<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Noor_files</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Apr 2009 18:24:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4a8cd90482d104293b36c5cdcbce672e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Noor_files</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>- Lima Alasan Kenapa Mesti Nonton “Keluarga Tot” Teater Gandrik</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/04/10/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/04/10/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 18:24:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Tot]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Gandrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Teater Gandrik akan mementaskan lakon komedi Keluarga Tot di Jakarta (TIM, 17-20 April 2009) dan Yogyakarta (Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 April 2009). Inilah wawancara dengan Butet Kartaredjasa seputar lakon dan pementasan itu, dan lima alasan kenapa kita harus menonton pertunjukan ini.

 

- Gandrik sepertinya memang &#8220;hidup lagi&#8221;, maksudnya ada energi yang membuat Gandrik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=390&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Teater Gandrik akan mementaskan lakon komedi <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/16/%E2%80%9Ckeluarga-tot%E2%80%9D-teater-gandrik/" target="_self"><em>Keluarga Tot</em></a> di Jakarta (TIM, 17-20 April 2009) dan Yogyakarta (Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, 29-30 April 2009). Inilah wawancara dengan Butet Kartaredjasa seputar lakon dan pementasan itu, dan lima alasan kenapa kita harus menonton pertunjukan ini.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-391 alignright" title="keluga-tot-fb" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/04/keluga-tot-fb.jpg?w=199&#038;h=300" alt="keluga-tot-fb" width="199" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span id="more-390"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- <em>Gandrik sepertinya memang &#8220;hidup lagi&#8221;, maksudnya ada energi yang membuat Gandrik jadi produktif setelah pementasan Sidang Susila kemarin. Ini bila dibandingkan periode sebelumnya, dimana setelah pentas Gandrik butuh jeda yang panjang untuk pentas kembali. Kira-kira apa yang menyebabkan?</em></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya selalu mengharapkan pementasan Gandrik harus diawali adanya dorongan &#8220;kebutuhan bersama&#8221;. Bukan kebutuhan orang per orang. Bahwa nyatanya, teman-teman Gandrik &#8212; yang tua dan yg muda &#8212; menunjukkan gairah untuk berproduksi <em>after</em> &#8220;Sidang Susila&#8221;, harus saya yakini bahwa semuanya itu disebabkan adanya &#8220;kebutuhan bersama&#8221; itu. Entah apa itu. Mungkin macem-macem motifnya. Mungkin ada yang motifnya menemukan kembali kegembiraan kreatif ala Gandrik, ada yang memaknai sebagai terapi kesehatan, ada yang meyakini teater sebagai ikhtiar mengartikulasikan pikiran, ada yang bermaksud melakukan pengembaraan artistik, ada yg berniat mengenal dan mempelajari estetika Gandrik, ada yang ingin menguji kemampuan keaktoran, juga barangkali ada yang ingin berbagi pengalaman untuk sebuah proses regenerasi. Yang pasti, kesemuanya itu bisa diartikan sebagai &#8220;kebutuhan bersama&#8221;, sehingga semua bisa memberikan dedikasi secara iklhas terhadap proses penciptaan. Penciptaan kolektif dimana semuanya berlomba untuk memberikan kontribusi kreativitas.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- <em>Bisa diceritakan sedikit tentang lakon &#8220;Keluarga Tot&#8221; ini? Setidaknya kenapa Gandrik merasa tertarik untuk mementaskannya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Salah satu kritik yang kerap dilontarkan kepada Gandrik adalah dominasi pada guyonan verbalnya, sehingga terkadang cenderung mengabaikan sastra lakon.<span> </span>Padahal ada kekuatan dalam sastra lakon yang juga menarik untuk dieksplorasi secara serius, dan itu ditemui dalam <em>Keluarga Tot</em>. Setidaknya, dengan mementaskan lakon ini, akan menjadi semacam tantangan bagi Gandrik, untuk mendapatkan pengalaman baru dalam penjelajahan penciptaan tontonan komedi sebagaimana selama ini digumuli. Pasti akan unik jika Gandrik menjajal berjenaka-ria dengan disiplin yang berbeda. Menurut saya, pertemuan antara tradisi teater realis yang musti cermat dengan sastra lakon yg juga kuat, dengan tradisi gojekan Gandrik yang selalu ber-&#8221;guyon parikeno&#8221; &#8212; akan menghasilkan sesuatu yang menarik. Baik bagi penontonnya, dan terutama bagi para pelakonnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- Mengingat ini adalah lakon &#8220;asing&#8221;, lakon yang ditulis oleh orang di luar komunitas Gandrik, apa yang menarik dari proses ini. Setidaknya apakah proses itu kemudian juga memperkaya dramaturgi Gandrik?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bener banget. Dengan bahan baku (naskah) yang tak lazim dalam tradisi Gandrik, dan komitmen untuk &#8220;bersetia&#8221; pada sastra lakonnya, &#8212; pastilah akan memperkaya pengalaman Gandrik. Minimalnya, para aktornya akan mencicipi model guyonan yang lain. Dan semakin menyadari bahwa pertunjukan teater bukan sekadar bentuk pemanggungan kritik verbal, bukan hanya untuk memanen tawa, bukan cuma pameran keindahan seni peran &#8212; tapi juga penghormatan terhadap teks sastra dan pencermatan kepada karakter yang dilakonkan. Kalau pun ada tawa atau kelucuan, itu adalah karena situasi dan karakter-karakternya. Mudah-mudahan ini juga menjadi kesadaran atas &#8220;kebutuhan bersama&#8221; untuk terus membuat Gandrik dinamis itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- Anda menyebut soal adanya &#8220;kebutuhan bersama&#8221; setiap Gandrik manggung, tapi pada sisi lain juga ada penghayatan yang berda dalam prosesnya. Ini memperlihatkan bahwa Gandrik sesungguhnya tidak homogen, tapi ada banyak personil dengan orientasi yang tak sama. Mungkin ini yang menarik untuk diketahui publik; bagaimana gandrik mengelola heterogenitas di dalamnya, terutama saat proses&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Perbedaan orientasi dan motivasi dari para personelnya bukannya tak disadari. Justru karena disadari, maka berproses di Gandrik akhirnya bukan semata-mata belajar hal-hal yang bersifat artistik, tetapi juga belajar kesabaran&#8230;hua ha ha&#8230; Kerennya, belajar berdemokrasi, meskipun itu terkadang melelahkan dan menjadi tidak efisien. Kesadaran menghilangkan otoritas &#8220;sutradara&#8221; atau “penguasa tunggal”, dan menggantinya dengan partisipasi banyak orang serta memperkuat fungsi <em>trafick</em>, mungkin merupakan salah upaya untuk menjaga heterogenitas itu. Ini dalam konteks proses kreatif. Hal lain, di sektor organisasi, barangkali adanya kesadaran berkesenian secara lebih rileks, tidak <em>mbentoyong</em>, transparansi dalam semua hal, dan tetap menjadikan guyonan sebagai semangat pergaulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mungkin yang perlu diketahui, sekarang ini pimpinan Gandrik bukan saya lagi. Tapi Heru Kesawa Murti. Ini keputusan rapat awal tahun 2009. Jadi kekuasaan diupayakan beredar. Meskipun ganti pimpinan, harapannya, hal ini tidak mengganggu proses kreatif. Karena kepemimpinan itu lebih disebabkan kebutuhkan sebuah organisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- Mumpung sekarang lagi anget soal Pemilu yang katanya adalah proses demokrasi. Mungkinkah, apa yang terjadi dalam Gandrik itu bisa dijadikan semacam model pembelajaran bagi proses demokrasi?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jelas, sangat mungkin diadopsi. Terutama kesadaran untuk selalu menertawakan setiap kecenderungan megalomania. Jika dalam Pemilu kita melihat banyak caleg yg <em>ge-er</em> merasa dirinya penting, megaloman abis, dalam tradisi Gandrik yang begituan pasti akan jadi obyek guyonan. Berdemokrasi bukanlah ngotot dan ambisi untuk jadi penguasa, melainkan kesediaan untuk bersabar, belajar mendengar, dan bekerja keras dalam kolektivitas secara ikhlas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- Lumayan sedikit kelompok teater yang berumur panjang. bagaimana kemampuan Gandrik dalam mengupayakan memperpanjang umurnya?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Merawat atmosfer kreatif dalam semangat kejenakaan, dan melakukan kegiatan secara produktif. Dan itu tak harus berupa pementasan. Heru Kesawa, misalnya, mulai menggagas bikin kelas pelatihan seni peran untuk publik, semacam jual jasa pelatihan. Melihat perkembangan terakhir interaksi Gandrik-tua dengan Gandrik-muda, saya optimis transformasi &#8220;roh&#8221; Gandrik bisa berlangsung dengan baik. Soalnya, berteater di Gandrik bukan sekadar akting dan pencapaian artistik, tetapi juga dihidupi oleh &#8220;roh&#8221; itu. Aku nggak tahu apa rumusan tentang &#8220;roh&#8221; itu. Mungkin semacam spirit teater rakyat: penuh spontanitas dan harus tangkas dalam situasi apa pun. Baik untuk perkara panggung maupun organisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">- Nah, sekarang langsung ke pementasan Keluarga Tot. Tolong sebutkan, minimal 3 saja alasan, kenapa pementasan ini menarik untuk ditonton?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Butet: </span></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pertama</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">, ini lakon realis yang kuat dan kocak, dimainkan oleh Gandrik yang juga rombongan orang-orang kocak. Ini sebuah model guyonan baru bagi Gandrik. <em>Kedua</em>, penonton bakal melihat keunikan bagaimana Gandrik mencoba membenturkan dua kultur: Jawa dan Hongaria. Ketiga, ini penting untuk penonton, supaya mereka tetap waspada terhadap ancaman pemaksaan hegemoni dari kekuatan-kekuatan tertentu yang selalu berulang. Kalau boleh menambahkan, <em>keempat</em>: pertunjukan ini bisa menjadi terapi yang menyehatkan pikiran bagi para caleg yang gagal, agar tidak menjadi penghuni permanen Rumas Sakit Jiwa. <em>Kelima</em>, bagi caleg yang yakin kepilih, menonton pertunjukan ini akan memberikan keseimbangan jiwa pula, agar tetap bisa menjaga akal sehat ketika mengemban amanah rakyat. Nah, cukup lima saja, biar klop kayak Pancasila.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/390/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/390/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/390/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=390&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/04/10/lima-alasan-kenapa-mesti-nonton-%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/04/keluga-tot-fb.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">keluga-tot-fb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- 20 Keping Puzzle Cerita</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 00:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[puzzle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[
Ambulan yang Lewat Tengah Malam
Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.



