<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Noor_files &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Nov 2009 16:27:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='agusnoorfiles.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4a8cd90482d104293b36c5cdcbce672e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Noor_files &#187; Cerpen</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>- Sebutir Nasi untuk Pencuri</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[
INI hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta weton-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=419&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-420" title="Sebutir Nasi untuk Pencuri" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/sebutir-nasi-untuk-pencuri.jpg?w=300&#038;h=230" alt="Sebutir Nasi untuk Pencuri" width="300" height="230" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INI</strong> hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta <em>weton</em>-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan hari baik seperti itu, ia menjadi berhati-hati ketika memutuskan kapan ia mesti mencuri. Hingga bertahun-tahun menjadi pencuri, syukur alhamdulillah, semuanya lancar-lancar dan baik-baik saja saja.<span id="more-419"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya, sambil mengeluarkan dari sakunya, kalung tali hitam berbandul tulang kelingking bayi. Inilah jimat yang diperolehnya lewat <em>laku </em>membongkar kuburan bayi<em> </em>dan menggigit hingga putus kelingking mayat bayi itu dengan giginya<em>, </em>berpuluh tahun lalu, saat ia masih muda dan memulai kariernya sebagai pencuri. Ia pakai kalung itu, melingkari leher, kemudian merapal mantra agar kegelapan menyembunyikan tubuh dan bayangannya, agar udara menyimpan semua gerak dan langkahnya. Sesaat setelah selesai merapal mantra, ia mulai merasakan seluruh inderanya menjadi begitu peka. Kulitnya bisa merasakan gesekan dingin yang tipis dan pelan. Dari sudut jalan di mana ia sembunyi di sebalik tembok, ia bisa mendenar dengkur halus dari dalam rumah yang hendak dimasukinya itu. Membuatnya tahu, ada dua orang di dalam rumah itu. Bahkan ia bisa menduga dengan yakin di kamar sebelah mana dua orang itu tidur. Ia pun segera menghitung kemungkinan: pintu atau jendela mana yang mesti ia congkel, agar leluasa masuk dan tak membuat terbangun dua orang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kenapa mendadak ia merasa ragu begini? Ia yakin telah menghitung dengan benar, ini hari baik baginya untuk mencuri. Jimat keberuntungan pun sudah ia kenakan. Namun kenapa ia masih saja tak bisa menentramnkan debar dalam hatinya yang berdenyut perlahan. Begitu pelan, tetapi bisa ia rasakan. Tak pernah ia merasakan keraguan seperti ini. Pengalamannya sebagai pencuri mengajarkan: saat-saat hendak memulai aksi memang situasi paling mendebarkan bagi seorang pencuri. Pada saat itulah, seorang pencuri yang baik akan dengan tepat memutuskan, apakah melanjutkan aksi atau segera menyelinap pergi. Keputusan yang tepat akan menentukan berhasil tidaknya seorang pencuri. Menentukan hidup mati seorang pencuri! Keraguan, sekecil apa pun, bisa menyebabkan keteledoran yang akan membuatnya ketahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka ia pun menahan langkahnya. Mencoba menenangkan diri. Mencoba mencari tahu, apa yang membuatnya menjadi agak gugup begini.  Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya itu. Rumah sederhana yang sedikit tersembunyi di pinggir perkampungan. Ia sudah mengamati sejak tiga hari lalu. Ada jendela di sisi kiri, yang terlindung pohon rambutan di sampingnya. Dari jendela itulah ia akan masuk. Ia bahkan sudah menghitung, lewat pintu mana ia akan menyelinap pergi.  Karena pencuri yang baik tak hanya memikirkan bagaimana caranya masuk, tetapi juga mesti memperhitungkan bagaimana agar bisa keluar dengan selamat. Jalan mana yang aman buat menyelinap. Di mana ia bisa sembunyi, meninggalkan barang curian, dan mengambilnya kembali nanti setelah situasi benar-benar aman. Ia sudah memikirkan semua itu – ditambah perhitungan hari baik buat mencuri dan jimat keberuntungan – tapi kenapa masih saja begini gelisah?</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak mula, sesungguhnya ia ragu ketika memilih rumah yang akan ia masuki ini. Tapi di antara rumah-rumah lainnya, rumah inilah yang menurutnya paling memungkinkan. Agak jauh dari rumah lainnya, dan ada jalan kecil yang langsung menghubungkan rumah itu dengan sungai di bagian belakang – kira-kira tujuh puluh lima meter jaraknya – yang bisa ia gunakan untuk situasi darurat bila kepergok. Letak rumah yang menguntungkan bagi pencuri seperti dirinya. Tapi justru rumah itulah yang membuatnya ragu. Sebagai pencuri, sudah ratusan rumah ia masuki, tetapi baru kali inilah ia merasa kalau dirinya benar-benar hendak mencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memang pencuri. Tapi tak pernah merasa mencuri. Karena selama ini ia hanya memilih memasuki rumah mewah milik orang-orang kaya. Itu memang prinsipnya, yang membuatnya bisa membenarkan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah.  Sebab bila ia mengambil uang atau perhiasan orang-orang kaya, itu sekadar mengambil kembali hak dan rejekinya yang telah dicuri atau dikorupsi oleh mereka. Siapa sih orang kaya yang tidak mencuri dan tidak korupsi hari ini?! Tak apa-apa kan mengambil kembali apa yang telah mereka curi? Lagi pula ia hanya meminta –  dengan diam-diam tentu saja –  sedikit saja kemewahan mereka yang melimpah. Toh mereka tak akan jatuh miskin. Anggap saja apa yang ia curi itu sebagai sedikit sedekah yang mesti disumbangkan orang-orang kaya itu buat kaum miskin seperti dirinya. Itulah sebabnya, ia tak pernah merasa mencuri ketika ia mengambil barang atau uang atau perhiasan di rumah mewah orang-orang kaya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu ia merasa leluasa menyantroni rumah-rumah mewah, mengambil barang secukupnya, kemudian melenggang dengan tenang. Kadang ia malah suka berlama-lama di dalam rumah yang dimasukinya itu. Sementara penghuni rumah ia lelapkan dengan mantra, ia bisa dengan santai mencicipi kue yang ada di kulkas, duduk-duduk menikmati sisa hidangan malam di meja makan, sembari memandangi perabot-perabot mewah yang tak mungkin ia gondol. Guci-guci keramik, televisi plasma, lukisan, jam besar setinggi lemari. Semua barang mewah yang merepotkan bila ia curi. Ia lebih suka mengambil uang atau perhiasan. Lebih praktis dibawa kabur. Bertahun-tahun menjadi pencuri ia tahu, bahwa uang dan perhiasan adalah barang yang gampang didapatkan. Entah kenapa orang-orang kaya itu suka sekali menyimpan perhiasan dan uang tunai. Barangkali mereka beranggapan, perhiasan lebih mudah disembunyikan. Dan uang lebih aman disimpan tunai dalam rumah ketimbang didepositokan di bank – yang kini tak lagi aman karena gampang dilacak bila uang itu uang hasil korupsian.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja sekarang ini situasi makin sulit. Rumah-rumah mewah – apalagi yang ada di komplek perumahan elite – tak lagi gampang ia masuki. Selain berpagar tinggi, sekarang ini banyak yang dijaga <em>security</em>. Belum lagi kamera-kamera sembunyi, anjing penjaga,  juga alarm yang tak mampu ia atasi dengan jimat keberuntungan yang ia miliki. Tiga bulan lalu ia hampir saja mati konyol. Ia yakin sudah menyirep penghuni rumah, kemudian dengan tenang meloncat pagar. Tapi mendadak alarm meraung-raung membuatnya gugup dan buru-buru kabur. Anjing-anjing yang menjaga rumah-rumah mewah itu pun tak lagi bisa ditidurkan dengan mantra. Barangkali karena anjing-anjing itu bukan anjing kampung yang hanya bisa menggonggong setiap kali mengendus pencuri. Seorang kawannya mati mengenaskan dengan usus terburai dicabik-cabik empat anjing penjaga, sementara pemilik rumah hanya diam menyaksikan. Mungkin pemilik rumah itu menganggap, begitulah cara paling baik buat menghabisi pencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia selalu merasa demam setiap kali teringat peristiwa itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah-rumah mewah bukan lagi sasaran menyenangkan bagi pencuri seperti dirinya. Jimat dan mantra yang ia miliki seperti tak ada gunanya lagi. Barangkali zaman memang telah benar-benar berubah. Pencuri seperti dirinya menjadi ketinggalan zaman. Ketika rumah-rumah mewah dan apartemen banyak berdiri di pusat kota, ia malah makin terpinggirkan. Nasibnya kini seperti rumah-rumah kumuh di pinggiran kota. Dan mau tak mau, pencuri seperti dirinya hanya bisa berkeliaran menyantroni rumah-rumah kecil di pinggiran kota itu. Karena itulah, beberapa rekannya kini berhenti jadi pencuri. Mereka memilih jadi garong. Tapi ia mencoba bertahan jadi pencuri. Karena menurutnya lebih menyenangkan jadi pencuri. Menggarong hanya butuh keberanian, begitulah alasan yang ia katakan pada teman-temannya ketika ia menolak diajak merampok, sementara mencuri membutuhkan keahlian. “Makin