Arsip untuk Kategori 'Esai'

- CERITA YANG MENYERAP RUPA

CERPEN dan seni rupa memperoleh ruang pertemuan kreatif yang cukup intens sejak Kompas melibatkan para perupa untuk menggarap ilustrasi cerpen yang dimuatnya. Bahkan Eddy Soetriyono, penyair yang juga pemerhati seni rupa, menegaskan betapa hal itu telah menyebarkan “virus” penciptaan di kalangan para perupa, dimana muncul kegairahan untuk merujuk karya-karya sastra sebagai sumber kreatif penafsiran dan penciptaan lukisan. Sejak mula, sebagaimana diharapkan Bre Redana, pelibatan para perupa untuk menciptakan ilustrasi cerpen memang diharapkan akan menciptakan suatu pertemuan gagasan antara penulis cerpen dengan perupa.

Maka, sejak 2002, kita melihat bagaimana para perupa telah mengeksplorasi ide dan tekhnik perupaan ke dalam ruang cerita pendek. Selama itu pula kita melihat upaya penafsiran atas teks yang dilakukan oleh perupa. Satu hal, yang kemudian dicatat oleh Bambang Bujono (dalam pengantar Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas, 2002), menandai pergerakan yang cukup progresif seputar hakekat “ilustrasi”, karena baanyak karya-karya yang dihasilkan oleh para perupa itu memang tidak sekadar berhenti menjadi ilustrasi dari teks cerita. Para perupa, lebih menempatkan cerita sebagai sumber ide kreatif penciptaan, untuk kemudian diwujudkan melalui gagasan-gagasan visual yang sering kali mengejutkan, menjauh dari teks cerita itu, karena gambar-gambar itu sekan-akan “meloncat keluar meninggalkan sastra”, tegas Bujono. Lanjutkan membaca ‘- CERITA YANG MENYERAP RUPA’

- DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA

Fenomena budaya menjadi bermakna bila ia memiliki setidaknya dua hal: aspek simbolik dan pragmatik. Karena itu, pencapaian kognitif atau pertumbuhan pemikiran sebuah masyarakat, bisa ditelisik dari karya-karya simbolik yang dihasilkannya. Seni, arsitektur dan juga filsafat, bisa mewakili aspek simbolik itu. Dari sinilah, masyarakat mencoba mentransformasikan aspek simbolik itu menjadi sesuatu yang kadang bersipat praksis, sehari-hari, dan punya relevansi bagi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan hidup material maupun spiritual. Aspek pragmatik peristiwa budaya, karenanya, memiliki relevansi dengan mobilitas sosial. Menjadi sesuatu yang urgen bagi kita sekarang bertanya: apakah yang kita dapat dari gegap gempita sepakbola ini?

Tak terbantah, di Republik ini, sepakbila memang populer, seperti dangdut. Kita tahu, dangdut bahkan pernah ingin diangkat sebagai musik yang mewakili identitas keindonesiaan. Di tahun 80an awal, persepakbolaan kita juga pernah dipenuhi wacana untuk menemukan permainan sepakbola yang khas Indonesia. Kita, saat itu, ingin mengadopsi gaya permainan Brasil, (bahkan sempat “menyekolahkan” Timnas kita ke negeri samba itu), dengan semacam pengharapan: kalau Brasil identik dengan samba, kenapa Timnas kita tidak bisa mengambil semangat dangdut? Cara menggocek bola pemain Brasil, bagaikan menarikan samba. Lalu kenapa para pemain kita tidak bisa memainkan bola selentur ketika menari dangdut? Begitu, kira-kira, mimpi kita, saat itu. Lanjutkan membaca ‘- DANGDUT, JAZZ, SEPAKBOLA’

- BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN

Oleh Agus Noor

Sepak bola merupakan produk kebudayaan manusia yang paling konyol! Barangkali, itulah sebabnya Butet “Sarimin” Kartaredjasa tidak menyukainya. “Saya ndak pernah bisa memahami, bagaimana mungkin ada 22 orang mau berlarian kesana-kesana kemari saling jegal rebutan bola? Itu kan absurd. Beri saja masing-masing satu bola, pasti ndak lagi rebutan. Lagi pula, dari pada rebutan bola, kan mendingan seperti para politikus kita yang dengan gigih rebutan kursi kekuasaan…” Tentu saja, itu kelakar khas si Raja Monolog itu.