 
Sirene
Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=382&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-384 aligncenter" title="puzzlejpeg1" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/puzzlejpeg1.gif?w=240&#038;h=300" alt="puzzlejpeg1" width="240" height="300" /></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;">Ambulan yang Lewat Tengah Malam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sirene</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak yang rewel, si ibu akan menakut-nakuti, “Nanti kau diculik ambulan…” Setiap ada sirene melintas, anak-anak yang tengah bermain gobag sodor atau petak umpet buru-buru berlarian masuk rumah. “Mereka selalu ngeri membayangkan ambulan yang disetiri mayatmu,” kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tersenyum mendengar kisah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kucing Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku ingat, saat para tetangga datang melayat. Banyak yang penasaran kenapa kau mati begitu mendadak. Mereka bercakap nyaris berbisik, menduga-duga – mungkin ada juga yang diam-diam menggunjingkanmu – sementara jenazahmu berbaring tenang. Bau kematian seperti mengedap dalam ruangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itulah, mendadak, seseorang menjerit, ketika melihat seekor kucing hitam melompati jenazahmu. Beberapa pelayat yakin: saat itu melihat matamu berkedip-kedip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span id="more-382"></span><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kasus Salah Tangkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sampai kini, kematianmu masih misteri bagi kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Beberapa orang meyakini, hari itu kau diciduk polisi. Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh istrimu. Padahal istrimu masih hidup. Kaulah yang mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Misteri Mutilasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi beberapa orang yang lain bilang, kalau kau sesungguhnya mati bunuh diri. “Kuperhatikan ia tampak murung belakangan ini,” seseorang berkata. “Aku yakin ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan untuk menghilangkan jejak, ia segera membuangnya ke pinggir kali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Itulah sebabnya, kata orang itu melanjutkan, polisi masih sibuk mencari pembunuhmu, sampai kini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tentang Seorang Perempuan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seminggu setelah pemakamanmu, seorang perempuan muncul di kampung kami. Ia menggendong bayi mungil. Wajahnya gugup dan pucat, tetapi tak menghapus kecantikannya. Seolah takut ketahuan, perempuan itu menanyakan di mana rumahmu. Sikapnya membuat kami curiga: jangan-jangan ia istri kedua atau simpananmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu seorang warga menjelaskan, kalau kau sudah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Mati?” ia terlihat tak percaya. “Barusan tadi pagi ia mampir ke rumahku…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Cerita Pelayan Kafe</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seorang tetangga, yang bekerja sebagai pelayan kafe, satu malam menemuiku. Ia bilang, ia juga barusan melihatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ia melihatmu duduk di sudut remang kafe tempatnya bekerja. Memesan minuman ringan dan kentang goreng. “Katanya ia janjian mau ketemu dengan sampeyan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi semalaman aku lembur di kantor, tegasku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Ya, ia memang terus sendirian, tapi seolah bercakap-cakap dengan sampeyan yang tak pernah datang.” Sampai kafe tutup. Namun para pelayan kafe masih melihatmu terus duduk di kursi itu. “Sebelum aku pulang, ia menitipkan ini padaku.” Ia menyodorkan sekeping koin. Dan aku segera mengenalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Pada Sebuah Kuburan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dulu, semasa kanak, kita menemukan sekeping koin perak berkarat di pekuburan. Kita memang sering keluyuran ke pekuburan selatan kampung itu. Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Sering, bila tengah malam, terdengar suara yang terus melolong. Aku selalu ketakutan. Seperti kudengar suara lolong menyanyat orang sekarat. Tapi kau malah cekikikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kelak,” katamu, “aku akan mati menjerit kesakitan seperti itu. Aku akan mati terpotong-potong, dan dibuang ke kuburan ini…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kemenyan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Barangkali kamu memang tak pernah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda sering melihatmu berkelebat pulang malam-malam. Mereka kadang juga samar-samar melihatmu duduk-duduk di beranda rumahmu –<span> </span>sesekali batuk-batuk kecil atau berdehem – sembari menikmati rokok kretek. Tapi para peronda itu mencium aroma kemenyan merebak di udara yang seketika terasa menjadi lembab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda juga sering melihat istrimu tengah malam berdiri di pintu menunggumu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Seusai Pemakaman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku jadi ingat pada sore seusai pemakaman. Para pelayat baru saja menguburkanmu. Saat itu aku melintas depan rumahmu, dan kulihat kau seperti baru saja pulang. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anakmu berlarian riang menyambutmu. Bergelayutan manja pada lenganmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di pintu, kusaksikan mata istrimu berlinang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Koin Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kupandangi koin perak yang telah menghitam itu. Tergeletak di meja. Kau tahu, sejak dulu aku tak mau keping koin itu. Tapi tiap kali aku datang ke rumahmu hendak mengembalikannya, yang ada hanya istrimu. Senyumnya yang manis menyuruhku masuk, matanya yang gelisah melirik ke<span> </span>halaman, takut ada yang memergoki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau mati, aku pun sudah berusaha membuang jauh-jauh koin itu berkali-kali. Membuangnya ke selokan. Membuangnya ke tempat sampah. Bahkan sampai jauh ke luar kota. Tapi koin itu selalu saja kembali. Begitu saja: tiba-tiba sudah tergeletak di meja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kapak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku mengingat malam itu sebagai malam mengerikan dalam hidupku. Kau muncul dan berkata, “Kau punya kapak?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Apakah kau akan membelah kayu malam-malam begini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu kau bercerita. “Ada ular dalam kepala istriku. Ular itu datang setiap kali aku tak ada, menyelusup lewat telinga, dan kini mendekam dalam kepalanya. Mungkin kapak ini ada gunanya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tukang Ramal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita belum lagi genap tigabelas tahun ketika datang ke pasar malam itu. Keramaian dan lampu warna-warni seperti mimpi yang ganjil. Aku pingin gulali, tapi kau mengajakku ke tukang ramal bermata juling. Kau ingin tahu, bagaimana nanti kita mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tukang ramal itu menyeringai menatap kita “Kalian memang sahabat yang luar biasa,” katanya, “karena menyintai perempuan yang sama.” Kita masih saling bertatapan, ketika tukang ramal itu menarik tanganku. “Dan kau, kau akan mati karna tabrak lari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Alibi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Cerita ini kudengar dari para tetangga, karena saat itu aku memang sudah menjauh dari hidupmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka mendengar suara istrimu menjerit kesakitan. Itulah jerit kematian paling mengerikan. Pagi harinya, mereka menemukan istrimu mati dengan kepala pecah. Kapak itu tak pernah ditemukan. Meski para tetangga curiga, polisi tak bisa mendakwamu, karna saat itu kau tak ada di tempat kejadian. Kau juga sedang berada di tempat lain, ketika ketiga anakmu ditemukan mati mengenaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dan para tetangga yang keheranan kemudian mengatakan: ketika mayatmu ditemukan, polisi pun tak bisa mendakwamu. Karna kau juga tak ada di tempat kejadian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itu kupikir mereka terlalu melebih-lebihkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Anjing</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kawan-kawan sepermainan sering bilang, kita pasangan serasi. Mereka tak tahu kalau kau tak menyukaiku yang pendiam. “Kau terlihat mengerikan bila sedang diam,” katamu selalu. “Seperti ada seorang pembunuh yang diam-diam sedang menguasai tubuhmu. Kau mirip psikopat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Suatu hari kau marah karena nyaris digigit anjing tetanggamu. Aku hanya diam mendengar ceritamu. Dua hari kemudian kau mendapati anjing itu mati digorok dan digantung di pagar rumah tetanggamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menatapku yang hanya diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Teka-teki Wajah Pembunuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Inilah permainan yang kita sukai, menebak teka-teki: bila kelak kita mati terbunuh, seperti apakah wajah pembunuh itu? Kemudian kita masing-masing mengambil kertas dan pensil, membayangkan wajah itu, dan menggambarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita melipat kertas itu setelah selesai. Memasukkannya ke amplop, lantas membakarnya, agar kita bisa terus penasaran dan menebak-nebak wajah siapakah yang kau gambar dan aku gambar. Menyimpan rahasia memang selalu mendebarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku bisa menduga, wajah siapa yang kau gambar,” katamu, sambil memandangi api yang melahap kertas itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kubayangkan wajah itu hangus dalam api.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sumur Tua di Belakang Rumah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ada sumur tua di belakang rumah kakekmu. Konon, airnya selalu berwarna merah setiap purnama. Di jaman gestapu dulu, kakekmu dibantai dan dilempar ke sumur itu. Sejak itu, siapun tak berani mendekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi diam-diam kita suka ke sana, menjenguk ke dalamnya, berharap menyaksikan mayat kakekmu mengapung. Airnya memang begitu bening. Yang kita lihat justru bayangan mayat kita sendiri: memar, rusak dan berdarah karna kecelakaan. Meringkuk di dasar sumur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Puisi Cinta Semasa Remaja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tahu aku suka puisi. Karna itu, ketika kau jatuh cinta, kau memintaku menulis puisi. Kau sebut nama gadis yang telah membuatmu jatuh cinta. Aku pun segera tahu: itulah puisi paling bagus yang bakal berhasil aku tulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau senang sekali dengan puisi itu. “Kamu benar-benar bisa melukiskan seluruh perasaanku,” katamu. Tidak, aku tak menuliskan perasaanmu, jawabku. Dalam diam tentu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Mayat dalam Koper</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau menikah, aku memilih pergi mengembara. Ketika tak ada kabar, kau sering membayangkanku sudah mati. Kemudian dari para tetangga aku mendengar, bila sedang ronda kau suka cerita, kalau aku tak lain psikopat yang dicari-cari polisi. “Suatu hari psikopat itu memotong-motong tubuhnya sendiri. Dan sebelum polisi tiba, ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka selalu tertawa mendengar cerita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tabrak Lari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu hari sebagaimana diramalkan itu tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas. Malam harinya, istrimu begitu sedih setelah mendapat kabar kamu mati tertabrak ambulan yang langsung melarikan diri. Ambulan hantu, kata orang-orang. Ambulan yang disetiri mayat yang dibawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menangis menceritakan semua kisah ini padaku yang tadi pagi mati karna tabrak lari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span>Jakarta, 2009.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span>(Muncul di </span></em><span>Koran Tempo </span><em><span>Minggu, 29 Maret 2009)</span></em><strong><span><br />
</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=382&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/puzzlejpeg1.gif?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">puzzlejpeg1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- FIKSI MINI HASAN ASPAHANI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/22/fiksi-mini-hasan-aspahani/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/22/fiksi-mini-hasan-aspahani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 14:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan Aspahani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Hasan Aspahani, menyebut dirinya pengrajin puisi. Sudah tentu, itu semacam kerendahan hati. Ia, boleh dibilang, tak hanya penyair Indonesia terkini yang produktif, tetapi juga selalu memperlihatkan kegelisahan estetiknya. Ketika kebanyakan penyair (kita) cenderung untuk secepatnya menemukan “rumah estetik”-nya, Hasan justru seolah menolak godaan untuk merasa mapan dalam sebuah “rumah estetik”. Setiap sajak yang ditulisnya, seolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=368&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/" target="_self"><img class="alignleft size-full wp-image-373" title="hasan" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/hasan.jpg?w=132&#038;h=177" alt="hasan" width="132" height="177" />Hasan Aspahani</a>, menyebut dirinya pengrajin puisi. Sudah tentu, itu semacam kerendahan hati. Ia, boleh dibilang, tak hanya penyair Indonesia terkini yang produktif, tetapi juga selalu memperlihatkan kegelisahan estetiknya. Ketika kebanyakan penyair (kita) cenderung untuk secepatnya menemukan “rumah estetik”-nya, Hasan justru seolah menolak godaan untuk merasa mapan dalam sebuah “rumah estetik”. Setiap sajak yang ditulisnya, seolah sebuah awal untuk menjelajah. Ia seorang petualang estetis. Nyaris tanpa beban ia melenting dari suatu gaya ke gaya lainnya. Dan inilah yang paling saya sukai: karena sebagai pembaca saya jadi selalu berdebar menunggu karyanya: karya seperti apa lagi yang akan ia tulis? Itulah yang membuat Hasan berbeda dengan para penyair Indonesia lain, yang sudah terlalu saya hafal gaya penulisan puisinya, hingga saya sudah bisa menduga seperti apa sajak-sajak yang bahkan belum dituliskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Beberapa fiksi mini yang dihasilkannya, bisa menjadi contoh “petualangan estetis” Hasan Aspahani. Atas seijin sang penyair, saya menurunkan karya-karyanya itu, supaya kita juga bisa ikut merasakan tamasya imaji-imaji yang diolahnya itu, dan tentu <span> </span>agar – sebagaimana Hasan dengan penuh ketekunan dan pergulatan mempelajari karya-karya penulis lain – kita juga bisa belajar dari karya-karnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <span id="more-368"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Jam dan Kalender</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">KALENDER itu berusaha merontok-rontokkan angka-angka tanggal dan nama-nama hari pada bulan-bulannya. Tapi, tak ada yang terlepas. Semua tetap terbaca, berurutan, satu hingga 28, 30 atau 31. &#8220;Ha ha ha. Sia-sia saja, Kawan,&#8221; kata Jam di dinding itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sejak itu, Kalender itu tak mau berusaha melepaskan diri dari angka tanggal dan nama hari yang melekat padanya (Sia-sia saja, kawan&#8230;.). Abadi, seakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jam itu pun tak pernah bicara apa-apa lagi. Ia seakan menyesali kata-katanya kepada Kalender itu (Sia-sia saja, Kawan&#8230;.). Jam itu kini sadar, dengan atau tanpa angka padanya, ia tak pernah bisa mempercepat atau memperlambat tik tak tik taknya sendiri. Suara detik itu dengan seksama disimak oleh si Kalender itu. Kalender itu merasa seperti ada yang ikut berdetak pada angka-angka tanggal dan nama-nama hari bersama detak detik itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <img class="size-full wp-image-370 aligncenter" title="jam" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/jam.jpg?w=223&#038;h=126" alt="jam" width="223" height="126" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Fiksi Mini Tentang Si Agus dan Si Noor</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">: untuk Agus Noor</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kematian <span> </span>Instan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">SI Agus lapar. Lapar sekali. Ia pergi makan ke restoran cepat saji. Saat menyeberang ia ditabrak taksi. Sehabis menabrak taksinya lari. Cepat sekali. Si Agus menggelepar sebentar, lalu dia sendiri memastikan dia sudah mati. Cepat sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saat Dia tidak Menelpon ke Mana-mana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IA menelepon ke Gedung Putih, Amerika. Ketika ditanya (dalam bahasa sana), &#8220;Ini siapa?&#8221;, Agus menjawab, &#8220;Agus, Agus!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IA menelepon ke Menara Kembar di Malaysia. Waktu ditanya (dalam bahasa sana), &#8220;Ini siapa?&#8221; Agus menjawab, &#8220;Agus, Agus!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IA menelepon pemain Barongsai, di Tiongkok. Ketika ditanya (dalam bahasa sana), &#8220;Ini siapa?&#8221; Agus menjawab, &#8220;Agus, Agus&#8230;&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">SAAT dia tidak menelepon ke mana-mana, Agus bertanya pada teleponnya, &#8220;Kalau saya telepon Tuhan, apa dia juga bertanya siapa saya?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Teleponnya bilang, &#8220;Mungkin saja. Memangnya kenapa? Kau tinggal jawab saja: Agus, Agus!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Hari Pertama Kerja Si Noor</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">NOOR diterima kerja menjadi seorang detektif partikelir di sebuah kantor detektif. Tugas pertamanya, di hari pertama bekerja adalah mencari di manakah gerangan kantornya berada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;text-align:center;"><img class="size-full wp-image-371 aligncenter" title="penyair-tua" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/penyair-tua.jpg?w=185&#038;h=238" alt="penyair-tua" width="185" height="238" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;">
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Empat Fiksi Mini Tentang Seorang Penyair Tua</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">: SDD</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ia Tersesat di Sebuah Sajaknya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">DIA masuki belantara sajaknya sendiri. Dia mulai dari kata pertama di sajaknya, sebuah kata yang berhuruf awal A. Sajak yang dia kira sederhana itu ternyata menyesatkan. Di dalamnya banyak jalan setapak bersilangan dan lorong-lorong berliku. Dia mula-mula tenang-tenang saja, tapi lama-lama risau, akhirnya cemas, dan bahkan ketakutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Bagaimana caranya saya keluar dari bait-bait sajak sini?&#8221; katanya, pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu menggema di dinding-dinding sajaknya, membuatnya semakin takut saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bila akhirnya dia bisa bebas dari sajak itu, sajaknya sendiri itu, maka itu berkat bantuan sebuah kata yang ia letakkan di akhir larik akhir bait akhir sajaknya. Sebuah kata yang dia beri tanda tanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ia Takut Membaca Sajak-sajak Lamanya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">DI usia tuanya dia suka membersihkan halaman rumah dinasnya (rumah dinas untuk penyair), membaca buku (kadang ia merasa ditipu oleh kacamatanya), menulis sajak baru (susah sekali mencari waktu untuk diajak menemukan sajak baru), menerima tamu (teman-temannya, mahasiswanya, dan penggemarnya), menerima telepon dan membalas SMS (kadang ia mengirim SMS ke nomornya sendiri), sesekali ia masih mengajar juga (meskipun ia pernah salah masuk ruangan lalu mengajar mahasiswa yang seharusnya tidak diajarnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia takut membaca sajak-sajak lama yang ia tulis dulu. Kenapa? Ia takut sebab kalau ia membaca sajak lamanya maka ia sering bertanya, &#8220;kok dulu saya bisa menulis sajak sebagus itu, ya? Kenapa sekarang susah sekali&#8230;&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Takutnya bertambah besar kalau ia membayangkan sajak-sajaknya itu menjawab, &#8220;Apa betul kamu dulu yang menuliskan kami?&#8221; Ia takut sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Gadis Kecil Itu Sudah Dewasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">GADIS kecil itu, Indah namanya, sudah dewasa. Pada suatu gerimis, yang tak juga menua, ia bertemu dengan penyair yang dulu pernah menuliskannya dalam sajak bersama gerimis yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Saya gadis kecil yang diseberangkan gerimis itu, Pak Penyair,&#8221; kata Indah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Kamu?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Ya. Aku sudah bersuami, dan punya anak tiga&#8230;&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ingin sekali Pak Penyair itu bertanya, apakah gadis yang kini dewasa itu bahagia, mana dulu tangis yang ia kibaskan dengan tangan kanan, dan mana payung yang ia pegang dengan tangan kiri. Tapi, ia tidak bertanya, justru ia yang ditanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Gerimis-gerimis begini Pak Penyair mau kemana?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Ah, di usia begini susah sekali menyeberangi Jakarta.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Oh, Pak Penyair mau menyeberangi gerimis ini?&#8221; Pak Penyair mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Maka, di gerimis yang sama dengan gerimis yang dulu ia sajakkan, Pak Penyair diseberangkan oleh si Gadis yang dulu ada dalam sajaknya yang kini sudah dewasa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sayangnya, tak ada yang menyajakkan peristiwa itu. Sayang&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ia Tertidur di Depan Televisi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IA tertidur di depan televisi, dan televisi itu jengkel sekali. &#8220;Buat apa aku dihidupkan kalau tidak ditonton,&#8221; kata televisi itu, &#8220;Kalau memang tidak mau nonton, ya matikan saja.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Si Penyair tak mendengar gerutu si televisi itu. Ia tertidur pulas nafasnya menciptakan dengkuran tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Kalau dia tidak mematikan kamu, kamu saja yang mematikan dia,&#8221; kata remote control (entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia?).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Si penyair terkejut. Memandangi remote control di tangannya. Saat itu televisi sedang menyiarkan tentang sebuah bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel di sebuah sekolah di Palestina. 40 anak-anak tewas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kata penyair itu, &#8220;Ah, Tuhan, apakah orang setua aku masih harus disiksa dengan mimpi buruk?&#8221; Televisi itu tidak juga ia matikan.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=368&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/22/fiksi-mini-hasan-aspahani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/hasan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/jam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/penyair-tua.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">penyair-tua</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/16/%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/16/%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 16:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Butet Kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Djadug Ferianto]]></category>
		<category><![CDATA[Heru Kesawa Murti]]></category>
		<category><![CDATA[István Örkény]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Tot]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Gandrik]]></category>
		<category><![CDATA[teater sampakan]]></category>
		<category><![CDATA[The Tot Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[
  
Teater Gandrik akan mementaskan lakon Keluarga Tot di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 17-20 April 2009. Lakon ini kemudian akan dipentaskan pula di Yogyakarta pada tanggal 29-30 April 2009 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konon, kota-kota lain mungkin disambanginya juga, bila memungkinkan. 
