<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Noor_files</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Nov 2009 16:27:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='agusnoorfiles.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4a8cd90482d104293b36c5cdcbce672e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Noor_files</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>- FIKSI MINI: MENYULING CERITA, MENYULING DUNIA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/21/fiksi-mini-menyuling-cerita-menyuling-dunia/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/21/fiksi-mini-menyuling-cerita-menyuling-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 16:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[Micro Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
For sale: baby shoes, never worn. 
Ernest Hemingway

Saya menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam antara lain dalam “Anjing &#38; Fiksi Mini Lainnya” atau  “35 Cerita untuk Seorang Wanita”  (Jawa Pos, 1 November 2009). Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=460&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;"><em>For sale: baby shoes, never worn.</em><em> </em></p>
<p style="text-align:right;">Ernest Hemingway</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Saya menyebutnya fiksi mini. Itulah bentuk fiksi mini yang saya himpun dalam antara lain dalam <a title="Fiksi Mini Agus Noor" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/18/anjing-fiksi-mini-lainnya/" target="_self">“Anjing &amp; Fiksi Mini Lainnya” </a>atau  “35 Cerita untuk Seorang Wanita”  (<em>Jawa Pos</em>, 1 November 2009). Yakni fiksi, yang hanya terdiri dari secuil kalimat. Mungkin empat sampai sepuluh kata, atau satu paragrap. Tapi di sana kita beroleh  “keluasan dan kedalaman kisah”. Kutipan di awal tulisan, merupakan karya penulis dunia, Hemingway, adalah salah satu contoh “novel terbaik dunia”, yang ditulis hanya dengan beberapa patah kata. Karya itu, ditulis di tahun 1920, karna Hemingway bertaruh dengan rekannya: bahwa ia mampu nenulis novel lengkap dan hebat hanya dengan enam kata. Dan  penulis Amerika itu menyatakan: itulah karya terbaiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, bila kita mau melihat bentuk-bentuk karya sastra yang sudah ada, fiksi mini sesungguhnya punya jejak sejarah yang panjang. Artinya, tidak dimulai di tahun 1920, ketika Hemingway menulsikan fiksi mininya itu. Kita ingat fabel-fabel pendek yang ditulis Aesop (620-560 SM), adalah sebuah “kisah mini” yang penuh <em>suspens</em> dalam kependekannya. Kita bisa melihat pula kisah-kisah sufi dari Timur tengah, yang turunannyapopuler sampai sekarang dalam bentuk anekdot-anekdot semacam Narsuddin Hoja atau Abunawas. Kisan-kisan kebajikan zen di Tiongkok,  yang bahkan seringkali lebih menggungah ketimbang cerita panjang yang bertele-tele.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/11/gambar32.jpg"><img class="size-medium wp-image-461 alignright" title="gambar32" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/11/gambar32.jpg?w=250&#038;h=245" alt="" width="250" height="245" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Di perancis, fiksi mini dikenal dengan nama <em>nouvelles</em>. Orang Jepang menyebut kisah-kisah mungil itu dengan nama “cerita setelapak tangan”, karena cerita itu akan cukup bila dituliskan di telepak tangan kita.  Ada juga yang mneyebutnya sebagai “cerita kartu pos” (<em>postcard fiction</em>), karena cerita itu juga cukup bila ditulis dalam kartu pos. Di Amerika, ia juga sering disebut fiksi kilat (<em>flash fiction</em>), dan ada yang menyebutnya sebagai <em>sudden fiction</em> atau <em>micro fiction</em>. Bahkan, seperti diperkenalkan Sean Borgstrom, kita bise menyebutnya sebagai <em>nanofiction</em>. Apa pun kita menyebutnya, saya pribadi lebih suka menamainya sebagai fiksi mini.<span id="more-460"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang mencoba memberi batasan fiksi mini itu melalui jumlah katanya. Misalkan, sebuah karya bisa disebut fiksi mini bila ia terbentuk dari tak lebih 50 kata. Ada yang lebih longgar lagi, sampai sekitar 100 kata.  Dalam batasan seperti ini, maka kita akan menemukan bahwa banyak penulis dunia seperti Kawabata, Kafka, Chekov, O Henry, sampai Ray Bradbury, Italio Calvino dan yang paling mutakhir Julio Cortazar, menghasilkan fiksi mini yang dahsyat. Kedahsyatan itu terasa, betapa dalam kisah yang ditulis dengan “beberapa kalimat saja”, kita dibawa pada petualangan imajinatif yang luar biasa. Dan inilah, memang, yang membuat fiksi mini, terasa punya hulu ledak. Ia seperti bom kecil, yang ditanamkan ke kepala kita, dan ledakannya membuat otak kita berguncang. Ada gema panjang, yang bahkan terus menggoda dan tak mudah hilang, setelah kita membacanya dalam sekejap.</p>
<p style="text-align:justify;">Sembari mengutip Cortazar, Hasif Amini pernah menyebut,  bila  novel adalah pertandingan tinju dua belas ronde, maka cerpen ibarat pertandingan tinju yang berakhir dengan KO atau TKO – mungkin di rondo ke empat atau ronde ke enam.. Maka, fiksi mini ibarat pukulan telak yang langsung membuat lawan terjengkang pada kesempatan pertama. Atau, bayangkanlah sebuah ruang tunggu, begitu Amini melukiskan. Novel ibarat kita tengah berbincang-bincang secara panjang dengan seseorang yang kita jumpai di ruang tunggu. Kita jadi merasa mengenal atau mengetahui keseluruhan kisah hidup orang itu. Cerpen menjadi seperti perbincangan singkat dengan seseorang di ruang tunggu, dan kita merasa “hanya”  mengetahui satu bagian dari kisah hidup orang itu. Maka, fiksi mini, adalah seseorang yang tiba-tiba saja datang, lalu berkata sepatah dua patah kata, atau sekalimat, yang membuat kita terperangah. Dan orang itu, mendadak sudah menghilang begitu saja. Meninggalkan kita yang hanya terbelalak, digoda sejuta tanya, dan terus-menerus memikirkan apa yang tadi barusan dikatakan orang itu? Begitu efek fiksi mini. Ia seperti satu tamparan yang membuat kita kaget terbelalak.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila, saya disuruh menegaskan melalui jumlah kata, maka saya akan membatasi pada jumlah 50 kata itu, untuk sebuah karya bisa disebut fiksi mini. Tapi rumusannya adalah, ‘menceritakan sebuah kisah  dengan seminim mungkin kata’. Maka, semakin sedikit jumlah kata itu, maka semakin berhasil fiksi mini itu. Tapi, tentu saja, bukan cuma jumlah kata itu yang membuat fiksi mini kuat. Dalam jumlah kata yang secuil itu, tetap harus membayangkan sebuah kisah panjang, atsmosfir kisah yang luas,  bayangan karakter, ada konnflik dan suspens, atau mungkin teka-teki yang tak kunjung selesai. Semakin sedikit kata, tetapi semakin luas membentang kisah di dalamnya, dalam koridor itulah seorang pengarang ditantang untuk menghasilkan fiksi mini yang kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menyebutnya fiksi mini (bukan prosa mini), karena fiksi mini memang bisa juga  berbentuk puisi. Tetapi, tentu saja, bila menyangku urusan kategorisasi, fiksi mini tetap harus memiliki elemen narataif atau penceritaan, untuk membedakannnya dengan “puisi pendek’ (misalnya). Karena kita tahu, ada bentuk-bentuk puisi yang sangat pendek, seperti haiku, tetapi barangkali tetap lebih nyaman bila disebut sebagai puisi pendek, bukan fiksi mini. Maka, dalam fiksi mini itu, elemen dasar penceritaan atau naratif (yang karenanya menjadi lebih dekat pada prosa) bisa ditemukan. Kita mengenal element penceritaan seperti penokohan (protagonis dan antagonis), konflik, <em>obstacles</em> atau juga <em>complication</em> dan <em>resolution</em>. Barangkali, pada fiksi mini, justru resolution itu yang dihindari, karena dalam fiksi mini, akhir (ending) menjadi semcam gema, yang terus dibiarkan tumbuh dalam imajinasi pembaca. Karakter menjadi kelebatan tokoh yang seperti kita kenal, tetapi tak mudahdipastikan, dan karenanya bergerak cepat. Itulah yang justru membuat kita penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya akan kutipkan satu contoh. Berikut ini adalah karya Joko Pinurbo, yang “resminya” oleh penulisnya sendiri, disebut puisi. Tapi, menurut saya, ia bisa disebut fiksi mini:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><strong><em>Penjahat Berdasi</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><em>Ia mati dicekik dasinya sendiri.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam karya itu, kita menemukan bayangan tokoh, yakni “si penjahat berdasi”. Di sana suatu konflik yang membuat si tokoh itu akhirnya mati secara mengerikan: dicekik oleh dasinya sendiri. Perhatikan kata “dicekik” dan buka “tercekik”, misalnya. Dalam kata “dicekik” itulah, kita menemukan unsur plot arau alur: bagaimana suatu hari dasi itu berubah seperti tangan hitam dan kasar yan jengkel dan kemudian mencekik leher di tokoh itu”. Memilih kata yang tepat, efektif dan kuat secara imajinatif, menjadi kunci lain bagi proses penulisan fiksi mini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sengaja mengutip “fiksi mini” Joko Pinurbo itu, sekadar untuk memperlihatkan, betapa sesungguhnya, selama ini, fiksi mini, banyak digarap oleh penulis kita. Puisi-puisi yang menghadirkan dirinya menjadi semacam prosa, sebagaimana yang kerap ditulis oleh Joko Pinurbo (seperti <em>Celana</em> atau <em>Tukang Cukur</em>) atau juga oleh Sapardi Joko Damono (<em>Perahu Kertas</em> atau <em>Mata Pisau</em>). Dalam pengantar kumpulan prosanya <em>Pengarang Telah Mati</em>, Sapardi menegaskan kalau prosa-prosa pendek itu disebutnya “cerpen mini” karena ia memang menyebutnya prosa. Padahal, menurut saya, prosa-prosa pendek – atau fiksi mini dalam istilah saya – telah banyak ditulis Sapardi, seperti dalam sajak “Tuan”, meski ia menyebutnya puisi. Mari kita kutip sajak “Tuan” itu, dan saya tulis ulang dengan gaya prosa:</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><strong><em>Tuan</em></strong><em></em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><em>“Tuan Tuhan, bukan?” Tunggu sebentar, saya sedang keluar.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak bisa tidak, itu adalah bentuk fiksi mini, meski penulisnya sendiri menyebutnya sebagai puisi. Barangkali, karena saat puisi itu ditulis, istilah fiksi mini belum terlalu ngetrend. Saat ini, ketika dunia semakin berkelebat, ketika waktu kian bisa dilipat-lipat begitu kecil dan praktis, ketika dunia seperti telepon genggam yang kita simpan dalam saku celana, segala yang sekilas seperti telah menjadi nafas kita sehari-hari, dan kita menjadi merasa penting segala macam hal yang mesti serba sekilas, selintas, gegas dan ringkas. Ketika intenet mulai mendominasi, maka fiksi mini menjadi trend yang menggoda dan digandrungi. Kecepatan dan keringkasan adalah ciri tulisan di internet. Barangkali, karena itulah, fiksi mini seperti menemukan habitatnya yang pas di laman internet. Kurnia Effendi, seorang penulis cerpen Indonesia, saat saya membacakan dan mendiskusikan fiksi mini di Warung Apresiasi Sastra Bulungan Jakarta, melihat problem terbesar fiksi mini ketika ia bersinggungan dengan media utama publikasi sastra kita, yakni koran. Fiksi mini menjadi mustahil muncul di koran, kata Effendi, karena “ruang koran menjadi teralu luas untuk bentuk fiksi mini. Maka saya mencoba mensiasatinya dengan cara “menghimpun sekian fiksi mini”, seperti dalam “35 Cerita buat Seorang Wanita” itu atau dalam “20 Keping Puzzle Cerita”. Pada dasarnya, itu adalah fiksi mini, yang tiap bagian kisahnya berdiri sendiri. Menghimpunnya hanyalah menjadi semacam strategi publikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika dunia makin pendek, pengarang pun ditantang untuk menyuling cerita. Menyuling cerita, begitulah pada dasarnya proses penulisan fiksi mini. Atau pengarang seperti ahli kimia yang mencoba menemukan atom cerita. Ia membuang dan mengurai detail yang kadaluarsa, yang hanya akan mengganggu dan mengotori kemurnian imajinasi. Ketika dunia sudah menjadi terlalu prosais, terlalu banyak kehebohan cerita yang sesungguhnya hanya gegap-gempita yang menyesatkan, yang terus menerus direproduksi hingga tak lebih menjadi kisah-kisah yang yang mekanis dan gampang kita duga, maka fiksi mini seperti sebuah jalan spiritual untuk menemukan semua esensi cerita. Menyuling cerita, menjadi pencarian spiritualitas cerita, sebagaimana tersirat dalam fiksi mini-fiksi mini seputar zen budisme. Barangkali, itulah “teologi fiksi mini”, yang membuatnya menjadi penting dan relevan untuk kita yang megam-megam dalam samudera cerita, dan kita justru terasing dari semua cerita yang direproduksinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin menutup esai ini dengan satu fiksi mini saya,</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><strong><em>Sebutir</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>Debu</em></strong><em> </em><em></em></p>
<p style="text-align:justify;padding-left:90px;"><em>Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak</em><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jagat raya ini hanyanya sebutir debu. Begitulah jagat raya di mata Tuhan. Maka inilah akar teologis dari fiksi mini, bahwa Tuhan menyusun jagat raya ini sebagai  pengarang yang telah menemukan esensi cerita. Jagat raya ini adalah fiksi mini yang telah berhasil ditulis oleh Tuhan dengab piawai.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, pejamkanlah mata. Biarkan segala hirup pikuk cerita lenyap dari kepalamu, hingga yang tersisa adalah bentangan kesunyian imajinasi yang paling ultim, sublim.  Itulah esensi cerita yang kini muncul dalam kemurnian imajinasimu. Tidakkah kau ingin terus-menerus menyuling dan menuliskannya?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=460&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/21/fiksi-mini-menyuling-cerita-menyuling-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/11/gambar32.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gambar32</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- Ekspresi Demokrasi Cerpen Indonesia</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/13/ekspresi-demokrasi-cerpen-indonesia/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/13/ekspresi-demokrasi-cerpen-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 14:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen dan demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ratno Fadillah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Berikut saya suguhkan tulisan Ratno Fadilah, yang sebelumnya pernah muncul di Kompas, (2 Juni 2007). Terimakasih kepada Ratno, dan semoga menyenangkan bagi semua.

