Arsip untuk Kategori 'Puisi'

- PADA SEBUAH SAKIT

PADA SEBUAH SAKIT

                                                      @ameelias

masih subuh, kau membatin

 

subuh yang lain

bagi yang mungkin

 

seperti terdengar gemeretih

penggorengan mendidih

dari jantungmu

 

ranjang serba putih ini

sedingin porselin

(dan wajahmu lebih pasi

dari sekerat roti)

 

kesakitan adalah

dataran asing yang kaujelajahi, sendiri Continue reading ‘- PADA SEBUAH SAKIT’

- DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA

Image

1

kau melihat kelopak bunga mengapung

di selokan rumahsakit.

“aih,” katamu,” ia bagai nyawa bayi yang dibuang,

dan menjerit.”

2

malam hari, dalam mimpimu,

kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti

wajahmu semasih bayi.

kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.

3

kau petik bunga  yang tumbuh dalam mimpimu itu,

iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.

kau dengar ada yang mengaduh,

ketika kelopak itu runtuh Continue reading ‘- DELAPAN KWATRIN KELOPAK BUNGA’

- CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU

CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU *

1. Perempuan: kata

Kusapa kamu, kekasihku, dengan kata, yang membuat dunia ada. Kata, yang akan tumbuh menjadi bermacam peristiwa.

Kusapa kamu, kekasihku, dalam sajak cinta. Di mana kata-kata menjadi doa, yang menjauhkanmu dari pedih dan duka.

Maka, sajak dan doa, akan menjaga kerisauan dan kesepianmu, yang tak pernah mampu terjangkau hatiku.

2. Laki-laki: ciuman

Kekasihku, aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.

Telah kita lewati senja demi senja yang penuh kerisauan. Senja yang muram – senja yang selalu mengingatkan pada ciuman kita yang tergesa dan gemetar.

Ciumanmu yang lembut, telah menyelematkanku. Ah, cinta, seperti juga Tuhan, kadang hanya dibutuhkan saat kita merasa kesepian. Continue reading ‘- CINTA ADALAH RIBUAN PERISTIWA DALAM SATU KEPAKAN KUPU-KUPU’

- SUARAMU TELAH MEMIKAT INGATANKU

untuk #L

suaramu telah memikat ingatanku, hari ini

kurasakan suaramu, seperti cahaya lembut, yang perlahan memeluk seluruh kesedihanku

kau tahu, aku telah lama belajar dari airmata, yang selalu memahami seseorang yang dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

akan tiba saatnya, di malam-malamku yang penuh kerisauan, suaramu akan menjelma jerit kijang yang terpanah jantungnya

ya, pada saat itu aku pun tahu: ada yang lebih tajam dari pisau waktu, yakni rindu

kesakitan, memang terasa lebih pedih dalam ingatan. mungkin itu, yang kelak kita sebut: kenangan Continue reading ‘- SUARAMU TELAH MEMIKAT INGATANKU’

- SAJAK-SAJAK KECIL KEPADA M

Sajak ini doa, tangan yang menampung luka, yang menjagamu, agar kau tak pernah merasa sendirian, dan ditinggalkan.

Mencintaimu merupakan caraku berdoa setiap hari, untuk semua kebahagiaan kita.

Aku telah belajar merasakan pedih, lewat ciuman-ciumanmu yang lembut dan menanggung duka dunia.

Kupandangi langit lembut itu, seakan berada dalam keluasan matamu; dan kutemukan sebuah dunia, yang lebih ajaib dari surga.

Kekasihku, selalu ada yang pantas kita muliakan, yang membuat kita akan terus bertahan, bahkan dalam kepedihan.

Aku punya cara sederhana mencintaimu: dengan selalu mendoakan kebaikan dan keselamatanmu…

Sesuatu, yang kausebut kenangan, telah membukakan padaku rahasia, cara mencintaimu tanpa pernah merasa kehilangan.

Kangen ini. Laut tak bertepi…

Continue reading ‘- SAJAK-SAJAK KECIL KEPADA M’

- PADA HARI ULANG TAHUNMU AKU MENDUGA-DUGA

Lama sekali saya tak menyegarkan blog ini. Setelah sekian lama asyik twiteran, akhirnya saya bisa kembali menyentuh blog ini dan mempermanisnya dengan sebuah puisi “pada hari ulang tahunmu aku menduga-duga” yang ditulis oleh kawan saya (berkat keajaiban twiter) Nugie Raditya yang berakun @radityanugie. Terimakasih Nugie, untuk puisinya. Barangkali, kita memang “harus tersesat” untuk sampai kepada kebahaagian atau kesedihan, dan rela “menyuguhkan diri pada perayaan itu” seperti dalam puisimu itu, Nugie. Atau mungkin puisi memang sebuah ihktiar sederhana untuk mempertahankan kenangan yang jauh,  atau segala sesuatu, yang “tak pernah terjangkau, oleh panjang lengan ingatan”.

Anda, bisa membaca puisi Nugie Raditya itu, selengkapnya:

Puisi Nugie Raditya

PADA HARI ULANG TAHUNMU AKU MENDUGA-DUGA

kepada Agus Noor

kukira jarak antara kita
hanya sebentar tempuh perjalanan,
tapi aku masih juga harus tersesat
untuk sampai kepadamu,
menyuguhkan diri pada perayaan itu. Continue reading ‘- PADA HARI ULANG TAHUNMU AKU MENDUGA-DUGA’

- AUBADE

AUBADE

Untuk M

 

Pagi ialah tangan yang terulur santun, ke dalam hatimu. Dibukakannya pintu kebaikan dan keselamatan, bagimu

Pagi yang lembut mengusap keningmu, seperti tangan ibu. Dihapusnya debu kecemasan yang berguguran semalam, dari mimpimu

Pagi ialah kecupan kekasih, yang membangunkan kerinduanmu. Ditumpahkannya seluruh hangat harapan, sebagai degup jantungmu

Continue reading ‘- AUBADE’

- ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI

 

Puisi Agus Noor

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI

: SDD

 

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan Continue reading ‘- ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI’

- LELUCON MENJELANG KEMATIAN

Puisi Agus Noor
LELUCON MENJELANG KEMATIAN
: Gus Dur

1/
Aku ingin mendengar leluconmu, sebelum mati. Engkau pun bercerita perihal kerbau.

Syahdan, seekor kerbau muncul di depan istana. Para penjaga heboh, dan segera melapor pada Presiden. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya penjaga. “Jangan gegabah. Kita mesti hati-hati, pada apa yang belum kita mengerti,” jawab Presiden. “Pasti saya akan ambil keputusan, tapi nanti.”

Dan kau, juga aku, pada akhinya tahu: seorang penyair pernah mengatakan, hidup hanya menunda kekalahan. Maka, bagi Presiden itu, hidup hanya menunda keputusan.

 

2/
Maut, yang berdiri di sisi ranjang pun tertawa. Bahkan, menjelang mati pun kamu masih lucu. Lalu perlahan disentuhnya, ruhmu.

“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” katamu, seperti pada bait puisi. “Tapi, bila boleh menawar, saya tak ingin mati hari ini. Sekarang 25 Desember, bukan? Hari yang ranum dan bahagia. Saya tak ingin siapa pun yang merayakan kelahiran Tuhan, berduka karna kematian saya.”

Maut terasa fana. Dalam mati pun, ada yang terasa lebih berharga.

Continue reading ‘- LELUCON MENJELANG KEMATIAN’


Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2013
S S R K J S M
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.