<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Noor_files</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 22:16:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agusnoorfiles.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Noor_files</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/osd.xml" title="Agus Noor_files" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agusnoorfiles.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>- MATA TELANJANG</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2013/03/29/mata-telanjang/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2013/03/29/mata-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Mar 2013 17:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Djenar Maesa Ayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Mata Telanjang adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen Kunang-kunang dalam Bir.  Cerpen Mata Telanjang ini, muncul di majalah Esquire edisi Maret 2013. Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada Kunang-kunang dalam Bir [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=783&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Cerpen <i>Mata Telanjang</i> adalah cerpen kedua yang saya tulis bareng Djenar Maesa Ayu, setelah cerpen <i>Kunang-kunang dalam Bir</i>.  Cerpen <i>Mata Telanjang</i> ini, muncul di majalah <i>Esquire</i> edisi Maret 2013.</p>
<p>Suatu malam kami bertemu, membuka laptop, dan mulai menulis, tanpa sebelumnya merancang cerita atau alurnya. Mengalir begitu saja. Kali ini gantian, setelah pada <i>Kunang-kunang dalam Bir</i> Djenar menuliskan kalimat pertama, giliran pada <i>Mata Telanjang</i>, saya membuka cerita. Kalimat pertama melintas, dan saya menuliskannya. Mengalir mengikuti kelebatan imajinasi dalam kepala. Seperti sebuah tarikan nafas pertama, dan berhenti ketika harus berhenti. Lalu Djenar melanjutkan.</p>
<p>Begitupun dia, menulis apa yang ada dalam imajinasinya, dan berhenti kalau memang merasa harus berhenti, untuk kemudian diestafetkan kembali ke saya. Begitu seterusnya, kami saling merespon, membiarkan dan mengikuti kemana cerita ini bergerak.  Laptop bolak-balik, kayak setrikaan, ke hadapan saya dan Djenar. Ketika Djenar menulis, saya membiarkannya, dan begitu juga sebaliknya. Kami tak mengarahkan cerita ini dengan saling mendiskusikan atau memperdebatkannya sebelumnya atau selama proses penulisannya. Bahkan ketika menulis kalimat pertama pun, kami tak tahu, akan menulis cerita tentang apa, siapa tokohnya, apa judulnya. Kali ini, kami hanya menyepakati soal sudut pandang penceritaan, agar proses yang kami jalani juga tidak mengulang apa yang kami jalani sebelumnya, dan karna itu menantang bagi bami berdua.</p>
<p>Proses ini jauh lebih menyenangkan, karna kami sering terkejut ketika harus melanjutkan. Misalkan, ketika saya gantian kembali harus melanjutkan cerita, saya kaget membaca apa yang sudah Djenar tulis, karna saya tak menduga sebelumnya. Atau, apa yang ditulis tidak sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Dan saya kira, Djenar pun demikian. Cara Djenar mengakhiri cerita pun, membuat saya terkejut. Saya tak menyangkanya.</p>
<p>Nah, selamat menikmati <em>Mata Telanjang</em>.</p>
<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2013/03/gambar-48.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-784" alt="Gambar 48" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2013/03/gambar-48.jpg?w=500"   /></a></p>
<p><span id="more-783"></span></p>
<p><b>MATA TELANJANG</b></p>
<p>Cerpen Djenar Maesa Ayu &amp; Agus Noor</p>
<p>Aku terpesona pada sepasang matanya. Tak pernah sebelumnya kutemukan mata yang begini mendebarkan. Sepasang mata yang terlihat begitu jernih dalam kegelapan. Saat ia memandang ke arahku yang duduk di dekat meja bar, aku merasa begitu berdebar. Tatapannya seperti menelanjangi. Rasanya, akulah yang pelan-pelan telanjang di ruangan ini. Bukan dia yang sedang menari telanjang.</p>
<p>Aku melirik beberapa kawanku yang sudah bersandar di sofa setengah mabuk. Semuanya bengong disesah birahi menatap liuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Aku sengaja duduk agak menjauh, menghindari tatapan matanya.  Ia menaikkan satu kakinya di atas meja. Semua menahan napas dan menelan ludah, ketika ia melepas lilitan kain terakhir di tubuhnya. Saat itulah kami bertatapan. Rasanya aka tak akan pernah mungkin melupakan tatapan mata itu. Bukan tatapan mata yang menghiba atau penuh kesedihan. Tapi tatapan yang meledek sinis.  Apa yang diledeknya? Nasibnya, atau kami para lelaki yang memandangnya penuh birahi?<i></i></p>
<p><i>Ah, bagaimana bisa mata seorang penari telanjang membuatku begini berdebar?</i></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Kulihat lampu yang sebentar lagi akan menimpa panggung. Warna-warni yang masih kerap membuatku canggung. Bagiku, kegelapan adalah tempat terbaik bagi seorang penari telanjang. Tempat nyaman untuk menyimpan kesedihan hidup yang memang harus disembunyikan dari terang. Dan dalam kegelapan, aku hapal mata-mata itu. Mata penuh napsu. Mata yang merasa berkuasa karena punya banyak uang!</p>
<p>Aku perlahan naik ke panggung dengan gerak kaki tenang, tapi mengundang. Daya pikat seorang penari telanjang dimulai dari kemunculannya. Begitu aku mampu membuat puluhan pasang mata itu terpesona pada liukanku, selanjutnya tinggal memainkan rasa penasaran mereka. Menggoda imajinasi mereka. Saat itulah mereka menjadi sekawanan serigala dengan mata tak sabar ingin menyerang. Setiap liukan menjadi pemandangan yang tak akan pernah dibiarkan lewat begitu saja oleh mata jalang.</p>
<p>Tak rela sebenarnya tubuh ini digelar. Mereka seperti para rahib suci yang dengan gembira mempersembahkan seorang perawan sebagai korban di atas altar. Setiap kegembiraan selalu memerlukan korban! batinku dengan jantung berdebar. Di mata mereka, tubuhku barangkali serupa mawar yang dalam kegelapan perlahan mekar. Kemolekannya membuat mata mereka nanar. Atau mungkin bagi mereka aku tak lebih ular penggoda Adam untuk menikmati sesuatu yang tak boleh dilanggar.</p>
<p>Aku melucuti satu demi satu kain di tubuh. Kubiarkan mereka menikmati punggungku. Pada saat itulah, aku melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang membuatku berdebar.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>Dari luar, tempat ini tak terlalu menarik perhatian. Sebuah gedung lama yang direnovasi menjadi restoran.  Tapi bila masuk melewati sebuah pintu – yang tertutup dan selalu dijaga <i>security</i> – segalanya akan membuatmu terpesona: puluhan perempuan cantik duduk berderet dan hilir-mudik dengan dandanan <i>sexy.</i> Hanya tamu VVIP bisa masuk melewati pintu itu. Pada jam-jam tertentu akan ada pertunjukan tari telanjang.</p>
<p>Urusan bisnis yang rumit, selesaikan saja dengan perempuan. Itu yang membuat aku selalu ke mari, menjamu para pejabat yang sering dengan bermacam alasan menunda proyek yang sebenarnya bisa cepat beres . Aku kenal baik Manajer tempat ini, bahkan dengan pemilik dan beberapa Jenderal yang menjadi <i>backing-</i>nya.  Aku juga dekat dengan para penari. Kepada merekalah aku percaya, segala urusan bisnis akan menjadi lancar setelahnya.</p>
<p>Ketika aku melihatnya naik ke panggung – sebuah meja panjang sebenarnya – aku tahu ia penari baru. Mungkin baru datang dari desa. Masih kelihatan canggung. Gerakannya menahan malu, melawan perasaan menolak. Di bawah sorot lampu wajahnya seperti tak ingin diingat dan dikenali. Hanya sepasang matanya memandang tajam. Kubayangkan matanya seperti sepasang kunang-kunang melayang, sekaligus senter yang menyorot dalam kegelapan. Aku mendekati <i>bartender.</i></p>
<p>“Siapa namanya?”</p>
<p>“Nay…” ia menyebut nama.</p>
<p>Aku yakin, itu bukan nama sebenarnya.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p style="text-align:left;" align="center"><i>“Namaku?”</i></p>
<p>Tak pernah ada yang menanyakan nama kepadaku selain nomor <i>booking</i>-an. Di tempat ini orang-orang hanya mengenal angka. Mulai dari harga minuman hingga tubuh yang ingin dinikmatinya. Di sini perempuan hanyalah angka. Bukan nama. Aku baru saja masuk ruang ganti ketika <i>bartender</i> memberi isyarat agar aku mendekat dan menunjuk lelaki yang tadi duduk dekat meja bar. Dan saat itulah aku merasakan sesuatu yang mendebarkan.</p>
<p>Dalam kegelapan kita bisa membedakan seseorang dari matanya. Aku terbiasa menemukan mata yang menatapku penuh birahi. Tak peduli mereka memakai seragam safari, berjas atau berdasi. Mata mereka selalu memandangku sebagai perempuan murahan yang bisa dibeli. Tapi tidak demikian halnya dengan mata laki-laki itu. Mata yang menatapku dengan lembut dan sayu.</p>
<p><i>Aku tak pernah tahu, betapa hidup bisa berubah hanya karna sepasang mata. </i></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Di tempat seperti ini, cinta hanyalah omong kosong.  Aku selalu membatasi hubunganku dengan perempuan-perempuan di sini sebatas urusan memperlancar pekerjaan. Terkadang aku memang tidur dengan mereka, tapi tak terlalu melibatkan perasaan. Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta: kita tak pernah  bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta.</p>
<p>Manajer Klub mengantar aku ke ruang ganti di belakang panggung dan langsung bilang padanya, “Nay, kamu jangan pulang dulu. Nanti kamu temenin Mas Agus.”</p>
<p>Ia menatapku. Mata itu. Seperti ada yang runtuh dalam jiwaku ketika mereka menghujam tajam. Ia mengangguk dan diam.  Diam yang panjang dan tak terduga, bahkan ketika kami sudah di kamar hotel. Ketika aku meremangkan lampu dan beranjak naik ke tempat tidur, ia masih saja duduk terdiam dan hanya menatapku. Tatapan mata itu membuatku tahu, ia tak sama dengan perempuan-perempuan yang pernah aku tiduri sebelumnya.</p>
<p>Ya, setelahnya aku tahu. Kita memang tak pernah bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Aku sengaja diam sejak dari Klub<i>. </i>Lewat ekor mata, bisa kulihat ia menyetir mobilnya dengan tenang sambil sesekali melirikku.</p>
<p>“Jadi benar, namamu Nay?”</p>
<p>Pasti ia hanya basa-basi agar tak terlalu jengah karena tak ada percakapan. Maka aku membalasnya hanya dengan anggukan. Selanjutnya, sama sekali tak ada percakapan bahkan ketika kami sudah di kamar.  Aku hanya berbaring diam ketika ia memijit saklar lampu sehingga suasana semakin samar. Akupun lega karena segalanya akan menjadi lebih menenteramkan dalam kegelapan. Kita tak memerlukan banyak kata-kata dalam kegelapan, selain dekapan. Dalam kegelapan yang membutakan, seluruh panca inderaku justru hidup dan jauh menyelam. Seperti tubuh kami yang sudah semakin erat dan dalam. Aku pun semakin menekan tubuhnya hingga tubuh kami seolah sama-sama saling tenggelam. Sesaat terlupakan kenyataan hidup yang kejam.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Pernah seorang kawan berkelakar: cinta bukan dari mata turun ke hati, tapi dari ranjang meresap ke hati. Aku teringat kelakar itu saat menandanginya yang tertidur dengan punggung terbuka.  Tak pernah aku merasa begini nyaman ketika seranjang dengan perempuan.</p>