Oleh: Ratno Fadillah*
Kita sering mengunjungi taman kota pada saat hari libur atau untuk melepas rindu bertemu kekasih. Juga tak jarang, taman kota menjadi alternatif saat anak-anak kita memohon ke tempat wisata yang berbiaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=452&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Berikut saya suguhkan tulisan Ratno Fadilah, yang sebelumnya pernah muncul di <em>Kompas</em>, (2 Juni 2007). Terimakasih kepada Ratno, dan semoga menyenangkan bagi semua.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-454" title="karikatur1.JPEG" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/11/karikatur1-jpeg.gif?w=291&#038;h=300" alt="karikatur1.JPEG" width="291" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-452"></span>Oleh: Ratno Fadillah*</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sering mengunjungi taman kota pada saat hari libur atau untuk melepas rindu bertemu kekasih. Juga tak jarang, taman kota menjadi alternatif saat anak-anak kita memohon ke tempat wisata yang berbiaya mahal.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara membawa mereka berkeliling mal atau plaza dalam kota, sama saja. Kita sulit menghindar dari keinginan belanja dan makan di restoran fast food. Taman pun segera menjadi pilihan yang terjangkau. Menjanjikan keceriaan, pelepasan, keakraban, kesegaran, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di kota-kota besar Indonesia, ruang publik memang menjelma tragedi dari demokrasi yang mewadahinya. Betapa tidak. Karena terbatasnya kios atau los murah di pasar-pasar, pedagang kaki lima menjamuri trotoar atau jalur pedestrian. Kekhawatiran akan keselamatan diri pun muncul saat berada di ruang-ruang publik tersebut. Penjambretan, penodongan, bahkan pemerkosaan menjadi momok harian bagi para pengguna jalur pedestrian.</p>
<p style="text-align:justify;">Keberadaan ruang publik pun menjadi bukan persoalan sepele. Ketidaknyamanan atau tidak berfungsiannya ruang publik menjadi cermin kerusakan kultural masyarakatnya. Jurgen Habermas mengatakan, adanya ruang publik (public sphere) yang bebas dan netral merupakan elemen esensial untuk membangun civil society. Di dalam ruang publiklah, secara teoretis, harusnya terjadi &#8220;pertarungan simbolik&#8221; atau &#8220;pertempuran wacana&#8221;, atau sederhananya &#8220;pembicaraan&#8221; yang bisa menunjukkan kemurnian &#8220;the soul of democracy&#8221;, nyawa demokrasi suatu masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak cara masyarakat mengekspresikan kegelisahannya di &#8220;ruang publik&#8221;. Termasuk dalam ekspresi artistik, cerita pendek, atau prosa, misalnya. Tercatat beberapa cerpenis terkemuka Indonesia melakukan semacam interpretasi terhadap ruang publik—terutama di Jakarta—dalam karya-karya mereka. Entah menjadikannya sebagai poros simbol ceritanya ataupun sekadar jadi latar cerita.<br />
<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dalam cerpen Indonesia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah salah seorang pengarang di soal itu. Dalam sebuah esainya, &#8220;Taman&#8221;, misalnya, ia mempertanyakan keberadaan ruang publik itu. Keberadaan ruang publik secara fisik sama pentingnya dengan gagasan demokrasi secara abstrak: ruang yang memberi kita kesempatan untuk mengambil jarak—secara fisik ataupun psikis—sehingga suatu alternatif dapat muncul darinya (SGA, Buku Baik, &#8220;Affair, Obrolan tentang Jakarta&#8221;, hal 190).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam dua cerpennya, &#8220;Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu&#8221; dan &#8220;Mata Mungil yang Menyimpan Dunia&#8221;, Agus Noor juga hendak menggambarkan ruang publik sebagai ruang bermain sekaligus ruang bertahan hidup anak-anak jalanan. Melalui cerpen &#8220;Pagi Bening Seekor Kupu-Kupu&#8221;, Agus coba merepresentasi ruang publik yang dimaksud adalah sebuah taman yang menjadi ruang bertemunya seekor kupu-kupu dengan seorang anak gelandangan yang saling bertukar sosok.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bertukar sosok itu, keduanya memang merasakan kebahagiaan yang diinginkan. Namun, kenyataan memang tak seindah impian. Keduanya pun berhadapan dengan kenyataan yang tak pernah dibayangkan: kehidupan kelam yang disimpan oleh kota besar. Keras, penuh curiga, dan amarah.<br />
Meskipun Agus Noor tidak menyebutkan lokasi taman yang ditulisnya, bisa ditafsirkan taman yang dimaksud itu adalah cermin taman yang ada di kota besar secara umum. Kembali mengutip pengamatan SGA dalam esainya itu, taman di Jakarta lebih sering berarti sebagai tempat tinggal gelandangan, anak-anak jalanan, atau pekerja seks liar yang mencari mangsa, sehingga dengan sendirinya tidak menjadi representasi tata kehidupan yang nyaman dan tertib, dan pura-puranya beradab. Taman lebih sering menjadi tempat gelap yang berbahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menautkan narasi hasil representasi cerpen Agus Noor itu dengan hasil pengamatan SGA terhadap taman-taman kota, dapat tergambar jelas bahwa taman telah mengalami pergeseran makna secara sosial kultural.<br />
Perbedaan cerpenis</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, dalam &#8220;Mata Mungil yang Menyimpan Dunia&#8221;, representasi ruang publik ideal dinyatakan sebagai suatu khayalan. Jalan raya yang lancar, sejuk, indah dan terbebas dari banjir dan kekhawatiran adanya kriminalitas hanya terwujud sampai pada angan-angan.</p>
<p style="text-align:justify;">Gustaf, tokoh sentral cerpen ini, selalu merasakan keindahan itu hanya bila lekat memandang sepasang mata bocah gelandangan yang ditemuinya di tengah jalan yang macet itu. Secara tersirat dapat dikatakan bahwa jalan-jalan yang terbentang di Jakarta (Jakarta adalah dugaan penulis saja, karena sebenarnya Agus Noor tak menyebutkan nama kota dalam cerpen itu) sebagai ruang publik yang tertib, nyaman, dan sejuk itu masih berupa ilusi<br />
Perbedaan tafsir dan perbedaan perlakuan terhadap ruang publik ini terjadi dalam cerpen &#8220;Dia Mulai Memanjat!&#8221;-nya Hamsad Rangkuti. Seperti diakui penulisnya sendiri, cerpen ini terinspirasi dari pendengaran Hamsad terhadap ucapan Oesman Effendi yang begitu menyengat kepada pelukis muda kala itu: &#8220;Kalau kau mau terkenal, penggal kepala patung di Bundaran Senayan. Katakan itu karyamu! Kau akan terkenal&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam proses penyajiannya, Hamsad kemudian menggunakan pikiran seorang lelaki yang ingin memenggal patung seorang atlet lelaki yang telanjang dada dan membawa api yang menyala di dalam belanga itu, sebagai poros konflik ceritanya. Namun sayang, absurditas yang ditawarkan Hamsad dalam cerpen ini tak begitu kuat. Penafsirannya terhadap ucapan Oesman Effendi, kawannya yang pelukis itu, terlampau naif.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara makna sosial yang tersembunyi di dalamnya tidak tergarap dengan baik. Padahal, berdirinya patung-patung kota merupakan sarana penciptaan ruang publik. Sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan dan perilaku masyarakat. Dan secara alamiah akan membentuk suatu interaksi sosial yang majemuk.<br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hilang makna</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tafsir Hamsad di atas, banyak tempat yang telah kehilangan fungsi dan maknanya sebagai ruang publik. Salah satunya adalah patung &#8220;Pemuda Menyangga Api&#8221; di Bundaran Senayan itu. Alhasil, keberadaannya lebih berfungsi sebagai ornamen kota. Hanya menjadi obyek visual para penghuni kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang publik di Jakarta yang masih relevan dengan fungsi dan maknanya secara ideal sampai saat ini adalah Bundaran Hotel Indonesia (HI). Disebut memiliki nilai ideal karena Bundaran HI kerap jadi ruang percakapan berbagai warna demokrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai gagasan dan perilaku dalam tubuh masyarakat senantiasa akan terulang di sana. Entah disengaja atau berlangsung secara alamiah, Bundaran HI telah disepakati sebagai ruang ekspresi tubuh kolektif masyarakat. Baik yang bersifat protes, aksi sosial, kampanye politik, penyakit, sampai karnaval pembangunan. Bundaran HI telah menjadi salah satu ruang di mana bersemayamnya nyawa demokrasi bangsa ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, pencitraan Bundaran HI sebagai ruang sejuk berembusnya demokrasi itu tertangkap oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya yang berjudul &#8220;Sembilan Semar&#8221;. Dengan penuturan yang begitu komikal, cerpen ini telah berhasil menyingkap maraknya fenomena kampanye partai-partai politik di kawasan sentral Ibu Kota. Sampai membuat bingung para aparat dalam mengontrolnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada cerpen yang lain, &#8220;Teriakan di Pagi Buta&#8221;, SGA mengungkapkan kelaziman realitas yang memang telah dipahami oleh masyarakat kita. Bahwa sosok terminal—dalam cerpennya itu SGA menyebutkan terminal Pulo Gadung, yang merupakan terminal terpadat sekaligus paling mengancam mengancam itu—adalah center of crime. Paradigma masyarakat akan tetap penuh warna dalam mengartikan ruang publik yang satu ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melihat gambaran ruang publik di kota besar atau Ibu Kota seperti di atas, tampaklah betapa kuatnya sudah distorsi ruang (dalam arti sosial, politik, budaya, apa pun) dalam masyarakat kita. Itu berarti, antara lain, telah begitu lama kita gagal atau mengabaikan perwujudan ruang bagi kolektif kita sendiri. Ironis!</p>
<p style="text-align:right;">*<strong>Ratno Fadillah</strong> <em>Cerpenis, </em></p>
<p style="text-align:right;"><em>Menetap dan Bergiat di Rumah Cahaya, Depok</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/452/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=452&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/11/13/ekspresi-demokrasi-cerpen-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/11/karikatur1-jpeg.gif?w=291" medium="image">
			<media:title type="html">karikatur1.JPEG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- ANJING &amp; FIKSI MINI LAINNYA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/18/anjing-fiksi-mini-lainnya/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/18/anjing-fiksi-mini-lainnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 09:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[
Anjing 
Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya


Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali 
Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul. 
 


Bayi 
Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=446&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-447" title="Anjing.JPEG" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/10/anjing-jpeg.gif?w=370&#038;h=284" alt="Anjing.JPEG" width="370" height="284" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Anjing</strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Bayi</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-446"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan Membunuh Ular di Hari Minggu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kau bermimpi, seekor ular menyelusup masuk telinga ibumu. Kau menjerit, dan cepat-cepat menghantamnya. Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Misteri Mutilasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Api Sinta</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sinta berdiri di tepi api penyucian yang berkobar. “Masuklah..,” ujar Rama.”Bila kau belum terjamah Rahwana, api itu akan menyelamatkanmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sinta menatap pangeran tampan itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya terjun dalam kobaran api. Semua yang hadir begitu lega ketika menyaksikan api itu perlahan padam: tubuh Sinta tak terbakar.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya kedua payudaranya yang gosong.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengantin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak pernah ia bertemu perempuan secantik itu. Mengingatkannya pada Putri Tidur jelita. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan meminangnya. Tak ada yang tahu ketika ia membawa mayat itu ke kamarnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kisah Seorang Psikopat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum polisi tiba ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>TKI yang Pulang Kampung</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ia dikabarkan mati. Saat ia kembali, keluarganya sedih. Tengah malam ia pun menggantung diri.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulat dalam Kepala</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bocah itu begitu iba pada adiknya yang bertahun-tahun terbaring sakit dengan kepala yang makin membengkak. “Seperti ada ribuan ulat di otakku,” keluh adiknya selalu. Suatu hari bocah itu melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tengah malam, diam-diam, ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mayat di Pinggir Kali</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mayat itu ditemukan telanjang di pinggir kali. Ia kemudian dilaporkan ke polisi dan dihukum lima tahun penjara karena dituduh melanggar Undang-undang Pornografi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumur Tua di Belakang Rumah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada sumur tua di belakang rumahku. Setiap purnama air sumur itu memerah. “Dulu,” cerita Nenek, “puluhan orang dibantai, dan dibuang ke dalamnya.” Sejak itu, siapa pun dilarang mendekat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi diam-diam aku suka ke sana. Menyaksikan bangkai mayatku mengapung di dasar sumur itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Matinya Seorang Pelawak</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tak ada yang tersenyum menyaksikannya di panggung. Ketika ia mati, semua orang tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sarapan Pagi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Potongan daging busuk penuh belatung berceceran di lantai. Bau busuk meruap kamar gelap itu. Sumanto menikmati sarapan paginya dengan tenang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Salju</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Matahari begitu terik. Sebutir salju melayang jatuh di telapak tangan. Ia berteriak gembira. Sejak itu orang-orang menganggapnya gila.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Hari Paling Indah dalam Hidup Sepasang Suami Istri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya duduk di beranda, menikmati teh hangat, memandang senja yang bagai usia perkawinan mereka. “Ceritakan kisah paling lucu dalam hidupmu,” kata si istri.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ialah ketika aku membunuhmu,” jawab si suami.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka pun tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mudik Lebaran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali. Stasiun lengang dan sepi. Cuma ia sendiri. Sesekali terdengar lengking peluit. Tapi kereta itu tak juga muncul. Padahal ia sudah menunggu sejak lebaran bertahun lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Berita dari Koran Pagi</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayahmu menggampar ibumu sampai mati karena ia telah menggorok kamu yang dengan sadis membacok ayahmu hingga tewas hanya karena tak membelikanmu mainan.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tamasya Keluaga Seorang Kerani</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Liburan sekolah ini ia ingin mengajak anak-anaknya tamasya. “Meski miskin, sesekali perlu juga kita rekreasi,” katanya. Anak-anak bersorak gembira.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyisihkan sedikit uang gaji, digoncengnya anak-anak ke Kebun Binatang. Ia tersenyum menyaksikan mereka berlarian, main prosotan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendadak ponselnya berbunyi. Dari istrinya, “Katanya mau ngajak liburan. Anak-anak nunggu di rumah nih!”</p>
<p style="text-align:justify;">Buru-buru ia ngebut pulang. Tapi di tikungan sepeda motornya terguling dan truk yang melaju kencang langsung menyambarnya. Sedetik sebelum nyawanya melayang, ia tiba-tiba teringat kalau istrinya sudah meninggal setahun lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Hiroko</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak terbangun ketika bom atom itu meledak di sampingnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Reinkarnasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mati di masa depan, aku terlahir kembali di masa silam sebagai diriku yang sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pohon</strong> <strong>Hayat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kanak, kau mendengar kisah pohon rimbun di alun-alun kotamu. Setiap selembar daunnya luruh, seseorang akan mati. Pernah sebagian besar daunnya rontok ketika terjadi pembantaian.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini kau gemetar memandangi satu-satunya daun yang tersisa di pohon itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu yang Menunggu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anaknya hilang saat kerusuhan. “Mungkin diculik. Mungkin terpanggang api yang membakar pertokoan,” kata orang-orang. Sejak itu ia selalu duduk termangu di beranda, hingga larut.</p>