kamu asah keahlianmu, makin hebat kamu sebagai pencuri. Makin hebat kamu sebagai pencuri, makin canggih kamu mengambil sesuatu tanpa diketahui. Itulah sebabnya, bagi saya, mencuri itu memiliki seni tersendiri. Seni mengambil tanpa diketahui. Orang bijak mengatakan, bila kamu ingin mengalahkan orang lain, kalahkanlah tanpa membuatnya merasa kalah. Begitu juga dalam hal mencuri. Curilah tanpa orang itu menyadari kalau ia telah kamu curi. Itulah seni mencuri. Bila kamu sudah sampai tingkat ini, berarti kamu sudah menjadi pencuri sejati! Ha ha ha…” Saat itu, ia tertawa sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi itu memang yang ia yakini. Membuatnya tetap memilih jalannya sendiri sebagai pencuri. Meski kini ia makin merasa sulit mencuri di rumah-rumah orang kaya. Sudah tiga kali ia mencoba, tetapi selalu gagal. Sebenarnya bisa saja karena ia sudah makin tua. Hanya ia tak mau mengakuinya. Mungkin sudah saatnya ia pensiun. Ah, tapi sekali saja kau merasakan nikmatnya mencuri, pasti kau akan ketagihan. Seperti kecanduan. Begitulah yang selalu ia rasakan. Ia selalu ingin menikmati saat-saat mendebarkan ketika ia mencongkel jendela atau pintu, merayap di atap, memasuki rumah tanpa membangunkan seorang pun penghuni yang mungkin sedang mimpi indah, mengendap dalam gelap mengambil barang-barang secukupnya, kemudian menyelinap pergi. Bertahun-tahun ia jalani hidupnya sebagai pencuri, ia makin menikmati ketegangan dan kecemasan yang menyenangkan pada saat beraksi seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, ia pun mencoba menentramkan diri. Mengamati rumah itu sekali lagi. Rumah sederhana pertama yang ia masuki. Rumah yang tak sepantasnya ia santroni. Tapi mau apalagi. Hanya rumah seperti inilah yang kini bisa ia masuki. Meski merasa terpaksa, ia pikir rumah-rumah kecil dan sederhana seperti inilah yang kini bisa memberi rejeki bagi pencuri seperti dirinya. Saat ia berhasil mencongkel jendela rumah itu, saat itulah ia merasa telah benar-benar menjadi pencuri. Pencuri yang memang hendak mencuri, bukan hendak mengambil kembali rejekinya yang telah dicuri sebagaimana yang selama ini menjadi alasannya setiap kali mencuri. Dan itu membuatnya sedikit gugup saat mengendap memasuki rumah itu. Ia melintasi pintu kamar tidur yang sedikit terbuka. Ia melihat suami istri yang tertidur nyaman. Meski terlihat keruh oleh usia tua, wajah keduanya terasa memancarkan ketentraman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memutuskan untuk tak langsung masuk ke dalam kamar itu. Ia akan menggeledah kamar sebelahnya lebih dulu. Matanya terbiasa dalam gelap. Pendengarannya bisa mengarahkan kemana ia mesti melangkah tanpa menimbulkan suara atau menyenggol benda-benda. Dengan tetap berusaha tenang ia terus membongkar laci dan lemari, mencari apa saja yang berharga yang bisa ia curi. Setumpuk pakaian lama, tasbih yang tergantung di tembok, sajadah lapuk di atas kasur apek, sisa ikan asin di piring, puntung rokok klobot, kecoa yang mati tergencet di lipatan pintu lemari, koin mata uang lama yang dipakai buat kerokan. Ia terus menggeledah sementara perasaannya yang gelisah tak kunjung mampu ia kuasai, sampai-sampai telapak kakinya berkeringat dan membuatnya tak dapat menahan keseimbangan dengan baik. Ia terpeleset, dan begitu kaget ketika tungkainya menabrak kaki kursi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mendengar pemilik rumah terbangun. Ia mencoba membungkuk sembunyi di pojok, sambil membabar <em>aji palamuran</em>, agar pandangan orang menjadi kabur dan dirinya tak kelihatan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak…” Suara si istri membangunkan suaminya. “Ada pencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">Terdengar suara ranjang berderit ketika suami itu bangun. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka ia menyaksikan perempuan itu hendak berteriak, tetapi suaminya menyuruhnya diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sssstt…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pasti ada barang kita yang dicuri.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, memangnya kita punya barang yang pantas dicuri?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Bapak…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita tak punya apa-apa, kan? Karena itu tidak usah cemas, Bu. Bila pencuri itu menggeledah rumah ini dan tak menemukan satu pun barang yang pantas buat dicuri, pasti ia akan segera pergi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu kan namanya Bapak membiarkan dia mencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, mencuri kan kalau ada yang dicuri. Di rumah ini apa sih yang bisa dibawanya pergi? Apa ia akan mencuri gelas atau panci kita yang sudah peyot?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menggigit bibirnya, ia terus berusaha menahan nafas mendengarkan percakapan suami istri itu. Saat tadi menggeledah rumah ini, ia memang tak menemukan satu pun barang berharga yang pastas dicurinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin anaknya lagi sakit. Mungkin ia benar-benar perlu uang buat makan…” Suami itu bercakap pelan. “Saya malah sedih, Bu, karena kita tak punya apa-apa buat membantunya. Andai saja di rumah ini ada sebutir nasi, biarlah sebutir nasi itu diambilnya. Mungkin sebutir nasi itu akan membuatnya bahagia karena bisa membawa pulang sesuatu buat keluarganya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak ini lho, pencuri kok malah dikasihani…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ia pasti benar-benar kepepet, Bu. Kalau tidak kepepet, kan ya tidak mungkin dia sampai nekat mencuri di rumah orang miskin seperti kita? Bagaimana kalau sampai ketahuan ronda? Sudah ndak dapat apa-apa, bisa mati digebugi dia… Kasihan kan, Bu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menyandarkan badan ia mendengarkan suami istri itu terus bercakap-cakap. Suara mereka menjelma ribuan silet yang mengapung dalam kegelapan, menyayatkan kepedihan dalam hatinya. Ia mendengar suara batuk-batuk pelan si suami yang kemudian dengan halus mengajak istrinya untuk kembali tidur. Kesunyian rumah itu seperti mencekik. Sudah ratusan rumah ia masuki. Sudah bergitu banyak uang dan barang ia curi, tapi tak pernah ia merasa sangat menyesal karena telah menjadi pencuri seperti saat ini. Ia bersijengkat melewati pintu yang sedikit terbuka, dan tak berani memasuki kamar di mana suami istri itu telah kembali tidur tentram.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia segera bergegas pergi, tak mengambil apa pun, karena di rumah yang baru saja dimasukinya itu ia memang tak menemukan sesuatu yang pantas dicuri. Rasanya baru kali ini, sebagai pencuri ia merasa menyesal telah menjadi pencuri, justru ketika ia tak mencuri.</p>
<p align="right"><strong>Jakarta, 2007</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=419&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/09/sebutir-nasi-untuk-pencuri.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sebutir Nasi untuk Pencuri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 19:02:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[


BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…
Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=412&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong><img class="size-full wp-image-413 aligncenter" title="gambar" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/gambar.jpg?w=222&#038;h=284" alt="gambar" width="222" height="284" /></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BETAPA</strong> menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya.<span id="more-412"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Segera ia mandi, keramas. Menyisir rambut dan memotong kuku, sembari bersiul-siul kecil. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih, rapi, dan wangi. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Setiap menjelang Ramadhan, ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat Ramadhan kemarin, ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi, ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Merapikan pakaian. Menyemprotkan pewangi ruangan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia berdiri di ambang pintu, memandang langit siang yang terang, sembari terus bersiul- siul ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BEBERAPA</strong> tetangga—yang tengah duduk menggerombol – memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu, dan segera saling bisik. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti, mengerut menatap laki-laki itu. Langsung, seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Berhari-hari. Kadang berbulan-bulan. Bila pulang, ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Sesekali, beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bergegas. Memakai jaket kulit hitam. Menenteng koper besar, seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Entahlah. Sebab, banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. Lihat saja tampang seramnya. Tato di lengan kanan. Parut luka seputar pundak, seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan, seperti mengawasi. Mungkin intel. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia seperti tak mau dikenali. Menutup diri. Misterius. Aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu, memandang entah apa. Rutin yang ganjil. Menjelang Ramadhan ia muncul. Beres-beres kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering, ia terlihat merokok siang hari. Tiap sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama, tapi pergi ke kuburan. Ini yang membuat kian penasaran. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki- laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita, betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput, menyapu, atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Dan orang-orang merinding mendengarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Para tetangga jadi gelisah. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu…</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>MAYAT-MAYAT</strong> yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka, mereka mendengis bengis. Mengepungnya. Kulit wajah mayat- mayat itu meleleh, seperti lilin panas mencair. Ia mengerang, mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Wajah- wajah yang membuatnya mengerang panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Mati dengan tenang, di bulan Ramadhan. Meski ia tahu, sebagai seorang pembunuh bayaran, ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mungkin, seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar, memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia pun suka menikmati saat- saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan…</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia selalu ingin berada sangat dekat, setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Umur tujuh tahun, diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi, membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kamu pantas jadi tentara, kata teman-temannya. Dan ia membusung bangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ia suka membayangkan diri jadi tentara. Di kampungnya, orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir, saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Orang- orang mengerubung, tak ada yang berani menghentikan. Alangkah hebatnya jadi tentara, bisa memukuli orang sepuasnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang, tertib, dan disiplin. Dan itu disukai komandannya.</p>
<p style="text-align:justify;">”Kamu punya bakat bagus. Percuma kalo cuma jadi tentara. Paling mentok jadi sersan,” kata komandannya. Lalu sepulang perang, ia diberinya pekerjaan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat, karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membunuh seorang pengusaha. Menghabisi seorang wartawan. Seorang hakim. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Benar kata komandannya. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sumpek bau comberan. Tapi membuatnya merasa aman. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia akan tinggal di rumahnya, nanti bila sudah berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita sakit jiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SAMPAI</strong> satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. Rahang terkesan pipih, membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Sorot matanya tenang. Bicaranya santun. Ia heran, kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Tugasnya hanya membunuh. Tanpa jejak. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan…</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Sepotong- sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia tersenyum. Mencibir. Getir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Semua sudah sesuai rencana. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan, lalu mendorong mobil ke jurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang, ”Aku tahu, kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Karena itulah, aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku, tak perlu repot-repot membunuh yang lain…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak tahu, kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya!</p>
<p style="text-align:justify;">”Mari kita turun,” ajak Kiai Karnawi. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Sayang kan, itu mobil mahal. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.”</p>
<p style="text-align:justify;">Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi tolong, yang pelan. Jangan sampai aku kesakitan ya, hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Gemetar tak yakin. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat, ia hanya berdiri gamang.</p>
<p style="text-align:justify;">”Sekarang, lakukan tugasmu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Kalau boleh memilih, aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…,” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia merasa senja meremang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. Kemeresek daun jati jatuh. Pelan. Lengking gagak di kejauhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya, dan kini memburu kematiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mulai diusik gelisah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia pun kemudian selalu berharap, diperkenankan mati di bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semoga saja, ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 2005</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen saya, Potongan <em>Cerita di Kartu Pos</em>, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS.  Saya baru saja mendapat pemberitahuan, kalau buku kumpulan tersebut mendapatkan Anugerah Sastra tahun 2009, dari Pusat Bahasa Jakarta.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=412&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/gambar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- ASMARADANA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 04:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[

INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=404&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-403 aligncenter" title="Asmarandana" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/asmarandana.jpg?w=286&#038;h=357" alt="Asmarandana" width="286" height="357" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>INILAH</strong> malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya.<span id="more-404"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu, ibu begitu jijik dengan tubuhnya sendiri. Sepanjang hari ibu selalu mengeram marah menggaruki selangkangnya hingga berdarah-darah. Sepanjang hari ibu melolong dan menjerit mencakari seluruh tubuhnya yang ia rasakan ditumbuhi bulu-bulu hitam gatal menjijikkan. Berkali-kali ibu menenggak bermacam pestisida, agar serigala dalam rahimnya segera binasa. Tetapi perut ibu malah kian tambah membengkak. Dan ibu terus-menerus menjerit dan berteriak mengutuki malam paling keparat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu malam, perut ibu seperti meledak, ketika petir berlecutan, dan ia hanya terkapar menyaksikan jabang bayi itu merangkak keluar dari rahimnya. Bayi itu melolong keras, seakan hendak mengatasi suara yang menggemuruh di puncak malam. Masih pucat, lemas, telinga berdengung dan pandangan berkunang-kunang, ibu memandangi jabang bayi itu, kemudian melenguh, “Benar, aku melahirkan serigala…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu melihat bayi itu perlahan-lahan merangkak mencari gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>AKULAH</strong> serigala itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil bersandar di dinding, kupandangi bayangan di cermin: makhluk bermata merah, dengan garis dan bentuk mulut menyerupai moncong, dengan lidah berjelijih merah terjulur. Aku bisa mengerti, kenapa seluruh keluarga begitu membenciku. Kakek segera melemparkan bakiak yang dipakainya begitu melihat aku mulai merangkak mendekatinya, “Pergi! Pergi! Menjijikkan!” Dan aku hanya mengeram, mengkerut, memandangi nenek yang duduk mematung di kursi goyang. Begitu melihatku, nenek segera membuang pandang sembari merutuk, “Kenapa aku punya keturunan begini menyedihkan…” Suara itu seakan keluar dari dadanya yang keropos oleh kedukaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat-saat seperti itu, yang kuinginkan adalah belaian ibu. Aku ingin meringkuk di pangkuan ibu. Tapi setiap kali aku dekati, ibu langsung menjeri-jerit. Ibu akan memukul kepalaku setiap kali aku merengek minta susu. “Tak akan pernah kubiarkan susuku dihisap serigala busuk macam kamu,” ibu mengejang, nanar menatapku. “Minumlah air comberan. Pergilah kau ke jalan, karena dari sana kamu berasal!”</p>