 
 



 
 …&#8230; lakon ini disebut sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=363&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;-->  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Teater Gandrik akan mementaskan lakon <em>Keluarga Tot</em> di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 17-20 April 2009. Lakon ini kemudian akan dipentaskan pula di Yogyakarta pada tanggal 29-30 April 2009 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konon, kota-kota lain mungkin disambanginya juga, bila memungkinkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <img class="aligncenter size-medium wp-image-362" title="keluarga-tot" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/keluarga-tot.jpg?w=242&#038;h=248" alt="keluarga-tot" width="242" height="248" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> …&#8230; <em>lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan. Lebih-lebih, “kelucuan-kelucuan” dalam lakon Keluarga Tot ini memberi peluang bagi Gandrik untuk mengeksplorasi kekayaan guyon parikeno-nya, gaya sampakannya.<span id="more-363"></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><em><br />
</em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Istilah Sampakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Teater Gandrik dikenal sebagai kelompok teater yang mengolah bentuk ‘teater sampakan’. Istilah <em>sampakan</em> ini, sesungguhnya muncul karena “kecelakaan”. Sekitar tahun 1985, diselenggarakan Festival Teater di Yogyakarta. Festival ini diikuti banyak grup dengan kecenderungan estetis yang beragam. Pertama, ada yang memilih bentuk teater realis (yang saat itu banyak diolah oleh Teater Muslim). Kedua, ada yang berorientasi pada bentuk pementasan klasik Yunani (hingga lebih memilih memanggungkan lakon-lakon seperti <em>Oedipus</em> karya Sophocles – yang representasinya, di Yogya pada saat itu, adalah Teater Arena). Dan ketiga, muncul kecenderungan yang berorientasi pada pengolahan tradisi, yang cirinya antara lain pada pemakaian istrumen gamelan sebagai pengiring (yang banyak dilakukan Teater Dinasti dan juga Teater Gandrik). Perlu diingat: pada tahun itu, Teater Gandrik memang sedang tenar-tenarnya di Yogyakarta, hingga banyak kelompok teater yang kemudian ‘meniru’ gaya pementasannya, bahkan saat itu boleh dibilang banyak peserta festival itu yang mengusung gamelan sebagai bagian dari pertunjukan mereka. Melihat kecenderungan ‘pilihan estetis pertunjukan’ yang seperti itu, para juri festival merasa perlu untuk melakukan klasifikasi. Istilah teater realis dan teater klasik bisa dengan gampang disematkan pada kelompok teater peserta yang memang memilih orientasi yang pertama dan kedua. Nah, lalu mesti dinamain apa ‘jenis’ teater yang memiliki kecenderungan pada yang ketiga itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat itulah, Kirjomulyo, selaku salah satu juri mengatakan: ya sebut saja ‘teater sampakan’, karena mereka menggunakan instrumen gamelan sebagai ciri ketika pemainnya keluar masuk adegan. Istilah ‘sampakan’ mengacu pada gending ‘<em>sampak</em>’, yakni komposisi gamelan yang riang yang memang banyak dipakai pada ketoprak. Nah, karena pengolahan instrumen gamelan itulah, demi gampangnya, Kirjomulyo menamainya ‘teater sampakan’. Itulah sebabnya, saya menyebut, istilah ‘teater sampakan’ itu lebih sebagai sebuah kecelakaan. Karena tentu saja, bila pola permainan dan pengolahan bentuk yang dilakukan Teater Gandrik hanya dilihat dari cirinya yang menggunakan gamelan sebagai pengiring adegan, maka istilah <em>sampakan</em> tidaklah memadai untuk menandai “estetika Gandrik”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Faruk HT, mencoba melihat konteks sosial politik yang lebih luas untuk memahami pola (estetis) Teater Gandrik. Ia memperbandingan kecenderungan yang dibawa Gandrik dengan kecenderungan umum teater (modern) Indonesia (saat itu). Gandrik disebut sebagai sebuah ‘varian rakyat kecil’ dalam mengolah dan menyampaikan kritik, atas hegemoni politik (Orde Baru), yang membuatnya berbeda dengan ‘varian elitis’ yang, oleh Faruk, banyak dilakukan oleh kelompok teater semacam Teater Mandiri, Teater Saja dan lainnya. Gandrik, tidak lagi sibuk pada pretensi untuk membangun simbol-simbol teater yang bergaya absurd, misalnya, atau mengolah tema-tema besar semacam penindasan atau alienasi sosial yang menjangkiti masyarakat. Pada awal kemunculannya, Gandrik lebih mengolah kisah-kisah keseharian, yang cenderung remeh-temeh, yang seakan-akan setiap orang gampang melakukan (dan karenanya, pada saat itu, Teater Gandrik pernah disebut oleh Puntung CM. Pujadi, tokoh teater Yogya, sebagai teater ‘mie instan’).<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Latar Sosial Munculnya Gandrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya perlu sedikit memberi ilustrasi sosial yang menjadi latar pikiran Faruk dan juga komentar Puntung itu. Di tahun-tahun 80an, boleh dibilang, teater (modern) Indonesia memang suatu yang ‘sakral’, suatu yang begitu serius, yang prosesnya harus dilakukan dengan suntuk, total, dan kalau perlu ‘mati hidup demi teater’. “Keseriusan” itu, tidak hanya nampak dari bentuk-bentuk pentas yang dihasilkannya, tetapi juga pola prilaku dalam kehidupan para teaterawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tidak heran, bila di Yogyakarta saat itu, kelompok-kelompok teater menjadi semacam gerakan sosial dan estetis yang harus diperjuangkan dengan ‘kenceng’. <span> </span>Setiap kelompok begitu yakin dengan pilihan estetiknya. Begitu serius dengan metoda latihan dan prosesnya. Kelompo teater adalah ‘korps’ yang setiap anggotanya harus bangga dan yakin dengan apa yang diperjuangkan melalui pentas-pentasnya. Ibaratnya, bila kamu menjadi anggota satu kelompok teater tertentu, misalnya teater A, maka haram bagi kamu untuk mendukung atau ikut pentas dengan teater B. teater dan kelompok teater adalah hal yang serius dan ‘sakral’. Maka, kalau menghasilkan teater yang ‘<em>cekeremete</em>’, atau kacangan dan cenderung tampak main-main, itu adalah aib. Padahal, itulah yang dilakukan oleh ‘anak-anak’<span> </span>Teater Gandrik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jadi boleh dibilang, saat itu, Teater Gandrik melakukan ‘dua dosa besar’. Pertama, membuat pementasan teater menjadi tampak tidak serius, main-main, penuh guyonan dan, kedua, menghayati proses berteater menjadi proses yang lebih rileks dan tidak ‘<em>mbentoyong</em>’. Kelahiran Gandrik, boleh jadi bisa menjelaskan hal itu.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Terbentuknya Gandrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat mulai terbentuk, nama Gandrik belum muncul. Saat itu, beberapa personil ‘hanya berkumpul’ karena diajak untuk mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat.<span> </span>Mereka lalu latihan, dan kemudian menang. Pak Kasiharto SH, yang saat itu menjabat Kepala Wilayah Kecamatan Mantrijeron, begitu kaget dengan kemenangan kelompok yang mewakili wilayahnya itu. Maka, sebagaimana umumnya orang Jawa kalau kaget oleh ledakan petir, Pak Kasiharto pun berteriak, “Gandrik!!”. Itu diucapkan untuk mengekpresikan kekagetan (karena berhasil menang) sekaligus kegembiraan. Nah, sejak itulah, nama Gandrik ‘resmi’ dipakai oleh mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Para personil awal Gandrik, saat itu, mau mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat, karena mereka ingin melakukan ‘proses berteater yang lebih nyantai”. Perlu dicatat, para personil awal itu, datang dari kelompok teater yang berbeda (ini jelas dianggap sebagai pengkhiatan kelompok, pada saat itu, dan resikonya bisa dikucilkan dari kelompok teater yang diikutinya). Susilo Nugroho, misalnya, semula adalah anggota kelompok Teater Kita-kita. Sepnu Heryanto anggota Teater Gembala, Heru Kesawa Murti sebelumnya aktif di Teater Kerabat, Novi Budianto, Jujuk Prabowo dan Saptaria Handayaningsih sudah dikenal lebih dulu sebagai aktor aktris kelas wahid di Teater Dinasti. Bahkan Fajar Suharno adalah anggota senior di Bengkel Teater (Rendra). Mereka, saat itu, menganggap bisa sedikit bisa lebih rileks berteater ketika mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat itu. Karna itu, pada prosesnya pun mereka melakukannya lebih rileks dan dan bisa “bermain-main dengan bebas’, tanpa harus ‘dihardik’ sutradara yang menjadi penentu segalanya. <span> </span>Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto, belum terlibat di proses-proses awal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keduanya, Butet dan Djaduk, baru mulai terlibat aktif ketika Gandrik mulai menggarap lakon-lakon untuk TVRI, kira-kira sekitar tahun 1984, ketika Teater Gandrik mementaskan lakon semacam <em>Pasar Seret</em>, <em>Pensiunan</em>, <em>Sinden</em>, dan lainnya. Gandrik adalah kesempatan bagi mereka untuk bisa berproses dengan lebih santai, cekakakan atau ketawa-ketiwi, dimana setiap personil boleh dibilang bebas melakukan apa saja yang dia inginkan, misalkan menyanyikan atau menembangkan dialog yang semestinya tidak dinyanyikan, mengolah gerakan-gerakan yang spontan, improvisasi di luar teks naskah. Bila pada umunya improvisasi pada panggung teater dilakukan bila hanya ada kecelakaan (misalkan lupa dialog), maka pada proses Gandrik, para personilnya tampak begitu bebas menambah-nambahi (bahkan memberi komentar), mengacak-acak, naskah yang sudah ada. Mereka benar-benar melakukan ‘rekreasi’ dalam proses berteater. Namun, hal ini tentu saja juga tumbuh karena latar belakang kesenian tradisi semacam ketoprak, yang memang menjadi bagian ‘nafas kehidupan mereka sehari-hari’. Pada ketoprak, kita tahu, improvisasi adalah kemampuan yang justru wajib dimiliki para pemainnya. Kekentalan pergaulan mereka dengan seniman tradisi, membuat sikap rileks mereka seperti menemukan rasionalisasi estetis, atau sebuah justifikasi, pembenaran, bahwa yang mereka lakukan sesungguhnya memiliki akar yang panjang dalam diri mereka sebagai ‘manusia Jawa’.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Realisme Gandrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Penggarapan lakon yang kemudian dipentaskan di televisi, membuat popularitas Teater Gandrik meroket. Barangkali karena korelasi dengan media itulah, yang membuat lakon-lakon awal yang diamainkan Teater Gandrik lebih mengangkat hal-hal aktual keseharian. Serial <em>Pasar Seret</em> adalah contoh untuk itu. Lakon ini berkisah tentang kehidupan sehari-hari di sebuah pasar, dimana para pedagang pembeli, mantri pasar, tukang kredit bahkan pengemis berinteraksi. Di sini, peran Heru Kesawa Murti sebagai penulis naskah, tidak bisa diabaikan. Bahkan, menurut saya, kecenderungan Heru dalam membentuk karakter-karakter tokoh dalam lakon-lakon yang ditulisnya itulah, yang kemudian menjadi titik pijak permainan para aktor Gandrik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Heru selalu berhasil menampilkan karakter-karakter manusia yang <em>util</em>, yang sok bersih tetapi sesungguhnya penuh kemunafikan, karakter yang hipokrit tetapi penuh borok, juga karakter-karakter yang gemar mengejek orang lain dan bahkan dirinya sendiri, dan karena itu tokoh-tokohnya cenderung <em>nyinyir</em>, sinis, tetapi tak pernah (berpretensi) menjadi ‘hero’. Kecenderungan karakterisasi semacam ini, tentu saja bisa dilacak pada pola ‘<em>guyon parikeno’</em>. Inilah guyonan yang lebih dekat pada sindiran-sindiran secara halus. Maka karakter-karaker yang diciptakan Heru adalah ‘karakter pasemon’, sebuah karakter yang merupakan sindiran halus, gambaran yang <em>nylekit</em>, tentang situasi sosial yang berlangsung. Karakter-karakter itu berhasil menampilkan gambaran <em>micro</em>, potret kecil, yang sesungguhnya merupakan sindiran jagat <em>macro</em>. Barangkali, inilah yang oleh Faruk kemudian disebut sebagai ‘varian rakyat kecil’ ketika melakukan kritik. Secara permaian, karakter-karakter yang diciptakan Heru memungkinkan para aktor Gandrik untuk keluar masuk peran (yang mengingatkan pada gaya teater epik Bertolt Brecht) yang dilakukan dengan semangat main-main untuk mengejek diri sendiri. Pada perkembangnyanya, itulah yang kemudian disebut oleh personil Gandrik sebagai tekhnik “ngembosi’ dan ‘ngenyek”, atau memain-mainkan bangunan karakter dan dramatik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lakon-lakon awal yang cenderung bersifat realis semacam <em>Pasar Seret</em> inilah, sesungguhnya, yang membuat