<p style="text-align:justify;">Bertahun-tahun kemudian para peronda masih sering melihatnya duduk di situ, meski ia telah lama mati dan rumah itu sepi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Halte</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terkantuk-kantuk kau duduk di halte menunggu angkot yang akan membawamu pulang. Begitulah, setiap hari, kau selalu pulang kerja selarut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Angkot datang. Kau segera masuk. Ketika angkot itu kembali melaju, kau menegok ke jalanan sepi di belakangmu. Kau melihat dirimu yang tengah terkantuk-kantuk menunggu di halte itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Ramalan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu kali seorang peramal mendatangi. “Kau akan mati ketabrak kereta api,” katanya. Padahal ia tak pernah dilahirkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kasus Salah Tangkap</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh kekasihmu. Padahal kekasihmu masih hidup. Kaulah yang mati.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Lelucon Seorang Badut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ia suka menghibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Seusai Pemakaman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seusai dikuburkan, ia pun kembali ke rumah. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anaknya berlarian riang. Di pintu, mata istrinya berlinang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Di Kafe</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sembari menunggu ia bercakap-cakap dengan tamunya yang tak pernah datang. Sampai kafe tutup. Dan ia pulang. Tapi pelayan kafe masih melihatnya terus duduk di kursi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Alibi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kau merasa senang karna akhirnya kau dibebaskan dari tuduhan. Polisi tak bisa mendakwamu, karna ketika kau terbunuh dan mayatmu ditemukan malam itu, kau memang tak ada di tempat kejadian.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Perempuan yang Mati Membakar Diri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perempuan itu ditemukan mati gosong, sambil mendekap bayi yang disusuinya. Orang-orang yang mengangkat mayatnya bersumpah, kalau airsusu perempuan itu masih menetes-netes dari putingnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada Sebuah Kuburan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Bila pulang malam-malam, kau pasti merinding setiap melewatinya. Seperti ada suara yang terus melolong. Kau sedih setiapkali mendengar lolong itu. Lolong itu selalu mengingatkanmu pada kejadian bertahun lalu, ketika kau dulu mati dipotong-potong dan dibuang ke kuburan itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Mati Sunyi Seorang Diktator</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diktator itu mati dipancung di tengah alun-alun. Keesokanya ia terlihat duduk-duduk di balkon istananya yang sepi menikmati secangkir kopi sembari membaca setumpuk koran pagi. Ia termangu saat menyadari tak ada satu pun koran yang memberitakan kematiannnya. “Betapa sia-sia aku menjadi diktator,” keluhnya. Lalu segera menembak kepalanya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Paket Kilat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari kau mendapat paket yang berisi kematianmu sendiri. <em>Mohon diterima dengan baik</em>, tulis pesan yang menyertai. “Aneh sekali,” gumammu, sambil memperlihatkan paket itu pada istrimu, “Siapa sih yang iseng ngirim beginian?” Istrimu tertawa, menganggapmu bercanda, karena di alamat pengirim jelas tertera namamu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebutir Debu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="right"><strong>Jakarta-Yogyakarta, 2008-2009</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/446/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=446&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/18/anjing-fiksi-mini-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/10/anjing-jpeg.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Anjing.JPEG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- Pementasan IN/OUT: Catatan (di Dalam/di Luar) Proses</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/06/pementasan-inout-catatan-di-dalamdi-luar-proses/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/06/pementasan-inout-catatan-di-dalamdi-luar-proses/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 18:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertunjukan]]></category>
		<category><![CDATA[Boi G Sakti]]></category>
		<category><![CDATA[Deddy Luthan]]></category>
		<category><![CDATA[Empowering Women Artist]]></category>
		<category><![CDATA[Farida Utoyo]]></category>
		<category><![CDATA[Gusmiati Suid]]></category>
		<category><![CDATA[Hartati]]></category>
		<category><![CDATA[IN/OUT]]></category>
		<category><![CDATA[Kayan Production]]></category>
		<category><![CDATA[Kelola]]></category>
		<category><![CDATA[Retno Maruti]]></category>
		<category><![CDATA[Sardono W Koesumo]]></category>
		<category><![CDATA[Sentot S]]></category>
		<category><![CDATA[Sukarji Sriman]]></category>
		<category><![CDATA[Tari Kontemporer Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Salihara]]></category>
		<category><![CDATA[Tom Ibnur]]></category>
		<category><![CDATA[Wiwiek Sipala]]></category>
		<category><![CDATA[Yudi Ahmad Tajudin]]></category>
		<category><![CDATA[Yulianti Parani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[
Pementasan tari IN/OUT koreografer Hartati, akan dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta, pada tanggal 16 dan 17 Oktober 2009, pukul 20.00 WIB. Karya ini menghadirkan imaji kotak, yang menjadi titik pijak garapan dan dramaturginya. Kotak itu boleh jadi kotak identitas. Atau kotak ideologis. Atau kotak keyakinan yang tak mudah diruntuhkan. Kotak di mana kita terjebak di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=441&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="Hartati Publikasi" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/10/hartati-publikasi.jpg?w=249&#038;h=300" alt="Hartati Publikasi" width="249" height="300" /></p>
<p style="text-align:justify;">Pementasan tari <em>IN/OUT</em> koreografer Hartati, akan dipentaskan di <a href="http://www.salihara.org/main.php?module=home&amp;type=detail" target="_self">Teater Salihara</a>, Jakarta, pada tanggal 16 dan 17 Oktober 2009, pukul 20.00 WIB. Karya ini menghadirkan imaji kotak, yang menjadi titik pijak garapan dan dramaturginya. Kotak itu boleh jadi kotak identitas. Atau kotak ideologis. Atau kotak keyakinan yang tak mudah diruntuhkan. Kotak di mana kita terjebak di dalamnya – mungkin tanpa pernah menyadari. Kita  ingin keluar kotak itu. Tapi kehendak untuk keluar dari kotak bukanlah perkara gampang. Ia akan menjadi pergulatan yang nyaris tanpa akhir. Ia seperti identitas yang ingin kau tanggalkan, tetapi kau, menyadari atau tidak, ada yang terus terperangkap di dalamnya.  Kotak itu serupa keyakinan yang tak mudah kamu lepuh. Ia serupa pikiran yang tak kunjung kau sadari dinding-dinding pembatasnya.<span id="more-441"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hartati adalah salah satu koreografer (perempuan) yang cukup penting dalam perkembangan tari kontemporer Indonesia saat ini. Tati, begitu ia biasa dipanggil, telah menghasilkan karya-karya seperti <em>Sayap yang Patah</em> (2001, Gedung Kesenian Jakarta/GKJ), <em>Membaca Meja</em> (2002, GKJ), <em>Ritus Diri</em> (2004, GKJ, dalam perhelatan <em>Arts Summit Indonesia</em>), <em>Hari Ini</em> (2007, Goethe-Institut, dalam rangka Program E<em>mpowering Women Artist </em>oleh Kelola), <em>In (Side) Sarong, In (Sight) Sarong</em> (2007, Nasional Museum Singapore, dalam perhelatan <em>Five Pieces New Dance in Indonesia</em>), <em>Cinta Kita</em> (2008, IKJ, program <em>Empowering Women Artists</em>), <em>Dua Kutub</em> (2008, Teater Salihara, dalam rangka Festival Salihara).</p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga mengikuti beberapa program tari seperti <em>Asia Pacific Performance Exchange Program</em> (APPEX Program) di UCLA (1996), <em>Grand</em> <em>Asia Culture Council </em>(ACC)  ke New York, untuk program <em>Visiting Artist</em> (2000), <em>Bates Dance Festival</em> (karya <em>The Way of The Women</em>, 2001), <em>Asia Pacific Europe Foundations</em> (ASEF) “Pointe to Point” Beijing China  (2007).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam karya <em>IN/OUT</em> ini, saya, besama Yudi Ahmad Tajudin (Direktur Artistik Teater Garasi), kebetulan ikut berproses bersama sebagai dramaturg. Berikut ini, adalah catatan yang sempat saya bikin seputar proses kreatif <em>IN/OUT</em> itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p><strong>CATATAN (DI DALAM/DI LUAR) PROSES<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Oleh</em> Agus Noor</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kami mulai mendiskusikan gagasan pertunjukan ini sekitar bulan April 2009. Saat itu, Hartati tengah terlibat dalam satu produksi pertunjukan teater, tidak sebagai pekerja artistik, tetapi menangani produksi di bagian <em>ticketing</em>. Pengalaman itu, rupanya sangat membekas, mendedahkan kegelisahan  dan menginspirasikannya untuk membuat petunjukan dengan titik jelajah seputar <em>ticket box</em>. Pada saat yang sama, saat itu Hartati memang tengah mencari ide untuk pertunjukan tarinya, terkait dengan program <em>Empowering Women Artists</em> dari Kelola-Hivos. Eksplorasi gagasan seputar <em>ticket box</em> itu akhirnya membawa pada penjelajahan seputar “<em>ticket</em>” dan “<em>box</em>”. Kamu menemukan kontras, kemungkinan dramatik dan konflik dari dua hal itu, yang kami rasa bisa menjadi bahan untuk struktur pertunjukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sana ada unsur gerak yang ingin membebaskan diri, ada sesuatu yang ingin menjauh, yang muncul dari ide tentang tiket. Seperti ungkapan “tiket kebebasan” atau “tiket kehidupan”, maka tiket membawa kami pada ide tentang kehendak yang terus-menerus untuk bergerak dan berubah. “Ini menginspirasi saya pada gerakan-gerakan yang lepas, meregang, gerakan yang menjangkau titik terjauh,” kata Hartati. Sementara “<em>box</em>”, mengimajikan sesuatu yang tetap, terkurung, dan diam. Sesuatu yang bagai ada yang terus menerus terperam di dalamnya. Seperti kotak yang mengurung kita. Yang di dalam dan di luar <em>box</em> itu bisa saling memandang, berinteraksi, tetapi ada sesuatu yang membatasi. Ide tentang kotak itulah yang membuat Hartati merasa menemukan kontras dari “gerakan yang lepas bebas” itu, yakni gerakan yang tertahan, gerak yang ingin keluar, terbatasi, terhentak dan terantuk batas.</p>
<p style="text-align:justify;">Gagasan tentang kotak juga mulai membawa kami pada “kemungkinan bentuk pertunjukan” yang bertolak dari dan mengolah imaji kotak. Di dalam kotak-kotak itu kami membayangkan tubuh, gerak dan manusia. Tubuh yang terjebak dalam kotak. Tubuh yang bergerak, menabrak batas kotak, tertahan, melawan, menyesuaikan. Gerak yang tak terbebaskan, gerak yang tertunda, gerak di dalam kotak. Kotak-kotak yang membentuk seseorang. Kotak, dari mana pada suatu saat kita ingin meloncat keluar dari dalamnya – yang barangkali justru kian memunculkan kompleksitas – bahwa berada di luar ternyata adalah juga berada di dalam kotak yang lain. Situasi seperti itu terasa makin relevan dengan kekinian kita, ketika kerap terlihat/terdengar ada seseorang atau sekelompok orang membangun suatu ‘kotak’ yang keras dan memaksa orang-orang untuk masuk dan bertindak sesuai batas-batas yang digariskan oleh “kotak” itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai koreografer, Hartati banyak mengangkat isu dan tema seputar “ketertindasan perempuan”. Beberapa karya sebelumnya, seperti <em>Sayap yang Patah</em>, <em>Dua Kutub</em>, <em>Cinta Kita</em>, memperlihatkan pergulatan Hartati atas isu seputar dunia perempuan itu. Tema “tiket” dan “kotak” yang kami diskusikan, menurut saya, membuka peluang bagi Hartati untuk memperluas tema garapannnya, sekaligus tak meninggalkan tema seputar perempuan itu. Tema “kehendak untuk menemukan kebebasan”, sebagaimana melekat dalam imaji tiket, rasanya adalah tema yang tak hanya menyangkut persoalan perempuan. Ia adalah tema kemanusiaan yang lebih luas. Begitu juga “kotak” sebagai sebuah “keterpenjaraan”, adalah persoalan manusia sampai hari ini. Selalu ada kotak-kotak yang membatasi manusia. Kotak itu seperti takdir yang terus melekat. Barangkali kotak itu kutukan. Seperti batu yang mesti dipanggul Sisiphus. Dan Sisiphus itu sampai kini masih terkurung berada dalam sebuah kotak yang mesti dipanggulnya. Kotak yang di panggul itu ternyata tak berada di luar Sisiphus sebagai manusia. Kotak itu ada di dalam diri Sisiphus dan terus dibawanya ke mana-mana. Kotak yang (hendak) ia pecahkan ketika muncul kesadaran akan tiket pembebasan dirinya. Bila konteks itu kembali dilekatkan dengan “persoalan perempuan”, maka itu pun masih relevan dan memiliki keterkaitan benang merah dengan kecenderungan karya-karya Hartati sebelumnya. Pada awal-awal ini, kami membayangkan pertunjukan ini sebagai <em>Ticket(&amp;)Box</em> atau <em>TICKET BOX</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ini pun bisa dicatat sebagai pergulatan Hartati sendiri sebagai kreator: ia ingin keluar, tetapi juga tak ingin terlepas dari tradisi kreatif yang sudah dibangunnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangan alur tentang pergulatan pembebasan diri dan keterkungkungan itulah yang kemudian mulai banyak dieksplorasi dalam latihan. Bagi Yudi Tajudin, kotak-kotak itu tak cukup hanya dipikirkan. Kotak itu harus menjadi bagian integral pengalaman dalam latihan. Maka para penari tak hanya mengeksploarsi gerak, sebagaimana pada awal-awal dikembangkan Hartati, tetapi langsung bersentuhan dengan kotak. Yudi di sini mulai menekankan pada pengalaman merasakan gerak, bukan semata-mata menemukan gerak. Alur dan struktur pertunjukan mestilah tercipta dari kemungkinan-kemungkinan pergulatan dengan kotak itu. Mula-mula dipilih kotak dari kardus (bekas kardus kulkas ukuran setinggi tubuh penari) untuk dihayati oleh para penari. Pengalaman ini cukup mengagetkan para penari, karena tubuh kemudian tidak hanya mereaksi kotak, tetapi juga mulai berkomunikasi dengan kotak, dan bahkan tubuh itu ditantang memunculkan ekspresi kotak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini proses yang baru bagi saya, “ tutur Andara Moeis, salah satu penari yang terlibat dalam proses ini. “Kotak itu tiba-tiba menjadi bagian dari tubuh penari.” Andara merasa, betapa kotak itu mempengaruhi materi gerak yang sudah ada sebelumnya, dan merubah penghayaatan dan emosinya ketika kemudian melakukan gerakan di luar kotak. Dalam bahasa Andara, “sensasi gerak dalam kotak itu” akhirnya harus mampu “saya ekspresikan dan visualisasikan di luar kotak”. Atau dalam bahasa Nur Hasanah, “Proses menjadi lebih seru ketika berusaha merasakan ruang gerak di luar kotak tetapi tetap merasa dalam kotak.” Kotak itu kemudian terasa “melekat pada tubuh saya sebagai penari”, dan seperti ditegaskan Andara, ia berupaya menginterpretasikan arti <em>box </em>itu melalui tubuh. “Tubuh dilatih untuk berekspresi,” ujar Andara. Para penari, seperti yang ditekankan dalam proses ini oleh Yudi, memang langsung menceburkan diri pada pengalaman menemukan gerak dan ekspresi itu. Proses seperti itu dikatakan Siti Ajeng Soelaeman sebagai proses “adaptasi tubuh” dengan hal-hal di luar tubuh, dalam hal ini kotak yang berbeda-beda, atau mengeksplorasinya menjadi “sesuatu yang hidup dalam diri kita”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari proses itulah, struktur pertunjukan kemudian mulai dikembangkan. Eksplorasi pada <em>box</em>, pada kotak, membuat adanya pergeseran tekanan ide. Gerak-gerak yang muncul kemudian makin terasa sebagai sebuah upaya untuk keluar dari “sebuah ruang” yang merupakan representasi pertunjukan itu sendiri. Terasa, ada substansi yang kemudian kami sadari dari proses itu, yakni “problem” di luar dan di dalam kotak itu. Di dalam (atau masuk) dan di luar (atau keluar) adalah proses simultan yang muncul dari proses latihan; sebagaimana keluar masuk kotak, berarti merupakan proses berada di luar kotak dan di dalam kotak. Ada ulang-alik yang terus terjadi, dari di “dalam” ke “luar” dan begitu pula sebaliknya. Inilah, yang belakangan cukup menyibukan kami untuk memikirkan ulang judul pertunjukan, sebelum akhirnya kami menyepakati ide dari Yudi, yakni <em>IN/OUT.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali, semua itu memperlihatkan bagaimana sebuah ide berkembang, dan kami menikmatinya karena kami memang tidak ingin terus berkutat pada satu titik. Sejak awal kami menyadari, gagasan awal Tati menjadi titik berangkat bagi kami untuk mengeksplorasinya, di mana para penari ikut mengalami progres pergeseran ide itu melalui pengalaman mereka dalam latihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tati mengembangkan pengalaman penari itu ke dalam serangkaian tindak koreografis, dan Yudi mencoba secara terus-menerus “menggodanya” dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan seputar “nalar cerita dan koherensi gagasan” yang muncul dalam gerakan, komposisi dan bermacam bentuk pola pemanggungannnya. Upaya ini dilakukan Yudi, agar mereka mulai memikirkan dan mempertimbangkan juga cara mereka berkomunikasi dengan penonton. Inilah yang oleh Tati kemudian dinyatakannya sebagai “mata lain” bagi dirinya untuk melihat apa yang telah dihasilkan selama proses latihan. Posisi Yudi sebagai <em>dramaturg</em>, dinyatakan oleh Tati tidak hanya membantunya dalam membentuk struktur karya, tapi juga menbuatnya terbantu untuk menemukan kemungkinan “bahasa lain” dalam menyampaikan gagasannnya. “Yudi membantu saya ketika saya ingin menemukan ‘bahasa lain’ itu, dan Agus Noor membuka kemungkinan-kemungkinan yang bisa saya kembangkan dalam mengolah gagasan. Ini banyak membantu saya sebagai koreografer, ketika saya mentok dalam proses. Saya jadi seperti memiliki mata lain untuk melihat proses saya sendiri, juga ketika membuat karya ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kehadiran “kotak” itu menjadi begitu kuat, maka imaji kotak itu kemudian seperti menjadi bagian penting dari bahasa visual. Gerak dan pengalaman dalam kotak, seperti tak bisa dilepaskan dari kotak itu sendiri. Cukup alot juga menjawab pertanyaan: apakah kotak itu akan dihadirkan secara fisik atau ia adalah semata-mata imaji yang bisa dihadirkan melalui gerak dan komposisi? Bersama Clink Sugiarto, yang menata cahaya dan artistik, diskusi itu mulai dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai implikasi teknis dan estetis. Teknis menyangkut bentuk dan bahan dari apa kalau memang “kotak” itu hadir di panggung. Estetis, karena ia kemudian akan menjadi bahasa visual, yang mungkin akan begitu dominan dalam pertunjukan. Penari menjadi tak hanya menaklukkan ruang pertunjukan tetapi juga mesti berebut perhatian dengan kotak itu sendiri. Aspek-aspek visual menjadi begitu kuat dengan kehadiran kotak itu, yang boleh jadi, akan merepotkan dan menenggelamkan penari. Sebuah kecemasan, yang rasanya, terus-menerus menghantui selama proses latihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kemudian sepakat kotak itu menjadi ikon <em>image</em> koreogafi, merancang kotak itu juga menjadi tantangan tersendiri. “Sampai tahap ini, secara artistik, saya membayangkan sebuah kotak yang mempunyai ragam kemungkinan dan fleksibilitas,” begitu yang diinginkan Clink Sugiarto, yang kemudian mendiskusikan rancangan itu bersama Tati dan <em>dramaturg</em>. Sampai tahap ini, sejalan dengan proses latihan, pencarian bentuk visual kotak yang fungsional dan artistik, mengalama tiga perubahan. Baik menyangkut material bahan pembuatan, sampai bentuk. Sampai kemudian dipilih kotak yang lebih kokoh, lebih berat dan lebih menjawab kebutuhan koreografi. Di sana, kekokohan itu membuatnya seperti imaji yang begitu kuat, membayangkan sebuah beban yang terus membayangi selama pertunjukan, atau seperti yang dikatakan Nur Hasanah “mempengaruhi ekspresi penari begitu kuat”, dan menjadi pergulatan yang harus diatasi oleh para penari, tetapi ia juga mesti memberikan kemungkinan-kemungkinan imajinatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang pertunjukan juga menjadi kemungkinan lain dari imaji kotak yang dibayangkan oleh Clink, juga kemungkinan pencahayaan. Ruang “box theatre” Salihara menjadi kemungkinan lain yang bisa dieksplorasi melalui elemen lantai (kotak) sebagai ruang dasarnya. Dua kali, kami sempat berlatih secara langsung di tempat pertunjukan (Teater Salihara) ini, sebagai upaya kami mengenali “ruang kotak” yang <em>inheren</em> dalam ruang pementasan <em>IN/OUT</em> ini. Karena kotak itu menegaskan tempat juga, selain batas-batas ruang yang imajinatif maupun konkrit. “Saya menginginkan pencahayaan bisa menghadirkan tempat dan batas itu,” kata Clink, “suatu orkestrasi garis dan ruang dengan penegasan imaji kotak, berkotak-kotak dan terkotak kotak”.</p>
