Arsip untuk Kategori 'Cerpen'



- AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR

Ini waktu yang panjang untuk bermalas-malasan. Saya memutuskan untuk santai di de Click Kafe. Sekalian berselancar gratisan dan liat-liat laman. Baru kemarin aku tiba, dan menyaksikan langit Yogyakarta yang tak terlalu ramah. Karena itu aku memerlukan sedikit gelak tawa dan omong kosong pembunuh sepi. Di de Click, saya kadang menemukan hal-hal yang lumayan mencerdaskan di antara berbagai bualan.

Seperti bualan tentang artis, yang terasa menyedihkan di telinga. Lalu seseorang berkata, ketika gosip tentang Ahmad Dhani dan Maia merambat dari bibir merah televisi. “Aku jadi inget cerpenmu, Gus…” katanya. “Kamu seperti sudah meramalkan kisah perceraian mereka…”

Biasalah, lalu kami bicara bagaimana kini orang senang sekali pingin mengintip masa depan: ramal kartu tarot, bola kristal dan garis tangan, jadi gaya hidup. “Jangan-jangan penulis seperti kamu memang pinter menerawang masa depan juga? Cerpenmu itu kan kamu tulis sebelum ribut-ribut perceraian Dhani dan Maia ini…”

Adakah seorang pengarang berkehendak menuliskan masa depan, atau sekadar ingin menuliskan imajinasinya? Saya ingin berbagi, dan biarlah Anda membaca cerpen Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos itu sendiri… Lanjutkan membaca ‘- AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR’

- TUKANG JAHIT

lukisan2.jpg

Cerpen Agus Noor

Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.

Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Lebaran, kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang para jahit itu tak muncul maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini. Lanjutkan membaca ‘- TUKANG JAHIT’

- PERMEN

Dear Agus Noor…
Bisakah saya minta sedikit penjelasan seputar ide cerpen Permen yang Anda tulis? Cerpen itu pernah dimuat di Kompas, 5 Juni 2007. Saya saat ini sedang mendapat tugas untuk menganalisis sebuah cerpen, dan saya memilih cerpen Permen itu….

Ah, masihkah perlu seorang penulis menjelaskan apa yang telah ditulisnya? Maka saya pun tak terlalu menanggapi pertanyaan yang dikirim lewat email itu. Saya takut, ketika saya memberikan “testimoni”, maka itu menjadi satu-satunya tafsir tunggal yang dianggap sahih. Kenapa kita tak baca saja cerpen itu sebagai sebuah teks, dan setiap kepala bebas mengimajinasikannya? Tentu itu akan lebih memperkaya cara kita membaca, menafsir, dan melihat dunia… Karna itu, Puan dan Tuan, sila baca saja cerpen itu… Lanjutkan membaca ‘- PERMEN’

- PAROUSIA

Selalu menyenangkan saat tulisan kita diapresiasi pembaca. Seorang penulis yang sinis sempat berkata, “Barangkali itulah kebahagiaan – satu-satunya kebahagiaan – buat penulis dinegeri ini!”. Adakah hal lain yang membahagiaan seorang penulis? Karenanya, email dari Pater Budi Kleden yang menanggapi cerpen saya “Parousia” yang muncul di Kompas, 23 Desember 2007 lalu, pun membuah saya bahagia. Ia menyebut antara lain, bahwa cerita itu “inspiratif dan jeli”, yang disusul dengan satu nada gundah menyangkut tema cerita itu, yang menggambarkan “dunia iman” di abad-abad depan. “Ya, menjadi pemikiran kita semua, apa jadinya dunia, masyarakat, juga dan terlebih dengan institusi-institusi keagamaan nanti. Namun tentu kita tidak hanya tenggelam dalam kecemasan, tetapi terus memanfaatkan semua peluang yang ada sekarang untuk melakukan seseatu yang baik”. Langkah indahnya: sesuatu yang baik. Bukankah itu, yang saat ini, sulit kita temui dalam kehidupan kita?