Tapi kelakar itu membuat saya jadi memahami: betapa memang ada perspektif komedis dari bola. Disamping bulat dan bundar, bola ternyata penuh banyolan juga. Ketika sepak bola dari waktu ke waktu makin industrialis dan dikembangkan pada pada tingkat yang makin menghibur dan sempurna melalui pola permainan eksplosif semacam total football atau ekspresif sebagaimana para pemain Brasil menarikan samba-bolanya, maka selalu saja ada kelucuan-kelucuan, yang membuatnya makin “manusiawi”. Tapi, tentu saja, ada tingkat-tingkat kelucuan, yang membuat sesuatu kemudian menjadi memiliki nilai, atau cuman membersitkan banyolan konyol.

Seorang kawan membawa kabar yang cukup mengagetkan: bahwa Nurdin Halid, Ketua PSSI, yang kini mendekam di penjara, terpilih menjadi ketua FIFA. Dalam sidang tahunan di Wina yang di hadiri 153 wakil dari seluruh anggota FIFA, Nurdin Halid memenangkan pemilihan jabatan ketua FIFA secara mutlak. 150 delegasi mendukungnya, hanya 2 wakil yang menolak, dan 1 abstain. Tentu kabar ini menggembirakan bagi persepakbolaan Indonesia. Tetapi, usut punya usut, seorang doktor psikologi dari Denmark akhirnya bisa menjelaskan kenapa Nurdin Halid bisa terpilih. “Ternyata para wakil delegasi dari seluruh dunia itu mendadak terjangkiti apa yang disebut sebagai ‘syndrome pengurus PSSI’. Sindrom inilah membuat mereka menjadi buta, tuli dan bisu. Persis seperti para pengurus PSSI saat ini…” Lanjutkan membaca ‘- BOLA, BULAT, BUNDAR DAN BANYOLAN’

- AKTOR DI PANGGUNG TEATER

Oleh: Agus Noor

Sutradara bisa mati, tapi aktor tidak!

(Arifin C. Noer)

Cukup lama aktor absent dalam teater modern kita. Tradisi realisme yang tidak cukup berkembang bisa dilihat sebagai satu faktor yang menyebabkan aktor tak menemukan ‘ruang bermain’ dalam panggung teater modern kita. Pentas-pentas teater yang berbasis realisme, sebagaimana dikembangkan sejak periode ATNI, Teater Populer, Teater Lembaga sampai STB, memang secara sporadis muncul, tetapi tidak terlalu kuat nenamamkan tradisi realisme sebagai mainstream dalam teater modern kita.

Hal itu membawa konsekuensi: tak tersedianya peran dan penokohan dalam naskah lakon yang memiliki kompleksitas psikologis. Yang berkembang ialah tokoh-tokoh tipologis, kata Kuntowijoyo. Hingga seringkali kita ‘terpaksa’ meminjam tokoh-tokoh dalam lakon yang ditulis oleh Ibsen, Chekov, untuk menjadi referen permainan realisme. Ketika naskah lakon tidak menyediakan kompleksitas penokohan yang menantang untuk ditafsirkan aktor dalam satu pementasan, perlahan-lahan sosok aktor pun surut dalam panggung teater modern kita. Karena itu teater kemudian lebih tampak sebagai “representasi gagasan” ketimbang “representasi pemeranan”. Lanjutkan membaca ‘- AKTOR DI PANGGUNG TEATER’

- MANCHESTER UNITED VS TUHAN

Surat Agus Noor

Bung, kutulis ini untukmu yang demen sekali nonton bola. Pasti, saat ini , kamu sedang terhipnotis Piala Eropa. Macam saya…

Sebelum pertandingan Manchester United versus Chelsea di final Piala Champions Eropa, seperti biasa, saya nongkrong di kafe, untuk nobar, nonton bareng. Ditengah sengitnya obrolan saling mengunggulkan klub yang dijagoinya, seorang kawan dengan nada sungguh-sungguh berkata, “Bila Manchester United bertanding melawan Kesebelasan Malaikat, saya pasti menjagoi MU. Bahkan, bila MU melawan Tuhan, saya pasti juga menjagoi MU.” Saya termangu, mendengar itu.