<p style="text-align:justify;">Catatan ini, sudah barang tentu, tak sepenuhnya berhasil mengungkapkan pergulatan yang kami alami seluruhnya. Tapi itu mungkin bisa memberi bayangan bagaimana proses pertemuan dan interaksi gagasan itu berlangsung. Sebagaimana halnya ketika kami menginginkan musik yang digarap oleh Arief Susanto juga bisa menghadirkan kedalaman ruang sekaligus keluasan ruang. Oscar Lawalata, memberikan aksentuasi pada ruang-ruang itu melalui rancangan busana yang dikerjakannnya. Dengan pergantian busana, kami membayangkan ada ruang-ruang yang berbeda, yang pergantiannya bisa menjadi kejutan tersendiri. Sudah barang tentu, semua itu tak berlangsung dengan mulus. Sebagaimana biasa terjadi dalam banyak kolaborasi, tentu saja banyak hal yang menjengkelkan, pertengkaran dan ketidakenakan hati, perbantahan yang menguras energi tersendiri. Bagaimana produksi “menfasilitasi” ketegangan-ketegangan itu dan kemudian mencairkannya, menjadi pengalaman berharga dalam proses ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya, semua itu, seperti dinyatakan Yudi, membuat setiap pekerja seni mesti menyadari bahwa ia harus menyadari kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan dari proses seperti ini. Atau seperti dalam pengalaman Tati, sebagai koreografer ia jadi makin menyadari bahwa “seorang yang menggeluti seni pertunjukan memang harus selalu terbuka dan tidak perlu khawatir dengan cara atau gaya ungkap selain yang pernah dilakukan sebelumnya”. Itu barangkali juga makin menyadarkan kami, bahwa proses ini membawa kami untuk bisa keluar dari kotak konsepsi kami tentang apa itu seni pertunjukan, apa itu tari dan teater, hingga kami tidak terus menerus merasa nyaman di dalamnya, sementara kenyataan di luar seni yang kami geluti – atau kenyataan-kenyataan di luar panggung pertunjukan, yang kerap dirujuk dan dituju oleh karya pertunjukan – seperti dinyatakan Yudi, semakin kompleks dan bergerak dalam percepatan yang mungkin tak terbayangkan dalam dekade-dekade sebelumnya. Seni pertunjukan, yang hendak bertolak dari dan menuju kenyataan-kenyataan itu, sepertinya mesti berendah hati dan mau lebih membuka diri serta menimbang suara dan pandangan dari luar disiplin dan tradisinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hartati dilahirkan di Jakarta, tapi kemudian dibesarkan dalam tradisi Minangkabau. Ia menempuh pendidikan tari di Sekolah Menengah Kesenian (SMKI) Padang, dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia makin menekuni dunia tari dengan banyak koreografer, seperti  Gusmiati Suid, Deddy Luthan, Tom Ibnur, Sardono W Koesumo, Wiwiek Sipala, Sentot S, Retno Maruti, Farida Utoyo, Yulianti Parani, Boi G Sakti, Sukarji Sriman dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada produksi <em>In/Out </em>karya Hartati melibatkan Siti Ajeng Soelaeman, Andara &#8216;Anggie&#8217; Firman Moeis, dan Nur Hasanah sebagai penari; Yudi Ahmad Tajudin dan Agus Noor, dramaturg; Oscar Lawalata, desainer kostum; Skipy Aip, komponis; Ignatius &#8216;Clink&#8217; Sugiarto, direktur artistik; Eva Tobing, fotografer; serta Zulita Nur sebagai produser.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=441&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/10/06/pementasan-inout-catatan-di-dalamdi-luar-proses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/10/hartati-publikasi.jpg?w=249" medium="image">
			<media:title type="html">Hartati Publikasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- MATINYA TOEKANG KRITIK DI ESPLANADE, SINGAPURA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/matinya-toekang-kritik-di-esplanade-singapura/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/matinya-toekang-kritik-di-esplanade-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 15:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Monolog]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Butet Kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Death of a Critic]]></category>
		<category><![CDATA[Esplanade]]></category>
		<category><![CDATA[Esplanade Theatre Studio]]></category>
		<category><![CDATA[Matinya Toekang Kritik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[


Matinya Toekang Kritik (Death of a Critic), monolog karya Agus Noor, akan dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa di Esplanade Theatre Studio, Singapura, pada tanggal 12 Oktober 2009, mulai pukul 8 malam.  Lakon satir politik perihal sosok tukang kritik ini akan dipentaskan dengan disertai subtitle bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Landung Simatupang dan Jennifer Lindsay. Lakon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=432&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-437" title="death_edm" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/death_edm.jpg?w=261&#038;h=467" alt="death_edm" width="261" height="467" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Matinya Toekang Kritik <em>(Death of a Critic),</em> monolog karya Agus Noor, akan dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa di <a href="http://www.pestaraya.com/2009/eng/tukangCritic.html" target="_self">Esplanade Theatre Studio</a>, Singapura, pada tanggal 12 Oktober 2009, mulai pukul 8 malam.  Lakon satir politik perihal sosok tukang kritik ini akan dipentaskan dengan disertai <em>subtitle</em> bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Landung Simatupang dan Jennifer Lindsay. Lakon ini memadukan kepiawaian seni peran Butet Kartaredjasa, kekritisan teks dan permainan multimedia, yang membuatnya menarik dari aspek <em>content </em>pertunjukan sekaligus effect visual. Kedua hal itulah, nampaknya yang membuat lakon monolog itu kemudian cukup relevan untuk merefleksikan realitas Indonesia pada satu sisi, dan memperlihatkan pencapaian artistik pertumbuhan teater pada sisi lain.<span id="more-432"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada sisi pertama, pertunjukan Matinya Toekang Kritik ini menarik sebagai studi tentang Indonesia, terutama bagi mereka yang ingin memperoleh gambaran bagaimana persoalan sosial politik yang terjadi di Indonesia direfleksikan secara estetis dalam pertunjukan. Pada sisi yang kedua, ia bisa memberikan persfektif bagaimana teater modern Indonesia mengolah tema sosial politik dalam pertunjukannnya.  Sebagaimana dalam setiap pertunjukan Butet, akan selalu ada hal aktual yang diolah. Maka, pada pertunjukan di Esplanade ini pun Butet secara kritis dan jenaka mengangkat isu-isu aktual, misalnya soal hubungan Indonesia Malaysia. Bahkan situasi sosial di Singapura pun disentilnya juga. “Teater saya adalah teater yang tumbuh bersama persoalan-perssoalan sosial di sekelilingnya. Teater saya bukanlah bentuk yang selesai, tetapi ia adalah sebuah proses yang terus menjadi dan bertumbuh. Selalu ada yang aktual yang terjadi di atas panggung,” kata Butet.</p>
<p style="text-align:justify;">Lakon monolog berdurasi sekitar 1,5 jam ini sebelumnya juga pernah dipanggungkan di <a href="http://www.australianstage.com.au/reviews/brisbane/matinya-toekang-kritik-death-of-a-critic-594.html" target="_self">Visy Theatre, Brisbane Powerhouse,</a> Australia, pada 9 Agustus 2007. Di Indonesia sendiri, lakon ini dipentaskan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Solo, Purwokerto dan Surabaya. Bila pada tanggal 12 Oktober 2009 itu Anda kebetulan lagi di Singapura, tak ada salahnya Anda menyempatkan menonton pertunjukan ini. Bila di Indonesia Anda belum sempat menjadi orang “berbudaya”, tak ada salahnya kalau di Singapura Anda justru sesekali menjadi orang berbudaya dengan menonton teater. Tentu akan terasa keren kan, pergi ke Singapura jadi orang berbudaya, bukan cuman jadi orang yang sibuk berbelanja.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=432&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/matinya-toekang-kritik-di-esplanade-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/death_edm.jpg?w=168" medium="image">
			<media:title type="html">death_edm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- INTERNET SEHAT BLOG AWARD</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/internet-sehat-blog-award/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/internet-sehat-blog-award/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 03:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Sehat Blog Award 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[
Saat jalan-jalan di dunia maya, saya ketemu sesuatu yang cukup menyenangkan. Ternyata, blog saya ini, terpilih dan dianggap layak mendapatkan penghargaan Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 untuk kategori Inspiring Blog, pada Minggu ketiga Agustus 2009. Ini tentu membuat saya merasa dihargai. Semoga saya makin care dengan blog ini.
Dari detiknet.com saya menemukan penjelasan singkat seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=423&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-full wp-image-424 alignleft" title="Blog Award" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/blog-award.jpg?w=285&#038;h=178" alt="Blog Award" width="285" height="178" /></p>
<p style="text-align:left;">Saat jalan-jalan di dunia maya, saya ketemu sesuatu yang cukup menyenangkan. Ternyata, blog saya ini, terpilih dan dianggap layak mendapatkan penghargaan <a title="Internet Sehat Blog Award" href="http://sutewel.net/pemenang-blog-award-minggu-ketiga-agustus-2009" target="_self">Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 </a>untuk kategori <em>Inspiring Blog</em>, pada Minggu ketiga Agustus 2009. Ini tentu membuat saya merasa dihargai. Semoga saya makin <em>care</em> dengan blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari <a title="Internet Sehat Blog Award" href="http://www.detikinet.com/read/2009/08/19/120832/1185545/404/pemenang-blog-award-minggu-ketiga-agustus-2009" target="_self">detiknet.com</a> saya menemukan penjelasan singkat seperti ini: Internet Sehat Blog Award (ISBA) 2009 adalah sebentuk program apresiasi penghargaan kepada pengelola atau penulis blog (blogger) Indonesia yang dengan segenap daya kreatifitasnya telah menuangkan ide, gagasan dan pikiran positifnya dalam bentuk tulisan di blog masing-masing. ISBA 2009 diinisiasi oleh ICT for Partnership (www.ictwatch.com), didukung oleh XL Care (www.xl.co.id), OpenNet Initiative (www.opennet.net) dan media online detikINET (www.detikinet.com).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/423/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/423/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/423/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=423&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/29/internet-sehat-blog-award/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/blog-award.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Blog Award</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- Sebutir Nasi untuk Pencuri</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[
INI hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta weton-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=419&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-420" title="Sebutir Nasi untuk Pencuri" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/sebutir-nasi-untuk-pencuri.jpg?w=300&#038;h=230" alt="Sebutir Nasi untuk Pencuri" width="300" height="230" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INI</strong> hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta <em>weton</em>-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan hari baik seperti itu, ia menjadi berhati-hati ketika memutuskan kapan ia mesti mencuri. Hingga bertahun-tahun menjadi pencuri, syukur alhamdulillah, semuanya lancar-lancar dan baik-baik saja saja.<span id="more-419"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya, sambil mengeluarkan dari sakunya, kalung tali hitam berbandul tulang kelingking bayi. Inilah jimat yang diperolehnya lewat <em>laku </em>membongkar kuburan bayi<em> </em>dan menggigit hingga putus kelingking mayat bayi itu dengan giginya<em>, </em>berpuluh tahun lalu, saat ia masih muda dan memulai kariernya sebagai pencuri. Ia pakai kalung itu, melingkari leher, kemudian merapal mantra agar kegelapan menyembunyikan tubuh dan bayangannya, agar udara menyimpan semua gerak dan langkahnya. Sesaat setelah selesai merapal mantra, ia mulai merasakan seluruh inderanya menjadi begitu peka. Kulitnya bisa merasakan gesekan dingin yang tipis dan pelan. Dari sudut jalan di mana ia sembunyi di sebalik tembok, ia bisa mendenar dengkur halus dari dalam rumah yang hendak dimasukinya itu. Membuatnya tahu, ada dua orang di dalam rumah itu. Bahkan ia bisa menduga dengan yakin di kamar sebelah mana dua orang itu tidur. Ia pun segera menghitung kemungkinan: pintu atau jendela mana yang mesti ia congkel, agar leluasa masuk dan tak membuat terbangun dua orang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kenapa mendadak ia merasa ragu begini? Ia yakin telah menghitung dengan benar, ini hari baik baginya untuk mencuri. Jimat keberuntungan pun sudah ia kenakan. Namun kenapa ia masih saja tak bisa menentramnkan debar dalam hatinya yang berdenyut perlahan. Begitu pelan, tetapi bisa ia rasakan. Tak pernah ia merasakan keraguan seperti ini. Pengalamannya sebagai pencuri mengajarkan: saat-saat hendak memulai aksi memang situasi paling mendebarkan bagi seorang pencuri. Pada saat itulah, seorang pencuri yang baik akan dengan tepat memutuskan, apakah melanjutkan aksi atau segera menyelinap pergi. Keputusan yang tepat akan menentukan berhasil tidaknya seorang pencuri. Menentukan hidup mati seorang pencuri! Keraguan, sekecil apa pun, bisa menyebabkan keteledoran yang akan membuatnya ketahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka ia pun menahan langkahnya. Mencoba menenangkan diri. Mencoba mencari tahu, apa yang membuatnya menjadi agak gugup begini.  Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya itu. Rumah sederhana yang sedikit tersembunyi di pinggir perkampungan. Ia sudah mengamati sejak tiga hari lalu. Ada jendela di sisi kiri, yang terlindung pohon rambutan di sampingnya. Dari jendela itulah ia akan masuk. Ia bahkan sudah menghitung, lewat pintu mana ia akan menyelinap pergi.  Karena pencuri yang baik tak hanya memikirkan bagaimana caranya masuk, tetapi juga mesti memperhitungkan bagaimana agar bisa keluar dengan selamat. Jalan mana yang aman buat menyelinap. Di mana ia bisa sembunyi, meninggalkan barang curian, dan mengambilnya kembali nanti setelah situasi benar-benar aman. Ia sudah memikirkan semua itu – ditambah perhitungan hari baik buat mencuri dan jimat keberuntungan – tapi kenapa masih saja begini gelisah?</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak mula, sesungguhnya ia ragu ketika memilih rumah yang akan ia masuki ini. Tapi di antara rumah-rumah lainnya, rumah inilah yang menurutnya paling memungkinkan. Agak jauh dari rumah lainnya, dan ada jalan kecil yang langsung menghubungkan rumah itu dengan sungai di bagian belakang – kira-kira tujuh puluh lima meter jaraknya – yang bisa ia gunakan untuk situasi darurat bila kepergok. Letak rumah yang menguntungkan bagi pencuri seperti dirinya. Tapi justru rumah itulah yang membuatnya ragu. Sebagai pencuri, sudah ratusan rumah ia masuki, tetapi baru kali inilah ia merasa kalau dirinya benar-benar hendak mencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memang pencuri. Tapi tak pernah merasa mencuri. Karena selama ini ia hanya memilih memasuki rumah mewah milik orang-orang kaya. Itu memang prinsipnya, yang membuatnya bisa membenarkan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah.  