Ini ada acara menarik: pementasan dan launching buku “Presiden Guyonan” Butet Kartaredjasa. Dijadwalkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 26 November 2008. Pukul 20.00 WIB. Kebetulan ajah aku bantu-bantu ngeditorin buku itu, dan nyiapin pertunjukannya. Ini buku kumpulan kolom Butet, dan beberapa penampil akan mendukung menghadirkannya di panggung, seperti Dian Sastro, Slamet Rahardjo, Djaduk Ferianto dan Orkes Sinten Remen. Awal November ini kalian udah bisa nyari bukunya, pasti dapet. Asal nggak nyari di toko obat.
Halaman Arsip 4
- “PRESIDEN GUYONAN” BUTET KARTAREDJASA
Diterbitkan Oktober 30, 2008 Buku 6 CommentsTags: Butert Kartaredjasa, Dian Sastro, Djaduk Ferianto, Presiden Guyonan, Slamet Rahardjo
- 6 FIKSI MINI
Diterbitkan Oktober 28, 2008 Cerpen 7 CommentsTags: Fiksi Mikro, Fiksi Mini, Flashlit, Micro Fiction
– Untuk Meltarisa
Sebutir Debu
Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.
Anjing
Ketika mendapati dirinya berubah jadi anjing, ia merasa itu kejadian paling membahagiakan dalam hidupnya.
Misteri Mutilasi
Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke tepi kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.
Dongeng Romeo & Juliet
Akhirnya Romeo dan Juliet menenggak racun bersama. Dan mereka pun bahagia selama-lamanya.
Wajah Seorang Pembunuh
Ia menggambar wajah. Ia merasa sangat mengenalinya. Itu wajah yang bertahun lalu membunuhnya.
Bayi
Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.
- PRESIDEN KITA TERCINTA – Sebuah Lakon
Diterbitkan Oktober 28, 2008 Teater 5 CommentsTags: Drama, naskah teater, Presiden Kita Tercinta
Saya baru saja menyelesaikan naskah lakon “Presiden Kita Tercinta”. Lumayan menyita waktu saya proses penulisan drama itu, tentu di samping kesibukan saya yang lain, hingga blog ini agak terbengkalai. Lakon ini, rencananya, akan dipentaskan tahun 2009 nanti. Kisahnya seputar penggulingan seorang Presiden, dan kemudian terjadi kesibukan untuk mencari penggantinya. Siapa yang tepat jadi Presiden? Begitulah, intrik-intrik pun terjadi. Untuk pemanasan, saya turunkan bagian dari lakon itu. Bagian ketika proses pemilihan Presiden itu berlangsung dalam kemeriahan. Ini dia petilannya. Lanjutkan membaca ‘- PRESIDEN KITA TERCINTA – Sebuah Lakon’
- PEMBURU
Diterbitkan September 16, 2008 Cerpen 9 CommentsTags: Cerpen, cerpen religius, MASTERA, Pemburu, Roslan Jomel
Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra HORISON, diantara sepuluh cerpen yang terbit di majalah itu sepanjang tahun 1990-2000. Roslan Jomel, kawan penulis di Malaysia, mengabarkan kalau cerpen ini baru saja dimuat di suplemen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di majalah Dewan Sastera (yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia), bulan Agustus 2008 ini.
Cerpen Agus Noor
SERINGKALI Andini membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menentramkan.
“Sungguh, Jos! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Aku akan bangkit dengan bergairah, membuka jendela, dan seketika aku menjelma burung kolibri…” Andini bicara sembari memegangi gelas fruit punch yang sedikit gemetar dalam gengamannya, kemudian mengarahkan pandangannya pada lembah yang terjamah basah, menghindari tatapan Joesephine. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”
Josephine, yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”
“Kenapa?” Lanjutkan membaca ‘- L’ABITUDINE’
- CERITA YANG MENYERAP RUPA
Diterbitkan Agustus 11, 2008 Esai 4 CommentsTags: Add new tag, Cerpen, ilustrasi cerpen Kompas
CERPEN dan seni rupa memperoleh ruang pertemuan kreatif yang cukup intens sejak Kompas melibatkan para perupa untuk menggarap ilustrasi cerpen yang dimuatnya. Bahkan Eddy Soetriyono, penyair yang juga pemerhati seni rupa, menegaskan betapa hal itu telah menyebarkan “virus” penciptaan di kalangan para perupa, dimana muncul kegairahan untuk merujuk karya-karya sastra sebagai sumber kreatif penafsiran dan penciptaan lukisan. Sejak mula, sebagaimana diharapkan Bre Redana, pelibatan para perupa untuk menciptakan ilustrasi cerpen memang diharapkan akan menciptakan suatu pertemuan gagasan antara penulis cerpen dengan perupa.
