Posts Tagged 'cerpen Agus Noor'

- MATINYA SEORANG DEMONSTRAN

foto10

PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya. Lanjutkan membaca ‘- MATINYA SEORANG DEMONSTRAN’

- SEORANG WANITA & JUS MANGGA

DSC00018

KAU akan mengenali wanita dari caranya mengupas buah-buahan. Setelah menyelesaikan cerita ini, kau akan mengerti apa yang kumaksudkan.

Ia menatapku, sambil pelan-pelan mengupas mangga. Matanya lebih berkilat dari pisau di tangannya. Gerakan tangannya yang mengupas kulit mangga begitu senyawa dengan nafasnya. Ia mengupas penuh penghayatan. Perhatikan, katanya, beginilah cara terbaik mengupas kepala orang yang kau cintai. Bisakah kau bayangkan, kesakitan seperti apa ketika kulit kepalamu perlahan-lahan dikelupas?

Aku tertawa.

“Suatu hari, mungkin aku akan menguliti kepalamu, seperti aku mengupas mangga ini,” katanya. “Aku akan memulainya dari ubun-ubunmu…” Lanjutkan membaca ‘- SEORANG WANITA & JUS MANGGA’

- ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI

samadi

ADA kisah yang selalu diingat dengan gemetar oleh orang-orang kampung Jatilawang setiap menjelang Ramadhan. Bukan kisah tentang nabi-nabi. Tapi wabah ulat bulu.  Malapetaka bertahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di kampung itu. Mereka mati dengan cara paling mengerikan. Ditangkap dan diseret ke pinggiran hutan jati, sebagian ditembak, digorok atau dihajar kepalanya hingga remuk dengan batang kayu jati. Tak ada anak yang tak menjadi yatim atau piatu setelah pembantaian itu. Kekejian memang tak pernah bisa dilupakan. Lanjutkan membaca ‘- ULAT BULU & SYEKH DAUN JATI’

- NYONYA FALLACIA

 

 

NYONYA FALLACIA

Cerpen Agus Noor

Rumah itu seperti kutil di wajah cantik. Menyebalkan, dan ingin secepat mungkin membuangnya. “Bila rumah itu di singkirkan, maka gerbang perumahan kita akan terlihat bersih,” Nyonya Li, dengan suaranya yang cempreng, mengatakan itu saat kami berkumpul. Sudah lama memang kami sebal dengan rumah itu. Letaknya persis di sisi gerbang masuk perumahan. Bayangkan, bila gerbang itu sebuah hidung yang mancung dan indah, rumah itu seperti kutil  yang nangkring tepat di ujungnya.

Sebenarnya, bila saja rumah itu terawat, tentu tidak terlalu membuat kami jengkel. Tapi rumah itu selalu tampak misterius. Banyak yang percaya rumah itu angker. Ilalang tumbuh liar, temboknya kusam penuh lumut dan kelekap. Tumpukan daun kering yang berserakan di halamannya tak pernah tersapu. Sering orang-orang melihat ular merayap keluar dari sana. Kami membayangkan puluhan kalajengking dan kelabang hidup di bawah batu dan akar pepohonan yang tumbuh rimbun menjulang di halaman rumah itu. Ada pohon sawo kecik tepat di tengah-tengah, terlihat seperti payung gelap dan tua bila malam hari, dan banyak yang percaya pohon sawo kecil itu menjadi tempat tinggal jin dan genderuwo. Bila kami pulang malam hari, mau tak mau kami harus melewati rumah itu, yang selalu tampak gelap. Rumah itu terlihat seperti rumah yang dihuni puluhan hantu. Dan kami selalu merinding melewatinya. Lanjutkan membaca ‘- NYONYA FALLACIA’

- KURMA KIAI KARNAWI

KURMA KIAI KARNAWI

Cerpen Agus Noor

TUBUH orang itu menghitam — nyaris gosong — sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.

Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan — astagfirullah — puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”

Keesokan harinya, orang itu sudah bugar. Lanjutkan membaca ‘- KURMA KIAI KARNAWI’

- KELEPAK SAYAP JIBRIL

AKU tengah duduk di kafe di sebuah mall membunuh kejenuhan dengan secangkir cappuccino ketika sayup-sayup berdesir bunyi kelepak, lembut di telinga. Aku mendongak, melihat bayangan langit pada kubah kaca yang dipenuhi pohon-pohon kurma dan unta dengan kafilah di punggungnya, bergelantungan di besi-besi konstruksi yang dicat warna-warni. Kulihat unta-unta itu bergoyangan, bagai ada tangan yang menyentuhnya.

Kelepak itu! Jelas mendesir di sela keriuhan celoteh gadis-gadis, alunan lagu yang bersliweran dari tiap counter, jerit anak-anak minta mainan dan kemerosak HT satpam. Kelepak itu, kelepak itu, mengingatkanku pada Kakek, ketika suatu malam tergesa-gesa membangunkanku. Lanjutkan membaca ‘- KELEPAK SAYAP JIBRIL’

- BAYI BERSAYAP JELITA

Selamat beribadah puasa, bagi yang menjalankan. Cerpen ini, mungkin cocok dengan suasana Ramadan. Muncul di Jawa Pos, Minggu 15 Agustus 2010 ini. Saya menuliskannya dengan perasaan khidmat pada sastrawan Danarto. Teringat, saat saya menjenguknya, takala ia jatuh sakit kena serangan jantung. Saat melihatnya terbaring di rumah sakit, saya seperti menjenguk ke kedalaman kolam cerita yang bening dan hening. Dari sanalah inspirasi datang…

Lanjutkan membaca ‘- BAYI BERSAYAP JELITA’

- CERITA TENTANG OTOK

Ini prosa lama saya, yang terhimpun dalam buku Memorabilia. Saya postingkan di sini, karena buku itu sudah sulit didapat. Prosa ini setidaknya bisa memberi sedikit gambaran “seperti apa orientasi estetis kepenulisan saya” pada periode Memorabilia itu. Salam, Agus Noor

GERIMIS megiris kesunyian. Tiris. Otok rebahan di amben, mencoba menikmati keletik atap seng, seperti musik gaib yang membuatnya ditangkup rasa kantuk. Sementara dari kejauhan suara kucing kedinginan sayup mengeram, membuatnya membayangkan seseorang yang penat dan gelisah ingin bersetebuh. Situasi seperti ini –  sore dengan gerimis riwis-riwis sementara hawa panas masih menguar berkitaran dalam kamar — memang gampang membuat orang berpikiran mesum. Otok jadi ingat Atun. Alangkah enaknya kalau ada Atun. Ia bisa kelon. Mengirup bau keringatnya yang apak, tapi selalu membuatnya terangsang. Belakangan ini Atun memang sudah jarang mampir. Otok dengar, dia mulai gandeng bareng Solihan. Hubungannya dengan Atun memang mulai dipenuhi pertengkaran. Atun kerap mendesaknya untuk segera menikah, padahal ia masih merasa belum siap. Apakah orang pacaran memang mesti menikah? Ah, sebodo amat dengan Atun! Mau kawin, kawinlah sono. Bikin anak sebanyak-banyaknya kayak marmut. Nggak perlu mikir mau jadi apa mereka kelak. Lanjutkan membaca ‘- CERITA TENTANG OTOK’

- BUKU BARU AGUS NOOR + TANDA TANGAN PENULISNYA

Buku terbaru Agus Noor, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang Pustaka, 2010) sudah terbit. Pingin dapat buku itu yang bertanda tangan penulisnya? Lanjutkan membaca ‘- BUKU BARU AGUS NOOR + TANDA TANGAN PENULISNYA’

- Cerpen Agus Noor di Pena Kencana 2010

Panitia Pena Kencana mengirim email, memberitahukan kalau cerpen saya “Mawar di Tiang Gantungan” terpilih masuk dalam Cerpen Indonesia Terbaik Pena Kencana 2010. Ini tahun ke-3, cerpen saya berturut-turut masuk. Lanjutkan membaca ‘- Cerpen Agus Noor di Pena Kencana 2010′


Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Juli 2014
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 377 pengikut lainnya.