Gandrik disalahfamahi sebagai teater yang mirip ‘mie instan’ itu. Padahal, menurut saya, itulah sumbangan penting dari Teater Gandrik terhadap bentuk-bentuk pertunjukan teater (saat itu). Ia mengolah sesuatu yang ‘realis’ menjadi sangat “nggandrik”, atau “Gandrik banget”. Sesuatu yang khas Gandrik. Itulah sebabnya, Teater Gandrik kemudian lebih menonjol dibanding dengan teater-teater lainnya di Yogya (yang saat itu) sebenarnya juga banyak yang mengolah pola permainan <em>sampakan</em>, pola permainan dengan gendingan itu. Pada Teater Jeprik, misalnya, pola sampakan itu tetap menghasilkan permaian yang serius dan terukur dramatiknya dengan kecenderungan kritik sosial yang juga keras dan langsung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya ingin menyebut apa yang dihasilkan Teater Gandrik itu sebagai “realisme (ala) Gandrik”, atau biar tidak repot: ‘realisme Gandrik’. Itu untuk menandai periode awal Teater Gandrik, sebelum akhirnya Teater Gandrik juga ‘tergoda untuk mementaskan lakon-lakon yang simbolik semacam <em>Dhemit</em> dan mengangkat tema yang cenderung ‘besar’ semacam dalam Orde Tabung – ini adalah tema ‘penguasaan manusia atas manusia’ sebagaimana dalam lakon <em>Animal Farm </em>dan <em>1984</em> karya George Orwell. Realisme Gandrik, ialah realisme yang tampak sekali berangkat dari gagasan bahwa teater mesti menampilkan kisah-kisah yang lebih realistis, kisah-kisah yang mengangkat karakter yang lebih mencerminkan karakter keseharian manusia ketika ia berinteraksi dengan persoalannya. Itulah sebabnya, saya sebut, peran Heru sebagai ‘peletak dasar estetika Gandrik’ tak bisa dikesampingkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam proses penggarapan itulah, kemudian, pola pemanggungan dan permainan yang dikembangkan membuatnya berbeda dengan realisme <em>ala</em> teater Barat. Secara bentuk <em>set</em> pemanggungan, realisme Gandrik tidak berpretensi untuk menghadirkan ‘gambaran yang sesuai dengan kenyataannya’. <span> </span>Sementara secara permainan, ralisme Gandrik tidak hendak ‘berperan menjadi’, sebagai tuntutan psikologisme atau karakterisasi tokoh, tetapi lebih pada bermain ‘berperan sebagai’ – begitu <span> </span>Veven Sp. Wardana pernah menuliskannya. Karenanya, itulah, sekali lagi, yang membedakan secara bentuk dengan teater realis yang datang dari Barat, seperti nampak pada lakon-lakon Cekov atau Ibsen. Itulah yang membuat pola permaian Gandrik kemudian justru lebih dekat pada gagasan teater Brecht. Butet Kartaredjasa bilang, bahwa Goenawan Muhamad pernah menyebut istilah “Brecht Jawa” untuk estetika yang dikembangkan Teater Gandrik. Sebuah penyebutan yang menarik untuk dielaborasi.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keluarga Tot dan </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">István Örkény</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam konteks ‘realisme Gandrik’ itulah, lakon <em>Keluarga Tot</em> <em>(The Toth Family),</em> ini menjadi menarik. Lakon <em>Keluarga Tot</em> ialah lakon realis. Lakon ini datang dari Hungaria, yang judul aslinya <em>Tóték</em><span>. Ditulis oleh </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN">István Örkény</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">, pengarang yang boleh dibilang sangat penting di Hungaria. Ini adalah lakon satir yang komikal tentang sebuah masyarakat yang dipaksa menerima sebuah kebenaran atau kenyataan hidup, meski ia tak menyukainya. Oleh banyak kritikus, lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini merupakan “lakon wajib”, yang nyaris dipentaskan setiap tahun di Hungaria, dengan berbagai variasi pementasannya. Di pentaskan di gedung-gedung teater standar hingga taman dan jalanan. Bahkan, naskah ini sudah banyak dipentaskan di panggung-panggung teater penting di Eropa dan Amerika. Dari Perancis, Belanda, Jerman, Rusia hingga New York. Lakon ini juga telah melanglang hingga ke dataran Asia, seperti Mongolia dan Jepang.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Oke, kita kenalan sebentar dengan penulis ini.</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <span lang="IN">István Örkény</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (lahir dan meninggal di Budapest, 1912-1979). <em>Keluarga Tot</em> boleh dibilang merupakan salah satu karya agung (<em>masterpeace</em>) yang pernah dihasilkannya. Ia dikenal sebagai penulis yang bergaya satir dalam melihat situasi masyarakat. Beberapa karyanya, antara lain novel dan lakon, seperti, <em>Ocean Dance</em> (1941),</span><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">One Minute Stories, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">yang merupakan buku kumpulan cerita paling populer yang dihasilkannya dengan gaya absurd dan </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">grotesque</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> yang khas dirinya. Ia sempat tinggal di Moskow, di lingkungan buruh, dan menuliskan lakon <em>Voronesh</em>, sebelum kemudian ia kembali menetap di Hungaria tahun 1946. Ia kemudian menjadi penulis lakon terpenting Hungaria, ini didibuktikan ketika pada tahun 2004 namanya diabadikan menjadi nama gedung teater di Budapest: Örkeny Theater.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lapis-lapis (Kemungkinan) Estetis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat Teater Gandrik memutuskan untuk mementaskan lakon ini, saya langsung teringat pada ‘realisme Gandrik’ itu. Inilah, menurut saya, yang membuat ada dua simpul penting bagi Teater Gandrik sendiri dan lakon ini. Pertama, saya yakin, penonton Gandrik hari ini, jarang yang menonton lakon-lakon realis Gandrik pada masa awal perkembangannya. Makanya, pilihan pada naskah realis menjadi pilihan yang menantang bagi penonton Teater Gandrik yang belum menonton ‘bagaimana Teater Gandrik memainkan naskah realis’. Kedua, ini kesempatan bagi Gandrik untuk mengembangkan “realism Gandrik” itu. Bagaimana pun, <em>Keluarga Tot</em> ialah lakon dengan struktur dramatik yang khas drama-drama realis Eropa. Bagaimanakah mementaskan lakon realis seperti itu tanpa kehilangan “kegandrikannya”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tentu secara permainan ini akan menantang bagi aktor-aktor Gandrik. Gaya <em>sampakan</em> yang sudah dikenal sebagai <em>brand</em> Teater Gandrik, akan menemukan bentuknya yang lebih segar ketika ia disinergikan dengan “realisme Eropa”. Ingat, selama ini jarang sekali Teater Gandrik memanggungkan lakon “luar”. Tercatat hanya sekali Gandrik memainkan lakon <em>Mas Tom</em>, karya penulis Inggris Henry Fielding. Tapi lakon <em>Mas Tom</em> adalah lakon yang sudah diadaptasi. <em>Setting </em>cerita dan tokoh-tokohnya sudah disesuaikan dengan latar lokal (Jawa). Berbeda dengan <em>Keluarga Tot</em> ini, yang tetap dipertahankan <em>setting</em> dan tokoh-tokohnya. Tetap dipertahankan “ke-Hungaria-annya”, sehingga ia memberikan kemungkinan “lapis-lapis pertunjukan” yang cukup menantang. Dan saya rasa, “lapis-lapis pertunjukan” itulah yang menarik dari proses penggarapan <em>Keluarga Tot</em> ini bagi Teater Gandrik:<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pertama ialah ‘lapis realisme’. Seperti saya sebut terdahulu, ini kesempatan bagi Gandrik untuk mengambangkan mazhab ‘realisme Gandrik” yang pernah dikembangkannya semasa awal. Ini bisa menjadi ulang-lalik yang menyenangkan: antara realisme Eropa dan realisme ala Gandrik.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lapis kedua, ialah ‘lapis budaya’. Dengan mempertahankan “dunia dan budaya Hungaria” lakon ini, maka tersedia cukup ruang untuk melakukan kelincahan bermain-main, berulang-alik antara ‘dunia Hungaria” dengan “dunia Gandrik”, yakni dunia dimana para personil Gandrik tumbuh dan hidup. Semacam dialog budaya yang menarik, yang pastilah akan muncul dalam permaianan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lapis ketiga adalah ‘lapis dramatik”. Dramaturgi realis lakon <em>Keluarga Tot</em>, tentu akan memberi peluang bagi Gandrik untuk juga bermain-main, dengan membangun dan menghancurkannya, bila kita merujuk pada pola dramatika yang biasa dikembangkan Teater Gandrik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keempat, ‘lapis permainang atau akting’. Bagaimanakah psikologisme tokoh-tokoh itu kemudian dimainkan? Ini jelas tantangan dan juga kesempatan para aktor untuk mengaplikasikan kecenderungannya dalam ‘bermain sebagai’ dalam psikologi tokoh yang dimainkannya. Dengan kata lain, karakter-karakter yang kuat secara psikologis (sebagaimana umumnya lakon realis) menjadi kesempatan bagi aktor Gandrik untuk mengolah menampilkan seni aktingnya, sekaligus ‘mempermainkannya’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lapis-lapis itulah, yang saya kira, menjadi persoalan yang menarik untuk dilihat dalam pementasan <em>Keluarga Tot</em> ini. Apalagi, lakon ini memang lakon yang komedis. “kelucuan-kelucuan’ dalam lakon Keluarga Tot ini memberi peluang bagi Gandrik untuk mengeksploarasi kekayaan <em>guyon parikeno</em>-nya.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Semacam Sinopsis ‘Keluarga Tot’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kisah <em>Keluarga Tot</em> ini berlatar belakang suasana perang yang muram, dengan <em>setting </em>historis Perang Dunia II. Dalam suasana seperti itu, keluarga Lajos Tot kedatangan seorang Mayor, yang ingin menginap di rumahnya. Sang Mayor memerlukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mau tak mau, Lajos menerima mayor itu, karena Sang Mayor adalah atasan anaknya, yang jadi prajurit dan sedang bertempur. Mariska Tot, sang ibu, berharap agar Mayor itu terkesan dan betah selama masa beristirahat, hingga bisa mempermulus karier anaknya di kemiliteran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Para tetangga pun diberitahu, dan diminta untuk ikut menerima kedatangan Sang Mayor. Karena Sang mayor memang menginginkan ketenangan: tak boleh ada suara, tak boleh ada keributan sekecil apapun, tak boleh tercium bau-bauan yang tidak menyenangkannya, tak boleh ada warna yang akan membuat sang Mayor gelisah dan marah. Pendeknya, semua orang, harus menyesuaikan kebiasaan sang Mayor. Mereka harus merubah “rutinitas hidup mereka”, dan menyesuaikannya dengan kebiasaan Sang Mayor. Kebiasaan jam tidur harus menyesuaikan jam tidur Mayor. Cara mereka menguap, menggeliat, cara mereka makan. Semua harus menyenangkan <span> </span>dan menyesuaikan dengan kebiasaan Mayor. Lajos Tot dan keluarga menjadi asing di rumahnya sendiri, tetapi mereka harus menerima keasingan itu sebagai kenyataan yang harus mereka terima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Nasib Keluarga Tot <span> </span>boleh jadi adalah nasib kita hari ini: yang dipaksa menerima keadaan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Poster caleg yang menyebalkan yang setiap hari mesti kita lihat. Para pemimpin yang sibuk minta kita perhatikan sementara tak seupil pun mereka pernah memerhatikan kita. Kita terpaksa mendengarkan apa yang tidak ingin kita dengarkan. Kita menerima keadaan yang rasanya kita tak kuasa menolaknya. Begitulah, lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=363&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/16/%e2%80%9ckeluarga-tot%e2%80%9d-teater-gandrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/keluarga-tot.jpg?w=292" medium="image">
			<media:title type="html">keluarga-tot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- PROSES KREATIF PENULISAN ‘KARTU POS DARI SURGA’</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/06/proses-kreatif-penulisan-%e2%80%98kartu-pos-dari-surga%e2%80%99/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/06/proses-kreatif-penulisan-%e2%80%98kartu-pos-dari-surga%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 14:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Surat]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Pos dari Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Pena Kencana 2009]]></category>
		<category><![CDATA[proses kreatif Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[


Ini semacam catatan seputar proses penulisan cerpen ‘Kartu Pos dari Surga’. Saya menulisnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang pada saya seputar cerpen yang muncul di Kompas (21 September 2008), dan kemudian masuk terpilih sebagai 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 versi Pena Kencana.