<p>Tumpukan pekerjaan tak membuatku melupakannya. Sesekali aku meneleponnya, mengajaknya keluar, atau menunggunya pulang. Sampai-sampai Manajer Klub meledek, “Cinta membuatmu kelihatan lebih sabar dan segar,” katanya menepuk pundakku ketika sedang menunggu Nay di bar.  Manager Klub bercerita tentang Nay yang masih bersuamikan seorang juragan beras di Trenggalek yang sedang ditahan karena terlibat judi. Anaknya satu. Ibunya terkena kanker dan Nay mesti menanggung biaya pengobatannya. “Berhubungan dengan perempuan yang punya latar belakang seperti itu hanya akan menimbulkan kerepotan dalam hidupmu,” katanya. “Kenapa kamu tak pacaran saja Widya, Lucia atau lainnya?”</p>
<p>Aku tersenyum. Kisah-kisah kemiskinan dan penderitaan memang sering menjadi bumbu penyedap dalam kehidupan malam. Nay sendiri tak pernah bercerita banyak setiap kali kami bertemu.  Ia hanya menjawab apa yang dirasanya perlu, selebihnya ia lebih sering menatapku. Ia seperti tak ingin dipahami hanya karena hidupnya menderita. Penderitaan bukanlah alasan untuk dimaafkan.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>Kegelapan telah mengajariku untuk selalu memaafkan orang-orang di sekitarku. Tak terkecuali, diriku. Sejak kanak-kanak aku memilih sembunyi dalam kegelapan. Ketika ibu diseret ayah ke kamar dan dipukuli atau dibenturkan kepalanya ke meja, aku hanya terisak dalam kegelapan. Ketika suamiku pulang mabuk, aku pura-pura memejam memasuki kegelapan. Ketika seorang laki-laki meletakkan segepok uang sembari menyeringai, aku belajar sabar dalam kegelapan. Maka, aku memaafkan diriku, ketika tubuhku dipertontonkan. Aku memaafkan diriku, yang rela dicumbu demi mendapat bayaran. Aku memaafkan diriku, atas tubuh yang kulacurkan demi menanggung hidup orang-orang yang kucintai dan menggantungkan sepenuhnya harapan.</p>
<p>Dan kini aku memaafkan diriku, untuk sebuah hal yang tak pernah kutahu. Untuk sebuah hal yang baru. Aku yang luluh oleh tatapan mata itu.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>“Aku ingin menikahimu&#8230;”</p>
<p>Nay yang sedang menikmati anggur merah<i> </i>agak tersedak, lalu lama menatapku.</p>
<p>“Tapi ada satu hal yang ingin kuminta darimu. Dan aku mohon, kamu mengerti jika ini terpaksa kuminta demi kebaikan kita berdua.”</p>
<p>Nay menatap kedua mataku dengan pandangan penuh tanya. Namun kedua mata itu pun seolah memberitahuku, jika ia siap mendengarkan apa yang kuminta. Aku menelan ludah sebelum melanjutkan bicara.</p>
<p>“Rekan bisnisku yang kemarin datang, suka sama kamu. Ia mau ajak kencan kamu besok. Hatiku berat, Nay. Tapi jika proyekku yang satu ini berhasil, hidup kita akan stabil, dan kamu tak perlu bekerja lagi di Klub itu.”</p>
<p>Lama ia menatapku. Riak kemarahan bergejolak dalam kedua mata itu. Kemudian, anggur merah di dalam gelasnya ia tumpahkan ke mukaku.</p>
<p>Tak kusangka reaksinya segeram itu. Kupikir ini saat terbaik menyampaikan padanya: makan malam di Restoran mahal, dengan nyala lilin yang romatis, meja di pojok dengan pemandangan ke langit malam yang gemerlapan, juga musik lembut dan harum <i>wine </i>yang menghangatkan.</p>
<p>“Dengar, Nay,” aku menyentuh tangannya lembut mencoba  menenangkan. “Aku mencintaimu.”</p>
<p>“Beginikah cara seorang laki-laki memperlakukan perempuan yang dicintainya?!” katanya dengan geram. Kemudian bergegas pergi.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>Kakiku lekas melangkah keluar dari restoran. Dapat kurasakan, tubuhku menjauh darinya, dari kenangan. Rasanya ada yang tak bisa lagi mampu kutahan. Ada kemarahan dan kekecewaan. Apa yang barusan diucapkan seakan menjauhkanku dari hal yang paling kubenci: terang, dan mendekatkanku ke hal yang paling kucintai: kegelapan.  Ia melambungkan sekaligus menghempaskan. Ia memberiku harapan sekaligus kesakitan.</p>
<p>Semua perempuan yang kukenal di Klub, punya impian nyaris sama. Hidup tenang bersama seorang suami yang menyanyangi mereka. Merawat dan membesarkan anak lalu diakui dan dihargai. Tanpa sembunyi-sembunyi. Tapi aku hanya perlu laki-laki yang mencintai dan laki-laki yang kucintai. Cinta yang tak kudapat dari suamiku sendiri. Suami pengangguran dan pemabuk yang rela menjajakan istri demi materi. Hal yang jauh hari sudah kuikhlaskan demi hidup putri tunggal kami. Aku tak butuh status dan gengsi. Maka apa yang diungkapkannya tadi membuat kekecewaanku tak terperi. Bertemu lagi pun kutak lagi sudi.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>Aku tak bisa melupakan tatapan mata itu. Sepasang mata yang menyimpan kemarahan juga kesedihan tak terbahasakan. Aku mencoba bersikap biasa ketika bertemu kembali di Klub. Sebenarnya aku tak ingin ke mari. Tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk mempertemukan Nay dengan seorang politisi muda yang sedang meroket namanya. Ia banyak disebut sebagai tokoh muda penuh harapan. Pemimpin masa depan. Dikenal bersih dan selalu menyuarakan pentingnya moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Pada setiap pidato politiknya, ia begitu fasih mengutip ayat-ayat. Meski banyak juga yang meledek kalau ia hanya tokoh muda yang sukses jualan agama. Dalam politik, agama memang jualan yang paling laris.</p>
<p>Kini, politikus muda yang selalu bicara soal moral itu duduk dengan mata penuh birahi memandangi para penari telanjang meliuk-liuk di atas panggung. Aku duduk diam di sampingnya, yang matanya tak lepas dari Nay.</p>
<p>“Sudah kamu atur semua kan?” tanyanya. Aku sedapat mungkin tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan? Ia memegang kunci yang akan memperlancar proyek yang kini masih dibahas Badan Anggaran.  Dalam situasi begini aku sudah terbiasa untuk bersikap realistis. Perasaan dan cinta hanyalah urusan nomor sekian.</p>
<p>“Bagaimana? Sudah beres kan?” tanyanya lagi, sambil matanya terus menatap tubuh telanjang Nay.</p>
<p>Aku menelan ludah.</p>
<p style="text-align:center;"> ***</p>
<p>Aku menelan puncak napsu laki-laki itu di penghabisan. Tanpa persenggamaan. Sungguh, aku tak sudi memberikan sepenuhnya badan. Itu pun kulakukan dengan mata terpejam dalam kegelapan. Lalu, ia tersungkur. Sementara aku seperti terperosok jauh ke dalam sumur. Meluncur terkubur bersama indahnya kenangan, akan sepasang mata yang mendebarkan. Yang pada akhirnya rela menyerahkan tubuhku hanya untuk urusan pekerjaan.</p>
<p>Persetan!</p>
<p style="text-align:center;"> ***<b> </b></p>
<p>Ia tak mau lagi bertemu denganku. Ia menghindar setiap melihatku. Aku menangkap kebencian dalam sorot matanya. Aku mencoba mengabaikan. Apalagi ketika politisi muda itu memintaku membereskan sesuatu yang bisa mengganggu karier politiknya. Padaku ia bercerita: lawan-lawan politiknya sudah bisa mengendus hubungannya dengan Nay. “Ini terlalu beresiko,” katanya. Ia memintaku untuk mengkoordinasi gerakan razia ke tempat-tempat maksiat. Ia sudah menghubungi beberapa organisasi yang siap bergerak, asal bayarannya cocok.</p>
<p>Politisi muda itu mulai lagi getol bicara soal moralitas di koran dan televisi.  “Tempat-tempat hiburan maksiat sudah selayaknya ditertibkan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya!” sesumbarnya.</p>
<p>Apakah ini berkaitan hubungannya dengan Nay atau hanya jualan politiknya menjelang pemilihan? Dua bulan lagi ia memang akan mencalonkan diri jadi Gubernur. Seperti aku bilang, dalam politik, jualan agama selalu menguntungkan agar memperoleh banyak dukungan. Barangkali ia memang ingin melenyapkan Nay. Seminggu kemudian aku mendengar Klub itu diserang serombongan orang. Tempat itu diobrak-abrik. Puluhan pegawai dipukuli. Sejak penyerbuan itu, Klub<i> </i>ditutup. Apa yang terjadi dengan Nay? Aku sama sekali tak tahu menahu.</p>
<p><i>Tapi aku selalu teringat pada sepasang matanya.</i></p>
<p style="text-align:center;"><i> </i>***</p>
<p>Sepasang mataku tertutup. Bisa kubayangkan matanya menatapku tajam, saat popor senapan menggempur kepalaku sebagai saksi yang tak boleh dibiarkan hidup.</p>
<p align="right"><b>Beergasm, 8/7/12 12:56 AM</b></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/783/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/783/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=783&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2013/03/29/mata-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2013/03/gambar-48.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 48</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- NYONYA FALLACIA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/20/nyonya-fallacia/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/20/nyonya-fallacia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2012 07:31:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; NYONYA FALLACIA Cerpen Agus Noor Rumah itu seperti kutil di wajah cantik. Menyebalkan, dan ingin secepat mungkin membuangnya. “Bila rumah itu di singkirkan, maka gerbang perumahan kita akan terlihat bersih,” Nyonya Li, dengan suaranya yang cempreng, mengatakan itu saat kami berkumpul. Sudah lama memang kami sebal dengan rumah itu. Letaknya persis di sisi [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=771&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-773" style="border-style:initial;border-color:initial;cursor:default;display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;border-width:0;" title="gambar1" alt="" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/10/gambar11.jpg?w=300&#038;h=298" height="298" width="300" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>NYONYA FALLACIA</b></p>
<p>Cerpen Agus Noor</p>
<p>Rumah itu seperti kutil di wajah cantik. Menyebalkan, dan ingin secepat mungkin membuangnya. “Bila rumah itu di singkirkan, maka gerbang perumahan kita akan terlihat bersih,” Nyonya Li, dengan suaranya yang cempreng, mengatakan itu saat kami berkumpul. Sudah lama memang kami sebal dengan rumah itu. Letaknya persis di sisi gerbang masuk perumahan. Bayangkan, bila gerbang itu sebuah hidung yang mancung dan indah, rumah itu seperti kutil  yang nangkring tepat di ujungnya.</p>
<p>Sebenarnya, bila saja rumah itu terawat, tentu tidak terlalu membuat kami jengkel. Tapi rumah itu selalu tampak misterius. Banyak yang percaya rumah itu angker. Ilalang tumbuh liar, temboknya kusam penuh lumut dan kelekap. Tumpukan daun kering yang berserakan di halamannya tak pernah tersapu. Sering orang-orang melihat ular merayap keluar dari sana. Kami membayangkan puluhan kalajengking dan kelabang hidup di bawah batu dan akar pepohonan yang tumbuh rimbun menjulang di halaman rumah itu. Ada pohon sawo kecik tepat di tengah-tengah, terlihat seperti payung gelap dan tua bila malam hari, dan banyak yang percaya pohon sawo kecil itu menjadi tempat tinggal jin dan genderuwo. Bila kami pulang malam hari, mau tak mau kami harus melewati rumah itu, yang selalu tampak gelap. Rumah itu terlihat seperti rumah yang dihuni puluhan hantu. Dan kami selalu merinding melewatinya.<span id="more-771"></span></p>
