Arsip untuk Kategori 'Cerpen'



- DUNIA SERENA

gambar3

GEMERINCING kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus pilar-pilar cahaya matahari yang menyemburat celah-celah awan, meniti lengkung pelangi. Lalu, dari langit yang gemerlapan dan penuh nyanyian, muncullah peri-peri mungil bersayap bening, membawa keranjang penuh bunga aneka rupa.

“Selamat datang, Serena… Selamat datang….” Lanjutkan membaca ‘- DUNIA SERENA’

- 6 FIKSI MINI

– Untuk Meltarisa

Sebutir Debu

Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.

Anjing

Ketika mendapati dirinya berubah jadi anjing, ia merasa itu kejadian paling membahagiakan dalam hidupnya.

Misteri Mutilasi

Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke tepi kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.

Dongeng Romeo & Juliet

Akhirnya Romeo dan Juliet menenggak racun bersama. Dan mereka pun bahagia selama-lamanya.

Wajah Seorang Pembunuh

Ia menggambar wajah. Ia merasa sangat mengenalinya. Itu wajah yang bertahun lalu membunuhnya.

Bayi

Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.

- PEMBURU

Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra HORISON, diantara sepuluh cerpen yang terbit di majalah itu sepanjang tahun 1990-2000. Roslan Jomel, kawan penulis di Malaysia, mengabarkan kalau cerpen ini baru saja dimuat di suplemen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di majalah Dewan Sastera (yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia), bulan Agustus 2008 ini.

Lanjutkan membaca ‘- PEMBURU’

- L’ABITUDINE

Cerpen Agus Noor

SERINGKALI Andini membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menentramkan.

“Sungguh, Jos! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Aku akan bangkit dengan bergairah, membuka jendela, dan seketika aku menjelma burung kolibri…” Andini bicara sembari memegangi gelas fruit punch yang sedikit gemetar dalam gengamannya, kemudian mengarahkan pandangannya pada lembah yang terjamah basah, menghindari tatapan Joesephine. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”

Josephine, yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”

“Kenapa?” Lanjutkan membaca ‘- L’ABITUDINE’

- SERENADE KUNANG-KUNANG

“Serenade Kunang-kunang”-nya asyik. Mengingatkan aku pada apa ya? Pada sesuatu yg crispy, renyah dan manis. Namun selalu pengen nambah dan nambah lagi… (SMS dari +6218026736XX)

Pesan singkat itu menyelusup ke hpku. Nomor asing yang belum ku-save. Ia, rupanya mengomentari cerpeku yang muncul di Kompas Minggu, 18 Mei 2008, lalu. Aku jadi ingat pada rencanaku membukukan beberapa cerpenku, yang disertai komentar-komentar pendek, renyah dan karib semacam itu. Seringkali, komentar-komentar kecil dan hangat memang bertandang ke emailku, juga selularku. Dan aku berfikir, kenapa komentar- komentar itu tidak aku munculkan dalam bukuku, kelak?

Tetapi, memang, aku mesti minta izin terlebih dulu, pada para pengirimnya. Maka, dengan niat semacam itu, aku pun membalas SMS yang masuk jam 12.43 pm itu (artinya, ini jam bangun tidurku, kecuali mesti terpaksa bangun pagi). Alangkah terkejut, sekaligus sumringah, ketika tahu bahwa pengirim itu tiada lain sahabat kentalku dulu. Ruangan dengan tumpukan majalah dan buku, tikar dan kasur ringkat dimana kami biasa menidurkan letih, sengkarut mimpi masa muda…., tiba-tiba berkelindan dalam kepala: menyusun kenangan yang mendadak menjadi begitu berharga karena langka. Tak mudah kutemui kembali kehangatan dan kegairahan semacam dulu dengannya, dengan karibku itu – yang baiklah, atas seizinnya, tak perlu aku ungkapkan namanya dulu. Misteri adalah waktu yang membuat kita betah menunggu. Dan kenangan-kenangan itu, serta-merta kembali berterbangan seperti kunang-kunang, ketika ia bicara di telepon. Seperti yang kutulis dalam cerpen Serenade Kunang-kunang, maka begitu mendengar suaranya aku “teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.”

