menikmati kopi dengan Arwi, saat menguar aroma kopi yang lembut: aku seperti mencium aroma daging manusia terbakar yang legit dan gurih. Sore menjadi lebih indah, dan ganjil. Arwi, lelaki yang andai saja aku perempuan pasti akan membuatku jatuh cinta, seperti hantu gosong yang muncul dari masa lalu. Mengingatkanku pada cerita-cerita dalam Memorabilia. Sebuah periode kepenulisanku yang dengan bagus telah dipaparkan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘– “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Januari 2008
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Catagories of Files