<p>Yang paling bikin kami cemas adalah pohon mangga dan jambu, yang bila musim berbuah, menggoda anak-anak kami untuk mencurinya. Pernah, anak Nyonya Boriska, menyelundup masuk rumah itu, hendak mencuri mangga yang sedang berbuah lebat, dan tiba-tiba menjerit-jerit. Karna panik ia turun dengan gugup dan terjatuh hingga kakinya patah, dan lumpuh hingga kini. Kalau saja saat itu tak keburu datang polisi, beberapa orang sudah akan membakar rumah itu.</p>
<p>Pemilik rumah itu lebih misterius. Kami memanggilnya Nyonya Fallacia. Tak ada yang yakin itu namanya yang sesungguhnya. Ia jarang keluar rumah. Malah boleh dibilang: nyaris tak pernah keluar rumah. Ia hanya sesekali terlihat keluar mengenakan pakaian serba hitam. Bergaun hitam, dengan lilitan kerudung hitam yang menyembunyikan wajahnya. Ia keluar hanya untuk membeli daging untuk puluhan kucing yang dipeliharanya. Ia akan berjalan pelan, menundukkan wajahnya, membawa keranjang rotan, menuju warung yang letaknya di ujung jalan dekat pengkolan pasar. Ia biasanya membeli beberapa kilo daging, ikan asin juga bumbu dapur keperluan memasak. Pemilik warung itu sudah hafal dengan apa yang selalu dibelinya. Hingga ia melayani tanpa banyak suara.</p>
<p>Ada yang mengatakan Nyonya Fallacia pernah menikah lima kali, dan semua suaminya mati secara misterius. Suami pertamanya seorang tentara, kabarnya mati ketika dikirim ke Timor Timur. Suaminya yang kedua kabarnya seorang pejabat yang tinggal di luar kota. Ada yang mengatakan, suami keduanya ini sesungguhnya kawin lagi. Sampai kemudian dikabarkan mati dengan tubuh membusuk di sebuah hotel. Suaminya yang ketiga kabarnya lebih muda. Tapi tak pernah jelas pekerjaannya. Ada yang bilang ia seorang pencoleng. Agak lucu kisah pertemuan Nyonya Fallacia dengan suami ketiganya ini. Kabarnya suatu malam rumah Nyonya Fallacia disantroni perampok. Dan salah satu perampok itu terpesona ketika melihat Nyonya Fallacia tertidur. Ia tak jadi menggoroknya, tapi malah menyetubuhinya. Ketika kawan-kawannya pergi membawa perhiasan milik Nyonya Falacia, perampok itu malah memilih tinggal di rumah Nyonya Fallacia. Dan selama setahun hidup bersama, sampai kemudian tak jelas kabarnya. Ada yang mengatakan lelaki itu kabur karna tak lagi tahan dengan Nyonya Fallacia. Ada yang mengatakan ia kembali jadi perampok dan mati tertembak. Ada juga yang mengatakan lelaki itu mati karna sakit yang aneh, dan mayatnya dikubur di pekarangan belakang rumah itu.</p>
<p>Cerita tentang suami keempat dan kelimanya lebih tak jelas lagi. Yang keempat seorang dukun, kata Nyonya Brigta. Tapi ini dibantah Nyonya Wislah. “Setahu saya, suaminya yang keempat itu tukang jagal. Bekerja di pemotongan hewan. Setiap hari ia menyembelih sapi di tempat penjagalan itu. Namanya Abilawa,” kata Nyonya Wislah. Tapi kami tak terlalu yakin juga, mengingat Nyonya Wislah kami tahu suka mengarang dan berdusta. Dari para penduduk di luar perumahan, kami bahkan mendengar suami ke empat dan kelima Nyonya Falacia itu kembar. Jadi Nonya Falacia menikah dengan orang kembar. Ia menikahi suami keempat dan kelimanya bersamaan. Mana yang benar? Kami benar-benar tak tahu.</p>
<p>Nyonya Fallacia yang misterius membuat kami hanya bisa menduga-duga. Itu malah membuat kami semakin ketakutan dengan sosoknya. Bila melihat Nonya Fallacia keluar rumahnya, kami akan memandanginya dari jauh. Kami takut, tapi juga penasaran. Kelakuan kami jadi seperti anak-anak kecil yang suka mengintip. Pingin tahu apa yang dilakukannya. Kadang ia memang terlihat berdiri lama di pekarangan rumahnya. Memandang ke arah pohon-pohon, dan tangannya tampak menunjuk-nunjuk. Pernah juga kami melihat ia menaburkan entah apa di sekitar pintu. Seperti menaburkan garam, yang dipercaya akan membuat ular tak bisa masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Bila di antara kami tak sengaja berpapasan di jalan, maka kami akan buru-buru menghindar. “Jangan sampai kamu menatap matanya, nanti kamu jadi ikutan terkutuk,” begitu yang dipercaya Nyonya Hasmita. Ia kerap menasehati anak perempuannya seperti itu. “Bila kamu menatap matanya, kamu juga akan sengsara. Kamu bisa-bisa tak akan dapat jodoh. Kalau pun kamu kawin, nanti suamimu mati muda. Atau perkawinanmu selalu celaka.” Mungkin Nyonya Hasmita keterlaluan soal itu. Tapi kami juga tak membantahnya. Seorang perempuan, sekali menjanda saja sudah pasti jadi gunjingan. Apalagi bila janda lima kali. Perempuan seperti itu sudah pasti perempan yang hidupnya dipenuhi kutukan.</p>
<p>Apalagi kami juga mendengar kalau Nyonya Fallacia pun menguasai ilmu tenung. Ia bisa berubah menjadi anjing. Seorang peronda pernah bercerita, berkali-kali ia melihat ada binatang yang aneh. Dari rumah yang gelap itu, tengah malam saat berkeliling, peronda itu melihat sesosok binatang mirip anjing, tetapi bertubuh sangat besar seperti harimau. Mata binatang itu kuning kehijauan, seolah menyala. Ia sampai terkencing-kencing ketika binatang itu memandangnya dengan suara mengeram. Ada lagi yang pernah bercerita kalau melihat seekor ular dengan tubuh sebesar manusia keluar dari jendela rumah Nyonya Fallacia. Itu ular jejadian. Ular pesugihan. Dan Nyonya Fallacia hidup dengan pesugihan itu.</p>
<p>Oh ya, yang juga membuat kami kerap jengkel dan sebal pada Nyonya Fallacia adalah kucing-kucingnya. Ia memelihara banyak sekali kucing. Mungkin lebih dari 50 ekor. Kalau ia selalu membeli daging dan ikan asin, itu untuk makan kucing-kucingnya. Tapi namanya saja kucing, tentu saja selalu bikin masalah. Anda tahu sendiri, kalau kucing itu birahi dan kawin. Selalu ribut dan bising. Suaranya yang terus mengeong tengah malam selalu membuat kami blingsatan. Kucing itu berlarian berkejaran di atap rumah, membuah gaduh dan berisik. Kami sering menyiramnya dengan air panas untuk mengusirnya. Sering kucing-kucing itu masuk rumah mencuri ikan asin atau lauk lainnya. Anak-anak kami yang jengkel dengan kucing-kucing itu sering memburu kucing-kucing itu, menyambitnya dengan batu atau potongan kayu. Tak jarang anak-anak kami mengendap-endap mengincar kucing-kucing itu, dan pada saat yang tepat menghantamkan lonjoran besi ketubuh binatang itu. Tentu saja kami kerap melarang, karna bagaimana pun tak baik meyakiti binatang. Tapi itu malah membuat kami kadang bertengkar sendiri.</p>
<p>“Jangan salahkan anak-anak!”</p>
<p>“Tapi kita tak bisa membiarkan anak-anak kita bersikap kejam pada binatang.”</p>
<p>“Namanya juga anak-anak. Kalau mau menyalahkan, salahkan kucing-kucing itu.”</p>
<p>“Lho, kucing kok disalahkan.”</p>
<p>“Habis siapa dong yang harus disalahkan?”</p>
<p>“Ya yang punya kucing itu…”</p>
<p>Dan kami makin tak suka dengan Nyonya Fallacia.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Kucing-kucing itulah yang suatu kali membuat saya berurusan dengan Nyonya Fallacia. Entah bagaimana kejadiannya, anak saya yang berumur 12 tahun mengejar kucing itu sampai ke halaman rumah Nyonya Falacia. Ia diikuti kawan-kawan lainnya. Saat itulah mendadak Nyonya Fallacia muncul. Sebagian anak langsung takut, dan lari pulang. Tapi anak saya terus mengejar kucing itu sambil melemparkan sebongkah batu ke arah kucing yang berlari masuk ke dalam rumah. Batu yang dilempar anak saya tak mengenai kucing itu, tapi tepat menghantam kepala Nyonya Fallacia.</p>
<p>Kejadian itu membuat geger. Beberapa orang bilang Nyonya Fallacia sempat meraung kesakitan, suaranya terdengar seperti anjing yang melolong terkena hantaman batu. Tubuhnya terhuyung, sembari tangannya memegangi kepalanya yang mengucurkan darah. Anak saya segera lari pontang-panting.</p>
<p>Saya yang mendengar kabar itu bergegas mencari anak saya. Ia saya temukan gemetar ngumpet di gudang. Saya mencoba memeluknya. Menenangkannya. Ia menangis sesungukkan. Saya mendengar kabar Nyonya Fallacia pergi ke sebuah klinik dan dirawat. Kepalanya retak. Saya bermaksud menjenguknya. Bagaimana pun saya merasa bersalah. Sebagai orang tua, saya ingin meminta maaf atas tindakan anak saya yang membuatnya celaka. Tetapi beberapa tetangga melarang saya. “Tak usah,” kata Nyonya Li. Dan yang lain mendukung. Saya dianggap hanya akan mencari kerepotan dan menambah masalah bila menjenguk Nyonya Fallacia.</p>
<p>Malamnya, saya menceritakan kejadian itu pada suami saya. Dan ia hanya diam saja. Entah kenapa, saya tak bisa menghilangkan perasaan bersalah saya. Ada sesuatu yang mengganggu saya. Yang terus membuat saya gelisah. Mungkin karna itulah, saya mimpi buruk.</p>
<p>Saya melihat Nyonya Falacia berjalan melayang. Di bawahnya seperti ada sungai yang penuh mayat kucing. Terdengar angin menggemuruh, dan meniup dedaunan yang rontok dari sebatang pohon besar. Saya melihat kain hitam yang dikenakan Nyonya Fallacia berkibaran.  Kerudung yang menutupi kepalanya seperti tangan yang terjuntai, dengan ujungnya yang mirip cakar yang akan mencabik-cabik tubuh saya. Ada kabut dan bau aneh yang melintas. Saya sekilas melihat wajah Nyonya Fallacia yang pucat. Seperti wajah orang sekarat. Kelopak matanya cekung dan menghitam. Rahangnya tirus. Ia tersenyum aneh dan membuat saya merinding dan menjerit…</p>
<p>Saya tergeragap bangun. Suami saya mencoba menenangkan saya, mendekap saya erat-erat. Saya menceritakan mimpi itu. Kemudian saya mengatakan kalau saya ingin minta maaf pada Nyonya Fallacia. “Bagaimana pun kita harus menemui Nyonya Fallacia,” kata saya. “Mimpi buruk ini hanyalah awal ketakutan saya yang bisa jadi akan terus-menerus menghantui saya, kalau saya tidak menunjukkan perasaan bersalah saya atas kejadian yang menimpanya.”</p>
<p>Semula suami saya tak mau membahas itu. Berharap saya melupakan. Tapi mimpi itu selalu datang lagi. Malam-malam saya jadi dipenuhi mimpi buruk dan kecemasan.</p>
<p>Akhirnya suami saya mau juga mengantantar saya menemui Nyonya Fallacia.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Saya tak melihatnya terkejut ketika Nyonya Fallacia membuka pintu. Cukup lama saya dan suami saya mengetuk pintu. Kami sempat ingin balik, ketika pintu tak kunjung dibuka. Dan saya sendiri mulai ragu dan cemas. Tapi pada saat itulah pintu berderit, dan sosok Nyonya Fallacia muncul dari pintu yang perlahan terbuka. Tubuhnya lebih kurus. Kulit tangannya saya lihat sepucat mayat. Saya sempat bertatapan dengan matanya. Ada kelembutan yang membuat saya berdebar.</p>
<p>Ia seperti sudah menduga kedatangan saya. Ia hanya mengangguk, dan bicara begitu pelan. Saya tak mendengar jelas apa yang dikatakan, tapi dari gerak tubunya saya tahu kalau ia menyuruh kami masuk.</p>
<p>Suasana seram menyergap kami. Ruangan yang kami masuki begitu remang. Nyaris tanpa cahaya lampu. Hanya ada cahaya matahari yang samar masuk dari sebuah jendela dan dari atap yang terlihat menganga. Bau debu membuat udara ruangan terasa tebal di hidung. Ada kursi tua, sebuah meja dari kayu, foto-foto muram dan suram. Semua seperti sebuah masa silam yang disembunyikan dalam kegelapan yang tak pernah ingin disingkap. Dan yang paling menggetarkan adalah kucing-kucing itu. Di ruangan itu penuh dengan kucing berkeliaran. Beberapa ekor kucing terlihat langsung menggesek-gesekkan tubuhnya di kaki Nyonya Fallacia. Ada yang menjilati kakinya yang memakai selop. Ada juga yang berguling-guling di dekatnya. Seekor kucing melompat dan dengan cekatan Nyonya Fallacia menangkapnya. Kucing itu meringkuk manja dalam pelukan Nyonya Fallacia.</p>