Lalu SMS lain, dari nomor lain, muncul minta perhatian. “Aku br slesai bc cerpennya lo, mas..”, lalu ia cerita kalo 2 tahun lalu ia pun pernah jatuh cinta pada laki-laki, yang sudah beristri..

Duh, kunang-kunang, kenapa belakangan ini aku begitu terobsesi dengannya. Ada 4 cerita yang kini tengah aku kerjakan, yang memakai metafora kunang-kunang. Serenade Kunang-kunang ini adalah salah satunya. Lanjutkan membaca ‘- SERENADE KUNANG-KUNANG’

- TELEGRAM

Cerpen Agus Noor

SETELAH bertahun-tahun mengembara, ia pulang ke kamar kontrakannya. Di lantai ia lihat selembar telegram tergeletak, berdebu. Sepertinya telegram itu diselipkan begitu saja lewat celah bawah pintu. Dengan jengah ia raih telegram itu, menghempaskan tubuh ke kursi rotan reot, lantas menyobek dan membaca: Telah meninggal dunia dengan tenang titik. Ia mendesah. Hmm. Akhirnya mati juga.

Tanpa mandi dan ganti baju, segera ia raih kembali ranselnya, bergegas mengunci pintu. Tak hirau pandangan beberapa tetangga kamar yang memandanginya heran.

“Pergi lagi, Bang?”

Ia tak menjawab. Kenapa orang mesti peduli pada kepulangan dan kepergian? Mungkin karena setiap orang tak pernah terbebas dari bayangan kematian, sesuatu yang membuat orang-orang kemudian membayangkan tentang kepergian – pergi ke dunia lain. Dunia macam apa? Selama ini ia selalu pergi. Pergi dan pergi. Apakah ia sudah melihat dunia yang lain itu? Lanjutkan membaca ‘- TELEGRAM’

- HIKAYAT ANJING

Cerpen Agus Noor

IBU adalah anjing.

Dengarlah, ia selalu mengeram dan menggonggong. “Ambilkan kutang Ibu, anak anjing! Cepat!” Kau dengar, ia memanggilku ‘anak anjing’, selalu, sambil menyemprotkan ludahnya yang kental bacin ke mukaku. Kau pasti tahu, anak anjing dilahirkan anjing. Yeah, setidaknya aku tidak pernah dengar ada manusia beranak anjing. Jadi, kalau aku anjing, Ibu pasti juga anjing.

Pun lihatlah cara Ibu makan: kedua kakinya ngangkang di atas meja, mendengus nanar, kemudian menyorongkan mulutnya ke piring. Dalam sekejap, nasi basi itu tandas dijilat lidah merah panjang Ibu. Dan selalu, setelah itu, Ibu langsung kencing ke piring, dengan satu kaki terangkat nungging. Lantas, glek glek glek, lahap menenggak. Aku selalu terpukau oleh kesopanan itu. Sementara Ibu hanya menyeringai dengan sisa kencing menetes-netes di sela moncongnya.

Ibu memang anjing. Hanya anjing yang berkelamin dengan sembarang laki-laki. Hampir setiap malam Ibu berkelamin dengan puluhan laki-laki, berganti-ganti. Dari tampang yang kucel berjambang dan mesum, semua laki-laki yang datang malam-malam ke kamar Ibu, pastilah anjing juga. Kalau toh mereka manusia, aku yakin, pada dahulu kala — sebelum bereinkarnasi jadi manusia — para laki-laki itu mestilah hidup sebagai anjing. Anjing kawin dengan anjing, kukira memang jamak. Lanjutkan membaca ‘- HIKAYAT ANJING’