Sebab bila ia mengambil uang atau perhiasan orang-orang kaya, itu sekadar mengambil kembali hak dan rejekinya yang telah dicuri atau dikorupsi oleh mereka. Siapa sih orang kaya yang tidak mencuri dan tidak korupsi hari ini?! Tak apa-apa kan mengambil kembali apa yang telah mereka curi? Lagi pula ia hanya meminta –  dengan diam-diam tentu saja –  sedikit saja kemewahan mereka yang melimpah. Toh mereka tak akan jatuh miskin. Anggap saja apa yang ia curi itu sebagai sedikit sedekah yang mesti disumbangkan orang-orang kaya itu buat kaum miskin seperti dirinya. Itulah sebabnya, ia tak pernah merasa mencuri ketika ia mengambil barang atau uang atau perhiasan di rumah mewah orang-orang kaya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu ia merasa leluasa menyantroni rumah-rumah mewah, mengambil barang secukupnya, kemudian melenggang dengan tenang. Kadang ia malah suka berlama-lama di dalam rumah yang dimasukinya itu. Sementara penghuni rumah ia lelapkan dengan mantra, ia bisa dengan santai mencicipi kue yang ada di kulkas, duduk-duduk menikmati sisa hidangan malam di meja makan, sembari memandangi perabot-perabot mewah yang tak mungkin ia gondol. Guci-guci keramik, televisi plasma, lukisan, jam besar setinggi lemari. Semua barang mewah yang merepotkan bila ia curi. Ia lebih suka mengambil uang atau perhiasan. Lebih praktis dibawa kabur. Bertahun-tahun menjadi pencuri ia tahu, bahwa uang dan perhiasan adalah barang yang gampang didapatkan. Entah kenapa orang-orang kaya itu suka sekali menyimpan perhiasan dan uang tunai. Barangkali mereka beranggapan, perhiasan lebih mudah disembunyikan. Dan uang lebih aman disimpan tunai dalam rumah ketimbang didepositokan di bank – yang kini tak lagi aman karena gampang dilacak bila uang itu uang hasil korupsian.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja sekarang ini situasi makin sulit. Rumah-rumah mewah – apalagi yang ada di komplek perumahan elite – tak lagi gampang ia masuki. Selain berpagar tinggi, sekarang ini banyak yang dijaga <em>security</em>. Belum lagi kamera-kamera sembunyi, anjing penjaga,  juga alarm yang tak mampu ia atasi dengan jimat keberuntungan yang ia miliki. Tiga bulan lalu ia hampir saja mati konyol. Ia yakin sudah menyirep penghuni rumah, kemudian dengan tenang meloncat pagar. Tapi mendadak alarm meraung-raung membuatnya gugup dan buru-buru kabur. Anjing-anjing yang menjaga rumah-rumah mewah itu pun tak lagi bisa ditidurkan dengan mantra. Barangkali karena anjing-anjing itu bukan anjing kampung yang hanya bisa menggonggong setiap kali mengendus pencuri. Seorang kawannya mati mengenaskan dengan usus terburai dicabik-cabik empat anjing penjaga, sementara pemilik rumah hanya diam menyaksikan. Mungkin pemilik rumah itu menganggap, begitulah cara paling baik buat menghabisi pencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia selalu merasa demam setiap kali teringat peristiwa itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah-rumah mewah bukan lagi sasaran menyenangkan bagi pencuri seperti dirinya. Jimat dan mantra yang ia miliki seperti tak ada gunanya lagi. Barangkali zaman memang telah benar-benar berubah. Pencuri seperti dirinya menjadi ketinggalan zaman. Ketika rumah-rumah mewah dan apartemen banyak berdiri di pusat kota, ia malah makin terpinggirkan. Nasibnya kini seperti rumah-rumah kumuh di pinggiran kota. Dan mau tak mau, pencuri seperti dirinya hanya bisa berkeliaran menyantroni rumah-rumah kecil di pinggiran kota itu. Karena itulah, beberapa rekannya kini berhenti jadi pencuri. Mereka memilih jadi garong. Tapi ia mencoba bertahan jadi pencuri. Karena menurutnya lebih menyenangkan jadi pencuri. Menggarong hanya butuh keberanian, begitulah alasan yang ia katakan pada teman-temannya ketika ia menolak diajak merampok, sementara mencuri membutuhkan keahlian. “Makin kamu asah keahlianmu, makin hebat kamu sebagai pencuri. Makin hebat kamu sebagai pencuri, makin canggih kamu mengambil sesuatu tanpa diketahui. Itulah sebabnya, bagi saya, mencuri itu memiliki seni tersendiri. Seni mengambil tanpa diketahui. Orang bijak mengatakan, bila kamu ingin mengalahkan orang lain, kalahkanlah tanpa membuatnya merasa kalah. Begitu juga dalam hal mencuri. Curilah tanpa orang itu menyadari kalau ia telah kamu curi. Itulah seni mencuri. Bila kamu sudah sampai tingkat ini, berarti kamu sudah menjadi pencuri sejati! Ha ha ha…” Saat itu, ia tertawa sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi itu memang yang ia yakini. Membuatnya tetap memilih jalannya sendiri sebagai pencuri. Meski kini ia makin merasa sulit mencuri di rumah-rumah orang kaya. Sudah tiga kali ia mencoba, tetapi selalu gagal. Sebenarnya bisa saja karena ia sudah makin tua. Hanya ia tak mau mengakuinya. Mungkin sudah saatnya ia pensiun. Ah, tapi sekali saja kau merasakan nikmatnya mencuri, pasti kau akan ketagihan. Seperti kecanduan. Begitulah yang selalu ia rasakan. Ia selalu ingin menikmati saat-saat mendebarkan ketika ia mencongkel jendela atau pintu, merayap di atap, memasuki rumah tanpa membangunkan seorang pun penghuni yang mungkin sedang mimpi indah, mengendap dalam gelap mengambil barang-barang secukupnya, kemudian menyelinap pergi. Bertahun-tahun ia jalani hidupnya sebagai pencuri, ia makin menikmati ketegangan dan kecemasan yang menyenangkan pada saat beraksi seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, ia pun mencoba menentramkan diri. Mengamati rumah itu sekali lagi. Rumah sederhana pertama yang ia masuki. Rumah yang tak sepantasnya ia santroni. Tapi mau apalagi. Hanya rumah seperti inilah yang kini bisa ia masuki. Meski merasa terpaksa, ia pikir rumah-rumah kecil dan sederhana seperti inilah yang kini bisa memberi rejeki bagi pencuri seperti dirinya. Saat ia berhasil mencongkel jendela rumah itu, saat itulah ia merasa telah benar-benar menjadi pencuri. Pencuri yang memang hendak mencuri, bukan hendak mengambil kembali rejekinya yang telah dicuri sebagaimana yang selama ini menjadi alasannya setiap kali mencuri. Dan itu membuatnya sedikit gugup saat mengendap memasuki rumah itu. Ia melintasi pintu kamar tidur yang sedikit terbuka. Ia melihat suami istri yang tertidur nyaman. Meski terlihat keruh oleh usia tua, wajah keduanya terasa memancarkan ketentraman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memutuskan untuk tak langsung masuk ke dalam kamar itu. Ia akan menggeledah kamar sebelahnya lebih dulu. Matanya terbiasa dalam gelap. Pendengarannya bisa mengarahkan kemana ia mesti melangkah tanpa menimbulkan suara atau menyenggol benda-benda. Dengan tetap berusaha tenang ia terus membongkar laci dan lemari, mencari apa saja yang berharga yang bisa ia curi. Setumpuk pakaian lama, tasbih yang tergantung di tembok, sajadah lapuk di atas kasur apek, sisa ikan asin di piring, puntung rokok klobot, kecoa yang mati tergencet di lipatan pintu lemari, koin mata uang lama yang dipakai buat kerokan. Ia terus menggeledah sementara perasaannya yang gelisah tak kunjung mampu ia kuasai, sampai-sampai telapak kakinya berkeringat dan membuatnya tak dapat menahan keseimbangan dengan baik. Ia terpeleset, dan begitu kaget ketika tungkainya menabrak kaki kursi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mendengar pemilik rumah terbangun. Ia mencoba membungkuk sembunyi di pojok, sambil membabar <em>aji palamuran</em>, agar pandangan orang menjadi kabur dan dirinya tak kelihatan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak…” Suara si istri membangunkan suaminya. “Ada pencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">Terdengar suara ranjang berderit ketika suami itu bangun. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka ia menyaksikan perempuan itu hendak berteriak, tetapi suaminya menyuruhnya diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sssstt…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pasti ada barang kita yang dicuri.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, memangnya kita punya barang yang pantas dicuri?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Bapak…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita tak punya apa-apa, kan? Karena itu tidak usah cemas, Bu. Bila pencuri itu menggeledah rumah ini dan tak menemukan satu pun barang yang pantas buat dicuri, pasti ia akan segera pergi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu kan namanya Bapak membiarkan dia mencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, mencuri kan kalau ada yang dicuri. Di rumah ini apa sih yang bisa dibawanya pergi? Apa ia akan mencuri gelas atau panci kita yang sudah peyot?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menggigit bibirnya, ia terus berusaha menahan nafas mendengarkan percakapan suami istri itu. Saat tadi menggeledah rumah ini, ia memang tak menemukan satu pun barang berharga yang pastas dicurinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin anaknya lagi sakit. Mungkin ia benar-benar perlu uang buat makan…” Suami itu bercakap pelan. “Saya malah sedih, Bu, karena kita tak punya apa-apa buat membantunya. Andai saja di rumah ini ada sebutir nasi, biarlah sebutir nasi itu diambilnya. Mungkin sebutir nasi itu akan membuatnya bahagia karena bisa membawa pulang sesuatu buat keluarganya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak ini lho, pencuri kok malah dikasihani…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ia pasti benar-benar kepepet, Bu. Kalau tidak kepepet, kan ya tidak mungkin dia sampai nekat mencuri di rumah orang miskin seperti kita? Bagaimana kalau sampai ketahuan ronda? Sudah ndak dapat apa-apa, bisa mati digebugi dia… Kasihan kan, Bu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menyandarkan badan ia mendengarkan suami istri itu terus bercakap-cakap. Suara mereka menjelma ribuan silet yang mengapung dalam kegelapan, menyayatkan kepedihan dalam hatinya. Ia mendengar suara batuk-batuk pelan si suami yang kemudian dengan halus mengajak istrinya untuk kembali tidur. Kesunyian rumah itu seperti mencekik. Sudah ratusan rumah ia masuki. Sudah bergitu banyak uang dan barang ia curi, tapi tak pernah ia merasa sangat menyesal karena telah menjadi pencuri seperti saat ini. Ia bersijengkat melewati pintu yang sedikit terbuka, dan tak berani memasuki kamar di mana suami istri itu telah kembali tidur tentram.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia segera bergegas pergi, tak mengambil apa pun, karena di rumah yang baru saja dimasukinya itu ia memang tak menemukan sesuatu yang pantas dicuri. Rasanya baru kali ini, sebagai pencuri ia merasa menyesal telah menjadi pencuri, justru ketika ia tak mencuri.</p>
<p align="right"><strong>Jakarta, 2007</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=419&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/sebutir-nasi-untuk-pencuri.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sebutir Nasi untuk Pencuri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 19:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[


BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…
Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=412&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong><img class="size-full wp-image-413 aligncenter" title="gambar" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/gambar.jpg?w=222&#038;h=284" alt="gambar" width="222" height="284" /></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BETAPA</strong> menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya.<span id="more-412"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Segera ia mandi, keramas. Menyisir rambut dan memotong kuku, sembari bersiul-siul kecil. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih, rapi, dan wangi. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Setiap menjelang Ramadhan, ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat Ramadhan kemarin, ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi, ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Merapikan pakaian. Menyemprotkan pewangi ruangan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia berdiri di ambang pintu, memandang langit siang yang terang, sembari terus bersiul- siul ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BEBERAPA</strong> tetangga—yang tengah duduk menggerombol – memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu, dan segera saling bisik. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti, mengerut menatap laki-laki itu. Langsung, seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Berhari-hari. Kadang berbulan-bulan. Bila pulang, ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Sesekali, beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bergegas. Memakai jaket kulit hitam. Menenteng koper besar, seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Entahlah. Sebab, banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. Lihat saja tampang seramnya. Tato di lengan kanan. Parut luka seputar pundak, seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan, seperti mengawasi. Mungkin intel. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia seperti tak mau dikenali. Menutup diri. Misterius. Aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu, memandang entah apa. Rutin yang ganjil. Menjelang Ramadhan ia muncul. Beres-beres kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering, ia terlihat merokok siang hari. Tiap sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama, tapi pergi ke kuburan. Ini yang membuat kian penasaran. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki- laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita, betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput, menyapu, atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Dan orang-orang merinding mendengarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Para tetangga jadi gelisah. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu…</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>MAYAT-MAYAT</strong> yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka, mereka mendengis bengis. Mengepungnya. Kulit wajah mayat- mayat itu meleleh, seperti lilin panas mencair. Ia mengerang, mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Wajah- wajah yang membuatnya mengerang panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Mati dengan tenang, di bulan Ramadhan. Meski ia tahu, sebagai seorang pembunuh bayaran, ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mungkin, seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar, memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia pun suka menikmati saat- saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan…</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia selalu ingin berada sangat dekat, setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Umur tujuh tahun, diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi, membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kamu pantas jadi tentara, kata teman-temannya. Dan ia membusung bangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ia suka membayangkan diri jadi tentara. Di kampungnya, orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir, saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Orang- orang mengerubung, tak ada yang berani menghentikan. Alangkah hebatnya jadi tentara, bisa memukuli orang sepuasnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang, tertib, dan disiplin. Dan itu disukai komandannya.</p>
<p style="text-align:justify;">”Kamu punya bakat bagus. Percuma kalo cuma jadi tentara. Paling mentok jadi sersan,” kata komandannya. Lalu sepulang perang, ia diberinya pekerjaan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat, karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membunuh seorang pengusaha. Menghabisi seorang wartawan. Seorang hakim. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Benar kata komandannya. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sumpek bau comberan. Tapi membuatnya merasa aman. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia akan tinggal di rumahnya, nanti bila sudah berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita sakit jiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SAMPAI</strong> satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. Rahang terkesan pipih, membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Sorot matanya tenang. Bicaranya santun. Ia heran, kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Tugasnya hanya membunuh. Tanpa jejak. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan…</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Sepotong- sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia tersenyum. Mencibir. Getir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Semua sudah sesuai rencana. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan, lalu mendorong mobil ke jurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang, ”Aku tahu, kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Karena itulah, aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku, tak perlu repot-repot membunuh yang lain…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak tahu, kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya!</p>
<p style="text-align:justify;">”Mari kita turun,” ajak Kiai Karnawi. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Sayang kan, itu mobil mahal. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.”</p>
<p style="text-align:justify;">Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi tolong, yang pelan. Jangan sampai aku kesakitan ya, hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Gemetar tak yakin. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat, ia hanya berdiri gamang.</p>