<p>Lalu saya menyadari, banyak juga kucing yang hanya diam. Seperti arca bisu menatap saya. Saya tanpa sadar menggenggam bahu suami saya kuat-kuat. Suami saya seperti menyadari ketakutan saya, lalu merapatkan tubuhnya. Saat itulah saya menyadari: kalau kucing-kucing yang sejak tadi diam itu ternyata kucing yang sudah mati.</p>
<p>Nyonya Fallacia seperti menyadari kegugupan saya.</p>
<p>“Ya, kucing-kucing itu memang sudah mati,” suaranya terdengar seperti muncul dari sebuah arah yang gaib. “Saya tak pernah mengubur kucing-kucing saya yang mati. Saya selalu mengawetkannya. Bagi saya, kucing-kucing itu adalah cinta saya. Bagaimana saya bisa mengubur cinta saya?”</p>
<p>Saya hanya diam. Dan makin merapatkan tubuh ke pelukan suami saya. Bahkan saya dan suami saya hanya terus berdiri ketika Nyonya Falacia mempersilakan kami duduk.</p>
<p>“Suami saya menyukai kucing. Saya yakin, kalian pasti banyak mendengar tentang suami saya. Atau seperti yang sering diceritakan orang: suami-suami saya.” Ia tertawa, terdengar getir. “Mereka pasti bilang saya kawin berkali-kali. Apakah kalian akan mempercayai saya, kalau semua gosip itu tidak benar? Saya hanya mencintai seorang laki-laki. Dan itu suami saya. Suami saya suka sekali kucing. Bagi saya, kucing-kucing ini seperti menghubungkan cinta saya dengan suami saya yang sudah mati…”</p>
<p>Waktu seperti merambat pelan. Suara jarum jam di dinding terdengar begitu jelas dalam keheningan yang panjang. Kami hanya diam sepanjang pertemuan yang singkat tapi terasa bagai berabad-abad. Ketika kami akhirnya pamit, ada yang terasa lega. Saya tak tahu, kenapa saya bisa merasa lega.</p>
<p>Tapi setidaknya, kini saya punya pandangan berbeda tentang Nyonya Falacia.</p>
<p><b>Jakarta, 2012</b></p>
<p><em>(Cerpen ini muncul di majalah Femina, Edisi 13-19 Oktober 2012)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/771/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/771/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=771&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/20/nyonya-fallacia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/10/gambar11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gambar1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- KURMA KIAI KARNAWI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/10/kurma-kiai-karnawi/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/10/kurma-kiai-karnawi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2012 17:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[kurma ajwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[KURMA KIAI KARNAWI Cerpen Agus Noor TUBUH orang itu menghitam &#8212; nyaris gosong &#8212; sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=768&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/10/kurma.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-769" title="Kurma" alt="" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/10/kurma.jpg?w=494&#038;h=375" height="375" width="494" /></a></p>
<p><strong>KURMA KIAI KARNAWI</strong></p>
<p><strong>Cerpen Agus Noor</strong></p>
<p>TUBUH orang itu menghitam &#8212; nyaris gosong &#8212; sementara kulitnya kisut penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.</p>
<p>Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan &#8212; astagfirullah &#8212; puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”</p>
<p>Keesokan harinya, orang itu sudah bugar.<span id="more-768"></span></p>
<p>Kisah itu hanyalah salah satu dari banyak kisah yang sudah Hanafi dengar tentang Kiai Karnawi. Kisah paling dramatik yang Hanafi dengar, ialah saat terjadi bentrok petani dengan aparat. Para buruh tani yang bertahun-tahun menggarap lahan  protes ketika diusir, karena hendak dibangun perumahan mewah. Merasa protesnya tak ditanggapi, mereka merusak pagar pembatas dan mulai bentrok dengan aparat yang mengepung. Beberapa gubuk petani dibakar beberapa preman yang disewa pengembang, membuat suasana makin kalap. Bentrokan tak bisa dihindarkan. Aparat mulai melepaskan tembakan. Satu peluru nyasar mengenai seorang bocah, tepat menghunjam kepalanya. Kemunculan Kiai Karnawi mampu meredakan amuk buruh tani. Saat itu Kiai Karnawi berhasil menangkap sebutir peluru yang ditembakkan kepadanya (Hanafi suka membayangkan adegan ini secara <em>slow motion</em> seperti dalam film: ketika peluru itu meluncur ke arah Kiai Karnawi, dan dengan gerakan ringan Kiai Karnawi menangkapnya) dan langsung membentak komandan pasukan, agar menarik mundur semua aparat. Bocah yang kepalanya tertembak dibopong Kiai Karnawi. Disuapkan sebutir kurma. Pelan-pelan, peluru yang menancap dalam kepala bocah itu menggeliat keluar. Dan lobang bekas peluru itu, menutup dengan sendirinya.</p>
<p>Kisah lain adalah ibu hamil yang kandungannya sudah lebih dari 19 bulan, tapi bayinya tak juga mau keluar. Ia buruh cuci harian, yang tak punya biaya untuk <em>caecar</em>. Perut itu menggelembung, seolah membopong sekarung beras, membuatnya kepayahan berjalan. Belum lagi rasa sakit yang selalu menyodok dan mengaduk-aduk perutnya. Ia akhirnya hanya bisa terkapar dengan perut yang semakin membesar. Orang-orang kemudian kasak-kusuk, kalau bayi yang dikandungnya membawa kutukan. Kalau pun lahir hanya membawa keburukan. Setelah kehilangan harapan, suaminya mendatangi Kiai Karnawi, yang memberinya sebiji kurma. “Pulanglah, dan suruh istrimu makan kurma ini,” ujar Kiai Karnawi. Dua jam setelah makan kurma itu, bayinya lahir: selamat dan sehat.</p>
<p>Itu kurma <em>ajwah</em>, kata orang-orang. Kurma Nabi. Kurma dari surga, yang bisa menangkal sihir dan racun. Kanjeng Nabi sendiri yang menanam bibit pohon kurma itu di Madinah. Warnanya kehitaman, tak lebih hanya setengah jari orang dewasa, lebih kecil dibanding kurma lainnya, tapi paling enak rasanya. Kiai Karnawi memetik langsung kurma itu dari pohon yang ditanam Kanjeng Nabi. Kisah itu, sering diceritakan berulang-ulang Umar Rais kepada Hanafi. “Terkadang, setiap Jumatan, Kiai Karnawi sholat di Masjid Nabawi,” ujar majikannya. “Setelah itu, Kiai Karnawi selalu memetik kurma <em>ajwah</em> dan membawanya pulang. Di bulan Ramadhan, Kiai Karnawi juga sering sholat witir di masjid Madinah itu…”</p>
<p>Tapi ada lagi cerita lain yang didengar Hanafi. Kabarnya Kiai Karnawi didatangi Nabi Khidir dalam mimpi. Kiai Karwani diajak ke kebun kurma yang begitu luas, seakan batas kebun itu jauhnya sampai ke lengkung cakrawala. Ada beberapa tenda di dekat kebun kurma itu. Di sana sudah berkumpul beberapa orang. Sepertinya mereka kafilah pengembara dari berbagai negeri yang jauh. Nabi Khidir kemudian menyuruh mereka menunjukkan: yang mana pohon kurma <em>ajwah</em> di antara ratusan pohon kurma yang tumbuh di kebun itu. Dengan yakin, satu per satu orang itu menunjuk sebuah pohon. Tapi Nabi Khidir menggeleng. Tak satu pun dari orang-orang itu berhasil. Sampai tiba giliran Kiai Karnawi.</p>
<p>“Bisakah kisanak tunjukan, yang mana pohon kurma <em>ajwah</em> yang ditanam kanjeng Nabi, 14 abad yang lalu….” ujar Nabi Khidir.</p>
<p>“Sebelumnya, maafkan sahaya yang daif ini, Sinuhun,” Kiai Karnawi bicara sopan, “bisakah Sinuhun memberitahu terlebih dahulu, di mana arah kiblat..”</p>
<p>Lalu Nabi Khidir menunjuk satu arah. Tepat, di arah yang ditunjuk itu terlihat satu pohon kurma.</p>
<p>“Terimakasih, Sinuhun. Itulah gerangan pohon kurma <em>ajwah</em> yang Sinuhun maksud…”</p>
<p>Nabi Khidir tersenyum. Dipetik satu buah kurma, dan diberikan pada Kiai Karnawi. Banyak yang yakin, kurma itulah yang selalu diberikan Kiai Karnawi kepada orang-orang. Sebiji kurma itu, tak akan pernah habis dimakan. Ada kejadian yang dilihat langsung Hanafi terkait hal itu. Ia diajak majikannya mengikuti pengajian Kiai Karnawi. Ratusan orang hadir di pengajian <em>lailatut qadar </em>di rumah Kiai Karnawi yang kecil dan sederhana. Hanafi melihat sebutir kurma tersaji di piring seng yang sudah tampak kuno. Bergiliran, ratusan orang yang hadir mengambil kurma itu dan memakannya &#8212; atau ada yang mengantunginya untuk dibawa pulang &#8212; tapi di piring itu: tetap saja masih ada sebutir kurma…</p>
<p>Kurma <em>ajwah</em> pemberian Nabi Khidir, begitu banyak orang meyakini.</p>
<p>Beberapa kali Hanafi bertemu Kiai Karnawi, saat mengantar Umar Rais <em>sowan</em>. Tak hanya pada acara-acara keagamaan, tapi pada tiap kesempatan &#8212; biasanya pada akhir pekan dan saat ada bakti sosial seperti sunatan massal atau pengobatan gratis di rumah Kiai Karnawi &#8212; majikannya selalu menyempatkan datang.</p>
<p>Perawakan Kiai Karnawi kurus, agak pendek, berkulit coklat gelap. Penampilannya sama sekali tidak meyakinan sebagai seorang kiai yang kharismatik. Tidak bergaya, gumam Hanafi saat pertama kali melihatnya, tidak seperti kebanyakan tokoh agama sekarang yang sering dilihatnya di televisi, yang selalu berpakaian modis  atau bersurban putih necis. “Hehe, saya ini memang kiai <em>jadul</em>,” Kiai Karnawi tertawa terkekeh, sambil melirik Hanafi. Langsung membuat  Hanafi tertunduk. Ia yakin, Kiai Karnawi bisa membaca yang dipendam dalam hatinya.</p>
<p>Sehari-hari Kiai Karnawi hanya berpeci hitam &#8212; yang sudah kusam &#8212; dan mengenakan sarung komprang, serta baju model kemeja warna gelap. Tapi kesederhanaannya itulah yang membuat ia terlihat lebih berwibawa. Dan ini yang kemudian membuat Hanafi terkesan: meski pun jarang mengutip ayat-ayat, nasehatnya disimak dan dipatuhi. Bukan kiai yang suka mengobral ayat, begitu komenar orang-orang. “Tak perlu sebentar-bentar mengutip ayat, untuk menjadi bijak,” ujar Kiai Karnawi, pada pengajian yang sempat Hanafi ikuti.</p>
<p>***</p>
<p>SORE itu Hanafi melihat majikannya agak gugup. “Cepat kamu ke rumah Kiai Karnawi…” Wajah Umar Rais yang tak bisa menyembunyikan kepanikkan membuat Hanafi malah jadi bingung, dan bengong. “Ayo, cepat. Besok sudah pencoblosan. Kiai Karnawi mau memberi saya kurma. Mestinya saya mengambilnya sekarang. Tapi saya mesti rapat konsolidasi terakhir dengan para pimpinan partai pendukung. Jangan sampai lupa. Biar saya dianter Hamid, kamu yang ambil kurma itu. Sebelum jam duabelas nanti, kurma itu harus sudah saya terima. Jangan lupa!”</p>
<p>Mendengar majikannnya mengucapkan ‘jangan lupa’ sampai dua kali dan bernada tegas, Hanafi tahu, persoalan kurma itu amat penting bagi majikannya. Sejak terjun ke politik, majikannya memang jadi terlihat gampang tegang. Duapuluh tahun menjadi sopir Pak Rais, membuat Hanafi bisa merasakan perubahan itu. Ia sebenarnya juga tak terlalu setuju ketika majikannya mulai aktif di partai politik. “Buat apa sih ikut partai politik,” katanya waktu itu. “Lebih enak jadi pengusaha kan, Pak…”</p>
<p>“Sekarang ini tak cukup hanya jadi pengusaha,” jawab Umar Rais. “Kamu tahu, jadi pengusaha kalau tidak dekat dengan partai juga sulit dapat proyek. Tidak bakalan dapat bagian. Semua politikus itu sudah melebihi pengusaha cara berfikirnya. Mereka hanya berfikir untung, untung dan untung. Mereka harus dapat bagian untuk setiap proyek yang mereka anggarkan. Proyek belum berjalan, mereka harus diberi persekot di depan. Sementara keuntungan pengusaha yang makin sedikit juga mesti dialokasikan buat setor ke partai. Kalau tidak ya tidak bakal bisa menang tender…”</p>