Anda pun, barangkali, akan langsung mengatakan bahwa itu adalah perwujudan fanatisme yang akut. Sikap takabur. Karena bagaimana mungkin melawan Tuhan yang Maha Tak Terkalahkan? Tapi itu bukanlah kejumawaan kawan saya. Itu, ternyata, lebih merupakan upayanya menemukan jalan untuk memahami Tuhan. Sepak bola dan Tuhan, saya kira memang menarik untuk dibicarakan, ketika sebagian kita dengan penuh pekikan mentakbirkan namanya sembari menenteng pedang kekerasan. Lanjutkan membaca ‘- MANCHESTER UNITED VS TUHAN’

- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA

Oleh Agus Noor

Pertumbuhan sastra berada dalam tegangan antara melakukan inovasi dan melanjutkan tradisi (literer) yang sudah tersedia. Begitu pun yang terjadi dalam pertumbuhan cerpen kita, yang ditandai dengan upaya pencarian atau ‘eksperimentasi’ untuk melakukan inovasi bentuk dan cara bercerita yang sudah ada, tetapi juga memiliki watak untuk ‘mempertahankan’ sekaligus melanjutkan bentuk dan cara bercerita yang sudah tersedia. Karena itulah, pertumbuhan cerpen kita memiliki benang merah pertumbuhan yang cukup kentara, simultan, sekaligus muncul pula upaya-upaya untuk melakukan inovasi atau eksperimentasi tema, bentuk, sampai gaya bercerita. Kita bisa menengok kecenderungan itu melalui kerangka periodisasi sastra yang kita kenal (dimana kita bisa melihat kecenderungan yang terjadi dalam cerpen kita pada periode waktu tertentu) untuk mengidentifikasi inovasi atau “eksperimentasi” apa saja yang dilakukan oleh para cerpenis kita. Lanjutkan membaca ‘- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA’

- CERPEN “KOMPAS” PILIHAN 1970-1980

Oleh: Agus Noor

Aku tidak siap menerima perubahan-perubahan hidup yang tiba-tiba…

KUTIPAN di atas dipetik dari cerpen “Gamelan pun Telah Lama Berhenti” (Faisal Baraas), yang merupakan satu diantara 53 cerpen yang ada dalam antologi Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980: Dua Kelamin bagi Midin. Kutipan itu, seakan-akan, menjadi representasi tekstual dari cerpen-cerpen yang terhimpun dalam kumpulan itu, yang mengisyaratkan adanya “tragisme” yang terus-menerus direproduksi dalam sastra kita. Suatu “tragisme” yang merupakan kegagalan dan ketidakberdayaan “aku naratif” atau tokoh-tokoh yang hidup dalam cerita-cerita itu ketika bersikeras memahami dan menghadapi perubahan sosial yang dihadapinya. “Tragisme” itu, pun mengisyaratkan adanya kaitan kontekstual, antara teks-cerita dengan lingkungan sosial dimana cerpen-cerpen itu ditulis.

Simaklah deskripsi Oei Sien Tjwan, dalam cerpen “Serantang Kangkung” (hal. 222) ini: Udara siang di desaku biasanya tak pernah berdamai dengan siapa pun, kecuali dengan orang-orang kaya. Terasa tragis, bukan? ‘Udara’, yang mestinya tak memiliki pemihakkan kelas sosial, terasa berbeda kesejukannya bagi yang miskin dan kaya. Tapi ‘udara’ bisa juga dibaca sebagai suasana, keadaan, dimana nilai-nilai tidak sepenuhnya netral, karena ada kekuatan-kekuatan yang ikut mempengaruhi keadaan dan suasana “udara” yang dihirup itu.

Menjadi pertanyaan menarik, kenapa “tragisme” itu muncul berulang-ulang? Lanjutkan membaca ‘- CERPEN “KOMPAS” PILIHAN 1970-1980′

- KOMEDI (&) POLITIK

Oleh Agus Noor

Tayangan “komedi kritis’ yang belakangan mewarnai pertelevisian kita, mulai dari Republik BBM, News dot Com, Democrazy memperlihakan satu trend dunia komedi televisi negeri ini. Komedi mulai dilihat sebagai suatu peluang untuk menyampaikan kritik melalui parodi dan ironi (sosial politik), tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan belaka. Itulah kemudian yang membuat formulasi “komedi kritis” menjadi berbeda dengan tayangan komedi serupa Ngelaba, Show Time, atau Extravaganza. Disebut “komedi kritis” karena tayangan seperti Republik Mimpi tidak memposisikan lelucon sebagai tujuan, tetapi sebagai medium untuk melihat persoalan-persoalan aktual. Ini mengingatkan pada keyakinan komedian Judy Carter, yang percaya kelebihan komedi(an) ada pada kemampuannya melihat persoalan secara berbeda.

