Arsip untuk Kategori 'Esai'

- CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN

Ini hanya sekedar “catatan kecil” yang berusaha membaca hubungan latar sosial politik dalam satu periode pertumbuhan cerpen kita (cerpen Indonesia), terutama pada kurun waktu 1980-1990an. Pada periode itu, entah kenapa, saya seperti merasakan adanya korelasi yang kuat antara cerpen-cerpen yang ditulis para pengarang Indonesia, dengan situasi zaman yang menaunginya. Paling tidak, hal itulah yang terus-menerus terasakan oleh saya, sebagai salah seorang yang juga ikut menulis cerpen pada periode itu, yang membuat saya tak bisa mengelak untuk tidak mengkaitkan sastra dengan “kekuasaan” yang membayang sebagai setting historisnya. Semacam ada hubungan yang tak bisa diabaikan begitu saja antara sejarah cerpen dan sejarah sebuah rezim, pada kurun 1980-an itu.

Cerpen dan Orde Baru

Lanjutkan membaca ‘- CERPEN INDONESIA DAN ORDE BARU: UPAYA MENGATASI WACANA PENAKLUKAN’

- Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS

Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 16 cerpen terbaik, mulai dari Kado Istimewa (Jujur Prananto) hingga Cinta di Atas Perahu Cadik (Seno Gumira Ajidarma). Dan paling mutakhir, di tahun 2009 ini, terpilih cerpen Nukila Amal, Smokol. Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra. Mulai 2005, Kompas mencoba mengubah dengan memberikan otoritas pemilihan itu kepada ”orang luar”, yakni mereka yang dianggap memiliki kredibilitas dalam sastra sebagai juri untuk melakukan pemilihan cerpen terbaik. Gambar 14

Membaca cerpen-cerpen terbaik itu, kita bisa menemukan ”benang merah” yang seolah menandai orientasi estetis dari cerpen-cerpen pilihan Kompas. Ada kecenderungan pada pilihan realisme sebagai gaya bercerita. Bahkan, Derabat dan Mata yang Indah (keduanya karya Budi Darma) yang terpilh sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan 2001, yang memiliki kecenderungan sebagai cerita yang surealis pun dituturkan dengan teknik penceritaan yang realis bila ditilik dari penggunaan dan pengolahan gaya bahasanya. Begitu pula Jejak Tanah (Danarto), cerpen terbaik 2002, memakai pola penceritaan realis meski kisah yang diusungnya adalah kisah yang berbau magis. Lanjutkan membaca ‘- Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS’

- “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK

Teater Gandrik akan mementaskan lakon Keluarga Tot di Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal 17-20 April 2009. Lakon ini kemudian akan dipentaskan pula di Yogyakarta pada tanggal 29-30 April 2009 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Konon, kota-kota lain mungkin disambanginya juga, bila memungkinkan.

keluarga-tot


…… lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan. Lebih-lebih, “kelucuan-kelucuan” dalam lakon Keluarga Tot ini memberi peluang bagi Gandrik untuk mengeksplorasi kekayaan guyon parikeno-nya, gaya sampakannya. Lanjutkan membaca ‘- “KELUARGA TOT” TEATER GANDRIK’

- PROSES KREATIF PENULISAN ‘KARTU POS DARI SURGA’

Ini semacam catatan seputar proses penulisan cerpen ‘Kartu Pos dari Surga’. Saya menulisnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang pada saya seputar cerpen yang muncul di Kompas (21 September 2008), dan kemudian masuk terpilih sebagai 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 versi Pena Kencana.

Saya menulis cerpen itu tak lebih dari dua jam. Tapi prosesnya lebih dari satu setengah tahun. Baiklah, saya akan mengisahkannya.

kartu-pos-21

Lanjutkan membaca ‘- PROSES KREATIF PENULISAN ‘KARTU POS DARI SURGA’’

- CERITA YANG MENYERAP RUPA

CERPEN dan seni rupa memperoleh ruang pertemuan kreatif yang cukup intens sejak Kompas melibatkan para perupa untuk menggarap ilustrasi cerpen yang dimuatnya. Bahkan Eddy Soetriyono, penyair yang juga pemerhati seni rupa, menegaskan betapa hal itu telah menyebarkan “virus” penciptaan di kalangan para perupa, dimana muncul kegairahan untuk merujuk karya-karya sastra sebagai sumber kreatif penafsiran dan penciptaan lukisan. Sejak mula, sebagaimana diharapkan Bre Redana, pelibatan para perupa untuk menciptakan ilustrasi cerpen memang diharapkan akan menciptakan suatu pertemuan gagasan antara penulis cerpen dengan perupa.