<p>Hanafi diam mendengar jawaban itu. Hanafi sudah ikut Umar Rais sejak majikannya itu meristis usaha mebel. Ketika krisis moneter membuat nilai tukar rupiah jatuh, usahanya mendapat keuntungan berlipat, karena mebel yang diekspor dibayar dengan dollar. Kemudian majikannya mulai berbisnis sebagai kontraktor dan pengembang. Bagi Hanafi, itu dirasakannya sebagai masa-masa yang menyenangkan menjadi sopir Pak Rais. Ia merasa dekat dan hangat. Pak Rais banyak bercanda, dan punya banyak waktu buat keluarganya. Sebagai sopirnya, ia juga merasa lebih santai, tak seperti sekarang yang setiap hari bisa lebih sepuluh kali mengantar kesana-kemari untuk pertemuan atau rapat partai. Apalagi ketika majikannya mencalonkan diri jadi Wali Kota. Setiap waktu jadi tampak serius dan tegang. Dari pagi Hanafi harus mengantar dari satu rapat ke rapat lainnya. Yang membuatnya lebih capek, ia harus sering mengirim bermacam atribut kampanye, berkadus-kadus barang dan bingkisan amplop &#8212; yang ia yakin berisi bergepok-gepok uang &#8212; ke posko-posko pemenangan hingga pelosok kampung. Bisa subuh ia baru pulang, dan harus siap lagi jam enam pagi. Melelahkan. Lagi pula ia takut, nanti kalau majikannya benar-benar jadi Wali Kota, buntut-buntutnya akan kesangkut korupsi.</p>
<p>Terus terang, itu semua yang tak terlalu membuat Hanafi suka. Ia sempat bilang, “Kenapa sih mesti mencalonkan diri jadi Wali Kota segala? Nanti malah repot…”</p>
<p>“Saya tidak mencalonkan diri, Hanafi,” jawab Pak Umar sambil tersenyum. “Saya ini hanya dicalonkan. Banyak partai yang meminta dan mendukung. Yah, saya ini ibaratnya hanya menjalankan amanah. Kalau nanti saya menang, kan kamu juga ikut senang. Kamu nanti saya jadikan kader partai nomer satu… ”</p>
<p>“Jadi kader partai itu tidak enak, nanti malah jadi tumbal,” Hanafi melirik majikannya yang terdiam. “Saya lebih senang Bapak jadi pengusaha saja. Politik itu mengerikan.”</p>
<p>“Mengerikan bagaimana?”</p>
<p>“Ya, takut saja nanti Bapak kena KPK…”</p>
<p>Umar Rais hanya tertawa pelan. “Kamu tenang saja. Saya mau dicalonkan jadi Wali Kota begini ya setelah minta nasehat Kiai Karnawi kok. Beliau memberi restu. Kalau tidak, ya saya tidak berani maju. Nanti, sehari menjelang pencoblosan, Kiai Karnawi akan memberi saya kurma.”</p>
<p>Kurma itulah yang harus segera diambil oleh Hanafi.</p>
<p>***</p>
<p>HANYA Hanafi yang terlihat bengong ketika hasil penghitungan suara pemilihan Wali Kota resmi diumumkan: Umar Rais terpilih sebagai Wali Kota! Suasana rumah majikannya dipenuhi sukacita kebahagiaan. Dua anak laki-laki Pak Umar yang sudah mahasiswa bahkan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya dengan berlarian teriak-teriak keliling halaman, “Yeaah, akhirnya Bapak jadi Wali Kota! Wali Kota!!” Beberapa pendukung sujud syukur. Puluhan orang bergiliran datang memberi selamat. Bu Umar terlihat selalu tersenyum menyambut setiap ucapan.</p>
<p>“Kenapa kamu bengong begitu?” Hamid menepuk pundaknya. Membuat Hanafi tergeragap. “Kamu tidak senang Pak Umar menang?”</p>
<p>Hanafi mencoba tersenyum. Ia bukan tak suka majikannya menang. Ia hanya heran, kenapa bisa menang?! Hanafi melihat majikannya melambai memanggil. Buru-buru ia mendekat.</p>
<p>“Ada apa, Pak?”</p>
<p>“Nanti kamu antar saya ke Kiai Karnawi. Saya mesti sowan. Mesti berterimakasih. Saya yakin, berkat kurma Kiai Karnawi itulah saya bisa menang…”</p>
<p>Hanafi cepat-cepat mengangguk. Bukan mengiyakan, tetapi lebih untuk menyembunyikan kegugupannya. Tiba-tiba ia ingat ketika mengambil kurma Kiai Karnawi sebagaimana disuruh majikannya. Ia berharap majikannya tak terpilih, makanya kurma dari Kiai Karnawi itu ia makan sendiri. Ada pun kurma yang dia berikan pada majikannya hanyalah kurma yang ia beli di pinggir jalan…</p>
<p><strong>Bandung, 2012</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>(Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu, 7 Oktober 2012)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/768/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=768&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/10/10/kurma-kiai-karnawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/10/kurma.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kurma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- CIUMAN YANG MENYELAMATKAN DARI KESEDIHAN</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/19/buku-puisi-ciuman-yang-menyelamatkan-dari-kesedihan/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/19/buku-puisi-ciuman-yang-menyelamatkan-dari-kesedihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2012 14:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[#bukupuisiciuman]]></category>
		<category><![CDATA[@katabergerak]]></category>
		<category><![CDATA[buku puisi Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sejak awal, saya bermasalah dengan puisi,&#8221; ujar Agus Noor, dalam buku ini. Tak heran, setelah lebih 20 tahun proses kreatifnya dalam menulis, ia baru menerbitkan buku kumpulan puisi. &#8220;Waktu, dan juga jarak, membuat saya kini lebih rileks ketika berhadapan dengan puisi,&#8221; katanya lagi. &#8220;Kini saya bisa dengan gembira menulis puisi, seperti ketika saya menulis prosa.&#8221; [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=739&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Sejak awal, saya bermasalah dengan puisi,&#8221; ujar Agus Noor, dalam buku ini. Tak heran, setelah lebih 20 tahun proses kreatifnya dalam menulis, ia baru menerbitkan buku kumpulan puisi. &#8220;Waktu, dan juga jarak, membuat saya kini lebih rileks ketika berhadapan dengan puisi,&#8221; katanya lagi. &#8220;Kini saya bisa dengan gembira menulis puisi, seperti ketika saya menulis prosa.&#8221; Dan inilah buku kumpulan puisinya, <em>Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan</em>.</p>
<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/cover-debpan-buku-puisi-ciuman.jpg"><img class="wp-image-740 alignleft" title="COVER DEBPAN BUKU PUISI CIUMAN" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/cover-debpan-buku-puisi-ciuman.jpg?w=218&#038;h=353" alt="" width="218" height="353" /></a></p>
<p><span id="more-739"></span>Buku ini menghimpun beberapa puisinya, antara lain <em>Percakapan, Jazirah Kenangan, Kisah Gadiskecil yang Menyeberang Jalan, Improvisasi untuk Cinta yang Sunyi, Penyair yang jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya, Potret Hitam Putih Frida</em>, dan beberapa sajak lain yang sudah dipublikasikan tetapi telah ditulis ulang (diedit dan direvisinya kembali). Puisi-puisi itu hadir tidak semata sebagai teks, tetapi juga disertai dan dilengkapi dengan sketsa-sketsa karya Agung Kurniawan, seorang pelukis kontemporer Indonesia, dengan tataletak yang membuat tampilan puisi dan sketsa itu makin manis dan kuat.</p>
<p>Inilah contoh perwajahan halaman, yang memadukan puisi dengan sket/gambar, dalam buku <em>Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan</em> itu:</p>
<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/contoh-layoy-grafis.jpg"><img class="size-medium wp-image-751 alignright" title="02_isi_revisi.pmd" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/contoh-layoy-grafis.jpg?w=193&#038;h=300" alt="" width="193" height="300" /></a></p>
<p>Dengan begitu, buku ini menjadi enak ketika dinikmati secara visual, juga merangsang imaji lain dari teks puisi itu. Perbaduan keduanyya senjadi skets-poem, dimana teks dan sketsa saling berinteraksi secara imaji.</p>
<p>Buku ini diterbitkan &#8220;secara indie&#8221;, dengan cara pemesanan/pembelian langsung. Pre-order buku <em>Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan</em> dilakukan melalui jejaring sosial media Twitter, dan dalam dua hari sudah mencapai 500 pemesan. &#8220;Untuk buku puisi ini, saya memang memilih penerbit indie, yang mencoba melakukan penjualan langsung ke pembaca. Saya merasa, penyebaran atau distribusi buku puisi melalui toko buku sama sekali tidak efektif: seperti disebar begitu saja, dan belum tentu tepat sasaran ke pembaca yang memang menyukai puisi. Dengan jejaring sosial Twitter dan Facebook, saya bisa dengan langsung menyapa mereka yang menyukai puisi,&#8221; ujar Agus Noor. Sebenarnya, cara ini pun menguntungkan pembaca juga: mereka jadi tahu informasi buku yang mereka sukai, dan tinggal melakukan pemesanan, tanpa perlu repot pergi ke toko buku (yang barangkali ongkos naik kendaraan/taksi atau parkirnya, jauh lebih mahal dari ongkos kirim). Harga buku juga bisa menjadi lebih murah (karena memotong komisi toko buku) hingga penerbit bisa menekan harga menjadi lebih terjangkau.</p>
<p>Harga buku <em>Ciuman yang menyelamatkan dari Kesedihan</em> adalah Rp. 55.000,- + Ongkos Kirim. Bisa dipesan melalui:</p>
<p>- akun Twitter: @katabergerak</p>
<p>- email: katabergerak@gmail.com</p>
<p>- Telp/SMS: 0813 8307 0276</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/739/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/739/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=739&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/19/buku-puisi-ciuman-yang-menyelamatkan-dari-kesedihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/cover-debpan-buku-puisi-ciuman.jpg?w=190" medium="image">
			<media:title type="html">COVER DEBPAN BUKU PUISI CIUMAN</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/contoh-layoy-grafis.jpg?w=193" medium="image">
			<media:title type="html">02_isi_revisi.pmd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- PADA SEBUAH SAKIT</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/08/pada-sebuah-sakit/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/08/pada-sebuah-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2012 13:52:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=730</guid>
		<description><![CDATA[PADA SEBUAH SAKIT                                                       @ameelias masih subuh, kau membatin &#160; subuh yang lain bagi yang mungkin &#160; seperti terdengar gemeretih penggorengan mendidih dari jantungmu &#160; ranjang serba putih ini sedingin porselin (dan wajahmu lebih pasi dari sekerat roti) &#160; kesakitan adalah dataran asing yang kaujelajahi, sendiri &#160; [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=730&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/pada-sebuah-sakit.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-731" title="Pada Sebuah Sakit" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/pada-sebuah-sakit.jpg?w=358&#038;h=269" alt="" width="358" height="269" /></a></p>
<p><strong>PADA SEBUAH SAKIT</strong></p>
<p><em>                                                      @ameelias</em></p>
<p>masih subuh, kau membatin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>subuh yang lain</p>