<p style="text-align:justify;">Sembab menahan isak, aku segera menyeret kesedihan. Dengan perasaan asing dan sunyi, aku pun segera berkeliaran di jalan. Aku menyukai rimbun belukar, gudang-gudang tua, gerbong kereta, gorong-gorong. Itulah tempat-tempat yang membuatku bisa sedikit merasa nyaman. Hingga mataku terbiasa dengan gelap. Dalam gelap, aku bisa melihat sayap kecoa yang tipis kecoklatan ketika binatang ia bekeredap merayap keluar selokan. Aku bisa melihat kaki-kaki tikus yang penuh kotoran merah kehitaman, bulu-bulunya yang kelabu, juga cericitnya yang menghilang ke dalam lubang. Dalam kegelapam aku menjadi peka terhadap suara-suara: desir angin, dengung serangga, batang-batang rumput yang bergesekan, juga desis ular di belukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat-saat seperti itulah, aku merasa begitu nyaman. Tidak seperti di rumah yang penuh makian. Aku bisa mendekam bermalam-malam, menikmati hasil buruan, sambil membayangkan wajah ibu yang membenciku. Kegelapan ini seakan-akan selimut yang membuatku selalu merasa hangat, hingga aku bisa membayangkan wajah ibu dengan penuh kerinduan. Aku suka raut ibu yang pucat. Bibirnya yang selalu gemetar. Aku merindukan puting susunya untuk kuhisap dan kujilat. Ibu, tidakkah kamu rindu menyusui anakmu? Kemudian aku mulai menyusun bayangan ibu. Aku membayangkan lengannya yang terkulai. Aku membayangkan pinggangnya yan mengkerut. Aku membayangkan rambutnya yang kelabu, telinganya yang meruncing dan gigi-giginya yang bertaring. Bila aku semakin rindu pada ibu, aku pun segera keluyuran ke tempat pembuangan sampah, memunguti plastik-plastik dan kaleng susu, remukan kardus dan kawat berkarat. Kususun kaleng-kaleng susu itu menjadi patung ibu. Kumahkotai rambutnya dengan plastik dan kertas. Kutandai puting susunya dengan arang. Itulah saat-saat yang membuatku bisa merasa nyaman dalam bayangan ibu. Kupeluk dan kubawa patung ibu dari kaleng-kaleng susu itu ke tempat persembunyianku. Dalam gelap kami jadi akrab. Ibu yang tersenyum kepadaku, memeluk dan mulai menjilati bulu-buluku. Lalu aku pun menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuh ibu. Aku mulai menyurukkan moncongku ke ketiak ibu. Dan ibu menggelinjang senang ketika aku mulai membalas menjilatinya. Kami saling gosok dan saling jilat berbagi hangat. Hingga aku bisa merasakan kehadiran ibu yang mendekap semua kerisauanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara seperti itulah aku mencintai ibu, dan perlahan-lahan mulai memahami ibu. Sungguh ibu, aku mencintaimu, merindukanmu. Tidakkah engkau bangga punya anak yang begitu mencintaimu seperti aku?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>KADANG-KADANG</strong>, bila aku sembunyi dalam gerbong kereta, aku suka membuka celana kolorku, lalu bergerak merangkak sambil menggoyang-goyangkan pinggul, membayangkan ada ekor yang pelan-pelan tumbuh memanjang di sela pantatku. Ekor itu lembut, dengan bulu-bulu surai kemerahan, menjuntai bergoyang-goyang setiap kali aku melenggang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku selalu kecewa, karena tak juga tumbuh ekor di sela pantatku. Yang tumbuh malah bulu-bulu halus di seputar kelaminku. Membuatku terkikik, setiap kali aku merasa geli ketika memain-mainkan kelaminku. Juga merasa lucu, membayangkan ibu akan terpekik senang menyaksikan bulu-bulu lembut di seputar kelaminku itu. Ya, kubayangkan: ibu pasti akan begitu girang menyaksikan serigala kecilnya kini sudah mulai dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, sambil bernyanyi-nyanyi riang, aku segera berlari pulang. Sudah begitu lama aku tak pulang, aku berharap ibu mulai merindukanku, seperti selama ini aku merindukan ibu. Rumah sepi. Segera aku berteriak-teriak, “Ibu, ibu…, ini aku pulang!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kulihat ibu sudah berdiri di muka pintu. Lihatlah, ia melotot, tapi siap menyambutku. Maka segera kepelorotkan celana, dengan bangga kupamerkan kelaminku pada ibu. “Lihatlah ibu…, kelaminku mulai tumbuh bulu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Serigala busuk! Minggat kamu!!” Ibu melemparkan sapu ke arahku. “Cepat minggat, bangsat!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kupandangi ibu. Masih kutunjukan kelaminku pada ibu. Dan ibu segera melempariku dengan batu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>DAN</strong> aku kembali sembunyi dalam kegelapan. Kupandangi patung kaleng susuku, dan ia tersenyum dengan wajah ibu yang meneduhkanku. Aku percaya ibu mencintaiku. Ibu hanya tak tahu bagaimana meski bersikap kepadaku. Bagaimana pun aku anakku, meski aku sering mendengar gunjingan tetangga tentang kelahiranku. Tentang malam keparat itu. Aku pasti akan membalaskan dendammu, ibu. Bila aku sudah besar, dan cakar serta taringkku kian kuat dan runcing, pasti, pasti, akan kucabik-cabik mereka yang menyakitimu, ibu!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tumbuh dalam kelam, dalam bayang-bayang yang kian panjang. Aku menghabiskan malam demi malam dalam gudang, bermain-main dengan bayang-bayang yang bergerak-gerak di tembok. Permainan bayang-bayang itu membuatku merasa mempunyai seorang kawan bermain yang mengasyikkan. Setiap malam aku dan bayang-bayang itu selalu bermain-main, meloncat dan berkejaran. Kadang kami saling terkam, saling mengeram. Di antara semua permainan bayang-bayang, aku paling suka permainan seperti ini: aku membuka kolor, berjalan melenggang berkitaran menyaksikan bayang-bayangku yang tampak ramping dengan kelamin menyerupai ekor yang bergoyang-goyang. Aku menyukai permainan itu, karena aku bisa membayangkan kelamin itu perlahan-lahan memanjang, seperti ekor yang tumbuh di bagian depan. Hampir tiap malam aku bermain-main seperti itu. Menarik-narik ujung kelaminku agar cepat memanjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, suatu malam, saat aku bermain dengan bayang-bayang, kudengar tawa cekikik dari arah pintu gudang, “Ckckckck…” Lalu kulihat seorang perempuan, pucat tirus, tersenyum memandangku, merasa lucu, seakan-akan ia tengah menonton pertunjukan orang cebol di pasar malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku beringsut, mengeram meraih kolor.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan takut, serigala kecil yang manis…” Ia melangkah mendekat, kedua tangannya terentang, mengundang. Sejenak, aku hanya berdiri gamang. Aku sering melihat perempuan ini, berkeliaran di antara gerbong-gerbong kereta. Aku sering melihatnya berkelebat dalam gelap.  “Sini, manis, kuajari bagaimana menjadi serigala jantan.” Tangannya menyentuh pundakku, dan saat itu, aku seperti melihat kelebat bayangan ibu yang muncul bagai hantu. Aku memandanginya. Ia mengusap kepalaku. Dan aku, untuk pertama kali, merasakan usapan ibu. “Mari…” katanya, sambil menarik tubuhku, yang masih menggigil kaget dan tak menyangka akan merasakan hangat belaian seorang ibu. Aku gugup, juga tak bisa menyembunyikan malu. Apalagi ketika ia mulai menyentuh kelaminku. Ia remas kantung kelaminku, begitu lembut. Kemudian aku dibopongnya. Sambil terus terkikik, ia membaringkan aku di atas tumpukan peti. Ia terus meremas dan memain-mainkan kelaminku hingga mengeras panas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu serigala kecil paling lucu. Kamu bagus buat jamu… Tenanglah, akan kuhisap kemudaanmu…” Dan ia mulai menjulurkan lidah ke ujung kelaminku. Aku terperangah. Aku mendesah. Dan perempuan itu dengan rakus melumat kelamin kecilku, seperti melahap pisang sekali telan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat otot-ototku meregang, melayang, saat itulah, aku aku membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SEJAK</strong> itu, aku tak lagi hanya bermain-main dengan bayang-bayang. Karena aku jadi lebih sering bermain-main dengan perempuan itu. Ia menjadi ibu yang selama ini aku rindukan. Ia cekikikan senang setiap kali aku menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuhnya. Ia bisa merasakan gairah rinduku pada ibu. Aku senang memandangi matanya yang kelabu. Aku merasa tentram bila ia dekap.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu benar-benar manja…” katanya, sambil mengusap rambutku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku haus ibu…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak menghardikku, seperti ibu dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu pingin <em>mimik cucu</em>?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ia meraih kepalaku, menyurukkan kepalaku ke susunya yang kendur, dan membiarkan aku menjilat dan menghisap puting susu itu. Baunya apak dan sengak, tapi aku merasa enak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bila ia terlelap, tengah malam aku sering terbangun, memandanginya dengan sendu. Ibu. Ibu. Betapa aku mencintaimu! Kemudian kuluapkan rinduku. Aku mulai menjilati tubuhnya, hingga ia menggeliat bangun. Ia tersenyum senang ketika melihat aku tengah menjilati tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu memang serigala yang pintar…” suaranya terdengar gemetar. Dan aku terus menjilati tubuhnya. Seperti menjilati harum kebahagiaanku. Ketika ia menyadari aku suka menjilati tubuhnya, ia pun selalu mengoleskan mentega ke selangkangnya. “Jilatlah, bila kau suka…”</p>