Cerpen “Parousia” saya tulis ketika berada di Ledalero, ketika saya menghadiri Festival Ledalero. Sebuah kota sepi namun hangat, yang inspiratif, dan membuat saya ingin kembali lagi: untuk menulis. Inilah cerpen “Parousia” itu… Lanjutkan membaca ‘- PAROUSIA’

- A Full Moon Rising over the Town

tuk-wp.jpgForce Majeure” merupakan tema Utan Kayu International Literary Biennale tahun 2007. Pada event sastra itu, para sastrawan dari pelbagai Negara bertemu dan membacakan karya-karyanya. Datang, antara lain Arup Kumar Dutta (India), Chris Keulemans (Netherlands), Cyril Wong (Singapura), Edmundo Paz Soldan (Bolivia), Feryal Ali-Gauhar (Pakistan), Gassan Zaqtan (Palestine), Hau Yu-hsiang (Taiwan) Hassan Daoud (Lebanon), Idanna Pucci (Italy), Jerome Kugan (Malaysia), Kimberly M. Blaeser (USA), Sam Wagan Watson (Australia), Sharanya Manivannan (India), Shin Joon Seun (South Korea), dll. Sementara sastrawan dari Indonesia antara lain Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Shindunata, Darmanto Jatman, Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Agus Noor dan beberapa nama lainnya.

Pada Utan Kayu International Literary Biennale itu, Agus Noor tampil membawakan repertoar pendek yang didasarkan atas cerpennya Purnama di Atas Kota. Terjemahan cerpen tersebut, A Full Moon Rising over the Town, bisa dibaca di sini:
Lanjutkan membaca ‘- A Full Moon Rising over the Town’

- ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008

Pada saya datang satu surat, dari Panitia Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen saya, ujar surat itu, terpilih sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008. Anugerah Sastra Pena Kencana, sebagaimana dinyatakan dalam surat, ialah penghargaan yang diberikan kepada cerpen-cerpen (dan juga puisi) yang telah dipublikasikan dalam satu kurun waktu lewat. Tahun 2008 merupakan kali pertama anugerah ini dilaksanakan, dan disebutkan rencananya akan diselenggarakan setiap tahun. Pada setiap tahun itulah, akan dipilih 20 cerpen (yang dianggap terbaik), dan 100 puisi (yang juga dianggap terbaik) yang terbit di media masa Indonesia. Pada penjurian kali ini, media masa yang menjadi sumber pemilihan ialah: Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Pontianak Pos, Lampung Pos, Fajar, Bali Pos.

Begitulah, para juri, yang komposisinya adalah Budi Darma (selaku ketua juri), Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, dan Sitok Srengene, memilih cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang terbit di koran-koran itu, untuk disuling menjadi 20 Cerpen Terbaik dan 100 Puisi Terbaik.

Baiklah, tiada salah bila saya kutipkan satu frase yang ada dalam surat, untuk menjelaskan kenapa Anugerah Sastra Pena Kencana ini diadakan. “Tujuan penyelenggaraan anugerah ini antara lain untuk memberikan penghargaan… sebagai pengakuan kualitas akan karya cipta sastra”. Tentu, terdengar gagah. Tak apalah. Toh itu niat mulia. Sebagai seorang penulis, sesungguhnya saya tak terlalu antusias dengan hal-hal semacam itu. Bukan penghargaan berupa hadiah yang penting, tetapi penerimaan masyarakat pembaca itulah yang selalu menumbuhkan elan kreatif seorang penulis (setidaknya bagi saya) untuk terus meyakini dunia yang dipilihnya, bahwa apa yang dikerjakannya juga merangsang energi keatif orang lain, dan karena itu tidaklah terlalu merasa sia-sia.

Satu hal yang menarik dari Anugerah Pena Kencana ini, cerpen-cerpen (dan puisi-puisi) yang terpilih itu kemudian dibukukan (oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama), lantas para pembaca diberi kesempatan untuk memilih cerpen yang mereka sukai. Mungkin mirip-mirip Indonesian Idol, gitu lah – minus kirim-kiriman SMS kali. Secara tekhnis saya tak tahu persis, tetapi setelah dibukukan dan diterbitkan, panita akan memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih mana cerpen yang mereka sukai atau mereka anggap baik. Dari 20 cerpen dalam buku itu, akan dipilih 1 cerpen yang dianggap terbaik menurut para pembaca.