<p>bagi yang mungkin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>seperti terdengar gemeretih</p>
<p>penggorengan mendidih</p>
<p>dari jantungmu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ranjang serba putih ini</p>
<p>sedingin porselin</p>
<p><em>(dan wajahmu lebih pasi</em></p>
<p><em>dari sekerat roti)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kesakitan adalah</p>
<p>dataran asing yang kaujelajahi, sendiri<span id="more-730"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>hanya ada jendela</p>
<p>dimana kaubayangkan pantai</p>
<p>dengan sekawanan camar ramai,</p>
<p>menjerit &#8211;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jerit</p>
<p>yang taklid pada sakit</p>
<p><strong><em>2012</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/730/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=730&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/08/08/pada-sebuah-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/08/pada-sebuah-sakit.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pada Sebuah Sakit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/07/26/delapan-kwatrin-kelopak-bunga/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/07/26/delapan-kwatrin-kelopak-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2012 10:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[1 kau melihat kelopak bunga mengapung di selokan rumahsakit. &#8220;aih,&#8221; katamu,&#8221; ia bagai nyawa bayi yang dibuang, dan menjerit.&#8221; 2 malam hari, dalam mimpimu, kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti wajahmu semasih bayi. kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu. 3 kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu, iseng kau tanggalkan kelopaknya, [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=713&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/07/tentang-bunga.jpg"><img class=" wp-image" alt="Image" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/07/tentang-bunga.jpg?w=291&#038;h=383" height="383" width="291" /></a></p>
<p><strong><em>1</em></strong></p>
<p>kau melihat kelopak bunga mengapung</p>
<p>di selokan rumahsakit.</p>
<p>&#8220;aih,&#8221; katamu,&#8221; ia bagai nyawa bayi yang dibuang,</p>
<p>dan menjerit.&#8221;</p>
<p><strong><em>2</em></strong></p>
<p>malam hari, dalam mimpimu,</p>
<p>kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti</p>
<p>wajahmu semasih bayi.</p>
<p>kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.</p>
<p><strong><em>3</em></strong></p>
<p>kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu,</p>
<p>iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.</p>
<p>kau dengar ada yang mengaduh,</p>
<p>ketika kelopak itu runtuh<span id="more-713"></span></p>
<p><strong><em>4                     </em></strong></p>
<p>lalu kau bayangkan: alangkah tenang</p>
<p>kelopak bunga itu melayang,</p>
<p>seakan jatuh dari ketiadaan,</p>
<p>kemudian mengapung di selokan</p>
<p><strong><em>5</em></strong></p>
<p>tiba-tiba, kamar dipenuhi guguran kelopak</p>
<p>bunga. ada harum yang menyebar</p>
<p>bersama angin yang menyelusup masuk,</p>
<p>dan membuatmu gemetar</p>
<p><strong><em>6</em></strong></p>
<p>hanya ada kau, Aku dan kelopak bunga</p>
<p>di kamar. tapi kau yakin: ada</p>
<p>yang sedang diam-diam menatap kita</p>
<p>dengan pandangan berkaca-kaca</p>
<p><strong><em>7</em></strong></p>
<p>seperti kau dengar – nun di luar kamar sana</p>
<p>ada yang bersabda: jadilah. maka tumbuhlah</p>
<p>sekuntum bunga. kau berkata: gugurlah,</p>
<p>maka runtuhlah seluruh duka</p>
<p><strong><em>8</em></strong></p>
<p>pada pagi saat kau melihat kelopak bunga</p>
<p>mengapung di selokan rumahsakit, kau pun merasa:</p>
<p><em>                                                      waktu telah tiba</em>.</p>
<p>tergenapkanlah duka</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>2012</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/713/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=713&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/07/26/delapan-kwatrin-kelopak-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/07/tentang-bunga.jpg?w=570" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/02/15/cinta-adalah-ribuan-peristiwa-dalam-satu-kepakan-kupu-kupu/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/02/15/cinta-adalah-ribuan-peristiwa-dalam-satu-kepakan-kupu-kupu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 20:14:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU * 1. Perempuan: kata Kusapa kamu, kekasihku, dengan kata, yang membuat dunia ada. Kata, yang akan tumbuh menjadi bermacam peristiwa. Kusapa kamu, kekasihku, dalam sajak cinta. Di mana kata-kata menjadi doa, yang menjauhkanmu dari pedih dan duka. Maka, sajak dan doa, akan menjaga kerisauan dan kesepianmu, yang tak pernah mampu [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=700&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-703" title="Kuppu-kupu dan perempun" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/02/kuppu-kupu-dan-perempun.jpg?w=213&#038;h=300" alt="" width="213" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA </strong><strong>DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU</strong> *</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>1. </em><em>Perempuan: </em></strong><em>kata</em></p>
<p style="text-align:left;">Kusapa kamu, kekasihku, dengan kata, yang membuat dunia ada. Kata, yang akan tumbuh menjadi bermacam peristiwa.</p>
<p style="text-align:left;">Kusapa kamu, kekasihku, dalam sajak cinta. Di mana kata-kata menjadi doa, yang menjauhkanmu dari pedih dan duka.</p>
<p style="text-align:left;">Maka, sajak dan doa, akan menjaga kerisauan dan kesepianmu, yang tak pernah mampu terjangkau hatiku.</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>2. </em><em>Laki-laki: </em></strong><em>ciuman</em></p>
<p style="text-align:left;">Kekasihku, aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.</p>
<p style="text-align:left;">Telah kita lewati senja demi senja yang penuh kerisauan. Senja yang muram – senja yang selalu mengingatkan pada ciuman kita yang tergesa dan gemetar.</p>
<p style="text-align:left;">Ciumanmu yang lembut, telah menyelematkanku. Ah, cinta, seperti juga Tuhan, kadang hanya dibutuhkan saat kita merasa kesepian.<span id="more-700"></span></p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>3. </em><em>Perempuan: </em></strong><em>birahi</em></p>
<p style="text-align:left;">Tidak, cintaku, cinta tidak pernah membuatku kesepian. Cinta adalah ribuan peristiwa, dalam satu kepakan sayap kupu-kupu.</p>
<p style="text-align:left;">Kesepian dan kesakitan, tak lebih anak-anak kecil yang rewel dan manja, sementara kita bertambah tabah oleh usia.</p>
<p style="text-align:left;">Aku akan terus bertahan mencintai ciuman-ciumanmu, yang tak pernah menjadi masa silam. Seperti aku mencintai harapan.</p>
<p style="text-align:left;">Benamkan kecemasanku, ke dalam pelukanmu. Biarkan aku mati dengan cantik, dalam birahi. Dan birahimu padam, dalam ciumanku.</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>4. </em><em>Laki-laki: </em></strong><em>senja</em></p>
<p style="text-align:left;">Senja dan sebuah ciuman, kadang lebih berharga dari apa pun yang kita pertaruhkan.</p>
<p style="text-align:left;">Dan aku masih saja menerka-nerka, lebih merah mana: senja ataukah luka, yang kau sembunyikan sekian lama.</p>
<p style="text-align:left;">Di dadamu: ada memar sayat memanjang, mengiris sintal susumu. Seakan makam yang dipersiapkan bagi kepedihanku.</p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>5. </em><em>Perempuan: </em></strong><em>maut</em></p>
<p style="text-align:left;">Seorang penyair menulis: “Cinta ialah kelepak terakhir sayap kupu-kupu sebelum maut mulai mengasah kuku.”</p>
<p style="text-align:left;">Tapi apalah artinya Maut, kekasihku, bila aku bisa tenang dalam pelukanmu.</p>
<p style="text-align:left;">Maut hanyalah kekosongan. Sedang cinta selalu memiliki caranya sendiri, untuk bersentuhan dengan rindu.</p>
<p style="text-align:left;">Betapa kurindu, ciumanmu. Sebab nafasmu membadaikan sepi.  Dan pantai akan menjadi begitu biru, saat ciumanmu menggenapi cintamu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2012</strong></p>
<p style="text-align:justify;"> <em>*Sajak ini terinspirasi, dirangkum dan ditulis ulang, dari Bab 8 buku “ Cinta, Kenangan dan Hal-hal yang Tak Selesai”. Terimakasih, kepada para penyair, yang sajak-sajaknya menjadi bagian dari larik-larik dalam sajak ini.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/700/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/700/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=700&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/02/15/cinta-adalah-ribuan-peristiwa-dalam-satu-kepakan-kupu-kupu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/02/kuppu-kupu-dan-perempun.jpg?w=213" medium="image">
			<media:title type="html">Kuppu-kupu dan perempun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- SUARAMU TELAH MEMIKAT INGATANKU</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/01/08/suaramu-telah-memikat-ingatanku/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/01/08/suaramu-telah-memikat-ingatanku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 15:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi-puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[untuk #L suaramu telah memikat ingatanku, hari ini kurasakan suaramu, seperti cahaya lembut, yang perlahan memeluk seluruh kesedihanku kau tahu, aku telah lama belajar dari airmata, yang selalu memahami seseorang yang dicintainya dengan cara menjatuhkan diri akan tiba saatnya, di malam-malamku yang penuh kerisauan, suaramu akan menjelma jerit kijang yang terpanah jantungnya ya, pada saat [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=689&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/01/suaramu-3.jpg"><img class=" wp-image-691" title="Suaramu 3" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/01/suaramu-3.jpg?w=423&#038;h=253" alt="" width="423" height="253" /></a></p>
<p style="text-align:center;padding-left:300px;"><em>untuk #L</em></p>
<p style="text-align:justify;">suaramu telah memikat ingatanku, hari ini</p>
<p style="text-align:justify;">kurasakan suaramu, seperti cahaya lembut, yang perlahan memeluk seluruh kesedihanku</p>
<p style="text-align:justify;">kau tahu, aku telah lama belajar dari airmata, yang selalu memahami seseorang yang dicintainya dengan cara menjatuhkan diri</p>
<p style="text-align:justify;">akan tiba saatnya, di malam-malamku yang penuh kerisauan, suaramu akan menjelma jerit kijang yang terpanah jantungnya</p>
<p style="text-align:justify;">ya, pada saat itu aku pun tahu: ada yang lebih tajam dari pisau waktu, yakni rindu</p>
<p style="text-align:justify;">kesakitan, memang terasa lebih pedih dalam ingatan. mungkin itu, yang kelak kita sebut: kenangan<span id="more-689"></span></p>