<p style="text-align:justify;">Bau langur dan gurih itu membuat lidahku tak bosan-bosan menjilati selangkangnya. Sementara ia hanya bersandar, mengelus-elus tengkukku dengan lembut, sambil sesekali menggumamkan tembang di antara erang yang mengambang. Itulah malam-malam paling damai, setelah segalanya usai, dan aku akan tertidur lelap dalam pelukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BAYANG-BAYANG</strong> ibu tak lagi menakutkanku. Aku seperti menemukan cara untuk bedamai dengan bayangan ibu, yang masih saja selalu mengusirku. Hanya sesekali aku pulang ke rumah, itu pun mengendap-endap tengah malam. Biasanya karena aku hendak mencuri sisa makanan. Akan aku embat sisa makanan di lemari dan meja, aku bungkus bergegas, kemudian kembali kabur. Aku akan menuju gerbong kereta, di mana perempuan itu menunggu. Setengah melompat aku menjejak bantalan rel kereta, riang bercanda dengan bayang-bayang tubuhku yang memanjang meliuk-liuk mendahului langkahku. Aku berlari, berkejaran dengan bayang-bayangku: siapa paling dulu ketemu ibu! Aku segera ketemu perempuan itu. Aku segera ketemu ibu. Kubawakan makanan untukmu, ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku terpana sebelum meloncat ke dalam gerbong. Cahaya bulan yang menerobos ke dalam gerbong membuat aku bisa melihat seorang laki-laki yang tengah menindih perempuan itu. Aku berdiri, gamang, gemetar. Kudengar lengking kereta, menggemuruh lewat, tetapi gemuruh dalam dadaku jauh lebih kuat. Desah nafas perempuan itu, juga lenguhnya yang tertahan, lebih bergema merasuki telinga. Lelaki itu terus menindih.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku teringat cerita malam paling keparat yang membuat ibu membenciku. Dan aku langsung meraung, meloncat dan menyerang dengan kalap. Laki-laki itu kaget. Ia kebingungan ketika aku berkali-kali menggigit dan mencakar tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bedebah!” Ditangkapnya tanganku, dipiting, kemudian ia lemparkan tubuhku ke dinding gerbong.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara perempuan itu terbelalak menatapku, mendengus kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu!” pekikku, mengeram menahan sakit, berharap ia segera melindungiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi ia malah meludah, memakai kembali gaunnya yang melorot, lantas memaki, “Brengsek!” Kemudian bergegas pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu” teriakku, hendak mengejar. Tapi laki-laki itu sudah mencengkal lenganku. Aku hendak menggigit, tapi kepalaku keburu dihantamnya hingga berdengung. Laki-laki itu nanar menatapku. Kucium keringatnya yang kecut, bau tuak menghembus dari hidungnya. “Ah, serigala kecil…” ia menyeringai.</p>
<p style="text-align:justify;">Telingaku tegak berdiri, merasa sesuatu bakal terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu telah menggangu kesenanganku, serigala kecil… Hehehe…, tak apalah…karena aku pun suka serigala kecil macam kamu…” Dan dengan tangkas ia meringkusku. Aku meronta, mencakar, menggigit – tapi ia begitu kuat. Tubuhku ia lipat. Ia renggut celana kolorku. Aku menjerit, melolong panjang. Aku merasakan sesuatu seperti kaktus, dilesakkan ke dalam anus…</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingat ibu. Aku akan mengingat malam ini, seperti ibu mengingat malam paling keparat dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BERHARI-HARI</strong> bokongku merasa nyeri.  Aku selalu bergidik, membayangkan kaktus tumbuh dalam anusku. Membuatku selalu merasa gatal. Aku jadi mengerti, kenapa ibu – dulu – begitu jijik dan selalu menggaruki liang selangkangnya. Setiap kali aku mengingat malam keparat itu, aku selalu tersiksa dengan bayangan ibu, yang kadang menumbuhkan kebencian pada ibu. Kenapa ibu mengusirku ke jalan? Bukankah ibu merasakan sendiri, bagaimana jalanan menyimpan banyak kengerian? Di jalanan iblis-iblis gentayangan. Muncul dari balik lorong-lorong kelam, menyergap seseorang, menyeretnya ke rimbun kegelapan. Bagaimana pun aku anak ibu. Dan tak semestinya ibu membiarkan aku begitu saja berkeliaran di jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu, ibu… Tiadakah kau tahu, betapa aku merindukanmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali aku pulang rumah, mendapati suasana yang kian murung. Kakek sudah lama mati, tersiksa rasa malu. Sedang nenek telah lumpuh, tergolek di ranjang, menunggu maut mencekik lehernya. Ibu tetap saja membuang pandang, setiap kali melihatku pulang. Ibu tak lagi memukuliki dengan sapu atau melempariku dengan batu, hanya karena tubuhku kini lebih kuat dan sanggup melahapnya sekali terkam. Tak pernah ibu bicara denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah ibu jijik pada anak ibu sendiri?” kutentang mata ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu membisu. Hanya membisu. Terus membisu.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, aku selalu kembali ke jalan, menyuruk-nyuruk malam. Aku mencari ketentraman, dengan dahaga kanak-kanak yang merindukan puting susu ibu. Kusihap puluhan susu perempuan yang kutemui di jalan-jalan. Merajuk seperti kanak-kanak yang ingin damai dalam pelukan ibu. Mendengus menghempaskan kerinduanku pada bau ibu. Gairah dan kerisauanku pada ibu, membuatku selalu ingin melolong-lolong memanggili ibu. Aku seperti makhluk terkutuk yang selalu galau dengan kebencian dan kerinduan yang sulit terdamaikan. Kuhisap susu setiap perempuan yang aku temui, agar sejenak reda gemuruh kerisauanku. Aku pemabuk yang sempoyongan mencari jalan pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masih sore, Bang… Kok udah mau pulang?” beberapa perempuan terkikik, memandangiku yang sempoyongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menyeringai, menjulurkan lidahku yang kasar berbintil-bintil merah. Dan perempuan itu tertawa senang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihat lidahnya!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu merah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu bergairah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pastilah dia jago jilmek!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilmek? Apaan tuh jilmek?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilat memek, tau! Bego amat sih lu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ha ha ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun tertawa. Menyeringai menatap mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong, Bang, sini mampir…”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku lagi bokek. Aku juga begitu capai. Aku ingin pulang. Mengendap memasuki rumah yang menyebalkan. Bahkan aku harus bersikap seperti maling untuk masuk ke rumahku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ruang tengah, kulihat ibu tertidur di sofa, mulutnya separo terbuka. Wajahnya begitu lembut tanpa kebencian. Baru kali ini aku melihat wajah ibu begitu lembut. Temaram cahaya lampu, membuat ibu tampak begitu pulas dan penuh kedamaian. Andai wajah ibu selalu begitu setiap kali melihatku. Ada  rindu yang perlahan tumbuh dalam darahku, seperti hawa panas yang menguap dari tungku. Betapa aku selama ini merindukan bisa melihat wajah ibu yang begini tentram. Tak menghadik penuh kebencian kepadaku. Aku menatap lekat, hangat. Mungkin inilah saat terbaik aku bisa berada dekat ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus kepandangi ibu. Dan kuingat wajah perempuan yang membiarkan aku menghisap dan menjilat susunya. Bayangan itu kian membuncahkan rinduku pada ibu. Bagaimana pun aku anakmu, ibu, yang berhak menghisap manis ranum puting susumu. Hidungku terasa panas, nafas tersengal, ketika kian lama aku pandangi ibu yang lelap: ibu telentang dengan kaki agak mengangkang. Bayangan betisnya yang pucat kecoklatan tampak padat, mengairahkan. Bertahun-tahun aku terbakar rindu hanya dengan membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nanar kudekati ibu, bersijengkat mengendap-endap, seperti serigala yang siap menyergap….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 1999-2003. </strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=404&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/08/asmarandana.jpg?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">Asmarandana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- RENDEZVOUS</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/07/26/rendezvous/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/07/26/rendezvous/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 06:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Indonesia kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[

SUATU malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu.