Saya menulis cerpen itu tak lebih dari dua jam. Tapi prosesnya lebih dari satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=352&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ini semacam catatan seputar proses penulisan cerpen ‘<a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/" target="_self">Kartu Pos dari Surga’</a>. Saya menulisnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang pada saya seputar cerpen yang muncul di <em>Kompas </em>(21 September 2008), dan kemudian masuk terpilih sebagai <em>20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 </em>versi Pena Kencana.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menulis cerpen itu tak lebih dari dua jam. Tapi prosesnya lebih dari satu setengah tahun. Baiklah, saya akan mengisahkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="size-full wp-image-358 alignright" title="kartu-pos-21" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/kartu-pos-21.jpg?w=195&#038;h=162" alt="kartu-pos-21" width="195" height="162" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-352"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mendengar berita jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Majene, 1 Januri 2007, langsung meletik ide: saya ingin menulis cerita yang berangkat dari peristiwa ini. Jadi, boleh dibilang, inilah proses awal kemunculan cerpen itu. Bermacam ide cerita bermunculan, kira-kira tentang tragedi para penumpang yang kena kecelakaan pesawat. Tapi saya tak segera menuliskannya, karena saya merasa ada yang mesti dipertimbangkan, yakni, pertama, saya tidak ingin sekadar menceritakan ulang kisah pesawat yang jatuh itu. Saya ingin ada jarak terlebih dulu dari peristiwa itu, agar bisa menemukan kisah yang tidak serta merta penceritaan ulang sebuah kejadian yang dengan gampang dikenali sumber peristiwanya. Sebuah fiksi, tidak boleh tergantung dari peristiwa yang berada di luar fiksi itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, saya yakin, peristiwa jatuhnya Adam Air itu juga memicu imajinasi para penulis lain. Artinya, akan banyak cerita dengan “latar jatuhnya pesawat’, atau “tentang pesawat yang jatuh” yang ditulis oleh para penulis selain saya, dan karenanya, bila saya tidak bisa menemukan sebuah kisah yang ‘unik dan menarik’, maka cerita yang saya tulis bisa menjadi biasa, umum dan mungkin tak beda jauh dengan kisah-kisah (yang akan ditulis penulis lain) itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua alasan itu, membuat saya menahan diri, dan ide  pun mengendap. Selama pengendapan inilah, saya mencoba menyusun semacam point of view penceritaan, dengan mempertimbangkan, kira-kira sisi apa yang menarik dan menyentuh dari kisah jatuhnya pesawat itu.  Sudah pasti, kisah menyentuh itu pastilah kisah tentang para korbannya. Tetapi bagaimana mengolahnya? Kisah seorang yang punya firasat akan kematiannya, lalu jatuh bersama pesawat itu, tentu banyak dipikirkan juga oleh pengarang lain. Atau mungkin kisah romantis pertemuan terakhir sepasang kekasih, atau suami istri, yang saling menyinta tetapi kemudian salah satunya mati dalam kecelakaan pesawat itu, saya rasa juga tak terlalu istimewa. Atau mungkin kisah seseorang yang menunggu, yang berdebar penuh cinta, tapi kemudian terkejut di akhir kisah lantaran mendengar orang yang ditunggunya mati dalam pesawat yang jatuh itu – ide ini pun segera saya tepis.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menemukan titik pijak lagi buat cerpen itu, ketika para penumpang Adam Air diberitakan tak ada yang ditemukan. Para penumpang itu bagai lenyap tertelan laut, bersama bangkai pesawat yang juga tak tertemukan. Kejadian ini makin mengempalkan ide tentang para korban itu: yakni tentang seseorang yang mati tenggelam di laut dan mayatnya tak ditemukan. Seperti tak ada jejak kematian yang bisa membuktikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya, ini penting, karena inilah yang membuat saya menemukan awal dari mana saya akan mengolah kisah. Tiadanya mayat yang ditemukan itu juga menjadi sesuatu yang penting, bila kita mengingat tradisi ziarah kubur. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan ziarah kubur, kalau yang mati tak ada kuburnya? Maka saya pun makin tahu: ini mesti kisah seorang yang bingung atau berduka karena tak tahu bagaimana menjelaskan sebuah kematian…</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang menjelaskan, dan pada siapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Di sinilah pertanyaan soal tokoh mulai muncul. Kalau dalam teori penulisan, inilah saatnya mulai ditanyakan: Siapa dia? Kenapa dia? Saya mesti menemukan logika cerita: kira-kira, siapa yang menjelaskan peristiwa itu, dan pada siapa? Ia harus merasa kesulitan menjelaskan kematian itu, karena memang tak ada bukti, tak ada mayat, tak ada pemakaman. Dan siapa yang tidak gampang dijelaskan dengan semua kejadian itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka tokoh anak kecil mulai muncul. Nama tokoh belum terpikir, itu nanti, gampang – begitu kebiasaan saya yang selalu menentuan nama tokoh belakangan. Menjelaskan kematian pada anak kecil, sudah tentu tak mudah. Apalagi ketika tak ada mayat, tak ada prosesi pemakaman. Itulah yang kemudian mulai menempel pada benak saya, seperti kemudian muncul dalam cerpen itu:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah… </em></p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, kisah pun tersusun: saya ingin menuliskan tentang seorang ayah, yang kesulitan menjelaskan kematian ibu pada anaknya yang masih kecil, karena sebagaimana ide dari jatuhnya Adam Air, yang mati itu memang lenyap di lautan. Mayatnya tak pernah pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan lain segera menyusul, yang berusaha mencari korelasi atau hubungan yang kuat antara si anak dengan ibunya. Karena, logika dalam hubungan itu mesti kuat: kenapa si anak merindukan ibunya (yang mendadak tak pulang ke rumah)? Mesti ada ikatan khusus, atau hubungan batin tertentu, yang membuat si anak benar-benar merasa kehilangan. Atau, kehadiran si ibu selalu menjadi sesuatu yang penting bagi si anak, hingga ketika ia tak ada, si anak merasa benar-benar kehilangan. Apakah si ibu suka mendongengi si anak? Ah, terlalu sering. Atau apa?</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini saya merasa gagal menemukan kunci jawaban untuk menyelesaikan hubungan itu. Dan kisah ini pun mengendap, lama dalam kepala saya. Sesekali menggoda, tetapi tetap tak bisa saya tuliskan, karena saya belum bisa menemukan logika yang memperkuat hubungan si ibu dan anak itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mungkin melupakan ide itu kalau saya tak takut naik pesawat. Setiap kali naik pesawat, saya selalu mebayangkan jenazah saya akan lenyap begitu saja. Begitu pun ketika terbang menuju Singapura, ketakutan itu begitu kuat. Tapi bersamaaan dengan ketakutan itu, munculah sosok ibu dalam cerpen yang ingin saya tulis itu: ia adalah seseorang wanita yang selalu bepergian naik pesawat, jauh ke banyak negeri. Nah, di sini saya menemukan peluang: ada sesuatu yang khusus yang mewakili ibu itu, bila ia bepergian berhari-hari atau berbulan-bulan, sesuatu yang menandai kehadirannya buat si anak. Mungkin ia selalu membawakan oleh-oleh bila singgah di satu kota. Tapi ini biasa banget, ya? Apalagi kalau oleh-oleh itu semacam mainan atau boneka. Lalu apa?</p>
<p style="text-align:justify;">Saat berjalan-jalan, saya melihat kedai yang menjual kartu pos. Bohlam terang segara menyala dalam kepala: ini dia, kartu pos! Setiap bepergian, setiap singgah di suatu tempat, si ibu itu selalu mengirim kartu pos buat anaknya! Kartu pos itu menjadi susuatu yang khusus, yang selalu dinanti oleh anaknya. Saya pun seperti menemukan jalan terang untuk segera menyelesaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika di hotel, saya pun segera menuliskannya. Tapi saya segera menghentikan. Saya merasa terganggu, justru oleh kartu pos itu. Kenapa kartu pos? Hari gini, kok masih pakai kartu pos? Latar pesawat jatuh, akan mengingatkan bahwa kisah ini adalah ‘hari ini’, bukan jaman dulu, jaman ketika kartu pos masih menjadi sesuatu yang istimewa. Sekarang kartu pos sudah antik, jadul, tergantikan SMS dari <em>handphone</em>. Maka kartu pos, justru akan menjadi cacat cerita bila saya paksakan. Saya harus lebih dulu menemukan rasionalisasi kisah seputar begitu penting dan berartinya kartu pos itu…</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, sebelum saya bisa menjawab pertanyaan itu, saya pun tak melanjutkan kisah itu. Ia tersimpan dalam file <em>flashdisk </em>saya. Tapi mungkin ide itu memang benar-benar ingin dituntaskan. Meski tenggelam dalam kesibukan, ide itu sesekali menggelitik, seperti minta perhatian. Dan ketika membuka catatan-catatan lama di buku <em>notes </em>saya (yang sudah lecek), saya menemukan iventarisasi judul-judul cerita yang pernah saya tulis dalam buku berwarna cokelat itu. Sekadar memberi tahu, saya memang suka mencatat judul-judul yang saya kira menarik. Judul itu saya tulis, saya simpen, meski saya belum tahu itu berkisah tentang apa. Nah, ketika membuka <em>notes</em> kumal itu, saya menemukan judul “Kartu Pos dari Surga”.</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca judul itu, saya kembali diingatkan untuk memikirkan kembali struktur cerpen itu. Setidaknya, kini judul sudah ketemu. Bayangan kisah sudah ada. Tokoh-tokoh sudah ada. Apalagi yang kurang?</p>
<p style="text-align:justify;">Karena pada dasarnya saya ingin menulis kisah dengan “nada dasar realis”, maka koheresi antartokoh dan semua elemen harus utuh dan padu. Mesti ada hubungan yang ‘realistik&#8217; dan &#8216;logis’, agar kisah menjadi meyakinkan. Maka saya memang harus segera menyelesaikan persoalan kartu pos itu: apa pentingnya bagi tokoh-tokoh itu? Lalu kenapa kartu pos? Karena kan lebih praktis menelpon anaknya bila bepergian?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, ketika desakan untuk menuliskan kisah itu begitu kuat, saya segera <em>chatting </em>dengan seorang kawan yang suka dengan kartu pos. Saya tanya koleksi katu pos yang dia punya, dan segala macam. Dari situlah, saya mulai memberi nama tokoh ibu, Ren. Ia, tokoh dalam cerpen itu, memang punya pengalaman yang khusus dengan kartu pos: sewaktu kanak-kanak bapaknya yang pelaut mengiriminya kartu pos. Ini dia kunci untuk menjawab posisi simbolik kartu pos itu. Makanya, latar belakang tokoh sudah bisa menjelaskan kenapa ia, Ren, selalu mengirimkan kartu pos buat anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada satu peristiwa yang juga menolong saya, yakni berita soal penculikan anak, yang marak. Saya membaca berita: ada satu sekolah, yang karena takut anak didiknya diculik, mengharuskan anak-anak itu membawa handphone, agar bisa dihubungi sewaktu-waktu. Lalu saya pun membayangkan, si tokoh anak, yang kemudian saya beri nama Beningnya, memang punya handphone, tetapi itu lebih karena ketakutan akan peristiwa penculikan. Jadi, handphone itu bukan “media komunikasi utama” antara Beningnya dan ibunya, Ren. Karena yang mengikat secara batin antara Beningnya dan Ren adalah “kartu pos-kartu pos” yang dikirimkan itu. Itulah pentingnya kartu pos itu bagi Ren dan Beningnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka pada suatu malam di awal September 2008, saya pun mulai menulis cerpen “Kartu Pos dari Surga” dengan yakin. Saya mengetiknya lancar. Tetapi kemudian sangsi: judul itu sudah mengisyaratkan kematian. Kata ‘surga” sudah langsung membawa imajinasi pembaca bahwa semua ini adalah cerita tentang seseorang yang mati. Ini akan menjadi persoalan besar bila saya tak mampu mengatasi. <em>Ending </em>yang sudah ditebak pembaca, akan menjadi tak menarik.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah persoalannya: saya harus menemukan <em>ending </em>yang bisa menghentak, agar pembaca yang sudah tahu atau bisa menebak, tetap terpesona.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila pembaca kira-kira sudah bisa menebak, maka kita harus melalukan siasat – itulah teorinya. Semacam tekhnis, agar pembaca berfikir atau menduga yang lain juga. Ini penting dalam alur, agar kita bisa menyiapkan kejutan. Tekhnis seperti itu segera saya pakai di bagian tengah cerita: dengan mengintrodusir kemungkinan perselingkuhan. Artinya, pembaca diberi kemungkinan lain, jangan-jangan Ren pergi meninggalkan Beningnya bukan karena mati, tetapi karena pergi dengan laki-laki lain, seperti yang saya isyaratkan dalam adegan ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas, “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita… </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Seorang pembaca sempat komentar pada saya soal bagian itu, “Tadinya saya menyangka ini kisah perselingkuhan…” Jadi, secara tekhnis saya berhasil mengecoh. Sebab, bila tidak begitu, maka alur menjadi datar dan lurus. Dan alur semacam itu, sangat tidak menguntungkan bagi <em>ending</em> yang saya siapkan. Untuk sebuah kisah yang bisa diduga, <em>ending</em> memang menjadi sangat-sangat penting untuk diperhatikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sebabnya, saya kemudian ingin memberi sentuhan magis di bagian <em>ending.</em> Ide untuk menulis kisah yang ‘sungguh-sungguh realis’ pun saya singkirkan. Saya berfikir, bila ending diselesaikan dengan realis, ini akan menjadi kisah melodrama keluarga biasa. Maka saya kemudian menyiapkan satu strategi penulisan: sejak awal hingga menjelang akhir saya harus mampu menghadirkan kisah bergaya realis &#8212; dengan kata lain, saya harus berhasil meyakinkan lebih dulu konvensi kisah realis itu, agar pembaca terbuai dan hanyut dalam kisah, baru kemudian saya ‘hantam’ dengan eding yang bergaya magis. Relisme mensyaratkan semua elemen itu mendukung untuk sebuah kesatuan (<em>unity</em>) cerita dan suspen. Dan <em>ending</em> yang magis bisa menjadi ledakan yang membebaskan imajinasi dan spiritual pembaca, semacam pengalaman estetis ketika membaca cerpen itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah, saya menuliskannya tak lebih dari dua jam. Malam itu juga saya langsung email ke Kompas. Dua minggu kemudian, 21 September 2008, muncul menjumpai pembacanya. Menjumpai nasibnya sendiri sebagai sebuah karya. Setelah hampir dua tarun mendekam dalam kepala saya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=352&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/06/proses-kreatif-penulisan-%e2%80%98kartu-pos-dari-surga%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/kartu-pos-21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kartu-pos-21</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- BUKU PENA KENCANA 2009</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 12:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Indonesia Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Pena Kencana 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[
Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya “Kartu Pos dari Surga”, di samping beberapa cerpen  “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=342&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-348" title="buku-pena-kencana-20092" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/buku-pena-kencana-20092.jpg?w=247&#038;h=370" alt="buku-pena-kencana-20092" width="247" height="370" /></p>