<p style="text-align:justify;">kita dipertemukan dalam kegentingan. seperti ada burung-burung api, yang terbang dalam jiwa, dan membakar kita sendiri</p>
<p style="text-align:justify;">tapi kebahagian, cintaku, selalu pantas diperjuangkan. apa pun resikonya</p>
<p style="text-align:justify;">kau pasti akan memilih hidup dan kebahagiaanmu. kita akan saling menghapus, atau begitu saja terhapus</p>
<p style="text-align:justify;">bagaimana pun caramu meninggalkan aku, engkau akan selalu bahagia dalam ingatanku. dan aku, akan betahan hidup, dengan mengingat ciuman-ciumanmu</p>
<p style="text-align:justify;">hidup barangkali memang hanya menunda luka</p>
<p style="text-align:justify;">di antara kita, akan tiba juga itu luka: ketika semua kancing bajumu terbuka, dan aku tak bisa lagi menutupnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>2011</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=689&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2012/01/08/suaramu-telah-memikat-ingatanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2012/01/suaramu-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Suaramu 3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- REQUIEM KUNANG-KUNANG</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/12/25/requiem-kunang-kunang/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/12/25/requiem-kunang-kunang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 02:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Agus Noor BARANGKALI aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan. Bila suatu kali kau [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=682&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/12/requiem-kunang-kunang.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-683" title="Requiem Kunang-kunang" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/12/requiem-kunang-kunang.jpg?w=501&#038;h=268" alt="" width="501" height="268" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Cerpen: Agus Noor</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">BARANGKALI aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua, yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-oleh mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta!<span id="more-682"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada banyak kisah – setidaknya yang pernah aku dengar – kenapa semua penduduk di kota ini buta. Jagat raya semula hanyalah gugusan cahaya. Cahaya yang kuning keemasan. Lalu ruh sepasang manusia pertama tercipta dari cahaya itu. Berbentuk percik cahaya. Kekuningan. Serupa kunang-kunang. Sepasang ruh yang serupa kunang-kunang itu kemudian turun ke dunia, begitu kisah leluhur, lalu berdiam di tubuh manusia, yang semula, hanyalah serupa batang-batang pohon. Tinggi menjulang, diam bagai pertapa. Ruh yang serupa kunang-kunang itu hinggap di tubuh manusia, sebagai sepasang mata, hingga manusia hidup dan bisa melihat dunia. Ketika manusia mati, ruh itu kembali terbang, menjelma kunang-kunang. Dan manusia kembali buta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah lain datang dari muasal teluk yang terletak di Utara kota ini. Teluk Duka Cita, begitu  orang-orang di kota ini menyebutnya. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut dan mampu menghentikannya. Karena tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan cinta terlarang dua saudara sekandung itu, Permaisuri, sembari terisak meminta syarat yang menurutnya muskil dipenuhi: dalam semalam mereka harus menyediakan kunang-kunang, yang bila dihamparkan dengan rapi, sanggup menutup seluruh permukaan teluk. Cinta yang buta memberi mereka akal, juga kekejaman. Dengan menggabungkan sihir yang dimilikinya, Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, memanggil semua kunang-kunang yang ada, bahkan mereka diam-diam menambahi kunang-kunang itu dengan mata para penduduk yang telah mereka congkel, dan mereka sihir menjadi kunang-kunang. Melihat itu, Raja segera menyuruh para prajurit menebah kunang-kunang yang telah berhasil dikumpulkan itu agar kembali terbang. Maka, meski telah ratusan mata dicongkel untuk menggenapi kunang-kunang agar bisa menutupi seluruh permukaan teluk, hingga pagi tiba, masih ada sebagian teluk yang tak tertutup kunang-kunang. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima mengeram marah, ketika mengetahu cara licik Raja menggagalkan cinta mereka. Di hadapan Raja dan Permaisuri, mereka langsung saling menusuk jantung masing-masing, sambil mengutuk: mereka akan mengambil semua mata seluruh penduduk dan keturunan yang hidup di kota ini, hingga siapa pun yang tak harus menanggung dosa menjadi buta. Kemudian mayat keduanya jatuh ke dalam teluk.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak ada muda-mudi kota ini yang berani berpacaran di teluk itu. Bila nekad, sepulang dari sana, mata mereka buta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah yang ini, barangkali, akan lebih kau percaya. Bermula dari kedatangan pasukan asing, dan perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Banyak warga yang kemudian dicap pemberontak. Mereka yang dituduh mata-mata pemberontak, langsung ditangkap dan dicongkel matanya. Andai saat itu kau ada di kota ini, jangan kaget, bila seseorang yang kau jumpai pada sore hari, telah menjadi buta pada pagi harinya. Ada gereja tua, yang dianggap menjadi sarang pemberontak, dan pasukan asing itu mengepungnya. Seluruh yang ada di dalamnya diseret keluar dan dikumpulkan di pekuburan yang berada di belakang gereja. Mereka langsung dihabisi dengan serentetan tembakan. Peristiwa itu selalu diperingati dengan misa paling murung di kota ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti diriwayatkan leluhur, ruh mereka yang mati akan kembali menjadi kunang-kunang. Bila malam hari, kau bisa menyaksikan puluhan kunang-kunang terbang berkitaran dari arah pekuburan di belakang gereja itu. Atau berjalanlah menyusuri kesunyian lorong-lorong kota ini malam hari, maka kau akan selalu berpapasan dengan kunang-kunang, yang melintas sendirian, atau bergerombol, seakan-akan mereka adalah sebuah keluarga yang sedang jalan-jalan. Jangan kaget, bila tiba-tiba pundakmu seakan ada yang menepuk, dan kau mendapati seekor kunang-kunang telah hinggap di pundakmu. Tak terlalu banyak penerangan di kota ini. Satu-satunya pembangkit listrik yang tersisa hanyalah berasal dari kincir air yang letaknya jauh di luar kota dan sudah payah tenaganya. Para pasukan asing dan penguasa telah lama melupakan kota ini, bagai hendak melupakan dosa mereka dari ingatan mereka. Kota itu terasa murung dan kelabu di siang hari. Dan tanpa penerangan listrik yang cukup, di malam hari kota ini seperti dikuasi kegelapan yang ganjil. Kegelapan yang dipenuhi kunang-kunang yang bagai muncul dari lorong-lorongnya yang paling gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">Atau berjalahlah kau menyisir tepian teluk, maka kau akan menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang nyaris menyentuh permukaan airnya yang bagai pulas tertidur. Ribuan kunang-kunang itu seolah ruh yang bangkit dan ingin membebaskan diri dari cengkeraman kutukan masa silam yang kelam. Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan. Seperti koor ruh yang purbawi.</p>
<p style="text-align:justify;">Cahaya kunang-kunang akan membuat jalanan kota di malam hari menjadi tampak berpenderan kekuningan, seperti ada mata yang terus menyala dari balik kegelapan. Kau akan melihat kunang-kunang itu bergerombol memenuhi warung dan kafe-kafe, seakan tengah mengobrol. Kau akan menyaksikan kunang-kunang itu hinggap di tiang listrik yang mati, hingga tiang listrik itu terlihat seperti pohon yang menyala kekuningan. Ketika segerombolan kunang-kunang hinggap di serimbun perdu atau tumpukan batu, maka perdu dan batu itu seketika menyala berpendaran. Diding-dinding yang telihat kusam dan tua di siang hari, menjadi berkilauan di malam hari. Dan sebuah pohon meranggas, bisa saja seketika langsung menyala kekuning-kuningan, seakan hiasan lampu jalan atau pohon Natal.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang hidup di malam hari di kota ini, yang tak hidup di siang hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya pernah, suatu saat, kota ini mencoba hidup dan berbenah diri. Banyak pendatang yang mencari peruntungan. Tapi barangkali kota ini memang kota yang ingin dilupakan, atau dilenyapkan. Selalu saja ada hal-hal kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menjadi kerusuhan. Pembunuhan dan perkelahian. Rumah ibadah yang dibakar. Penembakan dan ledakan bom. Kota ini menjadi kota yang selalu dipenuhi permusuhan. Iman menjadi sesuatu yang menakutkan. Desas-desus tantang pasukan bertopeng yang suka menculik dan mencongkel mata siapa saja yang ditangkapnya, membuat bergidik para warga yang kemudian memilih meninggalkan kota ini. Hingga kota ini tinggal dihuni orang-orang yang sebagian besar telah buta, dan kunang-kunang.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalah yang layak diceritakan dari kota yang murung dan hanya didiami orang-orang buta dan kunang-kunang seperti aku ini? Aku, seperti ribuan kunang-kunang lain di kota ini, hidup dalam kesunyian cahaya. Kami seperti menanggung beban masa silam yang sampai kini tak pernah bisa kami fahami. Sebagai ruh, kunang-kunang seperti kami, hidup abadi. Tapi apalah arti keabadian bila kami hidup dalam kesunyian yang tak tertanggungkan seperti ini? Kami hidup untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami. Aku sendiri selalu ingin melupakan ingatan buruk itu. Ketika suatu malam, saat aku masih hidup sebagai manusia, berjalan pulang seusai pesta dansa. Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusku. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku. Pada detik terakhir aku hanya sempat merasakan kesakitan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata, tepat, saat mereka mereka mencongkel mataku. Pada detik terakhir itulah, ruhku keluar dari tubuh, dan menjelma kunang-kunang.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Natal. Setelah peristiwa itu, terjadi kerusuhan dan kebakaran, yang menghangusnya nyaris sepertiga kota. Bekas yang disisakannya, berupa onggokan arang kebakaran, bila dilihat dari ketinggian, seperti luka sayatan pedang, yang mengiris wajah kota. Kesakitan yang akan lama kekal dalam ingatan.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">DAN inilah kali pertama aku akan merayakan Natal sebagai kunang-kunang. Mengenang dan memikirkan apa yang telah terjadi di kota ini, aku diluapi kesedihan, yang membuatku sepertinya akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Ah, aku merasa, aku hanya terlalu dikuasai kesedihan. Mereka yang sudah lama menjadi kunang-kunang, mungkin pernah mengalami perasaan sentimentil seperti ini, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Perasaan sentimentil itulah, yang barangkali, membuatku ingin menceritakan semua kisah ini, kepadamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada malam Natal dikota ini, kau akan menyasikan kunang-kunang bermunculan dari penjuru kota, yang bergerak melayang menuju gereja tua, di mana dulu pernah terjadi pembantaian. Kunang-kunang itu memenuhi gereja. Hingga gereja menjadi terang benderang berkilauan kuning keemasan. Pada fresko di belakang altar, kacanya yang buram dan sudah pecah di beberapa bagian, cahaya kunang-kunang itu menampakkan diri bagaikan aura para santa, membuat salib Kristus yang menjulang seolah diselubungi cahaya kesucian yang lembut dan meneduhkan. Sementara para jemaat, yang nyaris sebagian besar renta dan buta, para perempuan yang murung sepanjang hidupnya, mengikuti misa dengan keheningan jiwa yang membuat segala suara di sekitarnya seperti terhisap lesap. Pada saat-saat seperti itu, suara pelan daun yang melayang jatuh menyentuh rerumputan, akan terdengar jelas di telingamu.</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><em>Ubi caritas et amor, Deus ibi est</em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><em>Simul ergo cum in unum congregamur</em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><em>Ne nos mente dividamur, caveamus</em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><em>Cessent iurgia maligna, cessent lites</em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:60px;"><em>Et in medio nostri sit Christus Deus..</em></p>