<p style="text-align:justify;">”Sekarang, lakukan tugasmu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Kalau boleh memilih, aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…,” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia merasa senja meremang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. Kemeresek daun jati jatuh. Pelan. Lengking gagak di kejauhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya, dan kini memburu kematiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mulai diusik gelisah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia pun kemudian selalu berharap, diperkenankan mati di bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semoga saja, ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 2005</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen saya, Potongan <em>Cerita di Kartu Pos</em>, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS.  Saya baru saja mendapat pemberitahuan, kalau buku kumpulan tersebut mendapatkan Anugerah Sastra tahun 2009, dari Pusat Bahasa Jakarta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=412&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/gambar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/13/cerpen-indonesia-dan-orde-baru-upaya-mengatasi-wacana-penaklukan/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/13/cerpen-indonesia-dan-orde-baru-upaya-mengatasi-wacana-penaklukan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 21:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kritik cerpen Indonesia mutakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanya sekedar “catatan kecil” yang berusaha membaca hubungan latar sosial politik dalam satu periode pertumbuhan cerpen kita (cerpen Indonesia), terutama pada kurun waktu 1980-1990an. Pada periode itu, entah kenapa, saya seperti merasakan adanya korelasi yang kuat antara cerpen-cerpen yang ditulis para pengarang Indonesia, dengan situasi zaman yang menaunginya. Paling tidak, hal itulah yang terus-menerus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=407&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Ini hanya sekedar “catatan kecil” yang berusaha membaca hubungan latar sosial politik dalam satu periode pertumbuhan cerpen kita (cerpen Indonesia), terutama pada kurun waktu 1980-1990an. Pada periode itu, entah kenapa, saya seperti merasakan adanya korelasi yang kuat antara cerpen-cerpen yang ditulis para pengarang Indonesia, dengan situasi zaman yang menaunginya. Paling tidak, hal itulah yang terus-menerus terasakan oleh saya, sebagai salah seorang yang juga ikut menulis cerpen pada periode itu, yang membuat saya tak bisa mengelak untuk tidak mengkaitkan sastra dengan “kekuasaan” yang membayang sebagai <em>setting</em> historisnya. Semacam ada hubungan yang tak bisa diabaikan begitu saja antara sejarah cerpen dan sejarah sebuah rezim, pada kurun 1980-an itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="size-medium wp-image-408 alignright" title="Cerpen dan Orde Baru" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/cerpen-dan-orde-baru.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Cerpen dan Orde Baru" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-407"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mengkaitkan sastra dengan operasionalisasi wacana yang dikembangkan oleh sebuah rezim kekuasaan, dalam banyak hal tak terlalu disukai orang. Meski pengkaitan semacam itu telah lazim dilakukan oleh pengamat dan pekerja sastra kita, terutama ketika berusaha menformulasikan apa yang sering disebut sebagai “Angkatan Sastra”. Tetapi memang terbukti, pengkaitan semacam itu kerap memperlakukan sastra semata-mata sebagai landasan untuk menandai pergantian kekuasaan (politik). Resiko paling buruk dari kerja penandaan semacam itu, sastra tidak dilihat sebagai suatu entitas kompleks yang memiliki karakteristik dan unikumnya sendiri. Ia selalu dikaitkan dengan praktek-praktek wacana yang dikembangkan oleh rezim kekuasaan, baik sebagai prosedur perlawanan maupun ketakberdayaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menyadari resiko semacam itu, ketika berusaha menempatkan pertumbuhan cerpen Indonesia pada kurun 1980-1990an dalam kerangka politik yang dikembangkan oleh Orde Baru. Dan ketika saya mencoba menelusuri bayangan itu, muncul resiko lain dari pembacaan yang saya lakukan: saya jadi cenderung <em>lebih</em> mencermati cerpen-cerpen yang “sedikit-banyak” mendukung bayangan <em>setting </em>sosial-politik itu. Bahkan, kemudian, boleh jadi mengkait-kaitkan kode literer di dalamnya dengan realitas psosial politik yang berlangsung atau kira-kira diacunya. Padahal saya menyadari, kalau sebuah karya sastra (mungkin) tidak terutama dan semata-mata ditulis untuk “menanggapi” <em>setting</em> sosial-politik yang melingkupinya. Karya sastra, sering, tak memiliki pretensi semacam itu. Ia justru kerap penuh dan berarti dalam dirinya sendiri. Kebermaknaannya ada pada makna-tekstualnya, tenimbang dengan mereka-reka apa makna-referensial yang diacunya. Karnanya, ketika saya “bersikeras” untuk melakukan resepsi pemaknaan cerpen-cerpen yang tumbuh selama periode itu dengan mengacu pada fase pertumbuhan Orde Baru, saya menjadi sadar juga, betapa ada kemungkinan terjadi rekayasa pemaknaan referensial dari cerpen-cerpen itu ke persoalan-persoalan sosial-politik yang terjadi terkait operasionalisasi  wacana yang dikembangkan Orde Baru. Dan ini, tentu saja, saya akan terasa mengabaikan kecenderungan-kecenderungan lain, varian-varian pertumbuhan lain, yang dikembangkan oleh para penulis cerpen negeri ini. Apa boleh buat, ini juga resiko lain lagi, saya mesti saya tanggung dalam tulisan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi saya percaya pada argumen elementer yang kerap dikutip ini: karya sastra tidak lahir dari ruang hampa. Selalu ada konstruksi sosial-politik yang ikut mempengaruhi, langsung atau tak langsung, yang sedikit banyak juga mempengaruhi dan membentuk aspek psikologis, bahkan idiologis, seorang sastrawan. Dari sinilah,  saya mencoba “mempertautkan” sebuah cerita dengan kemungkinan makna referensial yang (boleh jadi) ikut membentuk, mempengaruhi proses kreatif penulisannya, atau malah memang (boleh jadi) diacunya. Meski hal itu tak berlangsung pada tingkat tanggapan yang serta-merta atas konteks sosiologis yang terbayangkan dari teks cerita bersangkutan. Sebagai ilustrasi, cerpen <em>Godlob</em> karya Danarto. Cerpen ini muncul akhir tahun 60-an, dan kemudian banyak yang mengkaitkan situasi dan gambaran kelam dalam cerpen itu dengan situasi sosial-politik yang baru saja berlangsung <em>brubuh</em> pada masa-masa itu. Prosedur pemaknaan macam itu, tentu saja, dapat berkesan mengada-ada, <em>othak-athik gatuk</em>. Dan itu malah bisa membunuh kekuatan estetis cerpen itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain, saya merasakan adanya tendensi dan kecenderungan yang begitu besar dalam cerpen-cerpen kita untuk mengolah<em> </em>tema-tema sosial-politik yang kemudian menjadi <em>mainstream</em> gaya penulisan cerpen-cerpen kita. Ada faktor sosiologis yang bagi saya tak bisa diabaikan begitu saja, yang membayang dalam cerita-cerita itu: cerita-cerita yang seakan berangkat dari kerangka tematis tertentu, yang &#8212; mungkin tanpa disadari &#8212; diyakini dan seakan begitu saja <em>ngendon</em> dalam batok kepala kebayakan pengarang kita. Sebagaimana nanti terlihat, hampir sebagian besar cerpen-cerpen kita ditulis dengan tendensi sosiologis, dimana dorongan untuk “merumuskan” problem, persoalan dan konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat secara implisit berkelindan dalam struktur cerita. Sebuah tendensi, yang pastilah berasal dari kecenderungan realisme yang memang memiliki pretensi besar untuk menceritakan kembali kenyataan secara akurat. Cerita, kemudian menjadi gambaran-gambaran watak dan konflik yang cenderung tipologis, karena terasakan sebagai personifikasi atas hal-hal tertentu. Tendensi ini bisa juga dilacak dari “tradisi sastra bertendens” yang memang cukup kuat dalam kesusastraan Indonesia, yang oleh Goenawan Mohamad dinyatakan sebagai: kehendak untuk menemukan “keberartian”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">MEMAKAI Orde Baru sebagai batasan kurun, maka menjelang tahun 70-an dapat kita pakai sebagai awal. Fase awal ini, setidaknya ditandai satu <em>ikon</em> yang kemudian akan menjadi penting, yakni terbitnya majalah sastra <em>Horison</em>, dan kegairahan baru dalam dunia kesenian Indonesia yang ditandai berdirinya Taman Ismail Marzuki, yang seperti dinyatakan Goenawan Mohamad “menjadi suatu eksperimen yang menarik, dan tak jarang menegangkan, dalam hubungan antara kegiatan kesenian, kekuasaan dan masyarakat”. Kegairahan eksperimentasi, yang boleh jadi merefleksikan kegairahan akan “kebebasan”, setelah pada tahun-tahun sebelumnya berlangsung perseteruan idiologis yang seram.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada fase awal dari “periode Orde Baru”, memang ditandai oleh kegairahan untuk melakukan eksperimentasi dalam dunia kesenian, tak terkecuali sastra. Seakan tumbuh komitmen, bahwa seni hanya “bertanggungjawab” pada pencapaian-pencapaian estetis, atau seperti yang sering dinyatakan sebagai “seni untk seni” (sebagai distingsi dari “seni untuk rakyat” yang begitu kuat pada masa sebelumnya) yang dijadikan semacam orientasi bersama. Hingga kecenderungan untuk lebih menghargai “pembaruan” dalam seni menjadi faktor yang signifikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat cerpen “Gambar Hati tertusuk Anak Panah” (ya, judul cerpen itu sebenarnya gambar hati tertusuk anak panah dengan tetesan darah di ujungnya) karya Danarto mendapat penghargaan dari Redaksi <em>Horison</em>, antara lain dinyatakan, bahwa terpilihnya cerpen itu sebagai cerpen terbaik karena “cerita ini merupakan suatu bentuk yang baru di Indonesia”<em> (Horison</em>, III (4), April 1969, hal. 101). Bahkan <em>Horison </em>menyatakan, dengan menangnya cerpen itu diharapkan “akan merupakan perangsang bagi pengarang-pengarang lainnya untuk menggarap daerah-daerah baru bagi dunia cerita pendek Indonesia”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemenangan cerpen Danarto tersebut, seolah menjadi penghargaan bagi “semangat pembaharuan” dalam sastra. Kita tahu, pada masa itu <em>Horison</em> menjadi kiblat sekaligus pusat legitimasi sastra Indonesia. Sebagai kiblat, nampaknya <em>Horison</em> ingin menciptakan iklim yang lebih kondunsif bagi penulisan sastra, untuk memberi kemungkinan munculnya generasi baru sastra Indonesia. Hingga Subagio Sastrowardoyo pun sempat melakukan pembedaan antara generasi majalah <em>Kisah</em> dan <em>Horison</em>. Melalui argumen-argumen yang dipaparkan, Subagio setidaknya hendak menyatakan ada kecenderungan baru dari generasi penulis yang lebih “intelektualis” melalui pengembaraan bermacam pencarian estetik yang tak berpusat pada satu pola pengisahan sebagaimana menjadi kecenderungan para penulis yang “dibesarkan” majalah <em>Kisah</em>. Daerah-daerah baru penulisan cerita dirambah, memperlihatkan kegairahan eksperimentasi yang begitu kuat dalam sastra pada masa itu. Cerpen-cerpen semacam <em>Sepi, Nol, Maya</em> milik Putu Wijaya, <em>Anak</em> Budi Darma, <em>Abracadabra</em>, <em>Kecubung Pengasihan</em> Danarto, <em>Sebelum yang Terakhir</em> Satyagraha Hoerip, sampai <em>Sukri  Membawa Pisau</em> Hamsad Rangkuti, memperlihatkan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah gairah “pembaruan” yang dapat kita bawa pada kegairahan akan “kebebasan”. Dengan begitu kita merasa, betapa pada saat itu, ada kegairahan dan kepercayaan pada ruang kebebasan (kreatif) yang dibuka oleh kelahiran Orde Baru. Memang saat-saat awal Orde Baru, kran kebebasan masih dibuka lebar. Euforia kebebasan dirayakan dengan penjelajahan estetis dalam cerpen. Dan ini akan menjadi dorongan kuat dalam “penilaian” kemajuan sastra Indonesia, dimana “pembaruan” begitu dipuja-puja, melebihi usaha untuk menciptakan tradisi sastra yang “mapan-berakar”. Kegairahan dan kepercayaan itu perlahan menyurut, bersamaan kian jelasnya <em>mixed peformance</em> dan  <em>mixed character</em> yang diperlihatkan Orde Baru. Dan ini terjadi pada tahun-tahun 1980an sampai 1990an, yang boleh dibilang menjadi puncak performa politik Orde Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada periode tahun-tahun itulah, cerpen-cerpen yang menempatkan tema yang lebih sosiologis, yakni tema dengan referensi sosiaolgis yang lebih kentara, mulai banyak ditulis. Priode ini boleh dibilang periode peralihan dari “euforia pemujaan terhadap pembaharuan” kepada “periode kritisisme terhadap realitas spsial politik”. Pada konteks yang lebih luas, dalam kesusastraan kita, pada saat periode ini, mulai berkembang apa yang sering disebut sebagai “sastra kontekstual”.  Terlepas dari pro kontra soal “sastra kontekstual” itu, pada dasarnya, hal itu menandai adanya pemikiran untuk semakin peka dengan konteks sosial di mana para pengarang hidup, karena sastra tidak semaa-mata merupakan gagasan mengenail keindahan yang bersifatn universal, tepi mengandung konteks sosial yang lebih berkaitan langsung dengan dimana karya sastra itu diproduksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada cerpen, para “pengarang pembaharu” semacam Danarto, Putu Wijaya, atau Satyagraha Hoerip juga menampakkan pergeseran orientasi estetik dan tematik. Cerpen Putu yang semula bermain pada tataran imaji semata atau permainan pikiran (seperti terihat dalam cerpen <em>Nol</em>), mulai lebih bersifat dan bersemangat anekdotis-politis dan karikatural, dengan gaya yang cenderung mirip esai, dan meski pun mengesankan suatu dunia yang non-empiris dan tidak ostensif, karena tidak ada “suatu konteks” <em>setting</em> sosial khusus yang ditunjukannya, tetapi masih membayangkan makna referensial yang membawa acuan pada pristiwa-peristiwa tertentu. Cerpen <em>Coro</em> misalnya, tidak-bisa tidak mengingatkan kita pada pembredelan majalah <em>Tempo</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Danarto, yang semula suntuk dengan “dunia antah-berantah” mulai menulis cerita-cerita yang memiliki kaitan dengan problem-problem sosiologis yang terjadi akibat pembangunanisme (<em>developmentalisme</em>) yang menjadi agama Orde Baru. Bahkan Danarto tak jarang membangun personifikasi tokoh-tokohnya terhadap figur-figur tertentu, sebagaimana misalnya dalam cerpen <em>Kursi Goyang</em> atau <em>Kolam Merah</em>, meski dalam hal gaya penulisan Danarto tetap mempertahankan dunia mistisismenya sebagai strategi literer yang ditempuhnya untuk mengatasi verbalisme tema sosiologis yang rambahnya. Problem-problem sosial malah dengan “langsung” banyak ditulis oleh Satyagraha Hoerip., yang semula kuat ketika mengolah tema absudirtas manusia. Bahkan Hoerip, dengan secara langsung menyebut dirinya sebagai penulis cerpen yang sangat peduli dengan persoalan-persoalan ketidakadilan sosial, dan lebih khusus lagi soal korupsi yang sudah terstruktur dalam rezim Orde Baru. Karena itulah tema korupsi, kolusi dan manipulasi mendominasi cerpen-cerpen Satyagraha sejak awal tahun 80-an.</p>
<p style="text-align:justify;">Orde yang semula dipercaya dan sempat meletupkan gairah pembaruan, mulai dilihat secara kritis. Maka, cerita-cerita dengan kerangka tematik yang cenderung sosiologis pun menjadi kecenderungan yang kuat: seakan cerita dipakai untuk merekonstruksi dampak dan problem yang dihadapi manusia (tokoh-tokohnya) ketika ia mesti bersikap dalam perubahan sosial yang berlangsung, dari “nilai lama” ke “nilai baru”, dari kenangan lama ke kenyataan baru sebagai “konsekuensi logis” dari pembangunanisme. Sebagai padanan, kita bisa melihat dunia puisi, dimana ketegangan itu berlangsung dengan riuh, dimana seakan-akan berlangsung kekerasan semantik yang dihadapi aku-lirik ketika mencoba mengakomodasi modernisme ke dalam teks-teks yang diproduksinya. Maka seperti dinyatakan Afrizal Malna, kekerasan modernisme pun berlangsung dalam dunia puisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada cerpen, ketegangan itu muncul melalui konflik yang mesti ditanggung oleh tokoh-tokoh yang diceritakannya, yang rata-rata berujung pada tragisme. Karenanya, membaca cerpen Indonesia pada masa-masa ini, berarti membaca konfigurasi konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat yang tergoncang karena perubahan sebagai konsekuensi yang mesti ditanggung akibat modernisasi yang dijadikan acuan pembangunan; juga akibat operasionalisasi wacana kekuasaan yang mengabaikan hak-hak rakyat untuk membangun “kebudayaannya” sendiri. Sentralisme kekuasaan tak hanya mematikan inisiatif dan partisipasi sosial dalam menangani pembangunan, tetapi juga membunuh ekspresi kebudayaan (rakyat) yang mungkin bisa dikembangkan. Tak heran, apabila terjadi penaklukan wacana kebudayaan rakyat oleh kekuasaan. Situasi yang menimbulkan konflik sosiologis sekaligus juga estetis. Dan cerpen, rupanya menjadi satu jalan untuk keluar dari upaya penaklukan itu, melalui penceritaan yang berkecenderungan untuk membongkar kamuflase pembangunan. Sikap “berfihak” pada <em>wong cilik</em> pun menjadi moralitas yang banyak dipercayai pengarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, kecenderungan semacam itu bukannya tanpa resiko. Karena bagaimana pun perubahan sosial <em>toh</em> terus berjalan, menawarkan berbagai kenikmatan dan kemudahan, yang juga dinikmati oleh pengarang. Di sinilah, kemudian, bermunculan “aku-naratif” yang gamang, bahkan berujung pada tragisme psikologis, ketika menghadapi dan mencoba mengatasi upaya-upaya penaklukan modernitas itu. “Aku-naratif” yang hidup dalam cerpen-cerpen Indonesia, kemudian, menjadi tipologi dari “manusia perbatasan” (meminjam ungkapan Subagyo Sastrowardoyo), antara mempertahankan tradisi atau menerima modernitas, dengan segala variannya. Suatu tipologi yang bahkan memperlihatkan adanya usaha manusia mengatasi wacana penaklukkan, baik secara ekonomis maupun politis.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Wacana Kisah yang Menarasikan Perubahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">SEBAGAI upaya mengatasi wacana perubahan sosial yang berlangsung di luar dirinya, cerpen Indonesia mencoba menempuh prosedur penceritaan realisme sebagai basis utamanya. Disini, realisme tak semata-mata berarti cerita-cerita itu realis, tetapi lebih pada wacana pengisahan yang percaya behwa sastra sanggup menghadirkan kembali kenyataan, menghidupkannya dalam cerita, dimanana “fakta-fakta sosial” dalam cerita itu dapat dikenali kembali, sehingga pembaca tidak teralienasi dari lingkungan sosialnya. Karenanya, tak mengherankan, apabila sebuah cerpen yang memakai gaya penceritaan surealis atau pun absurd, menyediakan juga indikasi-indikasi sosiologis yang membuat pembaca akan tetap mengenali “peristiwa sosial” yang tengah berlangsung diseputar mereka &#8212; suatu peristiwa yang biasanya telah termediasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah yang ingin saya sebut sebagai “tendensi sosiologis”, yang begitu menggejala dalam cerpen-cerpen kita hari ini. Cerpen menjadi semacam risalah sosial, yang mencoba menuturkan kegetiran dan haru-biru masyarakat yang tengah berbenah, masyarakat yang tengah berubah dari dunia agraris ke modernis, dengan segala resiko dan konsekwensi sosiologis dan psikologis yang mesti ditanggungnya. Cerpen-cerpen Indonesia yang ditulis sepuluh tahun terakhir ini, kian kentara mendedahkan persoalan semacam itu; seakan-akan ada tugas dan tanggung jawab yang tertanam dan mesti ditanggungkan oleh cerpen. Tak terlalu mengherankan, apabila cerpen kemudian hadir dengan sejunlah gambaran mengenai keterpurukan, ketergusuran, kepahitan dan ketakberdayaan manusia menghadapi perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Cerpen Bre Redana <em>Requiem untuk Mas Mar</em> bisa digunakan sebagai contoh. Tokoh aku (aku-naratif) dalam cerpen itu (seakan-akan) menjadi saksi atas perubahan yang mesti dihadapi Mas Har, yang merasa terasing ketika tempat ia tinggal yang dulu-dulunya sebuah kampung di pinggir kota, mulai dibangun <em>real-estate</em>. Ia tak merasa jadi bagian warga perumahan itu, tetapi “pindah pun saya tak bisa, karena dianggap tidak sama dengan seluruh kampung yang dipindahkan itu” kata Mas Har. Ia memang tak lagi sepenuhnya milik “kampung” karena ia telah berkenalan dengan “dunia luar kampung”, ia misalnya fasih bicara soal <em>privacy</em>, bisa memainkan musik Tchaikovsky, dan punya banyak buku-buku tebal (hal-hal yang pastilah mengacu pada modernisme). Meski begitu, ia pun tak merasa menjadi bagian dari “warga perumahan modern” itu, ia tak merasa bagian dari perubahan yang lebih cenderung <em>snob</em> dan hedonis yang oleh Mas Har dikatakan “yang bagus-bagus itu kan cuma pupur dari kebudayaan yang sontoloyo….”  Situasi keterasingan itu sangat disadari,</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Disana tidak diakui, disini tidak diakui, akhirnya saya memilih menentukan, biar saya tetap di sini saya.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ya, pilihan itu adalah dengan berdiam dalam rumah, yakni “rumah imajinasi”, dimana ia bisa merasa betah dan krasan.  Yang menjadi semacam ruang yang dibangun dan dipertahankan untuk meredakan ketegangan dan kegalauan yang dihadapinya. Ia menciptakan “dunia tersendiri”, dunia alternatif, hingga ia memiliki kemungkinan untuk mengambil jarak: menimbang kegelisahannya sendiri. Sebagai konsekuensinya, ia memang sendiri dan kesepian, karena memang “rumah” yang dibangunnya bagaimana pun tak kuasa menghadapi kenyataan perubahan yang tengah berlangsung: <em>Rumah papan yang segera akan sirna, buku-buku yang segera akan lapuk, biola tua yang akan segera rombeng</em>…</p>