Maka, sejak 2002, kita melihat bagaimana para perupa telah mengeksplorasi ide dan tekhnik perupaan ke dalam ruang cerita pendek. Selama itu pula kita melihat upaya penafsiran atas teks yang dilakukan oleh perupa. Satu hal, yang kemudian dicatat oleh Bambang Bujono (dalam pengantar Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas, 2002), menandai pergerakan yang cukup progresif seputar hakekat “ilustrasi”, karena baanyak karya-karya yang dihasilkan oleh para perupa itu memang tidak sekadar berhenti menjadi ilustrasi dari teks cerita. Para perupa, lebih menempatkan cerita sebagai sumber ide kreatif penciptaan, untuk kemudian diwujudkan melalui gagasan-gagasan visual yang sering kali mengejutkan, menjauh dari teks cerita itu, karena gambar-gambar itu sekan-akan “meloncat keluar meninggalkan sastra”, tegas Bujono. Lanjutkan membaca ‘- CERITA YANG MENYERAP RUPA’

- DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA

Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?

Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu. Lanjutkan membaca ‘- DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA’

- BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN

Oleh Agus Noor

Sepak bola merupakan produk kebudayaan manusia yang paling konyol! Barangkali, itulah sebabnya Butet “Sarimin” Kartaredjasa tidak menyukainya. “Saya ndak pernah bisa memahami, bagaimana mungkin ada 22 orang mau berlarian kesana-kesana kemari saling jegal rebutan bola? Itu kan absurd. Beri saja masing-masing satu bola, pasti ndak lagi rebutan. Lagi pula, dari pada rebutan bola, kan mendingan seperti para politikus kita yang dengan gigih rebutan kursi kekuasaan…” Tentu saja, itu kelakar khas si Raja Monolog itu.

Tapi kelakar itu membuat saya jadi memahami: betapa memang ada perspektif komedis dari bola. Disamping bulat dan bundar, bola ternyata penuh banyolan juga. Ketika sepak bola dari waktu ke waktu makin industrialis dan dikembangkan pada pada tingkat yang makin menghibur dan sempurna melalui pola permainan eksplosif semacam total football atau ekspresif sebagaimana para pemain Brasil menarikan samba-bolanya, maka selalu saja ada kelucuan-kelucuan, yang membuatnya makin “manusiawi”. Tapi, tentu saja, ada tingkat-tingkat kelucuan, yang membuat sesuatu kemudian menjadi memiliki nilai, atau cuman membersitkan banyolan konyol.

Seorang kawan membawa kabar yang cukup mengagetkan: bahwa Nurdin Halid, Ketua PSSI, yang kini mendekam di penjara, terpilih menjadi ketua FIFA. Dalam sidang tahunan di Wina yang di hadiri 153 wakil dari seluruh anggota FIFA, Nurdin Halid memenangkan pemilihan jabatan ketua FIFA secara mutlak. 150 delegasi mendukungnya, hanya 2 wakil yang menolak, dan 1 abstain. Tentu kabar ini menggembirakan bagi persepakbolaan Indonesia. Tetapi, usut punya usut, seorang doktor psikologi dari Denmark akhirnya bisa menjelaskan kenapa Nurdin Halid bisa terpilih. “Ternyata para wakil delegasi dari seluruh dunia itu mendadak terjangkiti apa yang disebut sebagai ‘syndrome pengurus PSSI’. Sindrom inilah membuat mereka menjadi buta, tuli dan bisu. Persis seperti para pengurus PSSI saat ini…” Lanjutkan membaca ‘- BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN’

- AKTOR DI PANGGUNG TEATER

Oleh: Agus Noor

Sutradara bisa mati, tapi aktor tidak!