<p style="text-align:justify;">Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya <a title="Cerpen Kartu Pos dari Surga" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/" target="_self">“Kartu Pos dari Surga”</a>, di samping beberapa cerpen  “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. Laksana), “Terbang” (Ayu Utami), “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” (Azhari), “Cincin Kawin” (Danarto), “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan), “Perbatasan” (F. Dewi Ria Utari), “Usaha Menjadi Sakti” (Gunawan Maryanto), “Apel dan Pisau” (Intan Paramaditha), “Sonata” (Lan Fang), “Sebuah Jazirah di Utara” (Linda Christanty), “Semua untuk Hindia” (M. Iksaka Banu),  “Mbok Jimah” (Naomi Srikandi), “Smokol” (Nukila Amal), “Suap” (Putu Wijaya), “Foto Ibu” (Ratih Kumala), “Hari Ketika Kau Mati” (Stefanny Irawan),  “Lembah Kematian Ibu” (Triyanto Triwikromo), “Kamar Bunuh Diri” (Zaim Rofiqi), “Bila Jumin Tersenyum” (Zelfeni Wimra).<br />
Perihal cerpen-cerpen yang terpilih itu, Adi Wicaksono memberikan semacam <a href="http://penakencana.com/cerita-pendek-terbaik/pengantar-cerpen-2009" target="_self">catatan yang menjadi pengantar </a>buku tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=342&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/buku-pena-kencana-20092.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">buku-pena-kencana-20092</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- AKUARIUM</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 08:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cepen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[
 








PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=332&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                               &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-333 aligncenter" title="akuarium" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/akuarium.jpg?w=427&#038;h=153" alt="akuarium" width="427" height="153" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: <em>my days are just an endless dream of emptiness</em>&#8230;. Seakan muncul dari kegelapan yang jauh, <em>Krraaakk!!</em> Berhentilah memekik &#8212; Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya <em>eneg</em>. Usia tua yang celaka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di sudut kamar, Pitaya melihat istrinya tertidur, damai, mengapung dalam akuarium, bagai piranha raksasa. “Selamat pagi,” mendesis. Mencoba menghitung gelembung air, sekadar meyakinkan bahwa ia masih bisa bahagia hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Bangkit sungkan menuju lemari. Cuma mendapati beberapa potong roti berjamur dan sekerat daging busuk. Tak ada keju atau mentega. Melirik wajahnya di cermin: lihatlah, seekor keledai bangka! Bayangan itu membuat mulutnya kecut. Dan keledai tua itu beringsut menuju jendela, mencoba meraih kehangatan pagi, seperti anak kecil menyambut kedatangan mamanya pulang belanja membawa boneka. Tapi ujung jari-jarinya tetap menggigil, membuatnya berfikir, betapa kesepian adalah makhluk asing yang tak gampang dikenali. Lalu dari ujung jari-jarinya yang menggigil itu, muncul kupu-kupu. berpuluh kupu-kupu, yang segera menghambur keluar jendela.<span id="more-332"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menyaksikan kupu-kupu itu muncul dari ujung jari-jarinya, Pitaya sedikit merasa tak terlalu celaka. Dengan kegembiraan kanak-kanak, Pitaya menjentik-jentikkan ujung-ujung jarinya, menciptakan lebih banyak kupu-kupu bersayap jelita penuh warna, begitu mempesona, sehingga pagi berkilatan oleh bias cahaya aneka rupa. Ia lantas ingat pada sajak yang pernah dibacanya, tentang kata-kata yang menjelma kupu-kupu, menghambur berebut bunga-bunga yang menjelma warna-warna, menjelma cahaya, berebut cakrawala.<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a> Entah kapan ia membaca sajak itu. Lupa. Tapi ia ingat, Pikulan yang menyuruhnya membaca puisi itu. Pitaya jadi kangen pada kawan satu itu: Seorang yang menjaga puisi seperti menjaga hati nurani. Sampai ia merasa kembali lambungnya <em>eneg</em>. Menjauh jendela. <em>Uh</em>, ia akan sarapan sendirian lagi. Setangkup roti berjamur, susu yang telah rusak, atau sesekali sekaleng <em>coke</em> kedaluwarsa. Membuatnya menderita <em>hypoglycemia</em>. “Mestinya aku ke Dokter Piwaca,” membatin, “mengganti otakku dengan karet sintetis.” <em>Ck ck ck</em>. Bukankah Dokter Piwaca juga yang menganti jantungnya yang membusuk dengan jantung plastik?! Baiklah, nanti siang aku akan ke sana &#8212; sambil melirik istrinya, yang mati diperkosa, lima tahun lalu. Adalah ide Dokter Piwaca pula untuk mengawetkan mayat istrinya dalam akuarium, setelah merendamnya dalam cairan air raksa. “Agar kamu tak terlalu merasa sendirian, Tuan Pitaya,” kata Dokter Piwaca. Nyatanya ia selalu kesepian, dan selalu gemetar oleh ingatan kekejian. <em>Je hais ces brigands</em>. Sungguh, aku benci bandit-bandit itu! Mengingat semuanya, membuat Pitaya sengsara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">BEGITULAH, suatu hari, seorang laki-laki mengantar bingkisan untuknya. “Selamat ulang tahun, Tuan.” Menjabat tangannya dengan hangat. Sungguh laki-laki yang baik, batin Pitaya. Hanya orang baik yang ingat hari ulang tahun seseorang yang tak pernah dikenalnya dan memberikan padanya hadiah. Pitaya membuka kiriman itu, dan mendapati kepala putrinya yang berumur 12 tahun. Kepala mungil dengan pita biru muda di rambutnya. Alangkah cantik kepala itu, meski telah dipenggal dari lehernya. Kado istimewa! Pitaya gemetar. Lelaki itu melepas topinya, menyilangkan tangan ke dada, membungkuk memberi hormat. Takzim. “Semoga panjang umur, Tuan…” Tersenyum tulus. Itulah senyum paling tulus dari seorang pembunuh yang pernah dilihat Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa upacara kepala itu ia makamkan dekat beranda, dimana dulu ia juga menyimpan ari-ari putrinya tercinta. Agar ia bisa selalu memandanginya setiap kali duduk membenamkan kemarahan di kursi goyang. Ketakutan membuatnya kelihatan lebih tua. Sepanjang hari ia duduk-duduk di beranda, memandangi gundukan makam kepala anaknya, menyaksikan hari menjelma jelaga, dan sekuntum mawar perlahan tumbuh di atas makam itu. Sekuntum mawar yang bungkah merekah, memancarkan cahaya lembut kemerahan, seperti sulur cahaya yang begitu indah. Pitaya merasa, mawar itu tumbuh juga dalam jantungnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Petiklah mawar itu, istriku. Sematkan di telingamu, agar kau bisa mendengar setiap desis, setiap kata, setiap suara, yang dibisikkan anak kita tercinta. Aku merasa mendengar nyanyiannya&#8230;.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perempuan itu akan membimbing Pitaya masuk, membaringkannya penuh pengertian, dan mulai memijiti kaki Pitaya, melulurkan cinta dan ketabahannya. Mereka berdiam diri, menghabiskan malam dalam kamar. Sementara di luar, dunia berubah menjadi ladang pembantaian. Kerusuhan meledak di seluruh kota. Kematian seperti pakaian yang diobral di pinggir jalan. Rumah-rumah dirampok. Para wanita diseret dan diperkosa. Tiada hari tanpa pembunuhan, seperti slogan tiada hari tanpa olah raga. Wahai! Kejahatan seperti makanan pelengkap, yang diiklankan sepanjang hari. Entah dari mana iblis itu datang. Sepanjang malam gentayangan, menjejalkan mimpi hitam, seperti televisi yang tumbuh dalam kepala: memberi pelajaran bagaimana cara paling sempurna menusukkan pisau ke jantung orang. Membuat anak-anak terpana dan percaya, betapa gampangnya menghabisi seseorang; cukup ayunkan kelewang dan, <em>craapp</em>, kepala itu pun menggilinding dengan indahnya, dalam gerak lambat. Kemudian anak-anak itu belajar berkelahi di jalanan. Yang lain menjarah rumah, seperti kanker yang tak dapat dicegah. Penjahat menjadi jantung kota, membuat setiap orang merasa percuma telah membayar pajak, karena tak ada jaminan apa-apa, yang membuat mereka bisa merasa nyaman bercengkrama dalam rumah bersama keluarga. Begitu juga dengan Pitaya. Ia tak bisa apa-apa ketika suatu malam, laki-laki itu muncul kembali. Seperti setan, serta-merta laki-laki itu telah berdiri di tepi ranjang. “Masih ingat saya, Tuan?” ramah menyapa. Pitaya lihat lima orang berdiri di belakang laki-laki itu. “Izinkan kami membawa pergi semua barangmu, Tuan&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ambillah, dan cepat pergi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi mereka tak cuma mengangkut barang-barangnya. Mereka juga memperkosa istrinya. Bergiliran. Kemudian menyembelihnya&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kenangan yang selalu membuat kepalanya berderit. Ngilu. Membuat Pitaya ingat akan Dokter Piwaca. Sedikit opium, mungkin bisa menenangkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">RUANG tunggu rumah-sakit selalu berbau kematian. Suster penjaga duduk terkantuk-kantuk. Seorang tua bersyal merah di pojok. Pitaya tahu, biji mata kiri orang tua itu telah diganti biji kelereng besi &#8212; mungkin mata itu dicongkel dalam satu interogasi. Wajahnya mengingatkan seorang pencoleng yang mau dieksekusi. Waktu terasa lebih lamban di ruang tunggu seperti ini. Seorang perempuan tergeletak dengan perut menggunung penuh sampah, terus mengerang, sebentar lagi akan melahirkan rongsokan panci, kaleng, botol-botol plastik, potongan kayu, sepatu, lonjoran besi dan rombengan baju. Pintu periksa berkerit terbuka, seekor babi melenggang keluar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya,” suster penjaga memanggil namanya. Pitaya merasa kulitnya tiba-tiba mengeras, seperti ada yang diam-diam tengah tumbuh mengubah dirinya. Babi itu menguik, mengangguk pada Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ia bangkit. Melangkah lamban dengan keengganan memenuhi dada. Ia merasa tak ada guna menemui Dokter Piwaca.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya, pintu kamar periksa di sebelah sana. Tuan Pitaya!” suster itu berteriak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi Pitaya terus berjalan keluar ruang tunggu. Entah kenapa ia tak ingin berurusan lagi dengan dokter. Dokter cuma menjadikan tubuh pasien sebagai barang mainan yang diperlakukan seenak-udelnya. Lagi pula ia kini merasa tak terlalu membutuhkan dokter. Ia hanya butuh seseorang yang bisa meyakinkannya: betapa hidup ini masih ada gunanya. Mungkin Pikulan, desis Pitaya. Ia jadi ingin bertemu Pikulan, mendengarkannya berbicara. Pitaya selalu suka mendengar Pikulan bicara, karna kata-kata begitu hangat dalam mulutnya. <em>Hmm</em>, kehangatan. Itukah yang aku butuhkan, Pitaya mendesah. Jengah, Pitaya melirik pada papan nama di tembok yang tergantung miring: <em>Dokter Hewan Piwaca</em>. Membuat kulit Pitaya seakan tambah mengeras.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di pintu gerbang ia berpapasan dengan tiga ekor anjing, terpincang-pincang masuk rumah-sakit. Satu dari tiga ekor anjing itu ternyata Pitedah, kenalan Pitaya. Dia berubah menjadi anjing ketika bangun tidur pagi tadi. Menguik. “Ini lebih baik, Pitaya. Kota terlalu bahaya bagi orang tua macam saya.” Keduanya bertatapan, seperti sepasang kekasih yang mencoba menjenguk perasaan masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Selamat atas kebahagiaanmu,” bisik Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bicaramu membuatku merasa terhina, Pitaya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Berbahagialah orang yang telah menjadi anjing.” Pitaya mengelus kepala anjing itu. “Salam buat buat istrimu, Pitedah.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Dia telah mati dibacok, tiga hari lalu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku turut berduka&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Terima kasih.” Menguik. <em>Up</em>, anjing yang manis. Pitaya berharap, ia juga bisa jadi anjing suatu pagi nanti. Jadi istri Pitedah telah mati. <em>Hmm</em>. Bagaimana dengan Piwucal? Apa kabar Pitados dan Pikulan? Lama ia tak ketemu mereka. Belakangan ini Pitaya lebih banyak mengurung diri di kamar, memandangi mayat istrinya yang terapung tenang dalam akuarium; merasa perlu untuk setiap saat mengganti air akuarium itu, seperti mengganti popok bayi agar selalu bersih. Mungkin hari ini aku bisa ketemu mereka di kafe. Tentu banyak hal telah terjadi. Aku akan dengar cerita mereka. Berbincang-bincang dengan para orang tua celaka itu, Pitaya selalu merasa bagai rusa dalam kelompoknya. Kehangatan, <em>hmm</em>, kehangatan. Seakan ada yang mengerudungkan selimut ke punggungnya, setiap mendengar mereka bercerita. Terutama bila Pikulan yang bicara, suaranya seperti keluar dari hidung: gemetar sengau. Seperti mendengar derap baris kaki tentara. Seperti ada senjata yang menjaga kata-katanya. Ia berharap bertemu pikulan di kafe. Ia akan bertanya, kenapa bicaranya sengau begitu. Ia juga akan bertanya, apakah dia sering membayangkan pada suatu hari nanti dirinya menjelma anjing atau babi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">HUJAN turun ketika Pitaya keluar rumah sakit. Kabut mengelangut. Jalan-jalan kelabu. Air tumpah, seakan-akan ada kaca yang tiba-tiba mengurung Pitaya, membuatnya merasa berada dalam akuarium raksasa. Dingin. Ia merasa kulitnya berlendir. Ia lihat bangkai bus dan gerobak menjelma lokan. Seluruh bangunan menjelma karang. Ia mengambang, berenang bersama orang-orang yang lalu-lalang, yang menjadi ikan di antara ganggang dan kerang. Ada dunia lain dalam akuarium, yang membuat ujung jari-jarinya tak lagi menggigil kesepian, dan waktu menjadi terasa hangat di pergelangan tangannya, membawanya memasuki masa lalu, termangu di gigir waktu Paleolithic. Dunia putih kelabu, membentang lesu. Binatang-bintang purba bermunculan dari celah-celah terumbu waktu. Di atas kota, sebuah bahtera mengapung, seperti piring terbang raksasa yang memayungi seluruh kota,<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> mengapung di bawah cahaya bulan biru yang membuat alun dan riak air jadi berkilauan, seperti bongkahan es yang mencair. Dingin. Ribuan ikan berenang di bawah bahtera yang membawa berpasang-pasang binatang itu, berenang dalam keabadian. Deras. Pitaya mengapung dalam hujan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“<em>Aha</em>, Tuan Pitaya. Apa kabar? Hari yang cerah, bukan?!” Pitungkas, si pincang pelayan kafe, menyambut kemunculannya. Gembira.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku perlu segelas <em>brandy</em>,” Pitaya menggigil dalam hujan. Melepas topi panamanya, duduk memandang keluar jendela: hari yang cerah, seperti kata Pitungkas. Tak ada hujan. Namun Pitaya tetap menggigil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Anda kedinginan, Tuan Pitaya?” cemas menyodorkan <em>brandy</em>, Pitungkas membukakan jas kulit Pitaya seperti pemburu tengah menguliti beruang es tua yang sekarat. “Apakah sudah Tuan periksakan kembali jantung plastik Tuan? Mesti rutin, Tuan Pitaya! Dokter Piwaca pasti cemas pada kesehatan Tuan. Jangan merajuk, Tuan Pitaya&#8230;.” Pikulan terus bicara dengan kata-kata yang memar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Jangan omong terus seperti radio!