Maka, sejak 2002, kita melihat bagaimana para perupa telah mengeksplorasi ide dan tekhnik perupaan ke dalam ruang cerita pendek. Selama itu pula kita melihat upaya penafsiran atas teks yang dilakukan oleh perupa. Satu hal, yang kemudian dicatat oleh Bambang Bujono (dalam pengantar Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas, 2002), menandai pergerakan yang cukup progresif seputar hakekat “ilustrasi”, karena baanyak karya-karya yang dihasilkan oleh para perupa itu memang tidak sekadar berhenti menjadi ilustrasi dari teks cerita. Para perupa, lebih menempatkan cerita sebagai sumber ide kreatif penciptaan, untuk kemudian diwujudkan melalui gagasan-gagasan visual yang sering kali mengejutkan, menjauh dari teks cerita itu, karena gambar-gambar itu sekan-akan “meloncat keluar meninggalkan sastra”, tegas Bujono. Lanjutkan membaca ‘- CERITA YANG MENYERAP RUPA’
- CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK
Diterbitkan Juni 27, 2008 Uncategorized 31 CommentsTags: Budi Darma, Cerpen Kompas, Cinta di Atas Perahu Cadik, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Sapardi Djoko Damono, Seno Gumira Ajidarma
Ayo kirim komentar, dan aku akan kasih 2 buku sebagai hadiah buat kalian?
Penganugerahan Cerpen Kompas Pilihan tahun 2008 ini telah berlangsung, dan sebagaimana aku kira, cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik milik Seno Gumira Ajidarma, terpilih sebagai yang terbaik. Selamat. Aku, akhirnya bisa datang ke acara itu, sambil diam-diam merayakan ulangtahunku, dan lalu malamnya… (hhmmm, rame dech).
Dua juri, yang tahun ini adalah Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami, memilih 15 cerpen. Lampu Ibu (Adek Alwi), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Koh Su (Puthut EA), Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Sinai (F. Dewi Ria Utari), Belenggu Salju (Triyanto Triwikromo), Bigau (Damhuri Muhammad), Lak-uk Kam (Gus tf Sakai), Candik Ala (GM Sudarta), Tukang Jahit (Agus Noor), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), dan tentu cerpennya Seno itu.
Apayang menarik dari buku itu? Lanjutkan membaca ‘- CERPEN KOMPAS PILIHAN: CINTA DI ATAS PERAHU CADIK’
Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?
Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu. Lanjutkan membaca ‘- DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA’
- SEPAKBOLA: MEMBERI MAKNA PADA YANG FANA
Diterbitkan Juni 19, 2008 Surat 1 CommentTags: Manchester United, Piala Eropa 2008, Rinus Michels, sepakbola, Theatre of Dream, Zinadine Zidane
Surat Agus Noor
Kau bertanya, “Kenapa kamu bisa begitu tergila-gila pada sepakbola? Apa yang kau dapat darinya?” Baiklah. Kutuliskan ini buatmu. Tidak agar kau memahami. Tetapi setidaknya supaya kamu bisa sedikit merasakan kegembiraanku…
Sepertinya, ada yang hilang dalam Piala Eropa 2008. Drama! Saya sangat setuju dengan pendapat Robert Coover, bahwa ada “sifat teater” dalam permainan bola. Lapangan adalah panggung, dan pertandingan adalah alur dramatik berdurasi 2×45 menit plus injury time. Setiap pertandingan menjadi menarik karena menampilkan drama yang berbeda, ketegangan dan suspens yang berbeda. Sifat teater itulah yang membuat sebuah pertandingan akan semakin menarik bila memenuhi aspek dramatik di dalamnya. Dan itu, yang sampai saat tulisan ini dibuat, terasa hilang di panggung Piala Eropa kali ini. Barangkali, karena belum memasuki babak knock out. Babak hidup mati yang bisa berujung pada “tragedi”. Dan tragedi, kita tahu, adalah pencak ekstase dari pertunjukan teater. Lanjutkan membaca ‘- SEPAKBOLA: MEMBERI MAKNA PADA YANG FANA’
- UNDANGAN CERPEN KOMPAS PILIHAN 2007
Diterbitkan Juni 18, 2008 Uncategorized 8 CommentsTags: Bentara Budaya Jakarta, Cerpen Pilihan Kompas, Triyanto Triwikromo
Seperti telah jadi tradisi tahunan, Kompas kembali memilih cerpen-cerpen terbaik pada tahun 2008 ini. Undangan untuk menghadiri malam Penganugerahan Cerpen Terbaik Kompas 2008, sudah saya terima. Dari desain undangan itu, saya sebenarnya sudah bisa menduga: siapa yang menang cerpen terbaik tahun ini. Tapi, sebagaimana biasanya, Kompas nampaknya memang ingin berahasia, dengan tidak mengungkapnya lebih dulu. Maka, saya pun menghormati itu, dengan tidak menuliskan lebih dulu dugaan saya.
Makanya, ketika kawan Triyanto Triwikromo mengirim sms, “Hayo, cerpen siapa yang ada kisah ikan pausnya? Itulah cerpen terbaiknya… Liat ajah desain undangannya”, saya hanya senyum-senyum. Lalu kubalas, “Oke, saya akan baca cerpen itu…” Dugaan Triyanto pun tak beda dengan saya. Tapi, baiklah, cerpen siapa yang jadi cerpen terbaik, biarlah nanti terungkap setelah malam penganugerahan itu. Yakni, hari Kamis, 26 Juni 2008, sekitar jam tujuh malam, di Bentara Budaya Jakarta. Aneh juga, sebab biasanya acara pemberian hadiah cerpen Kompas itu dilaksanakan setiap tanggal 28 Juni, bertepatan dengan ulang tahun Kompas.
Karena kali ini diadakan tanggal 26, maka kemungkinan saya nggak bisa datang. Soalnya, tanggal itu adalah tanggal ulang tahun saya. Dan saya, sudah merancang acara bersama kawan-kawan dekat, untuk merayakannya.














Comments of Files