- BOUQUET

Cerpen Agus Noor

BESOK Mona ulang tahun. Otok ingin memberinya hadiah istimewa. Sesuatu yang bisa mengungkapkan betapa ia sangat mencintainya. Sudah sepuluh tahun mereka menikah, ditambah enam tahun masa pacaran, tetapi Otok selalu tak peduli pada tetek bengek perkara ulang tahun. Baik ulang tahun Mona, lebih-lebih ulang tahun dirinya. Bila diundang pesta ulang tahun, Otok bahkan mencibir: ngapain pakai pesta segala. Ia selalu tak habis pikir, kenapa orang mesti memperingati hari kelahirannya. Pakai pesta lagi. Bukahkah mestinya kita menyesali kelahiran kita di dunia yang begini celaka?! Lanjutkan membaca ‘- BOUQUET’

- KUPU-KUPU SERIBU PELURU

Cerpen Agus Noor

BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya bengkak karena dosa, dan sekujur tubuhnya bergetah nanah kena kusta! Adakah ia sundal ataukah santa?

RASANYA belum lama lewat. Selepas hujan tengah malam, sebelum sulur cahaya fajar mekar, seorang peronda terkesiap gemetar: di dekat kandang kuda samping gereja, ia melihat gadis kecil menggigil, bugil, seperti peri mungil yang usil hendak menakut-nakutinya. Segera ia tabuh kentongan yang dibawanya. Dan puluhan warga seketika terjaga, juga bapak pendeta. Setelah kepanikan mendengung bersahut-sahutan, perlahan-lahan suasana jadi tenang, dan mereka pun segera mendekati gadis kecil yang ketakutan serta kedinginan itu. Dengan lembut bapak pendeta menyelimutkan jubahnya ke tubuh gadis kecil itu, sembari berbisik perlahan, “Domba kecilku…” Ia terpesona oleh mata bening si gadis kecil.

Ketika pagi yang lembut terasa seperti hosti, warga kota pun mulai mengerti: betapa kota mereka yang tenang seakan-akan telah terbekati. Gadis kecil itu telah dikirim dari langit untuk membuat hidup mereka yang tenang menjadi lebih riang. Kemudian, ketika duduk-duduk di kedai kopi, beberapa orang mulai bercerita perihal mimpi yang mendatangi mereka malam-malam sebelumnya. Seseorang mengatakan, kalau ia bermimpi melihat gugusan bintang cemerlang menaungi kota. Seorang lagi bercerita bahwa ia bermimpi melihat sekawanan bangau bersayap cahaya terbang melintasi kota mereka. Seseorang yang lain menceritakan pijar api biru yang dilihatnya meluncur dari langit menuju atap gereja. Yang lain menambahi, betapa ia sesungguhnya sudah merasakan tanda-tanda keajaban ini sebelumnya, ketika ia melihat bunga-bunga di halaman rumahnya bermekaran begitu indah melebihi biasanya.

“Dan kau tahu…,” seseorang berkata penuh senyuman. “Aku bahkan sudah merasakan kehadirannya, ketika seluruh kudis di tubuhku tiba-tiba mengering dan mengelupas. Saat itu aku merasakan ada hembus lembut yang berkali-kali meniup-niup kulitku. Aku yakin, itulah nafas lembut bidadari kecil itu…” Wajahnya begitu cerah, seperti seseorang yang begitu percaya betapa Tuhan barusan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Kemudian seseorang yang bermulut murung langsung menimbrung, “Ya, saya juga merasa, ketika tahu genjik saya yang baru lahir berkaki lima!”

Kisah-kisah ajaib bermekaran, membuat percakapan di kedai kopi yang biasanya berlangsung datar membosankan menjadi lebih bergairah. Para pembual dan tukang cerita seperti menemukan kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya. Lanjutkan membaca ‘- KUPU-KUPU SERIBU PELURU’

- INSENSATEZ

Insensatez

Cerpen Agus Noor

MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap aroma terapi begitu meneduhkan, dan membuatku melayang. Kenapa aku malah begini gelisah? Dia bangkit meraih selendang yang terkulai di lantai, kemudian menatapku. Lekuk susu dan bentuk putingnya yang tegak, agak ganjil di antara silhuet kaki-gelas yang ramping.

Ada apa? Kau lagi sungkan bercinta?” Dia bangkit, bersijengkat mendekat. Lanjutkan membaca ‘- INSENSATEZ’

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »


 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files