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kafe sepi. Penasaran, Pitaya kembali memandang keluar jendela. Benar, tak ada hujan. Ia malah melihat Pikulan berdiri di pintu, menenteng buku puisi seperti biasanya. terlalu sering dibawa-bawa, buku puisi itu jadi lusuh tak karuan. Pikulan mendekap buku puisi itu seperti mendekap hidupnya. Pitaya tak mengerti, kenapa ada orang bisa hidup cukup dengan membawa-bawa buku puisi. Kenapa ada orang merasa begitu bergairah, cuma karena puisi &#8212; seperti Pikulan. Tapi, jujur, Pitaya menyukai Pikulan melebihi apa saja, setelah istrinya. Tak pernah bosan Pikulan menyarankannya untuk membaca puisi. Cara dia mendorongnya untuk menyukai puisi, selalu membuatnya merasa nyaman. Kerap Pikulan mengajaknya ke perpustakaan kota, dan disodorkan ke hadapannya setumpuk buku puisi. <em>Yeah</em>, ia pun membacanya sesekali. Tapi ia tak pernah ngerti puisi. Apakah memang berguna membaca puisi di tengah kota yang penuh kekerasan macam ini? Ia sering merasa ada kekerasan juga dalam puisi, yang membuatnya bertambah menggigil di antara kata-kata yang berbau darah dan membayangkan kematian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sudah dengar Pitedah menjelma anjing?” sapa Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pikulan mengangguk. “Dan kamu, Pitaya, apakah sudah mendengar Pitados mati bunuh diri?” telunjuk Pikulan menyentuh kening, membentuk pistol, “Dorr!! Ia menembak kepalanya sendiri.” Mendengus. “Tadi malam. Aku mencoba menelponmu. Cuma dering.” <em>Uh</em>, tadi malam aku tertidur sejak sore, batin Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Duduklah, aku akan mentraktirmu kopi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Terima kasih, Pitaya.” Pikulan mengelus tangan Pitaya. “Aku ada keperluan kecil.” Lalu beranjak pergi. Segera tertelan keriuhan jalan. terdengar seorang perempuan menjerit, “Jambret!! tetapi tak ada yang peduli. Di tempok ada grafiti merah, seperti kemarahan yang dibekukan: <em>ALL RAPISTS SHOULD BE CASTRATED! ALL CHILD ABUSERS SHOULD BE KILLED!! ANYONE ELSE-MURDERERS, CRIMINALS SENT SOMEWHERE TO ROT!!</em> Prasasti sunyi. Tak ada yang peduli. Kemanakah polisi-polisi itu saat ini? Kenapa mereka cuma sibuk ngurusi pelarangan baca puisi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pitaya duduk sendiri, didera iri, pada Pitedah yang telah jadi anjing, pada Pitados yang bisa mati bunuh diri. Telah lama ia ingin mati. Telah berkali-kali ia bunuh diri, tapi tak pernah mati. Seperti film seri yang terus-menerus diputar ulang di televisi, Pitaya selalu mendapati dirinya hidup kembali. Telah ia tenggak racun hingga jantungnya membusuk, tetapi Dokter Piwaca keparat itu berhasil menggantinya dengan jantung plastik. Diantara rasa iri itu, ia seperti mencium kembali bau yang membuatnya ngeri. Bau yang sunyi, teramat sunyi.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a> Membuatnya seperti berdiam di puncak menara dengan pintu terkunci. Lalu ia lihat bulan bulat biru muncul dari balik gedung-gedung menjulang, membuat silhuet menara-menara katedral dengan bayangan memanjang rebah di atas hamparan lapangan rumput, seperti gelandangan yang lelah rebahan ditemani burung-burung dara yang berkepakan di bawah cahaya bulan. Pitaya jadi teringat pada bahtera yang melintas di atas kota tadi. Mengalun tenang, sebagaimana bulan biru itu. Ia ingin turut berlayar bersama bahtera itu, dalam keabadian waktu. Pikiran itu membuatnya termangu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sudah malam, Tuan Pitaya.” Pitungkas mengemas gelas. Pitaya ingin terus duduk di situ menikmati bulan biru, menunggu kemunculan sebuah bahtera di atas kota. Tapi memang sudah malam. Udara lembab.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Pulanglah, Tuan Pitaya. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa, Tuan Pitaya. Itu baik bagi Anda. Selamat malam, Tuhan bersama Anda, Tuan Pitaya&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Yeah</em>, semoga Tuhan memang benar-benar ada, dan tak menderita amnesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">PULANG, meringkuk di depan pendiangan, dan tidur. Ya, apa lagi yang mesti dikerjakan selain itu? Ia melenggang seperti ganggang, merasakan kulitnya berkilatan di bawah bulan. Aku akan menjadi ikan, desisnya, sambil memandangi ujung-ujung jarinya yang membeku, bagai ada kupu-kupu yang hendak muncul dari situ.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kamar penuh bau sunyi, seperti wangi melati yang menguar dari tubuh istrinya yang mengapung tentram dalam akuarium: menyimpan cinta pada bulat bola matanya. <em>Yeah</em>, cinta, hanya ingatan yang terus dipertahankan orang-orang kesepian. Orang sebelah masih saja bernyanyi, datar, <em>you slip in to the silence of my dream last night</em>&#8230;., bagai memanggili kenangan manis ditengah kesakitan. Sepertinya ia pernah mendengar lagu itu, membuat Pitaya tanpa sadar ikurt bergumam: <em>Sweet memories&#8230; sweet memories&#8230; hmm&#8230;hmm&#8230;</em> Lirih. Alangkah jauh suara itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sambil memandangi mayat istrinya dalam akuarium kenangan Pitaya bangkit dan menggugahnya, membuatnya ingin menjadi sepasang kekasih abadi. Aku tak ingin lagi meninggalkanmu, istriku, bisiknya sambil mengecup kaca akuarium. Malam ini ia ingin tidur dalam akuarium, mendekap tubuh istrinya yang dingin oleh lendir, mendekap kenangan dan impiannya, panjang. Pitaya melepas pakaiannya. Sepi. Menatap akuarium itu, dunia yang membuatnya merasa memiliki cinta, kemudian masuk ke dalamnya. Cahaya biru bulan menerobos masuk celah jendela, menimpa sebagian sisi akuarium, seakan mengirim selembar langit biru. Pitaya mengapung, tertidur dalam akuarium, tak hendak bangun&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:12pt;"><span> </span><span> </span><strong><span> </span></strong></span><strong><span style="font-size:11pt;">Yogyakarta, 1995-1997</span></strong><span style="font-size:11pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Catatan:</span></strong></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a> Lihat sajak <em>Malam Pembredelan</em>, karya Joko Pinurbo.</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> Seperti satu adegan dalam film<em> Independence Day.</em></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a> Dari sajak Goenawan Mohamad,<em> Parikesit</em>.</p>
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=332&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/akuarium.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">akuarium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- INTERMEZO: LELUCON DALAM FIKSI MINI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 08:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[Lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair]]></category>
		<category><![CDATA[Saut Situmorang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[ Buat Saut Situmorang






 
PENYAIR DAN MANTRA
Penyair Saut terpesona iklan obat kuat di pasar malam: Cukup oleskan sambil mengucapkan mantra ‘pow’, seketika akan membesar dan kuat!! “Bagaimana kalau sudah selesai?” tanya Saut, yang langsung terkenang pada sajak-sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri. “Cukup ucapkan mantra ‘wow’, maka akan mengecil kembali,” tukang obat itu menerangkan.
Saut pun membeli [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=326&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <strong><span style="font-family:&quot;"><em>Buat Saut Situmorang</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;"><em><br />
</em></span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-327 aligncenter" title="intermezo" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/intermezo.jpg?w=278&#038;h=372" alt="intermezo" width="278" height="372" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;">
<p><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">PENYAIR DAN MANTRA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Penyair Saut terpesona iklan obat kuat di pasar malam: <em>Cukup oleskan sambil mengucapkan mantra ‘pow’, seketika akan membesar dan kuat!!</em> “Bagaimana kalau sudah selesai?” tanya Saut, yang langsung terkenang pada sajak-sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri. “Cukup ucapkan mantra ‘wow’, maka akan mengecil kembali,” tukang obat itu menerangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saut pun membeli sebotol. Sesampai di kamar pelacur langganannya, segera ia mengoleskan obat itu sambil merapal mantra ‘pow’. Ia kini begitu bangga karena burungnya – seperti dalam sajak Joko Pinurbo – bertenger dengan gagahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kaget, karena melihat burung penyair itu tampak besar tidak sebagaimana biasanya, pelacur itu pun langsung berteriak, “Wow!”<span id="more-326"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">PAGI TERAKHIR SEPASANG SUAMI ISTRI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seorang istri menemukan celana dalam yang bukan miliknya tergeletak di kolong tempat tidur. Ia pun curiga: selama seminggu ia keluar kota, suaminya yang penyair itu pasti menyelingkuhi pembantunya. “Ini pasti celana dalam Iyem, kan?!!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jangan main tuduh gitu dong, Ma,” jawab si penyair kalem. “Setahuku, Iyem nggak punya celana dalem kok. Buktinya dia nggak pernah pakai</span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">SEORANG PENYAIR DAN DUA ORANG RAHIB</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam kisah ini, penyair kita Saut, bersikeras ambil bagian, hanya karena ingin menunjukkan maqam kepenyairannya. Saat berjalan mrncari inspirasi melintasi hutan cemara yang menderai seperti dalam sajak Chairil Anwar, ia melihat dua rahib bermeditasi di tepi danau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia kemudian menyaksikan rahib pertama bangkit, dan dengan tenang berjalan melintasi danau, seolah Yesus yang berjalan di permukaan air. Rahib kedua lalu menyusul, melangkah ringan di permukaan danau bening itu, bagai rase terbang di atas rerumputan – yang membuat penyair Saut seketika teringat pada adegan dalam buku-buku silat yang pernah dibacanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Menganggap kedua rahib itu tengah unjuk kesaktian di hadapannya, penyair Saut yang semasa kecil merasa pernah bercakap-cakap dengan Tuhan, segera ingin pamer: “Aku juga bisa berjalan melintasi danau itu.” Tapi baru sekali melangkah, ia langsung kecebur. Ia terus berusaha meringankan tubuhnya, terus mencoba berjalan melintasi permukaan danau, tetapi seketika itu juga selalu kembali tenggelam megap-megap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Melihat itu, rahib pertama segera berkata pada rahib kedua, “Mungkin sebaiknya kita beritahukan saja letak batu-batunya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">PENYAIR SELEBRITIS</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hanya karena merasa dirinya pemberontak, penyair kita Saut selalu menganggap dirinya selebitris yang dikenal setiap orang. Makanya, ia tak heran ketika seorang gadis cantik tampak diam-diam memperhatikan dan tersenyum-senyum kepadanya. “Kayaknya kenal, deh…” ujar gadis itu malu-malu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Pastilah kau kenal aku!” ujar Saut mantap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, beneran kayak kenal…pot!” jawab gadis itu sambil mesam-mesam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/326/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/326/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/326/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=326&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/intermezo.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">intermezo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- 15 CERITA DARI SEORANG WANITA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/17/15-cerita-dari-seorang-wanita/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/17/15-cerita-dari-seorang-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 06:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Surat]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Dani]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mikro (Micro Fiction)]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[Selingkuh itu Indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendapat email dari Resta Gunawan, nama yang tiba-tiba saja muncul dalam hidupku melalui dunia elektrik. Ia mengirimiku 15 fiksi mini, yang ingin kubagi dengan kalian. Saya senang dengan beberapa fiksi mini yang ditulisnya itu. Seperti fiksi mini ini misalnya:



Dresscode
&#8220;Stop&#8221;, kata malaikat di pintu surga, &#8220;tempat ini khusus untuk wanita yang setia kepada suaminya&#8221;. Wanita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=315&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Saya mendapat email dari Resta Gunawan, nama yang tiba-tiba saja muncul dalam hidupku melalui dunia elektrik. Ia mengirimiku 15 fiksi mini, yang ingin kubagi dengan kalian. Saya senang dengan beberapa fiksi mini yang ditulisnya itu. Seperti fiksi mini ini misalnya:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;"><img class="alignright size-medium wp-image-324" title="15-fiksi-mini-dari-seorang-wanita3" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/01/15-fiksi-mini-dari-seorang-wanita3.jpg?w=225&#038;h=276" alt="15-fiksi-mini-dari-seorang-wanita3" width="225" height="276" /><br />
</span></em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dresscode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Stop&#8221;, kata malaikat di pintu surga, &#8220;tempat ini khusus untuk wanita yang setia kepada suaminya&#8221;. Wanita bergincu tebal itu menunjukkan beha dan celana dalamnya. Malaikat mengijinkannya masuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Atas seiijin Resta, saya menampilkan 15 fiksi mini yang dikirimkannya melalui email itu.<span id="more-315"></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">15 CERITA DARI SEORANG WANITA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Oleh: Resta Gunawan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Yang terhormat Tuan Agus Noor ,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya diminta Ahmad Dani membalas kartu pos yang pernah anda kirimkan kepadanya. Katanya terima kasih telah mengirim potongan cerita tersebut, tapi dia merasa kok mirip dengan hidupnya, ya? Ah, entahlah, saya hanya disuruh saja. Cerita ini sebenarnya akan saya kirimkan juga melalui kartu pos kepada Anda. Tapi kok seperti ketinggalan jaman ya, makanya saya kirim saja lewat email. Semoga cerita ini sampai kepada Anda, Agus Noor yang asli, bukan Agus Noor yang lain&#8230;<!--more--><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Telegram</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia menerima telegram yang mengabarkan kematiannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pesan Seorang Pembunuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seorang penembak jitu membunuh dirinya sendiri setelah tanpa sengaja membunuh anaknya. Pesan ini aku sampaikan kepadamu setelah ia membunuhku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Rendezvouz</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lelaki itu datang ke kafe tengah malam. Ia menemukan seorang perempuan cantik di sana; mereka berbincang begitu lama. Meski kata pelayan, malam itu, tamu kafe hanya lelaki itu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mimpi Jadi Presiden</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seorang lelaki pengangguran punya mimpi menjadi presiden. Suatu malam dia bermimpi tentang bulan. Paginya dia mendapati bulan tergeletak di bawah ranjangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Perselingkuhan Pertama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Adam mengkhianati cinta Hawa demi maneken yang kesepian di etalse toko baju impor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Seorang Tentara Menenteng Kepala</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kota kami gempar. Seorang tentara tua menenteng kepala berjalan memasuki kota. Kami ketakutan, bersembunyi, dan hanya berani mengintip dari celah jendela; termasuk aku dan beberapa tukang kritik. Aku asing dengan tentara itu, tapi rasanya kenal dengan raut muka kepala yang ditentengnya. Kata orang-orang, itu wajahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cinta Sepasang Maneken</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dipisahkan kaca etalase, sepasang maneken saling memandang diantara api yang membakar pertokoan di kota ini. Mereka menitikkan air mata, sementara orang-orang di luar bersorak gembira.