Dalam perkembangan dunia komedi kita, konsepsi “melihat secara berbeda” sebenarnya bukan hal yang baru. Meski masih tampak artifisial, Teguh Srimulat memaknai “yang berbeda” itu sebagai bukan hal yang biasa: “yang aneh itu yang lucu”. Sebagaimana yang kemudian terlihat dari Srimulat, kita menjumpai “hal-hal yang tidak biasa” (pembantu memarahi majikan) dan “aneh” (berupa dandanan para pemain). Hal yang jauh lebih menarik adalah guon parikeno yang dikembangkan Basiyo, dimana ia mampu menghadirkan satu persoalan dengan “memutarbalikkan logika cerita”, hingga memunculkan ironi dan sindiran yang tajam, bahkan terkadang terasa getir. Misalkan dalam lelucon yang mengisahkan seorang tukang becak dan penumpang, Basiyo bisa membalik: bahwa bukan tukang becak yang butuh penumpang, tetapi penumpanglah yang membutuhkan tukang becak. Apa yang dilakukan Basiyo, yang kemudian dikenal sebagai pola komedi Mataraman, memperoleh artikulasi sosial politik yang pas dan terasa estetis pada lakon pentas Teater Gandrik. Lanjutkan membaca ‘- KOMEDI (&) POLITIK’

- Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008″ Pena Kencana

2 hari lalu, paket berisi buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008, saya terima. Karena takcover-buku-cerpen-pk.jpg ada alamat pengirimnya, saya menduga, itu mungkin dikirim oleh Panitia Pena Kencana. Sebagaimana tradisi: barangkali itu sebagai tanda bukti penerbitan. Karna itu, saya berterimakasih, telah mendapat kiriman buku itu. Setidaknya, kini saya sudah melihat wujud buku itu secara langsung dan konkrit. Maklumlah, di belantara kehebohan seputar Anugerah Pena Kencana yang saya baca di koran dan internet, seliweran SMS, juga gosip-gosip yang murahan mau pun yang mengesankan ingin terdengar intelektual, saya belum melihat wujud buku itu secara langsung.

Jadi saya merasa tidak pada tempatnya bila saya ikut-ikutan berkomentar.

Buku itu belum saya baca seluruhnya. Bagian pengantar, terutama tulisan Budi Darma sebagai semacam Ketua Juri prosa (cerpen), saya baca pertama kali. Karena, diam-diam saya memang berkeinginan mengetahui: kira-kira kenapa 20 cerpen itu terpilih, dan dianggap terbaik di antara ratusan cerpen lainnya, yang terbit tersebar di berbagai koran se Indonesia. Tapi Budi Darma, pagi-pagi seperti sudah membatasi pengantar itu dengan mengatakan apa yang ditulisnya mesti dianggap sebagai “jendela terbuka”. Kitalah, yang disuruh menjenguk sendiri-sendiri melalui jendela terbuka itu, untuk menilai cerpen-cerpen terpilih. Jadi, tulisan Budi Darma itu memang benar-benar sebuah catatan pengantar. Bukan semacam pertanggungjawaban penjurian. Lanjutkan membaca ‘- Sedikit Tentang Buku “20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008″ Pena Kencana’

- Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS

Oleh Agus Noor

DISKUSI kecil berlangsung di Yogyakarta, memperbincangkan kumpulan ‘cerpen Kompas pilihan’ Ripin. Ada dua cerpen saya termaktub dalam buku itu, karena itulah saya lebih banyak menahan diri dalam diskusi. Perubahan proses penjurian (dari biasanya dilakukan ‘orang dalam Kompas’ kini oleh ‘orang luar Kompas’ – dalam hal ini Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto) mendapat cukup perhatian dari peserta diskusi. Cerpen-cerpen dalam Ripin, diangap memiliki ‘kecenderungan selera yang berbeda’, dibanding pilihan cerpen dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas sebelumnya.

ripin.gifTradisi pemilihan cerpen Kompas dari Kado Istimewa (1992) – Jl. “Asmaradana” (2005) memperlihatkan apa yang oleh kawan-kawan kemudian disebut: cerpen yang khas Kompas. Seperti ada orientasi ‘estetis tertentu’ (disadari atau tidak oleh Kompas), yang membuat cerpen-cerpen yang kemudian dianggap ‘baik oleh Kompas’ memiliki kekhasan yang sebenarnya menjadi bagian yang melekat dengan karakteristik Kompas sebagai sebuah harian. Mencoba memahami kekhasan cerpen Kompas, pada akhirnya juga mencoba memahami nilai-nilai jurnalistik yang dikembangkan oleh Kompas. Pada konteks ini, sebenarnya kita bisa memahami, betapa pada akhirnya cerpen yang muncul di Kompas tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan sosial Kompas sebagai medium jurnalistik. Lanjutkan membaca ‘- Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS’

Halaman Berikutnya »


 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives Files

Photo Files

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

MTK 2

More Photos