Saya menganggap hal itu menarik, karena saya memang percaya pada pembaca sastra kita, sebagaimana saya nyatakan sebelumnya. Karena di haribaan pembacalah, sesungguhnya dinamika sastra kita menemukan relevansinya. Apalagi ketika dunia sastra kita minus kehadiran kritikus sastra.

Apa yang telah dilakukan oleh PT. Kharisma Pena Kencana, sebagai penaja dan penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana, tentu saja patut kita apresiasi. Apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang diupayakannya dengan melibatkan pembaca, semoga akan semakin membuat pertembuhan sastra di negeri yang belum terlalu menghargai sastra ini menjadi lebih menyegarkan.

Selain saya, saya belum tahu, siapa saja penulis yang cerpen (atau puisi)-nya masuk Anugerah Sastra Pena Kencana. Jadi, saya pun belum tahu, karya-karya yang mana saja yang termaktub dalam buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 yang akan terbit Februari 2008 ini.. Tapi saya bisa menyertakan di sini, cerpen saya, “Tentang Seseorang yang Mati Tadi Pagi” (di Koran Tempo Minggu, 8 April 2007), yang terpilih sebagai satu diantara 20 Cerpen Terbaik itu. Anda, bisa membaca selengkapnya cerpen tersebut berikut ini, dan siapa tahu Anda akan tergoda memilih cerpen ini sebagai cerpen terbaik: Lanjutkan membaca ‘- ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA: 20 CERPEN TERBAIK INDONESIA 2008′

- “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor

Seseorang datang dengan banyak pertanyaan. Kami memang sudah berjanji, sore itu. Dan percakapan membawaku pada suatu periode kepenulisanku. Aku seperti kembali meniti waktu dan imaji. Harum kopi, uapnya yang hangat, percakapan-percakapan ringan, mendadak berbaur dengan lesatan kengerian yang pernah memenuhi mimpi dan jagaku. Dulu. Pada suatu waktu yang gelisah. Untuk itulah, aku mesti mengucapkan terimakasih pada Arwi, seseorang yang mengajakku bercakap-cakap sore itu. Ia, tiba-tiba, menyodorkan buku lamaku, Memorabilia, yang saya sendiri sudah tak punya copy-nya.

Darinya pula, satu artikel lama yang ditulis oleh Prof. Dr. Bakdi Soemanto, SU., bisa kubaca kembali. Meski aku termasuk orang yang senang menyimpan kenangan, terus terang, aku bukanlah orang yang rapi menyimpan catatan, arsip atau foto-foto lama dan sejenisnya. Karenanya, aku merasa benar-benar beruntung, ketika Arwi memperlihatkan catatan yang ditulis Pak Bakdi – begitu aku biasa memanggil – Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada itu, ketika membahas kumpulan cerpen Memorabilia-ku.

Aku sering menyebut periode ini sebagai periode eksplorasi untuk menghadirkan apa yang sering kusebut sebagai “estetika kekerasan”. Atau suatu konvensi “estetika mual”, seperti dikatakan Bakdi Soemanto dalam tulisannya itu. Estetika kekerasan dan memualkan seperti itu, memang memiliki akar yang cukup lama dalam sastra kita. Sejak Rendra, bahkan Chairil Anwar sebelumnya. Seperti yang ditulis Bakdi Soemanto ini: “…hal-hal yang ‘memualkan’ sesungguhnya punya sejarah yang cukup panjang daam sastra Indonesia. Akan tetapi, pada cerpen-cerpen Agus Noor ini, barang-barang yang menjijikkan itu didudukkan sebagai foreground, bahkan sebagai pusat perhatian!”

memo2-wp.jpgItulah periode kepenulisanku yang sering ditandai dengan pergulatan tema absurdisme dan surealisme, dengan pemerian narasi yang dipenuhi imaji kekerasan dan kekejaman. Itu memang sebuah zaman yang penuh kengerian, sesuatu yang sesungguhnya terus menyelusup dalam alam bawah sadarku, dan juga alam sadarku. Seperti sore itu, ketika menikmati kopi dengan Arwi, saat menguar aroma kopi yang lembut: aku seperti mencium aroma daging manusia terbakar yang legit dan gurih. Sore menjadi lebih indah, dan ganjil. Arwi, lelaki yang andai saja aku perempuan pasti akan membuatku jatuh cinta, seperti hantu gosong yang muncul dari masa lalu. Mengingatkanku pada cerita-cerita dalam Memorabilia. Sebuah periode kepenulisanku yang dengan bagus telah dipaparkan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘- “Estetika Kekerasan”: Satu Periode Kepenulisan Agus Noor’

