Posts Tagged 'cerpen Agus Noor'

- HARI BAIK UNTUK PENIPU

Sengaja, saya memposting cerita ini, tepat pada tanggal 20 Oktober 2014 ini, saat pelantikan presiden baru. Selamat membaca.

 

gambar22

 

HARI BAIK UNTUK PENIPU

Cerpen Agus Noor

 

HIDUP mengajarkan padanya, seberuntung-beruntungnya orang beruntung, masih lebih beruntung penipu yang beruntung. Namun ia juga tahu, penipu yang baik tak hanya mengandalkan keberuntungan, tapi mesti pintar memanfaatkan setiap kesempatan.

Kini ia sedang berada di puncak keberuntungannya sebagai penipu. Ia tersenyum menatap wajahnya di cermin. Jangankan orang lain, dirinya sendiri sering kali merasa tertipu setiap melihat wajahnya sendiri. Barangkali aku memang ditakdirkan menjadi seroang penipu yang baik, batinnya. Lalu ia teringat sebuah cerita yang pernah didongengkan ibunya semasa kanak-kanak. Lanjutkan membaca ‘- HARI BAIK UNTUK PENIPU’

- PENYAIR YANG JATUH CINTA PADA TELEPON GENGGAMNYA

PENGANTAR: Cerita pendek ini sebelumnya dimuat di Kompas Minggu, 21 September 2014. Cerita pendek ini juga akan disertakan sebagai salah satu cerita di buku saya yang akan segera terbit Cerita Buat para Kekasih bulan November 2014 ini. Selamat menikmati….

 

telepon genggam penyair

 

 

 

PENYAIR YANG JATUH CINTA PADA TELEPON GENGGAMNYA

 

1.

 

KARENA tak ingin dianggap kampungan dan ketinggalan jaman, maka ia pun memutuskan untuk membeli telepon genggam. Sebagai penyair, ia merasa perlu tampil bergaya. Apalagi saat ini penyair dekil dan miskin sudah tak lagi mendapat tempat dalam pergaulan. Maka penyair kita tercinta ini pun mulai rajin menabung duka, honor yang didapat dari puisi-puisi yang ditulisnya. Lumayan, setelah cukup banyak duka diperoleh, ditambah hutang sana-sini pada teman-temannya, akhirnya penyair kita pun bisa membeli telepon genggam.

Telepon genggam bekas, tentu saja. Itu pun model lama. Sudah rusak keypad-nya. Dan ngadat huruf-hurufnya. Kalau memencet huruf “a” yang muncul di layar huruf “k”. Bahkan kadang-kadang sama sekali tak muncul hurufnya. Tapi penyair kita tetap bangga. Maklum, telepon genggam itu barang mewah pertama yang sanggup dibeli dengan seluruh kepedihannya.

Dengan penuh gaya, segera ia melepon kesana-kemari. “Halo, kamu siapa? Ini handphone baru saya. Apa kamu bisa dengar suara saya?” Begitulah sepanjang hari ia menelepon siapa saja, ke nomer rumah sakit, nomer panji pijat, nomer yang serampangan dicomotnya dari Yellow Pages, sampai ke nomer-nomer yang hanya ada dalam khayalannya. Meski telepon genggam itu tak ada pulsa.

“Tak apa tak ada pulsa,” batinnya, “yang penting kini aku sudah bisa bergaya. Apa gunanya jadi penyair, kalau tidak bergaya!”

Lanjutkan membaca ‘- PENYAIR YANG JATUH CINTA PADA TELEPON GENGGAMNYA’

- MATINYA SEORANG DEMONSTRAN

foto10

PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya. Lanjutkan membaca ‘- MATINYA SEORANG DEMONSTRAN’

- SEORANG WANITA & JUS MANGGA

DSC00018

KAU akan mengenali wanita dari caranya mengupas buah-buahan. Setelah menyelesaikan cerita ini, kau akan mengerti apa yang kumaksudkan.

Ia menatapku, sambil pelan-pelan mengupas mangga. Matanya lebih berkilat dari pisau di tangannya. Gerakan tangannya yang mengupas kulit mangga begitu senyawa dengan nafasnya. Ia mengupas penuh penghayatan. Perhatikan, katanya, beginilah cara terbaik mengupas kepala orang yang kau cintai. Bisakah kau bayangkan, kesakitan seperti apa ketika kulit kepalamu perlahan-lahan dikelupas?

Aku tertawa.

“Suatu hari, mungkin aku akan menguliti kepalamu, seperti aku mengupas mangga ini,” katanya. “Aku akan memulainya dari ubun-ubunmu…” Lanjutkan membaca ‘- SEORANG WANITA & JUS MANGGA’

- ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI

samadi

ADA kisah yang selalu diingat dengan gemetar oleh orang-orang kampung Jatilawang setiap menjelang Ramadhan. Bukan kisah tentang nabi-nabi. Tapi wabah ulat bulu.  Malapetaka bertahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di kampung itu. Mereka mati dengan cara paling mengerikan. Ditangkap dan diseret ke pinggiran hutan jati, sebagian ditembak, digorok atau dihajar kepalanya hingga remuk dengan batang kayu jati. Tak ada anak yang tak menjadi yatim atau piatu setelah pembantaian itu. Kekejian memang tak pernah bisa dilupakan. Lanjutkan membaca ‘- ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI’

- NYONYA FALLACIA

 

 

NYONYA FALLACIA

Cerpen Agus Noor

Rumah itu seperti kutil di wajah cantik. Menyebalkan, dan ingin secepat mungkin membuangnya. “Bila rumah itu di singkirkan, maka gerbang perumahan kita akan terlihat bersih,” Nyonya Li, dengan suaranya yang cempreng, mengatakan itu saat kami berkumpul. Sudah lama memang kami sebal dengan rumah itu. Letaknya persis di sisi gerbang masuk perumahan. Bayangkan, bila gerbang itu sebuah hidung yang mancung dan indah, rumah itu seperti kutil  yang nangkring tepat di ujungnya.

Sebenarnya, bila saja rumah itu terawat, tentu tidak terlalu membuat kami jengkel. Tapi rumah itu selalu tampak misterius. Banyak yang percaya rumah itu angker. Ilalang tumbuh liar, temboknya kusam penuh lumut dan kelekap. Tumpukan daun kering yang berserakan di halamannya tak pernah tersapu. Sering orang-orang melihat ular merayap keluar dari sana. Kami membayangkan puluhan kalajengking dan kelabang hidup di bawah batu dan akar pepohonan yang tumbuh rimbun menjulang di halaman rumah itu. Ada pohon sawo kecik tepat di tengah-tengah, terlihat seperti payung gelap dan tua bila malam hari, dan banyak yang percaya pohon sawo kecil itu menjadi tempat tinggal jin dan genderuwo. Bila kami pulang malam hari, mau tak mau kami harus melewati rumah itu, yang selalu tampak gelap. Rumah itu terlihat seperti rumah yang dihuni puluhan hantu. Dan kami selalu merinding melewatinya. Lanjutkan membaca ‘- NYONYA FALLACIA’

- KURMA KIAI KARNAWI

KURMA KIAI KARNAWI

Cerpen Agus Noor

TUBUH orang itu menghitam — nyaris gosong — sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.

Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan — astagfirullah — puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”

Keesokan harinya, orang itu sudah bugar. Lanjutkan membaca ‘- KURMA KIAI KARNAWI’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
November 2014
S S R K J S M
« Okt    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 420 pengikut lainnya.