<p style="text-align:justify;">Cerpen-cerpen dengan nuansa seperti itu, terlalu banyak kita jumpai. Begitu kuatnya tendensi sosiologis dalam cerpen-cerpen Indonesia hari ini, sehingga sebuah cerita seakan-akan ditulis dengan dorongan untuk “merumuskan” problem, persoalan dan konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat secara implisit ke dalam struktur cerita. Seakan ada <em>raison d’etre</em>, yang menjadi kerangka tema dalam cerita, yakni tema seputar perubahan sosial-politik yang tengah berlangsung kini. Hingga rasanya, ada sebuah tema yang dicemaskan bersama, yang kemudian menjadi “tema utama” yang banyak diceritakan: bersitegang antara yang sentripetal dan yang sentrifugal. Inilah  proyek tematik yang terus digarap oleh pengarang kita – dan seakan-akan tak dapat menghindarkan diri darinya. Faruk mengatakan hal sebagai keterperangkapan tak sadar terhadap jaring romantisisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan memakai cerpen Bre Redana sebagai kasus dan menerima penilaian Faruk, maka kita bisa membayangkan skema dari proyek tematik itu: <em>dunia sentripetal</em> &#8212; <em>dunia sentrifugal</em> – <em>dunia alternatif</em>. Untuk mengatasi ketegangan antara dunia sentripetal dan dunia sentrifugal, pengarang mencoba membangun dunia alternatif. Karenanya, untuk mengakomodasi “tema utama” itu ke dalam cerita, para pengarang berkecenderungan untuk menciptakan model-model wacana pengkisahan yang tentu saja diharapkan dapat mencerminkan realitas yang hendak direpresentasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, perlu diperhatikan pula di sini, betapa ketika kecenderungan itu berlangsung, terasakan surutnya peran majalah sastra <em>Horison</em>, dan cerpen mulai menyebar ke media massa umum, macam koran. Banyak yang yakin, kalau itu juga tak lepas dari faktor ekonomi: karena pengarang lebih suka mengirimkan karyanya ke koran lantaran honornya lebih besar. Faktor ekonomis ini, kalau kita percaya, tentu saja tak bisa dilepaskan dari “keberhasilan” ekonomi makro yang dikembangkan Orde Baru, yang kemudian mengesankan paradoks ketika “keberhasilan” itu membuat para pengarang banyak menulis “kisah tragis” akibat keberhasilan itu. Namun kita bisa melihat paradoks ini sebagai adanya dorongan untuk melakukan kritik, melakukan koreksi atas berbagai problem sosial-politik. Dan itulah yang membuat pengarang mencoba membangun (atau mempertahankan?) “dunia alternatif” itu. Hingga,  terasa ada prosedur yang ditempuh: sembari melakukan kritik, dengan menggarap yang berpretensi sosiologis, pengarang mencoba menciptakan “dunia alternatif” sebagai rumah bersama. Dan koran sebagai ruang publik memungkinkan untuk secara efektif melakukan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kecenderungan menggarap tema-tema berpretensi sosiologis, juga tak dapat dilepaskan dari karakter koran yang sangat mempertimbangkan faktor-faktor seperti aktualitas dan tekanan pada peristiwa sosial, sebagai sesuatu yang signifikan ikut membentuk kecenderungan itu. Tetapi, kita tahu, pers juga dikontrol oleh negara. Fakta-fakta disterilkan, dibekukan, untuk mempertahankan penunggalan politik pemaknaan oleh negara. Ini membuat pengarang kemudian mesti bersiasat juga, melakukan strategi literer untuk menciptakan model wacana pengisahan yang kemudian memperlihatkan kehendak “tema utama” perubahan sosial-politik, sebagi tema besar, melalui cerita-cerita yang partikular: dengan pelukisan <em>setting</em> cerita yang lebih kecil lingkupnya, tetapi mengisyaratkan gagasan besar yang melebihi struktur teks itu sendiri. Misalnya, untuk menggambarkan negara, dipakai model wacana pengisahan dengan <em>setting</em> sebuah desa atau kampung, dengan Lurah atau Kepala Desa, dan sering ditambah kehadiran Hansip untuk menegaskan watak militeristik sekaligus mengkarikaturkannya, menjadi parodi. Cerpen <em>Lurah</em> Kuntowijoyo dan <em>Fitnah</em> Putu Wijaya, bisa dipakai sebagai contoh untuk model pengisahan semacam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan membangun <em>setting</em> desa atau kampung semacam itu, model “dunia alternatif” itu juga mengesankan adanya kerinduan untuk mempertahankan “kebijaksaan-kebijaksaan tradisional” yang harus dan hendak dijaga dari lindasan perubahan. Cerpen <em>Syukuran Sutabawor</em> Ahmad Tohari atau <em>Teki-teki Orang Desa</em> Hamsad Rangkuti memperlihatkan hal itu. Lebih dari itu, ada dorongan untuk memakai sensibilitas lokal yang merujuk pada jejak-jejak tradisi yang menjadi akar dan referen pengarang sebagai model pengisahan lain untuk membangun “dunia alternatif”, sekaligus melakukan “perbandingan moralitas”: dimana kritik dan koreksi memperoleh acuan moral dari kisah-kisah lama. Yanusa Nugroho memakai kisah-kisah pewayangan dan babad, seperti dalam cerpen <em>Segulung Cerita Tua…,</em> atau <em>Purnama dan Ringkik Kuda</em>. Taufik Ikram Jamil merujuk kisah-kisah Melayu-Riau untuk melakukan paralelisasi peristiwa yang menelikung tokoh-tokoh ceritanya, seperti cerpen <em>Salim Terbang</em> dan <em>Sandiwara Hang Tuah</em>. Suatu model acuan moralitas, yang sebenarnya meletupkan kegamangan juga, setidaknya ia mengisyaratkan ambivalensi identitas, yang menciptakan ruang kesunyian dalam diri tokoh-tokoh itu, seperti terasa dalam cerpen <em>Ibu dalam Diri</em> Gus tf Sakai.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menarik, nilai-nilai tradisi itu bisa juga saling “bertentangan”. Semacam terjadi pertarungan politik pemaknaan untuk “membangun” identitas kebudayaan – yang dalam konteks Orde Baru adalah rekayasa apa yang sering dijargonkan sebagai “kebudayaan Nasional”. Saya sangat terkesan dengan cerpen Taufik Ikram Jamil, <em>Ketika Gamelan Berbunyi</em> yang menceritakan perihal We Anom, yang terkena penyakit aneh: selalu meraung-raung kesakitan setiap kali mendengar bunyi gamelan. Suara gamelan dari pemukiman para transmigran (dari Jawa) itu justru (!) mengusik ketenangan pantun dan nyayian We Anom sebagai representasi tradisi Melayu-Riau.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menarik tentulah model pengisahan surealisme dan absurdisme yang juga banyak ditempuh oleh pengarang kita. Menarik, karena pada satu sisi ia seakan-akan “telah menerima” modernitas, dimana dalam konsepsi filosofis Barat, surealisme dan absurdime adalah anak-anak yang lahir dari garba modernisme; spirit untuk melakukan pembaharuan, eksperimentasi dan pencarian bentuk pengceritaan, pun merepresentasikan spirit kemajuan, yang seakan dijadikan acuan dan standar keberhasilan karya sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi karena surealisme dan absurdisme lebih terasa sebagai sebuah bentuk dan tehnik penulisan, maka makna referensial yang terkandung dari bentuk-bentuk yang “<em>aneh dan nyleneh</em>” terasa lebih kuat. Absurdisme ditempuh tidak untuk abdurdisme itu sendiri, ia adalah strategi literer untu mengatasi “pembatasan-pembatasan politik” yang dihadati seorang penulis ketika hendak melancarkan kritik-kritiknya. Cerpen <em>Meteorit</em> Sony Karsono, bisa diajukan sebagai contoh. Cerpen ini mengisahkan hal yang ganjil: mayat yang hidup kembali setelah terkena pecahan meteor. Dengan pelukisan yang kelam dan futuristik, cerita kemudian bergulir tentang kematian seorang buruh yang dibunuh karena membangkang program yang dikembangkan oleh perusaaan yang dipimpin oleh si mayat yang hidup kembali itu. “Masuknya” pembunuhan buruh itu, serta merta, akan membawa ingatan pada kematian Marsinah. Makna referensial semacam itu, tentu saja tak bisa dilepaskan dari aktualitas peristiwa yang pada saat kemunculan cerpen itu. Artinya, memang, ada unsur pembentuk pemaknaan diluar teks cerpen itu sendiri. Dan ini memang jadi problem cerpen-cerpen kita hari ini, ketika ia ditulis dengan “semangat” untuk dikirim ke koran.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lain adalah cerpen <em>Telinga</em> Seno Gumira Ajidarma. Kisah seseorang yang memdapat kiriman potongan telinga dari pacarnya di medan pertempuran, menemukan maknanya yang konkrit, justru tidak dari dunia surealisme yang dibangun dalam teks itu sendiri, tetapi ketika ia membayangkan perlawanan (imajinasi) yang sarkastis, atas peristiwa yang terjadi di Dili, Timor Timur. “Kalau lu sadis, gue bisa lebih sadis,” tulis<em> </em>Seno dalam satu esainya, <em>Ketika Jurnalisme Dibungkam sastra harus Bicara</em>. Artinya, Seno sendiri membayangkan ada kenyataan diluar teks yang menjadi acuannya. Ia memang berusaha melawan pembungkaman. Ia berusaha membocorkan fakta-fakta yang hendak dipetieskan oleh Orde Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang kemudian menjadi <em>mainstream </em>cerpen-cerpen Indonesia selama hampir satu dekade terakhir ini. Kecenderungan menulis “cerita-berita” begitu kuat: dimana indikasi-indikasi nonfiksional dipakai untuk membangun struktur cerita yang “dengan gampang” akan segera dikenali kembali kenyataan (faktualitas) yang diacunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Situasi seperti itu, kemudian akan nampak kuat dalam buku kumpulan cerpen yang dihimpun oleh M Shoim Anwar, <em>Soeharto dalam Cerpen Indonesia</em>. Soeharto sebagai personifikasi paling kuat dari Orde Baru, seperti menjadi baying-bayang yang diacu dalam cerpen-cerpen yang oleh Shoim dianggap memiliki relenvasi tematik dengan perilaku politik Soeharto dengan Orde Barunya. Cerita-cerita yang ditulis pada kurun itu, kemudian menampakkan diri menjadi semacam ‘sindiran simbolik’ dari struktur dan perilaku politik yang terjadi di jaman Orde Baru. Melalui cerita, perlawanan seakan dilangsungkan atau diselundupkan, atau dalam bahasa Seno, coba dibocorkan ke tengah masyarakat (pembaca).</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja, itu sah dan bukan sesuatu yang salah. Tetapi ada resiko, yang kemudian sepertinya tak terelakkan, betapa cerpen kemudian menjadi tampak generik, hidup dalam spirit komunal, yang dijadikan acuan ketika menulis cerpen. Semacam ada pola struktur penceritaan tertentu, yang kemudian menjadi wacana pengisahan cerpen yang tak terelakkan. Cerita jadi berkehendak untuk mendedahkan tema-tema sosiologis berkaitan dengan tragisme yang dihadapi masyarakat &#8212; khususnya <em>wong cilik</em> &#8212; ketika berhadapan denga perubahan &#8212; lebih-lebih kekuasaan. Inilah tendensi sosiologis yang menjadi <em>mainsteam </em>penulisan cerpen Indonesia akhir-akhir ini, yang mebuat cerpen seakan-akan “terjebak” dalam tema-tema sosiologis dengan faktualitas dan aktualitas sebagai <em>setting</em> peristiwa yang membayang dalam cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Boleh jadi itu sebuah upaya lain untuk menimbang, menilai dan sekaligus merebut tema-tema sosial yang juga dikunyah sehari-hari oleh masyarakat. Dengan begitu ada korelasi kuat antara sastra dan masyarakatnya. Satu upaya untuk menempatkan sastra berada di tengah-tengah denyut hidup masyarakatnya, sebagai bagian dari ekpresi bersama yang mencoba menjeritkan keterhimpitan dan ketakberdayaan sosial. Keterhimpitan dari tirani kekuasaan, dan ketakberdayaan menentukan pilihan tempat berpijak antara masa lalu yang masih terbayang keteduhannya dan masa kini yang riuh tetapi mesti dijalani. Berkait dengan ini, “dunia alternatif” pun diciptakan dengan tiang-tiang moralitas menjadi sandaran utamanya. Tak heran, bila moralitas keberpihakkan menjadi <em>spirit</em> yang terus menerus direproduksi dalam sastra</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi tragisme pun terus berlangsung dalam cerpen-cerpen kita. Moralitas keberpihakan dan spirit perlawanan untuk melakukan gugatan sosial, dalam banyak cerpen justru berujung pada tragisme tokoh-tokohnya. Simak saja nasib Marno dalam cerpen <em>Protes</em> Achmad Munif. Tokoh ini begitu heroik memperjuangkan nasibnya, menuntut keadilan pada atasannya, tetapi kemudian, diakhir cerita kematian tragis menggilasnya. Atau nasib Jawad dalan cerpen <em>Monolog Kesunyian</em> Indra Tranggono, yang mencoba bersikukuh dengan kebesaran masa silamnya, mempertahankan mati-matian identitas dirinya sebagai pemain keoprak, meski ia sudah tergerus perubahan zaman: oleh anak-anak kecil ia diperlakukan sebagai orang gila, dan tak berdaya ketika diciduk oleh petugas ketertiban. Ini seakan sebuah pemberontakan yang sangat menyadari keterbatasannya: bahwa ia pada akhirnya akan kalah. Rasanya tak ada jalan lain untuk menyuarakan perlawanan sekaligus bertegus dengan pilihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali, sastra sebagai “dunia kemungkinan”, memang tak bisa &#8212; atau tak boleh? &#8212; memberikan  kepastian. Bukan hanya karena sastra memang terikat oleh keterbatasan-keterbatasan yang disandangnya, tetapi lebih-lebih karena kepastian dalam sastra hanya akan membawanya pada tingkat dikdaktif dan dogmatis. Dan itu akan membuat sebuah cerita kehilangan pesona makna yang dimilikinya. Kegentingan semacam itu memang membayang ketika cerpen-cerpen Indonesia seakan tak mampu membebaskan diri dari tendensi sosiologis yang menelikungnya. Tapi itulah, barangkali, sebuah semangat perlawanan yang terjadi di tahun-than 1980-1990an, yang mencoba menarasikan tema politis melalui tataran simbolis.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/407/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=407&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/13/cerpen-indonesia-dan-orde-baru-upaya-mengatasi-wacana-penaklukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/cerpen-dan-orde-baru.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Cerpen dan Orde Baru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- ASMARADANA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 04:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[

INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=404&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-403 aligncenter" title="Asmarandana" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/asmarandana.jpg?w=286&#038;h=357" alt="Asmarandana" width="286" height="357" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>INILAH</strong> malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya.<span id="more-404"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu, ibu begitu jijik dengan tubuhnya sendiri. Sepanjang hari ibu selalu mengeram marah menggaruki selangkangnya hingga berdarah-darah. Sepanjang hari ibu melolong dan menjerit mencakari seluruh tubuhnya yang ia rasakan ditumbuhi bulu-bulu hitam gatal menjijikkan. Berkali-kali ibu menenggak bermacam pestisida, agar serigala dalam rahimnya segera binasa. Tetapi perut ibu malah kian tambah membengkak. Dan ibu terus-menerus menjerit dan berteriak mengutuki malam paling keparat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu malam, perut ibu seperti meledak, ketika petir berlecutan, dan ia hanya terkapar menyaksikan jabang bayi itu merangkak keluar dari rahimnya. Bayi itu melolong keras, seakan hendak mengatasi suara yang menggemuruh di puncak malam. Masih pucat, lemas, telinga berdengung dan pandangan berkunang-kunang, ibu memandangi jabang bayi itu, kemudian melenguh, “Benar, aku melahirkan serigala…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu melihat bayi itu perlahan-lahan merangkak mencari gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>AKULAH</strong> serigala itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil bersandar di dinding, kupandangi bayangan di cermin: makhluk bermata merah, dengan garis dan bentuk mulut menyerupai moncong, dengan lidah berjelijih merah terjulur. Aku bisa mengerti, kenapa seluruh keluarga begitu membenciku. Kakek segera melemparkan bakiak yang dipakainya begitu melihat aku mulai merangkak mendekatinya, “Pergi! Pergi! Menjijikkan!” Dan aku hanya mengeram, mengkerut, memandangi nenek yang duduk mematung di kursi goyang. Begitu melihatku, nenek segera membuang pandang sembari merutuk, “Kenapa aku punya keturunan begini menyedihkan…” Suara itu seakan keluar dari dadanya yang keropos oleh kedukaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat-saat seperti itu, yang kuinginkan adalah belaian ibu. Aku ingin meringkuk di pangkuan ibu. Tapi setiap kali aku dekati, ibu langsung menjeri-jerit. Ibu akan memukul kepalaku setiap kali aku merengek minta susu. “Tak akan pernah kubiarkan susuku dihisap serigala busuk macam kamu,” ibu mengejang, nanar menatapku. “Minumlah air comberan. Pergilah kau ke jalan, karena dari sana kamu berasal!”</p>