<p style="text-align:justify;">Nyanyian itu, nyanyian itu, membuat aku tak kuasa menahan sedu. Aku membanyangkan kota yang terang, teluk yang lembut dan menguarkan kesegaran yang tak terjamah musim. Kotaku, kotaku, yang sesungguhnya elok ini, kenapa engkau ditinggalkan para penduduk yang mencintamu dengan seluruh nestapa dan duka cita?</p>
<p style="text-align:justify;">Keheningan misa mendadak pecah oleh ledakan. Para jamaat yang buta berlarian dan tersandung hingga terjerembab. Aku melihat api berkobar dari arah samping gereja. Seperti ada yang melemparkan bom molotov. Seperti ada ledakan granat atau entah apa yang tak pernah aku tahu. Mungkin seseorang telah menyelusup ke dalam gereja dan meledakkan diri. Dan api makin berkobar. Sebentar lagi, mungkin gereja ini akan terlalap api dan memusnahkan semua kunang-kunang di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum api itu juga menghanguskanku, mungkin aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini yang masih sempat menceritakan semua ini kepadamu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Ambon, 2011</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=682&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/12/25/requiem-kunang-kunang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/12/requiem-kunang-kunang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Requiem Kunang-kunang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- CINTA, KENANGAN DAN PESONA SAJAK PARA PENYAIR TWITTER</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/10/27/pesona-sajak-para-penyair-twitter/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/10/27/pesona-sajak-para-penyair-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 06:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[@sajak_cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Buku Sajak Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 22 Oktober 2011, bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, buku kumpulan @sajak_cinta diluncurkan. Inilah buku kumpulan sajak, yang berasat dari dunia Twitter. Terbitnya buku yang diberi judul Cinta, Kenangan dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai ini seakan membantah sinisme terhadap begitu banyaknya “tweet” yang dianggap hanya “sampah dunia maya”. 1000 sajak mungil [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=675&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/10/cover-sc-medium1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-677" title="COVER SC MEDIUM" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/10/cover-sc-medium1.jpg?w=201&#038;h=300" alt="" width="201" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal 22 Oktober 2011, bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, buku kumpulan @sajak_cinta diluncurkan. Inilah buku kumpulan sajak, yang berasat dari dunia Twitter. Terbitnya buku yang diberi judul <em>Cinta, Kenangan dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai</em> ini seakan membantah sinisme terhadap begitu banyaknya “tweet” yang dianggap hanya “sampah dunia maya”. 1000 sajak mungil dalam buku itu memperlihatkan keunikan dan kekuatan <em>micro blogging</em> Twitter sebagai sebuah kemungkinan ekspresi puitik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sajak-sajak pendek (yang tak lebih dari 140 karakter sebagaimana format Twitter) dalam buku ini memperlihatkan kekuatan ungkapan, dan pengolahan metafora, justru dalam bentuknya yang “mungil”. Sajak-sajak itu terasa bernas dan segar dalam kependekatannya, dan karena itu terasa cocok ketika menjadi kutipan dan ingatan. Ketika dunia semakin berkelebat cepat, ketika hidup bagaikan fragmen-fragmen kecil yang tersusun secara acak dan nyaris begitu berkelebat, kita membutuhkan sesuatu untuk sejenak mengingat apa yang menyentuh dan menjadi sesuatu yang penting dalam pengalaman hidup kita. Sajak-sajak pendek itu, seakan kelebatan ingatan dan kenangan; seperti ada sesuatu yang ingin dikekalkan, sesuatu yang pantas untuk diingat, dan dicatat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sajak-sajak dalam buku ini bagaikan “karnaval bisikan” &#8212; demikian penyair Hasan Aspahani memberi pengantar. Aspahani, termasuk salah satu penyair terbaik Indonesia yang juga “bermain twitter”, dengan akun @haspahani. “Buku ini berisi sajak cinta yang sederhana, terus-terang, bertenaga, serta membumi” tulis Aspahani. Aforisme-aforisme pendek sudah lama digarap oleh penyair besar. Kebernasan karya-karya pendek bahkan bisa menjadi tanda kebesaran seorang penyair. <span id="more-675"></span>Dalam buku ini, kita akan bertemu dengan kutipan dan sajak-sajak pendek dari para penyair terbaik Indonesia kontemporer, seperti M. Aan Mansyur (@aanmasyur), Gunawan Maryanto (@gunawanmaryanto), Warih Wisatsana (@warih_wisatsana), Nanang Suryadi (@penyaircyber), Khrisna Pabhicara (@1bichara), Ramon Damora (@ramondamn), Yayan Triyansyah (@yayantriyansyah) sampai para pesohor seperti Anji (@erdiAN_aJI) atau Olga Lidya (@Olgaly_DIA), <em>stand up comic</em> Indonesia yang brilian @notaslimboy dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping nama-nama di atas, kita juga akan bertemu dengan sajak-sajak karya @socrateslover, @RadityaNugie, @jemarimenari, @semenjak, @PrincessNatta, @Bemz_Q, @akf-akf, @dikiumbara, @lelakibudiman,  @Karizunique, @lizacica, @hotfashionholic, @sysyillona, @erie_kotak, @topeng@kaca, @ksatria_cahaya, dan sederet nama lainnya, yang biasa lalu-lalang di “lini masa persajakan” di <em>Twiterland</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku ini terbagi ke dalam 10 bagian, yang tiap bagiannya mencoba merangkum sebuah tema yang mengikatkan himpunan sajak itu menjadi “kesatuan suasana”. Maka, membaca tiap pembagian itu, kita seperti dibawa memasuki sebuah suasana: mulai dari perasaan jatuh cinta, kerinduan, kerisauan, kepedihan sampai suasana sensual dan spiritual, sebagai pengalaman penghayatan atas cinta. Bagian pertama adalah, “<em>Bersiaplah cinta mengetukmu. Hati selalu berpintu.”</em> yang dikutip dari sajak @PerahuKayu. Di bagian awal bab ini, kita sudah langsung dipukai sajak @aanmasyur: <em>Tiba-tiba aku jatuh cinta, melebehi seluruh jatuh cinta, yang pernah menyakiti dadaku.</em>  Bagaimana cinta datang pelan-pelan, mengendap dan meresap, atau diam-diam sembunyi dalam ingatan, menjadi suasana yang membuat kita menikmati pengalaman jatuh cinta. “Engkaulah cintaku, berdetik dalam detak napasku,” ujar satu sajak @nanangsuryadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kerinduan dan kerisauan bisa kau rasakan pada bagian dua yang diambil dari sajak @helanapas: <em>“dini atau malam yang lelah, sepiku dingin lembah”.</em> Sementara pengalaman sensual yang diungkapkan dengan seluruh tenaga putik, ada pada bagian sembilan: “<em>Merunduklah sejenak, aku rindu basah lidahmu</em>” yang diambil dari sajak @nakinann. Kalian bisa merasakan sendiri, bagaimana perasaan kalian diayun-ayun oleh sajak-sajak dalam buku ini, seakan menikmati seribu ciuman, kehangatan pelukan sekaligus dengan semua kerisauannya. Sebuah pengalaman yang bagai tak akan pernah selesai, dan tak ingin kau usaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sinilah kenikmatan membaca buku <em>“Cinta, Kenangan dan hal-hal yang Tak Pernah Selesai” </em>ini: menjadi pengalaman puitik tersendiri, dimana kita seperti berhadapan dengan berbagai moment yang mengejutkan, menyentak, yang mengaduk-aduk imajinasi dan perasaan kita. Perasaan yang begitu  #jlebb &#8212; bila memakai “istilah dari dunia Twitter”.</p>
<p style="text-align:justify;">Simaklah beberapa kutipan sajak ini:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Mari mendekat. Biar kudekap. Sebelum angin merebut. Akan kujaga hatimu dalam gelap</em>. ~ @socrateslover</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Terkadang aku membencimu, serupa suara membenci bisu. Terkadang aku merindumu, serupa api merindu abu</em>. ~ @lelakibudiman</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Aku sedang memilah dan memilih kata, untuk menamai sesuatu yang kurasa lebih dari sekedar cinta.</em> ~ @PrincessNatta</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>memandangmu, adalah kesunyian yg tak pernah mampu kuterka-terka</em> ~ @Ta_twitt</p>
<p style="padding-left:30px;"> <em>Pada merdu suara lonceng-lonceng mungil di beranda, angin meniupkan dirimu dengan lembut pagi ini</em>. ~ @jemarimenari</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>ke dalam rongga paru-paruku, meniuplah rindu, sebelum segalanya mengabu oleh waktu</em> ~ @lizacica</p>
<p style="text-align:justify;">Yang juga menarik, sajak-sajak pendek ini bisa menjadi kutipan percakapan, atau dijadikan bagian dari penyataan cinta kita pada pasangan kita, kekasih, atau juga pada pacar gelap. Sajak yang bisa dipetik untuk sebuah ucapan ulang tahun, buat merayu lewat SMS atau pesan pendek. Buku kumpulan sajak cinta ini, diterbitkan oleh Gramedia. Anda bisa segera memburunya di toko buku Gramedia di kota Anda. Atau, bila Anda bermain Twitter, atau suka twiteran, akan lebih efektif dengan memesannya ke akun: @panitia_SC</p>
<p style="text-align:justify;">Anda tinggal duduk manis, buku itu sudah langsung dikirim ke alamat Anda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&#038;blog=2288864&#038;post=675&#038;subd=agusnoorfiles&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2011/10/27/pesona-sajak-para-penyair-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://2.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F2.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2011/10/cover-sc-medium1.jpg?w=201" medium="image">
			<media:title type="html">COVER SC MEDIUM</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