- Cerita yang Bergelut dengan Bahasa

Bila penyair menemukan bahasa, maka pengarang menciptakan sebuah dunia melalui bahasa. Dunia itu ialah dunia fiktif, dunia yang penuh dan utuh sebagai sebah fiksi. Maka, pengarang sesungguhnya bekerja dan bergelut dengan bahasa. Cara bercerita seorang pengarang pada akhirnya memang memperlihatkan cara pengarang itu memperlakukan bahasa dan bagaimana ia, secara “idiologis”, meyakini “bahasa cerita”-nya. Inilah yang akhirnya memperlihatkan orientasi estetis seorang pengarang. Apa yang diperlihatkan para cerpenis mutakhir Indonesia dalam memperlakukan bahasa, sesungguhnya bisa memberi tahu: ke mana sesungguhnya arah pertumbuhan cerpen kita. Bahwa cerita, pada akhirnya, mesti menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna

agus-noor-blog-2.jpg
Pikiran-pikiran itu, menandai kajian Agus Noor tentang cerpen-cerpen Indonesia paling mutakhir, yang disampaikannya pada Konggres Cerpen Indonesia di Balikpapan, Oktober 2007 lalu. Agus Noor kemudian menyusun dan menuliskan kembali pikiran-pikirannya itu, sebagaimana selengkapnya berikut ini… Lanjutkan membaca ‘- Cerita yang Bergelut dengan Bahasa’

- Esai Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”

Potongan Cerita di Kartu Pos ialah prosa Agus Noor yang berkisah perihal banyak peristiwa. Sejumlah cerita yang ditulisnya terasa menawarkan imaji yang lebih menyayat ketimbang para pendahulunya, semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya. Kebanyakan cerita yang ditulis Agus Noor lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu. Setidaknya, itulah yang rasakan oleh Alex R Nainggolan, seorang penulis yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi UNILA. Sebagai penulis Alex sudah banyak menghasilkan karya berupa cerpen, puisi, esai dan tinjauan buku yang termaktub dalam majalah sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Pembaruan, dll. Benerapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum… (Bumi Manusia, 2002); Eelegi gerimis Pagi (KSI, 2002); Grafitti Imaji (YMS, 2002); Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003); La Runduna (CWI & Menpora RI, 2005), dll. Bagaimanakah pencapaian-pencapaian kreatif Agus Noor dalam kumpulan prosanya ini, simak selengkapnya…. Lanjutkan membaca ‘- Esai Tentang “Potongan Cerita di Kartu Pos”’

“POTONGAN CERITA DI KARTU POS”

cover-3-wp.jpg

Judul Buku : Potongan Cerita di Kartu Pos
Pengarang : Agus Noor
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, September 2006
Tebal Buku : vi+173 Halaman

Kumpulan Cerpen Agus Noor, Potongan Cerita di Kartu Pos, memperlihatkan upaya tekhnis dan estetis Agus Noor sebagai seorang penulis cerpen untuk menjelajahi bermacam gaya dan kemungkinan bercerita, sekaligus eksplorasi tema. Bagaimana mengolah tema dengan menekankan gaya bercerita, sangat terasa dalam buku ini. Maka sebagai penulis cerpen pun Agus Noor seakan mengukuhkan satu sikap estetik: bahwa seorang penulis mestilah tidak berhenti dengan satu gaya atau style. Tulisan Satmoko Budi Sastosa, berikut ini, bisa menjadi rujukan untuk melihat proses kreatif Agus Noor. Tulisan ini diambil dari Jawa Pos (Minggu, 26 November 2006). Selengkapnya, silakan simak “Estetika Kefasihan Pengarang Bercerita” berikut…

Lanjutkan membaca ‘“POTONGAN CERITA DI KARTU POS”’

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »


 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files