(Arifin C. Noer)

Cukup lama aktor absent dalam teater modern kita. Tradisi realisme yang tidak cukup berkembang bisa dilihat sebagai satu faktor yang menyebabkan aktor tak menemukan ‘ruang bermain’ dalam panggung teater modern kita. Pentas-pentas teater yang berbasis realisme, sebagaimana dikembangkan sejak periode ATNI, Teater Populer, Teater Lembaga sampai STB, memang secara sporadis muncul, tetapi tidak terlalu kuat nenamamkan tradisi realisme sebagai mainstream dalam teater modern kita.

Hal itu membawa konsekuensi: tak tersedianya peran dan penokohan dalam naskah lakon yang memiliki kompleksitas psikologis. Yang berkembang ialah tokoh-tokoh tipologis, kata Kuntowijoyo. Hingga seringkali kita ‘terpaksa’ meminjam tokoh-tokoh dalam lakon yang ditulis oleh Ibsen, Chekov, untuk menjadi referen permainan realisme. Ketika naskah lakon tidak menyediakan kompleksitas penokohan yang menantang untuk ditafsirkan aktor dalam satu pementasan, perlahan-lahan sosok aktor pun surut dalam panggung teater modern kita. Karena itu teater kemudian lebih tampak sebagai “representasi gagasan” ketimbang “representasi pemeranan”. Lanjutkan membaca ‘- AKTOR DI PANGGUNG TEATER’

- MANCHESTER UNITED VS TUHAN

Surat Agus Noor

Bung, kutulis ini untukmu yang demen sekali nonton bola. Pasti, saat ini , kamu sedang terhipnotis Piala Eropa. Macam saya…

Sebelum pertandingan Manchester United versus Chelsea di final Piala Champions Eropa, seperti biasa, saya nongkrong di kafe, untuk nobar, nonton bareng. Ditengah sengitnya obrolan saling mengunggulkan klub yang dijagoinya, seorang kawan dengan nada sungguh-sungguh berkata, “Bila Manchester United bertanding melawan Kesebelasan Malaikat, saya pasti menjagoi MU. Bahkan, bila MU melawan Tuhan, saya pasti juga menjagoi MU.” Saya termangu, mendengar itu.

Anda pun, barangkali, akan langsung mengatakan bahwa itu adalah perwujudan fanatisme yang akut. Sikap takabur. Karena bagaimana mungkin melawan Tuhan yang Maha Tak Terkalahkan? Tapi itu bukanlah kejumawaan kawan saya. Itu, ternyata, lebih merupakan upayanya menemukan jalan untuk memahami Tuhan. Sepak bola dan Tuhan, saya kira memang menarik untuk dibicarakan, ketika sebagian kita dengan penuh pekikan mentakbirkan namanya sembari menenteng pedang kekerasan. Lanjutkan membaca ‘- MANCHESTER UNITED VS TUHAN’

- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA

Oleh Agus Noor

Pertumbuhan sastra berada dalam tegangan antara melakukan inovasi dan melanjutkan tradisi (literer) yang sudah tersedia. Begitu pun yang terjadi dalam pertumbuhan cerpen kita, yang ditandai dengan upaya pencarian atau ‘eksperimentasi’ untuk melakukan inovasi bentuk dan cara bercerita yang sudah ada, tetapi juga memiliki watak untuk ‘mempertahankan’ sekaligus melanjutkan bentuk dan cara bercerita yang sudah tersedia. Karena itulah, pertumbuhan cerpen kita memiliki benang merah pertumbuhan yang cukup kentara, simultan, sekaligus muncul pula upaya-upaya untuk melakukan inovasi atau eksperimentasi tema, bentuk, sampai gaya bercerita. Kita bisa menengok kecenderungan itu melalui kerangka periodisasi sastra yang kita kenal (dimana kita bisa melihat kecenderungan yang terjadi dalam cerpen kita pada periode waktu tertentu) untuk mengidentifikasi inovasi atau “eksperimentasi” apa saja yang dilakukan oleh para cerpenis kita. Lanjutkan membaca ‘- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA’

Halaman Berikutnya »


 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files