Aku terapung terseret arus kesunyian cahaya yang menggenangi jalanan kota. Seperti bersampan, mobil meluncur pelan dan tenang. Kulihat malam menyepuhkan kelam, dan aku menikmatinya sebagaimana kelelawar terpesona pada kegelapan yang gaib. Begitulah, seperti biasanya, aku keluar rumah dengan gairah yang meruah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=396&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-397 aligncenter" title="rendevaouz" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/07/rendevaouz.jpg?w=300&#038;h=234" alt="rendevaouz" width="300" height="234" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SUATU</strong> malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terapung terseret arus kesunyian cahaya yang menggenangi jalanan kota. Seperti bersampan, mobil meluncur pelan dan tenang. Kulihat malam menyepuhkan kelam, dan aku menikmatinya sebagaimana kelelawar terpesona pada kegelapan yang gaib. Begitulah, seperti biasanya, aku keluar rumah dengan gairah yang meruah, untuk menikmati gemerlap cahaya yang megah. Masih bisa kucium hangat senja menguap di kaca-kaca gedung-gedung yang berubah gemerlap, dan kusaksikan kota yang perlahan merekah dipulas gairah aneka warna cahaya. Aku meluncur pelan, dan kurasakan kesunyian perlahan-lahan mulai menghisap bias cahaya yang berpendaran, hingga suasana terasa keramat. Kota seperti penderita insomnia yang pucat dan mulai sekarat.<span id="more-396"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Memang, belakangan ini, kota terasa aneh. Ada ketakutan mengeram di jantungnya yang penuh baksil.  Kecemasan berhembus bersama angin busuk dari utara. Sesekali, seperti terdengar erang panjang, mengembang dan menggenang sepanjang jalan yang berkilatan karena sisa hujan yang belum terhapuskan. Hanya kesunyian yang tampak berjaga-jaga di tiap perempatan jalan. Hanya satu dua kendaraan sesekali melintas, dan pejalan kaki yang terlihat bergegas. Sisa-sisa kerusuhan yang menghanguskan kota memang masih menyebarkan hawa panas, juga cemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kukira itulah yang membuat tak banyak orang berkeliaran di jalan. Apalagi ketika banyak tempat hiburan malam berkali-kali diserbu gerombolan orang bertopeng dan berpedang. Berbondong-bondong mereka datang, berteriak-teriak penuh hujatan, memecahi kaca, menghancurkan kursi dan meja, dengan sumpah serapah mengutuki siapa pun yang dilabraknya sebagai para pendosa… “Enyahlah kalian ke neraka!!” teriak mereka berang, sambil terus menyerang. <em>Ah</em>, <em>seandainya neraka memang benar ada, betapa aku ingin sesekali pakansi ke sana</em>…</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah, kukira, yang membuat Wawan, Anang, Eko, Agung – kawan-kawan malamku – menolak  ketika aku menelpon mereka, mengajak menghabiskan malam seperti biasa. Bagai hantu-hantu yang terkurung di rumah tua penuh kutukan, mereka memilih mendekam dalam kamar, meski resah disesah gelisah. “<em>Yaah</em>, sesekali jadi suami yang baik <em>lah</em>…” desah Wawan ketika kutelepon. Aku pura-pura batuk. <em>Eghm</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi suami yang baik? Aku tahu: itu artinya suami yang menghabiskan malam hanya di tempat tidur bersama istri. Baiklah, baiklah. Selamat jadi suami-suami munafik! Ah, tetapi, barangkali itulah enaknya punya istri; ada kawan pengusir sepi. Sementara aku sendiri dicekam sunyi seperti ini. Sendiri meluncur hanyut terseret alun sungai cahaya yang gemerlapan, tetapi menderaskan kehampaan. O, hati yang tak mau berbagi, mampus kau dikoyak-koyak sepi! <a href="#_ftn1">1</a></p>
<p style="text-align:justify;">Aku meluncur dan mengapung, terus berpusaran timbul tenggelam dalam riam kehampaan sembari memandangi gedung-gedung yang tampak berkilauan terperciki tempias cahaya yang bergemericikaan bagai hujan. Kusaksikan betapa gedung-gedung cahaya itu bagai balok-balok es berkilatan yang perlahan-lahan mulai mencair  menggenangi jalanan kota yang menjelma menjadi sungai cahaya yang mengalir, terus mengalir, seperti air.<a href="#_ftn2">2</a> Dan aku hanyut meluncur entah ke mana seumpama pengembara dengan sampan melintasi lautan kesunyian yang tampak menakjubkan ketika tertimpa cahaya bulan. Hingga menampak keretap pecahan cahaya keperakan di permukaan air, bagaikan berjuta pecahan mutiara yang berkilauan terapung-apung ringan di permukaan kesunyian. Sementara cahaya terus meruap dan meluap, menenggelamkan gedung-gedung, menenggelamkan kota…</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang aku terseret arus entah ke mana!</p>
<p style="text-align:justify;">SAMPAI kemudian – sebagaimana kubilang – aku terdampar di sebuah kafe! Seperti mimpi, semuanya begitu saja terjadi. Mungkin juga karena aku terlalu lelah, setengah tertidur setengah terjaga, entahlah. Samar aku lihat semburat cahaya keemasan di ufuk langit yang keruh dan tirus bagai lakmus. Ke arah cahaya itu aku meluncur – ah, tidak! Rasanya semburat cahaya keemasan itulah yang menghisap seluruh gerak yang berpusaran di sekitarnya. Seperti magnet yang menghisap biji-biji besi. Dan aku pun terhisap meluncur ke arah cahaya yang berkilauan keemasan itu…</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata, cahaya itu berasal dari sebuah rumah tua yang sudah dipugar menjadi kafe. Sungguh, tak pernah kulihat kafe ini sebelumnya. Rasanya sudah kudatangi dan kunimati seluruh kafe dan tempat hiburan di kota ini, dan aku tak pernah melihat kafe ini sebelumnya. Kafe yang tenang, dengan pencahayaan ruang temaram. Tembok dan lantai yang cenderung kusam, sewarna tanah, tapi menciptakan suasana teduh dan ramah. Membuatku seperti pengembara yang lelah dan tiba-tiba menemukan rumah. Deretan potret kota tua, serakan koin kuno, beberapa setrikaan besi  berhias kepala jago, dan biji-biji kopi di baki seakan tergeletak begitu saja di atas meja jati. Sketsa-skeksa, dengan garis dan warna yang tak terlalu jelas tetapi terasa tegas, membuatku teringat kembali pada secuil demi secuil kenangan masa kecil. Segala terasa remang-remang, seakan masa silam yang tenang dan hendak selalu dikenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berasa betah dan nyaman. Kupesan Campari, untuk meredakan sepi yang mengilu hati. Kurindukan seorang kawan yang mau berbagi rasa sunyi. “Itulah kenapa kita memerlukan kafe, atau apalah namanya, agar kita punya kemungkinan menemukan seorang kawan…” kuingat kata-kata Wawan, “Malah, bagiku, kafe sudah menjadi rumah ibadah yang membebaskan kita dari seluruh perasaan susah. Terus terang, setiap kali aku ke kafe, aku seperti tengah melakukan pengakuan dosa! Ha-ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kafe. Bualan. Kawan-kawan yang menyenangkan. Janji dan kencan. Semua itu telah menjadi ritus yang sedikit membebaskan kesumpekan. Barangkali itu semua yang membuat kita merasa tentram karena merasa memiliki kawan. Setidaknya bagi pecinta malam sepertiku. Malam selalu mempertemukan aku dengan yang bernama kawan. Malam membuatku bisa mengenal manusia dengan seluruh kerisauan dan kepedihannya. Fantasi dan mimpi yang membuat aku menemukan firdaus yang sering disebut dalam kitab suci.  Aku sering membayangkan, betapa Tuhan pastilah menciptakan firdaus pada malam hari. Kubayangkan, nun di mula waktu, Ia sendiri di langit sana, terkantuk-kantuk dan bosan menjaga segala yang belum bernama, diam memandangi kemahaluasan kelam. Sampai kemudian Ia ingin sesuatu yang menyenangkan, sekadar hiburan untuk mengusir rasa bosan. Maka Ia pun pun mengerjap, dan <em>kun</em> – jadilah firdaus yang penuh cahaya di tengah kemahalusan kelam. Begitulah, selalu kubayangkan, awal mula terciptanya surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah kenapa setiap kali orang melihat malam yang penuh gemerlap cahaya, dia akan teringat akan surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi surga itu kini telah diobrak-abrik segerombolan orang bertopeng dan berpedang. Mereka menghujat malam penuh maksiat. Mengusir semua orang untuk pergi. Hingga kini aku sendiri, bagai Adam yang khusyuk menghayati sepi. Adam yang merindukan kawan. Adam yang merindukan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia, hmm, manusia. Apakah yang masih berharga darinya? Kapan kita belajar memahami manusia sebagai kumpulan keinginan dan kesedihan? Bukan fosil atau gambar separuh badan sebagai sasaran tembakan?<a href="#_ftn3">3</a> Ah,…</p>
<p style="text-align:justify;">Kupesan Whisky Cola, seperti kupesan manusia yang mau berbagi suka duka.</p>