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Wajah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sepulang kerja, dia masuk toko barang antik. Saat melihat deretan wajah yang dipajang di dalam kotak kaca, ingatannya tertuju pada isteri dan anaknya yang selalu membantah kata-katanya. Dia segera pulang ke rumah dengan gembira. Di dalam tas kerjanya tersimpan wajah Mao dan Soeharto yang baru dibelinya; untuk menganti wajahnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Nasib Seorang Politisi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia mati keracunan bualannya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cerita Buat Bapak Presiden</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Syahdan, Syahrazad harus bercerita seribu satu malam kepada patung batu yang gagah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pulang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dia melanglang buana mencari wanita yang paling sempurna. Setelah lelah dan hampir menyerah, dia baru sadar wanita yang selama ini dicarinya telah menunggu di rumah. Kembali ke rumah, ia melihat isterinya telah menjadi pelacur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kaki Paling Indah di Surga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Kau memiliki kaki paling indah&#8221;, rayu ular kepada Hawa. Tuhan yang marah mengusir ular ke dunia tanpa kaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bapak Termangu di Beranda</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia menanti keadilan yang tak kunjung datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dresscode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Stop&#8221;, kata malaikat di pintu surga, &#8220;tempat ini khusus untuk wanita yang setia kepada suaminya&#8221;. Wanita bergincu tebal itu menunjukkan beha dan celana dalamnya. Malaikat mengijinkannya masuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kartu Pos dari Surga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lelaki itu menerima kartu pos dari surga malam ini. &#8220;Undangan dari Tuhan&#8221;, kata Pak Pos padaku di warung kopi. Tepat jam sembilan pagi, kami menemukan lelaki itu gantung diri di kamar kontrakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bantul, 15-16 Januari 2009</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">PS<em>:</em></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <em>Mas Agus Noor, fiksi mini ini saya buat berdasarkan beberapa cerpen Anda dalam buku Bapak Presiden Yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvouz, Potongan Cerita di Kartu Pos, dan cerpen Anda yang berserakan di laman internet. Buku Memorabilia saya belum punya (susah carinya sih!). Sungguh saya jatuh cinta dengan karya-karya Anda (untungnya gak jatuh cinta dengan And,. hehe&#8230;) Moga-moga Mas gak marah ya, karyanya dicuri orang (kan sudah saya kirim lagi ke Mas, hehe..)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jujur saya baru tahu kalau dalam sastra ada yang namanya fiksi mini – saya baru tahu setelah menjenguk situs Anda. Maklum baru setahun ini tertarik dengan sastra, dulu hanya baca komik dan cerita erotis di internet saja – meski menurut pengertian denotatif, itu termasuk sastra juga (literature).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kapan-kapan mampir ke blog saya di: www.restagunawan.wordpress.com – bloger baru (^_^) &#8230;. Oh ya, minta ijin untuk upload fiksi mini di atas ke blog saya ya&#8230; (entah cerita di atas sudah termasuk fiksi mini atau belum).. sebenarnya kriteria fiksi mini apa sich? Apa yang membedakannya dengan puisi cerita, misal puisi Sapardi (contohnya, “Catatan Masa Kecil”), atau sebagian besar puisi Joko Pinurbo?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Salam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Resta Gunawan</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/315/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/315/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/315/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=315&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/17/15-cerita-dari-seorang-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/01/15-fiksi-mini-dari-seorang-wanita3.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">15-fiksi-mini-dari-seorang-wanita3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>-35 CERITA BUAT SEORANG WANITA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/09/35-cerita-buat-seorang-wanita/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/09/35-cerita-buat-seorang-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 06:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mikro (Micro Fiction)]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[Flashlit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[
Ini sehimpun fiksi mungil. Begitu, aku suka menyebutnya. Kau boleh menyebutnya fiksi mikro  (micro fiction), fiksi cepat atau flash literature, cerita mini, atau cerita setelapak tangan atau nouvelles sebagaimana orang Perancis menyebutnya. Semua itu sesungguhnya merujuk pada fiksi yang “sangat-sangat pendek”. Mungkin ia terdiri hanya beberapa patah kata, sebaris kalimat atau beberapa baris kalimat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=273&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><img class="size-full wp-image-302 alignleft" title="micro-fiction-book-cover" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/micro-fiction-book-cover.jpg?w=140&#038;h=195" alt="micro-fiction-book-cover" width="140" height="195" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Ini sehimpun fiksi mungil. Begitu, aku suka menyebutnya. Kau boleh menyebutnya fiksi mikro <span> </span>(<em>micro fiction</em>), fiksi cepat atau <em>flash literature</em>, cerita mini, atau cerita setelapak tangan atau</span> <em><span style="font-family:&quot;">nouvelle</span></em><span style="font-family:&quot;">s sebagaimana orang Perancis menyebutnya. Semua itu sesungguhnya merujuk pada fiksi yang “sangat-sangat pendek”. Mungkin ia terdiri hanya beberapa patah kata, sebaris kalimat atau beberapa baris kalimat. Kalau harus mengacu pada jumlah kata, saya akan membatasi: tak lebih 50 kata. Dalam batasan itulah cerita mesti dihasilkan. Dimana setidaknya tiga elemen penceritaan tetap terasa di sana. Tokoh, konflik dan alur. Tanpa itu, ia bisa menjadi hanya semacam catatan impresi atau puisi. Setidaknya, itulah yang saya yakini ketika menuliskan fiksi mungil.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ambulan yang Lewat Tengah Malam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.<span id="more-273"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sebutir Debu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sumur Tua di Belakang Rumah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setiap purnama airnya berwarna merah. “Dulu,” cerita Nenek, “puluhan orang dibantai, dan dibuang ke dalamnya.” Siapa pun dilarang mendekat. Tapi diam-diam aku suka ke sana. Menyaksikan bangkai mayatku mengapung di dasar sumur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bayi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Misteri Mutilasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Apel</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dipetiknya apel itu. Diberikannya buat Adam dan Tuhan. Kini ia sendirian di surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengantin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tak pernah ia bertemu perempuan secantik itu. Mengingatkan pada Putri Tidur jelita. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan meminangnya. Tak ada yang tahu ketika ia membawa mayat itu ke kamarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Teka-teki Pembunuhan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia dihukum karena membunuh. Ia bertemu dengan orang yang dibunuhnya dalam penjara. Keduanya terkejut saat saling bertatapan. Ia pun segera mengenali: orang itulah yang dulu telah membunuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Jangan Membunuh Ular di Hari Minggu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kau menjerit ketika seekor ular keluar dari mimpi, dan cepat-cepat menghantamnya. Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pembohong Pertama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka akhirnya tahu: Iblis ternyata benar. Tuhan yang bohong.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sarapan Pagi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Potongan daging busuk penuh belatung berceceran di lantai. Bau busuk meruap dalam kamar gelap itu. Sumanto menikmati sarapan paginya dengan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Matinya Seorang Pelawak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tak ada yang tersenyum menyaksikannya di panggung. Ketika ia mati, semua orang tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pada Sebuah Kuburan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Bila pulang malam-malam, kau pasti merinding setiap melewatinya. Seperti ada suara yang terus melolong. Kau seperti mendengar suaramu yang menjerit keakitan ketika dulu kau mati dipotong-potong dan dibuang ke kuburan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ramalan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Suatu kali seorang peramal mendatangi. “Kau akan mati ketabrak kereta api,” katanya. Padahal ia tak pernah dilahirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Alibi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Polisi tak bisa mendakwamu. Meski para tetangga curiga, kau memang tak di tempat kejadian saat istrimu mati dengan delapan tusukan. Kau juga tak di tempat kejadian, ketika ketiga anakmu mati mengenaskan. Dan Polisi makin tak bisa mendakwamu, ketika mayatmu ditemukan, kau pun tak ada di tempat kejadian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Anjing</span></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mayat di Pinggir Kali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mayat itu ditemukan telanjang di pinggir kali. Ia dihukum lima tahun penjara karena melanggar Undang-undang Pornografi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ulat dalam Kepala</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bocah itu iba pada adiknya yang terbaring sakit. Kepalanya makin bengkak. “Seperti ada ulat di otakku.” Suatu hari ia melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya. Segera ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">TKI yang Pulang Kampung</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia dikabarkan mati. Saat ia kembali, keluarganya sedih. Tengah malam ia pun menggantung diri.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Di Kafe</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sembari menunggu ia bercakap-cakap dengan tamunya yang tak pernah datang. Sampai kafe tutup. Dan ia pulang. Tapi pelayan kafe masih melihatnya terus duduk di kursi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Berita dari Koran Pagi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ayahmu menggampar ibumu sampai mati karena ia telah menggorok kamu yang dengan sadis membacok ayahmu hingga tewas hanya karena tak membelikanmu mainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Salju</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Matahari begitu terik. Sebutir salju melayang jatuh di telapak tangan. Ia berteriak gembira. Sejak itu orang-orang menganggapnya gila.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tamasya Keluaga Seorang Kerani</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Liburan sekolah ini ia ingin mengajak anak-anaknya tamasya. “Meski miskin, sesekali perlu juga kita rekreasi,” katanya. Anak-anak bersorak gembira. Ia menyisihkan sedikit uang gaji. Digoncengnya anak-anak ke Kebun Binatang. Ia tersenyum menyaksikan mereka berlarian, main prosotan. <em>Handphone</em>-nya berbunyi. Dari istrinya, “Katanya mau ngajak liburan. Anak-anak nunggu di rumah nih!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Seusai Pemakaman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selesai orang-orang menguburkannya, ia pun kembali ke rumah. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anaknya berlarian riang. Di pintu, mata istrinya berlinang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mudik Lebaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aneh sekali. Stasiun lengang dan sepi. Cuma ia sendiri. Menanti kereta api yang tak juga muncul. Meski ia sudah di menunggu sejak lebaran bertahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saat Paling Indah dalam Hidup Sepasang Suami Istri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keduanya duduk di beranda, menikmati teh hangat, memandang senja yang bagai usia perkawinan mereka. Ceritakan kisah paling lucu dalam hidupmu, kata si istri.<span> </span>Ialah ketika aku membunuhmu, jawab si suami. Istrinya pun tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Hiroko</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ia tak terbangun ketika bom atom itu meledak di sampingnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pohon</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> <strong>Hayat</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika kanak, kau mendengar kisah pohon rimbun di alun-alun kotamu. Setiap selembar daunnya luruh, seseorang akan mati. Pernah sebagian besar daunnya rontok ketika terjadi pembantaian. Kini kau gemetar memandangi satu-satunya daun yang tersisa di pohon itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ibu yang Menunggu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Anaknya hilang saat kerusuhan. “Mungkin diculik. Mungkin terpanggang api yang membakar pertokoan,” kata orang-orang. Sejak itu ia selalu duduk termangu di beranda, hingga larut. Bertahun-tahun kemudian para peronda masih sering melihatnya duduk di situ, meski ia telah lama mati dan rumah itu sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kisah Seorang Psikopat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sebelum polisi tiba ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tabrak Lari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas. Malam harinya, istrimu begitu sedih setelah mendapat kabar kamu mati tertabrak ketika menyeberang tadi petang. Kau menangis menceritakan kisah itu padaku yang tadi pagi mati karna tabrak lari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Reinkarnasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah mati di masa depan, aku terlahir kembali di masa silam sebagai diriku yang sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kasus Salah Tangkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh kekasihmu. Padahal kekasihmu masih hidup. Kaulah yang mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Revolusi Terakhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah Tuhan ditumbangkan, dunia pun menjadi lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;text-indent:.5in;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;">Jakarta-Yogyakarta, 2008</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;text-indent:.5in;line-height:normal;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=273&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/01/09/35-cerita-buat-seorang-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/micro-fiction-book-cover.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">micro-fiction-book-cover</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>