<p style="text-align:justify;">Sembab menahan isak, aku segera menyeret kesedihan. Dengan perasaan asing dan sunyi, aku pun segera berkeliaran di jalan. Aku menyukai rimbun belukar, gudang-gudang tua, gerbong kereta, gorong-gorong. Itulah tempat-tempat yang membuatku bisa sedikit merasa nyaman. Hingga mataku terbiasa dengan gelap. Dalam gelap, aku bisa melihat sayap kecoa yang tipis kecoklatan ketika binatang ia bekeredap merayap keluar selokan. Aku bisa melihat kaki-kaki tikus yang penuh kotoran merah kehitaman, bulu-bulunya yang kelabu, juga cericitnya yang menghilang ke dalam lubang. Dalam kegelapam aku menjadi peka terhadap suara-suara: desir angin, dengung serangga, batang-batang rumput yang bergesekan, juga desis ular di belukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat-saat seperti itulah, aku merasa begitu nyaman. Tidak seperti di rumah yang penuh makian. Aku bisa mendekam bermalam-malam, menikmati hasil buruan, sambil membayangkan wajah ibu yang membenciku. Kegelapan ini seakan-akan selimut yang membuatku selalu merasa hangat, hingga aku bisa membayangkan wajah ibu dengan penuh kerinduan. Aku suka raut ibu yang pucat. Bibirnya yang selalu gemetar. Aku merindukan puting susunya untuk kuhisap dan kujilat. Ibu, tidakkah kamu rindu menyusui anakmu? Kemudian aku mulai menyusun bayangan ibu. Aku membayangkan lengannya yang terkulai. Aku membayangkan pinggangnya yan mengkerut. Aku membayangkan rambutnya yang kelabu, telinganya yang meruncing dan gigi-giginya yang bertaring. Bila aku semakin rindu pada ibu, aku pun segera keluyuran ke tempat pembuangan sampah, memunguti plastik-plastik dan kaleng susu, remukan kardus dan kawat berkarat. Kususun kaleng-kaleng susu itu menjadi patung ibu. Kumahkotai rambutnya dengan plastik dan kertas. Kutandai puting susunya dengan arang. Itulah saat-saat yang membuatku bisa merasa nyaman dalam bayangan ibu. Kupeluk dan kubawa patung ibu dari kaleng-kaleng susu itu ke tempat persembunyianku. Dalam gelap kami jadi akrab. Ibu yang tersenyum kepadaku, memeluk dan mulai menjilati bulu-buluku. Lalu aku pun menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuh ibu. Aku mulai menyurukkan moncongku ke ketiak ibu. Dan ibu menggelinjang senang ketika aku mulai membalas menjilatinya. Kami saling gosok dan saling jilat berbagi hangat. Hingga aku bisa merasakan kehadiran ibu yang mendekap semua kerisauanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara seperti itulah aku mencintai ibu, dan perlahan-lahan mulai memahami ibu. Sungguh ibu, aku mencintaimu, merindukanmu. Tidakkah engkau bangga punya anak yang begitu mencintaimu seperti aku?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>KADANG-KADANG</strong>, bila aku sembunyi dalam gerbong kereta, aku suka membuka celana kolorku, lalu bergerak merangkak sambil menggoyang-goyangkan pinggul, membayangkan ada ekor yang pelan-pelan tumbuh memanjang di sela pantatku. Ekor itu lembut, dengan bulu-bulu surai kemerahan, menjuntai bergoyang-goyang setiap kali aku melenggang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku selalu kecewa, karena tak juga tumbuh ekor di sela pantatku. Yang tumbuh malah bulu-bulu halus di seputar kelaminku. Membuatku terkikik, setiap kali aku merasa geli ketika memain-mainkan kelaminku. Juga merasa lucu, membayangkan ibu akan terpekik senang menyaksikan bulu-bulu lembut di seputar kelaminku itu. Ya, kubayangkan: ibu pasti akan begitu girang menyaksikan serigala kecilnya kini sudah mulai dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, sambil bernyanyi-nyanyi riang, aku segera berlari pulang. Sudah begitu lama aku tak pulang, aku berharap ibu mulai merindukanku, seperti selama ini aku merindukan ibu. Rumah sepi. Segera aku berteriak-teriak, “Ibu, ibu…, ini aku pulang!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kulihat ibu sudah berdiri di muka pintu. Lihatlah, ia melotot, tapi siap menyambutku. Maka segera kepelorotkan celana, dengan bangga kupamerkan kelaminku pada ibu. “Lihatlah ibu…, kelaminku mulai tumbuh bulu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Serigala busuk! Minggat kamu!!” Ibu melemparkan sapu ke arahku. “Cepat minggat, bangsat!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kupandangi ibu. Masih kutunjukan kelaminku pada ibu. Dan ibu segera melempariku dengan batu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>DAN</strong> aku kembali sembunyi dalam kegelapan. Kupandangi patung kaleng susuku, dan ia tersenyum dengan wajah ibu yang meneduhkanku. Aku percaya ibu mencintaiku. Ibu hanya tak tahu bagaimana meski bersikap kepadaku. Bagaimana pun aku anakku, meski aku sering mendengar gunjingan tetangga tentang kelahiranku. Tentang malam keparat itu. Aku pasti akan membalaskan dendammu, ibu. Bila aku sudah besar, dan cakar serta taringkku kian kuat dan runcing, pasti, pasti, akan kucabik-cabik mereka yang menyakitimu, ibu!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tumbuh dalam kelam, dalam bayang-bayang yang kian panjang. Aku menghabiskan malam demi malam dalam gudang, bermain-main dengan bayang-bayang yang bergerak-gerak di tembok. Permainan bayang-bayang itu membuatku merasa mempunyai seorang kawan bermain yang mengasyikkan. Setiap malam aku dan bayang-bayang itu selalu bermain-main, meloncat dan berkejaran. Kadang kami saling terkam, saling mengeram. Di antara semua permainan bayang-bayang, aku paling suka permainan seperti ini: aku membuka kolor, berjalan melenggang berkitaran menyaksikan bayang-bayangku yang tampak ramping dengan kelamin menyerupai ekor yang bergoyang-goyang. Aku menyukai permainan itu, karena aku bisa membayangkan kelamin itu perlahan-lahan memanjang, seperti ekor yang tumbuh di bagian depan. Hampir tiap malam aku bermain-main seperti itu. Menarik-narik ujung kelaminku agar cepat memanjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, suatu malam, saat aku bermain dengan bayang-bayang, kudengar tawa cekikik dari arah pintu gudang, “Ckckckck…” Lalu kulihat seorang perempuan, pucat tirus, tersenyum memandangku, merasa lucu, seakan-akan ia tengah menonton pertunjukan orang cebol di pasar malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku beringsut, mengeram meraih kolor.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan takut, serigala kecil yang manis…” Ia melangkah mendekat, kedua tangannya terentang, mengundang. Sejenak, aku hanya berdiri gamang. Aku sering melihat perempuan ini, berkeliaran di antara gerbong-gerbong kereta. Aku sering melihatnya berkelebat dalam gelap.  “Sini, manis, kuajari bagaimana menjadi serigala jantan.” Tangannya menyentuh pundakku, dan saat itu, aku seperti melihat kelebat bayangan ibu yang muncul bagai hantu. Aku memandanginya. Ia mengusap kepalaku. Dan aku, untuk pertama kali, merasakan usapan ibu. “Mari…” katanya, sambil menarik tubuhku, yang masih menggigil kaget dan tak menyangka akan merasakan hangat belaian seorang ibu. Aku gugup, juga tak bisa menyembunyikan malu. Apalagi ketika ia mulai menyentuh kelaminku. Ia remas kantung kelaminku, begitu lembut. Kemudian aku dibopongnya. Sambil terus terkikik, ia membaringkan aku di atas tumpukan peti. Ia terus meremas dan memain-mainkan kelaminku hingga mengeras panas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu serigala kecil paling lucu. Kamu bagus buat jamu… Tenanglah, akan kuhisap kemudaanmu…” Dan ia mulai menjulurkan lidah ke ujung kelaminku. Aku terperangah. Aku mendesah. Dan perempuan itu dengan rakus melumat kelamin kecilku, seperti melahap pisang sekali telan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat otot-ototku meregang, melayang, saat itulah, aku aku membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SEJAK</strong> itu, aku tak lagi hanya bermain-main dengan bayang-bayang. Karena aku jadi lebih sering bermain-main dengan perempuan itu. Ia menjadi ibu yang selama ini aku rindukan. Ia cekikikan senang setiap kali aku menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuhnya. Ia bisa merasakan gairah rinduku pada ibu. Aku senang memandangi matanya yang kelabu. Aku merasa tentram bila ia dekap.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu benar-benar manja…” katanya, sambil mengusap rambutku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku haus ibu…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak menghardikku, seperti ibu dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu pingin <em>mimik cucu</em>?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ia meraih kepalaku, menyurukkan kepalaku ke susunya yang kendur, dan membiarkan aku menjilat dan menghisap puting susu itu. Baunya apak dan sengak, tapi aku merasa enak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bila ia terlelap, tengah malam aku sering terbangun, memandanginya dengan sendu. Ibu. Ibu. Betapa aku mencintaimu! Kemudian kuluapkan rinduku. Aku mulai menjilati tubuhnya, hingga ia menggeliat bangun. Ia tersenyum senang ketika melihat aku tengah menjilati tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu memang serigala yang pintar…” suaranya terdengar gemetar. Dan aku terus menjilati tubuhnya. Seperti menjilati harum kebahagiaanku. Ketika ia menyadari aku suka menjilati tubuhnya, ia pun selalu mengoleskan mentega ke selangkangnya. “Jilatlah, bila kau suka…”</p>
<p style="text-align:justify;">Bau langur dan gurih itu membuat lidahku tak bosan-bosan menjilati selangkangnya. Sementara ia hanya bersandar, mengelus-elus tengkukku dengan lembut, sambil sesekali menggumamkan tembang di antara erang yang mengambang. Itulah malam-malam paling damai, setelah segalanya usai, dan aku akan tertidur lelap dalam pelukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BAYANG-BAYANG</strong> ibu tak lagi menakutkanku. Aku seperti menemukan cara untuk bedamai dengan bayangan ibu, yang masih saja selalu mengusirku. Hanya sesekali aku pulang ke rumah, itu pun mengendap-endap tengah malam. Biasanya karena aku hendak mencuri sisa makanan. Akan aku embat sisa makanan di lemari dan meja, aku bungkus bergegas, kemudian kembali kabur. Aku akan menuju gerbong kereta, di mana perempuan itu menunggu. Setengah melompat aku menjejak bantalan rel kereta, riang bercanda dengan bayang-bayang tubuhku yang memanjang meliuk-liuk mendahului langkahku. Aku berlari, berkejaran dengan bayang-bayangku: siapa paling dulu ketemu ibu! Aku segera ketemu perempuan itu. Aku segera ketemu ibu. Kubawakan makanan untukmu, ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku terpana sebelum meloncat ke dalam gerbong. Cahaya bulan yang menerobos ke dalam gerbong membuat aku bisa melihat seorang laki-laki yang tengah menindih perempuan itu. Aku berdiri, gamang, gemetar. Kudengar lengking kereta, menggemuruh lewat, tetapi gemuruh dalam dadaku jauh lebih kuat. Desah nafas perempuan itu, juga lenguhnya yang tertahan, lebih bergema merasuki telinga. Lelaki itu terus menindih.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku teringat cerita malam paling keparat yang membuat ibu membenciku. Dan aku langsung meraung, meloncat dan menyerang dengan kalap. Laki-laki itu kaget. Ia kebingungan ketika aku berkali-kali menggigit dan mencakar tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bedebah!” Ditangkapnya tanganku, dipiting, kemudian ia lemparkan tubuhku ke dinding gerbong.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara perempuan itu terbelalak menatapku, mendengus kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu!” pekikku, mengeram menahan sakit, berharap ia segera melindungiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi ia malah meludah, memakai kembali gaunnya yang melorot, lantas memaki, “Brengsek!” Kemudian bergegas pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu” teriakku, hendak mengejar. Tapi laki-laki itu sudah mencengkal lenganku. Aku hendak menggigit, tapi kepalaku keburu dihantamnya hingga berdengung. Laki-laki itu nanar menatapku. Kucium keringatnya yang kecut, bau tuak menghembus dari hidungnya. “Ah, serigala kecil…” ia menyeringai.</p>
<p style="text-align:justify;">Telingaku tegak berdiri, merasa sesuatu bakal terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu telah menggangu kesenanganku, serigala kecil… Hehehe…, tak apalah…karena aku pun suka serigala kecil macam kamu…” Dan dengan tangkas ia meringkusku. Aku meronta, mencakar, menggigit – tapi ia begitu kuat. Tubuhku ia lipat. Ia renggut celana kolorku. Aku menjerit, melolong panjang. Aku merasakan sesuatu seperti kaktus, dilesakkan ke dalam anus…</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingat ibu. Aku akan mengingat malam ini, seperti ibu mengingat malam paling keparat dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BERHARI-HARI</strong> bokongku merasa nyeri.  Aku selalu bergidik, membayangkan kaktus tumbuh dalam anusku. Membuatku selalu merasa gatal. Aku jadi mengerti, kenapa ibu – dulu – begitu jijik dan selalu menggaruki liang selangkangnya. Setiap kali aku mengingat malam keparat itu, aku selalu tersiksa dengan bayangan ibu, yang kadang menumbuhkan kebencian pada ibu. Kenapa ibu mengusirku ke jalan? Bukankah ibu merasakan sendiri, bagaimana jalanan menyimpan banyak kengerian? Di jalanan iblis-iblis gentayangan. Muncul dari balik lorong-lorong kelam, menyergap seseorang, menyeretnya ke rimbun kegelapan. Bagaimana pun aku anak ibu. Dan tak semestinya ibu membiarkan aku begitu saja berkeliaran di jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu, ibu… Tiadakah kau tahu, betapa aku merindukanmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali aku pulang rumah, mendapati suasana yang kian murung. Kakek sudah lama mati, tersiksa rasa malu. Sedang nenek telah lumpuh, tergolek di ranjang, menunggu maut mencekik lehernya. Ibu tetap saja membuang pandang, setiap kali melihatku pulang. Ibu tak lagi memukuliki dengan sapu atau melempariku dengan batu, hanya karena tubuhku kini lebih kuat dan sanggup melahapnya sekali terkam. Tak pernah ibu bicara denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah ibu jijik pada anak ibu sendiri?” kutentang mata ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu membisu. Hanya membisu. Terus membisu.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, aku selalu kembali ke jalan, menyuruk-nyuruk malam. Aku mencari ketentraman, dengan dahaga kanak-kanak yang merindukan puting susu ibu. Kusihap puluhan susu perempuan yang kutemui di jalan-jalan. Merajuk seperti kanak-kanak yang ingin damai dalam pelukan ibu. Mendengus menghempaskan kerinduanku pada bau ibu. Gairah dan kerisauanku pada ibu, membuatku selalu ingin melolong-lolong memanggili ibu. Aku seperti makhluk terkutuk yang selalu galau dengan kebencian dan kerinduan yang sulit terdamaikan. Kuhisap susu setiap perempuan yang aku temui, agar sejenak reda gemuruh kerisauanku. Aku pemabuk yang sempoyongan mencari jalan pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masih sore, Bang… Kok udah mau pulang?” beberapa perempuan terkikik, memandangiku yang sempoyongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menyeringai, menjulurkan lidahku yang kasar berbintil-bintil merah. Dan perempuan itu tertawa senang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihat lidahnya!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu merah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu bergairah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pastilah dia jago jilmek!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilmek? Apaan tuh jilmek?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilat memek, tau! Bego amat sih lu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ha ha ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun tertawa. Menyeringai menatap mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong, Bang, sini mampir…”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku lagi bokek. Aku juga begitu capai. Aku ingin pulang. Mengendap memasuki rumah yang menyebalkan. Bahkan aku harus bersikap seperti maling untuk masuk ke rumahku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ruang tengah, kulihat ibu tertidur di sofa, mulutnya separo terbuka. Wajahnya begitu lembut tanpa kebencian. Baru kali ini aku melihat wajah ibu begitu lembut. Temaram cahaya lampu, membuat ibu tampak begitu pulas dan penuh kedamaian. Andai wajah ibu selalu begitu setiap kali melihatku. Ada  rindu yang perlahan tumbuh dalam darahku, seperti hawa panas yang menguap dari tungku. Betapa aku selama ini merindukan bisa melihat wajah ibu yang begini tentram. Tak menghadik penuh kebencian kepadaku. Aku menatap lekat, hangat. Mungkin inilah saat terbaik aku bisa berada dekat ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus kepandangi ibu. Dan kuingat wajah perempuan yang membiarkan aku menghisap dan menjilat susunya. Bayangan itu kian membuncahkan rinduku pada ibu. Bagaimana pun aku anakmu, ibu, yang berhak menghisap manis ranum puting susumu. Hidungku terasa panas, nafas tersengal, ketika kian lama aku pandangi ibu yang lelap: ibu telentang dengan kaki agak mengangkang. Bayangan betisnya yang pucat kecoklatan tampak padat, mengairahkan. Bertahun-tahun aku terbakar rindu hanya dengan membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nanar kudekati ibu, bersijengkat mengendap-endap, seperti serigala yang siap menyergap….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 1999-2003. </strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=404&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/asmarandana.jpg?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">Asmarandana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>