<p style="text-align:justify;">AGAK ke pojok, sedikit terhalang tiang, berseberang dua meja denganku, kulihat dua perempuan duduk berdekatan. Sementara di tengah-tengah ruangan, seorang pemusik mulai memainkan piano. Aku takjub memandangi pemusik itu. Rautnya bersih, dengan mata sebening kejora. Ia memakai jubah hitam, dengan dasi kupu-kupu warna ungu yang menyala redup, dan lihatlah  – ia punya sepasang sayap di punggungnya. Sepasang sayap yang begitu indah dengan helai-hela bulu lembut putih bersih, begitu mempesona di bawah temaram cahaya kekuningan. Sepasang sayap itu sesekali bergerak pelan, dan aku merasakan sehembus angin yang sejuk mengusap kepenatanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mulai memainkan <em>Stranger In The Night</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tersihir oleh denting piano itu, dua perempuan itu kian saling merapat, saling dekap, kemudian berciuman pelan. Bahu keduanya saling bersentuhan, berbincang perlahan, seakan tak ingin seorang pun mendengar apa yang tengah mereka percakapkan. Denting piano yang menghanyutkan, suasana yang terasa menentramkan, lamat percakapan yang terdengar begitu pelan…</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku selalu memikirkanmu,” desah yang bergaun biru, sambil mengelus punggung lengan yang satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuamati mereka. Yang satu, yang bergaun biru, rambutnya ikal panjang mencapai bahu. Tatapannya sayu. Berkulit langsat, terlihat mengkilat. Ia memakai gelang perak, dan di lengan kirinya ada tato kupu-kupu. Sedangkan satunya, berambut lurus potong pendek, memperlihatkan tengkuknya yang indah dengan bulu-bulu halus yang dibiarkan tak tercukur. Memakai kaus ketat, ada bordir gambar hati di bagian dadanya – rasanya ia tak mengenakan beha – bersandar santai sambil mengisap rokok pelan-pelan dan menghembuskannya dengan bibir yang dibiarkan terbuka lama. Ah, perempuan-perempuan metropolitan. Perempuan-perempuan yang selalu muncul dalam iklan kecantikan. Adakah mereka juga merasa kesepian?</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayolah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu mulai bosan denganku?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sejenak keduanya bertatapan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu tak perlu memutarbalikkan persoalan macam gitu. Apa kamu kira aku nggak tahu…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Laki-laki itu maksudmu?” sergah yang berambut sebahu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Syukurlah, aku tak perlu mengatakannya…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Laki-laki brengsek!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kamu tidur dengannya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa-apaan sih, kamu?” Diraihnya tangan perempuan yang terus saja menghembuskan asap rokoknya, seakan mengekpresikan kekesalan. Lalu, lembut disentuhnya bibir yang merekah terbuka itu. “Laki-laki? Persetan dengan laki-laki!”</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara denting lembut piano, percakapan itu membuatku terkenang akan seorang perempuan yang pernah bertahun-tahun menjalin hubungan denganku. Suatu kali ia menuntut ketegasan, “Apa hubungan kita akan begini-begini terus?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu aku tertawa. “Lalu mau apa? Kawin dan beranak pinak seperti kucing? Terus terang, aku tak pernah membayangkan bisa hidup selamanya dengan hanya seorang perempuan. Itu bukan tipeku. Dan lagi, aku tidak pernah benar-benar bisa memahami perempuan…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bukan perempuan yang sulit difahami, tetapi laki-laki yang terlalu angkuh untuk berbagi…,” katanya, sembari mencibir, menamparku beberapa kali, dan pergi. Bagaimana kabarnya ia kini? Apakah ia kini juga masuk barisan pembenci laki-laki?</p>
<p style="text-align:justify;">Kulirik dua perempuan yang saling berpelukan itu. Adakah mereka berdua – pada mulanya – memang pembenci laki-laki? Mungkin tidak. Kudengar saat ini memang banyak perempuan memilih pacaran dengan perempuan. Laki-laki terlalu kolokan. Terlalu menuntut banyak pelayanan. Selalu ingin dinomorsatukan. Hidup bersama laki-laki sama saja menistakan diri menjadi abdi. Lebih baik mati menggorok leher sendiri. Sungguhkah seseorang menjadi lesbian karena benci laki-laki? Kuingat seorang kawan pernah bilang, menjadi lesbian bukanlah kelainan, tapi pilihan! Itu soal memilih jalan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kutatap dua perempuan yang saling berpelukan itu, dan kudengar mereka saling bergumam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Katakanlah, kamu mencintaiku…”</p>
<p style="text-align:justify;">Hangat, lekat, keduanya berciuman, bagai memagut sejumput kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kudengar piano mengalunkan <em>Love Is A Many Splendored Thing</em>, seakan hendak menghadirkan kemegahan cinta lebih dari yang mampu terbayangkan. Sayap di punggung pemain piano itu mengembang, begitu anggun, berkepakan pelan, mengingatkan pada burung yang yang diluapi gairah terbang melintasi langit musim semi. Ada yang tak terkatakan melebihi cinta. Bunga-bunga seakan memenuhi ruangan. Dan sepasang sayap pemain piano itu terus berkepakan, membuat dua perempuan itu bertepuk, dengan wajah yang bagai senja bersemu merah. Pemain piano itu mengangguk takzim, seakan merestui kebahagiaan yang kini tengah direguk dua perempuan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, lihatlah, betapa perlahan-lahan tubuh pemain piano itu terangkat, mengambang, dan terbang melayang-layang berkitaran nyaris menyentuh lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan. Sementara piano itu terus berdentingan, tutsnya turun naik, bagai ada tangan gaib yang memainkannya. Segala megah oleh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta. Bahagia. Apa maknanya bagi kita? Sungguhkah dua perempuan itu benar-benar bahagia dengan saling mengucapkan cinta seperti itu? Mungkin benar. Berbahagialah mereka yang percaya pada cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, aku jadi terkenang pada kawanku yang lain. Seorang laki-laki yang bersih dan tampan, yang suatu hari jatuh cinta pada seorang lelaki yang menurutnya paling indah di dunia.<a href="#_ftn4">4</a> Aku tak pernah bisa memahami, tetapi selalu merasa iri setiapkali menyaksikan kawanku mencurahkan perasaan cintanya pada lelaki itu. Begitu habis-habisan, mempertaruhkan seluruh kebahagiaan hidupnya hanya dengan dan demi lelaki itu. Lelaki paling indah yang pernah dijumpainya dalam hidupnya yang datar dan biasa-biasa saja. Sungguh percintaan yang dahsyat dan menggemparkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan seperti apakah kisah percintaan dua perempuan itu?!</p>
<p style="text-align:justify;">“Berjanjilah, kamu tak akan meninggalkanku…” kudengar yang berambut pendek berkata, sambil merengkuh pundak satunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bias cahaya lampu bertudung, wajah dua perempuan itu terlihat sedikit memucat. Ketika keduanya saling tatap, masing-masing seperti hendak meyakinkan diri, betapa semua yang mereka percakapkan, betapa semua pelukan dan ciuman, akan abadi dalam kenangan. Mungkin, suatu hari nanti, mereka diusik keraguan. Lantas dengan baik-baik mereka memutuskan untuk berpisah, karena yang satu (atau keduanya?) memilih menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah bisa sungguh-sungguh mereka cintai, tapi memberi sedikit rasa aman karena bisa melindungi mereka dari gunjingan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan rumah tangga yang membosankan, yang membuat mereka dari hari ke hari semakin asing, sedapat mungkin mereka pertahankan, mereka jalani rutin. Mereka biarkan suami mereka keluyuran mencari hiburan setiap malam. Sementara itu, sesekali waktu, diam-diam mereka bertemu dan bercinta mereguk kenangan lama. Itulah saat-saat paling menentramkan perasaan mereka, sebelum akhirnya mereka bergegas pulang ke rumah, kembali menjalani peran istri yang setia. Mereka sabar menunggu suami-suami mereka pulang, dengan ketulusan seorang istri yang penuh pengertian…</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin begitu. Mungkin juga kisah mereka berakhir bahagia. Setidaknya, tidak seperti aku. Mereka punya seseorang yang pantas dicintai sekaligus mencintai. Kuperhatikan keduanya tertawa bahagia, meski tanpa suara. Lalu kembali saling berciuman. Sementara pemain piano itu masih terbang melayang berputar-putar di atas mereka, sambil menaburkan kuntum-kuntum bunga.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku iri melihatnya. Kualihkan pandang ke jendela, kusimak malam bergerimis yang menggigilkan pepohonan, siluet gedung-gedung kota yang gotis. Ada yang tak kufahami di luar sana. Seperti ada yang tengah menyanyikan kesedihan dan kesepian.</p>
<p style="text-align:justify;">DUA perempuan itu bangkit, sambil terus berpelukan, berjalan, dan keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kupanggil pelayan. Ingin kutanyakan ihwal dua perempuan itu. Entah kenapa, aku ingin sedikit tahu tentang mereka. Barangkali keduanya sering mampir ke mari. Aku ingin kenal mereka. Ingin bertanya, apakah mereka bahagia? Aku ingin belajar mencintai, juga dicintai. Tidakkah keinginanku sangat sederhana sebenarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">“Bisa saya bantu, Tuan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ehm, bisa kasih tahu siapa dua perempuan yang tadi duduk di pojok itu?” kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelayan itu menatapku. Lalu, menoleh ke arah yang aku tunjuk. “Perempuan?” tanyanya heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, dua perempuan yang barusan pergi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Tuan bercanda…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bercanda?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sejak tadi cuma Tuan sendiri tamu di kafe ini…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kurasakan entah apa. Cahaya terasa lesi. Kulihat gerimis masih saja nitis, membuat malam kian terasa miris.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p align="right"><strong>Jakarta-Yogyakarta, 2002.</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Dikutip dari sajak “Sia-sia” Chairil Anwar.</p>
<p><a href="#_ftnref2">2</a> Terinspirasi cerpen “<em>Light is Like Water</em>” Gabriel Garcia Marquez.</p>
<p><a href="#_ftnref3">3</a> Dari sajak “Sebelum Makan Malam” Cecep Syamsul Hari.</p>
<p><a href="#_ftnref4">4</a> Lihat cerpen “Laki-laki Paling Indah di Dunia” Seno Gumira Ajidarma.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/396/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=396&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/07/26/rendezvous/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/07/rendevaouz.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">rendevaouz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- 20 Keping Puzzle Cerita</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 00:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mungil]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi Mini]]></category>
		<category><![CDATA[puzzle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[
Ambulan yang Lewat Tengah Malam
Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.



 
Sirene
Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=382&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-384 aligncenter" title="puzzlejpeg1" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/puzzlejpeg1.gif?w=240&#038;h=300" alt="puzzlejpeg1" width="240" height="300" /></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;">Ambulan yang Lewat Tengah Malam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sirene</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak yang rewel, si ibu akan menakut-nakuti, “Nanti kau diculik ambulan…” Setiap ada sirene melintas, anak-anak yang tengah bermain gobag sodor atau petak umpet buru-buru berlarian masuk rumah. “Mereka selalu ngeri membayangkan ambulan yang disetiri mayatmu,” kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tersenyum mendengar kisah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kucing Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku ingat, saat para tetangga datang melayat. Banyak yang penasaran kenapa kau mati begitu mendadak. Mereka bercakap nyaris berbisik, menduga-duga – mungkin ada juga yang diam-diam menggunjingkanmu – sementara jenazahmu berbaring tenang. Bau kematian seperti mengedap dalam ruangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itulah, mendadak, seseorang menjerit, ketika melihat seekor kucing hitam melompati jenazahmu. Beberapa pelayat yakin: saat itu melihat matamu berkedip-kedip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span id="more-382"></span><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kasus Salah Tangkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sampai kini, kematianmu masih misteri bagi kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Beberapa orang meyakini, hari itu kau diciduk polisi. Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh istrimu. Padahal istrimu masih hidup. Kaulah yang mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Misteri Mutilasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi beberapa orang yang lain bilang, kalau kau sesungguhnya mati bunuh diri. “Kuperhatikan ia tampak murung belakangan ini,” seseorang berkata. “Aku yakin ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan untuk menghilangkan jejak, ia segera membuangnya ke pinggir kali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Itulah sebabnya, kata orang itu melanjutkan, polisi masih sibuk mencari pembunuhmu, sampai kini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tentang Seorang Perempuan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seminggu setelah pemakamanmu, seorang perempuan muncul di kampung kami. Ia menggendong bayi mungil. Wajahnya gugup dan pucat, tetapi tak menghapus kecantikannya. Seolah takut ketahuan, perempuan itu menanyakan di mana rumahmu. Sikapnya membuat kami curiga: jangan-jangan ia istri kedua atau simpananmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu seorang warga menjelaskan, kalau kau sudah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Mati?” ia terlihat tak percaya. “Barusan tadi pagi ia mampir ke rumahku…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Cerita Pelayan Kafe</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seorang tetangga, yang bekerja sebagai pelayan kafe, satu malam menemuiku. Ia bilang, ia juga barusan melihatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ia melihatmu duduk di sudut remang kafe tempatnya bekerja. Memesan minuman ringan dan kentang goreng. “Katanya ia janjian mau ketemu dengan sampeyan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi semalaman aku lembur di kantor, tegasku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Ya, ia memang terus sendirian, tapi seolah bercakap-cakap dengan sampeyan yang tak pernah datang.” Sampai kafe tutup. Namun para pelayan kafe masih melihatmu terus duduk di kursi itu. “Sebelum aku pulang, ia menitipkan ini padaku.” Ia menyodorkan sekeping koin. Dan aku segera mengenalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Pada Sebuah Kuburan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dulu, semasa kanak, kita menemukan sekeping koin perak berkarat di pekuburan. Kita memang sering keluyuran ke pekuburan selatan kampung itu. Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Sering, bila tengah malam, terdengar suara yang terus melolong. Aku selalu ketakutan. Seperti kudengar suara lolong menyanyat orang sekarat. Tapi kau malah cekikikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kelak,” katamu, “aku akan mati menjerit kesakitan seperti itu. Aku akan mati terpotong-potong, dan dibuang ke kuburan ini…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kemenyan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Barangkali kamu memang tak pernah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda sering melihatmu berkelebat pulang malam-malam. Mereka kadang juga samar-samar melihatmu duduk-duduk di beranda rumahmu –<span> </span>sesekali batuk-batuk kecil atau berdehem – sembari menikmati rokok kretek. Tapi para peronda itu mencium aroma kemenyan merebak di udara yang seketika terasa menjadi lembab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda juga sering melihat istrimu tengah malam berdiri di pintu menunggumu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Seusai Pemakaman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku jadi ingat pada sore seusai pemakaman. Para pelayat baru saja menguburkanmu. Saat itu aku melintas depan rumahmu, dan kulihat kau seperti baru saja pulang. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anakmu berlarian riang menyambutmu. Bergelayutan manja pada lenganmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di pintu, kusaksikan mata istrimu berlinang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Koin Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kupandangi koin perak yang telah menghitam itu. Tergeletak di meja. Kau tahu, sejak dulu aku tak mau keping koin itu. Tapi tiap kali aku datang ke rumahmu hendak mengembalikannya, yang ada hanya istrimu. Senyumnya yang manis menyuruhku masuk, matanya yang gelisah melirik ke<span> </span>halaman, takut ada yang memergoki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau mati, aku pun sudah berusaha membuang jauh-jauh koin itu berkali-kali. Membuangnya ke selokan. Membuangnya ke tempat sampah. Bahkan sampai jauh ke luar kota. Tapi koin itu selalu saja kembali. Begitu saja: tiba-tiba sudah tergeletak di meja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kapak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku mengingat malam itu sebagai malam mengerikan dalam hidupku. Kau muncul dan berkata, “Kau punya kapak?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Apakah kau akan membelah kayu malam-malam begini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu kau bercerita. “Ada ular dalam kepala istriku. Ular itu datang setiap kali aku tak ada, menyelusup lewat telinga, dan kini mendekam dalam kepalanya. Mungkin kapak ini ada gunanya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tukang Ramal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita belum lagi genap tigabelas tahun ketika datang ke pasar malam itu. Keramaian dan lampu warna-warni seperti mimpi yang ganjil. Aku pingin gulali, tapi kau mengajakku ke tukang ramal bermata juling. Kau ingin tahu, bagaimana nanti kita mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tukang ramal itu menyeringai menatap kita “Kalian memang sahabat yang luar biasa,” katanya, “karena menyintai perempuan yang sama.” Kita masih saling bertatapan, ketika tukang ramal itu menarik tanganku. “Dan kau, kau akan mati karna tabrak lari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Alibi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Cerita ini kudengar dari para tetangga, karena saat itu aku memang sudah menjauh dari hidupmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka mendengar suara istrimu menjerit kesakitan. Itulah jerit kematian paling mengerikan. Pagi harinya, mereka menemukan istrimu mati dengan kepala pecah. Kapak itu tak pernah ditemukan. Meski para tetangga curiga, polisi tak bisa mendakwamu, karna saat itu kau tak ada di tempat kejadian. Kau juga sedang berada di tempat lain, ketika ketiga anakmu ditemukan mati mengenaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dan para tetangga yang keheranan kemudian mengatakan: ketika mayatmu ditemukan, polisi pun tak bisa mendakwamu. Karna kau juga tak ada di tempat kejadian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itu kupikir mereka terlalu melebih-lebihkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Anjing</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kawan-kawan sepermainan sering bilang, kita pasangan serasi. Mereka tak tahu kalau kau tak menyukaiku yang pendiam. “Kau terlihat mengerikan bila sedang diam,” katamu selalu. “Seperti ada seorang pembunuh yang diam-diam sedang menguasai tubuhmu. Kau mirip psikopat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Suatu hari kau marah karena nyaris digigit anjing tetanggamu. Aku hanya diam mendengar ceritamu. Dua hari kemudian kau mendapati anjing itu mati digorok dan digantung di pagar rumah tetanggamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menatapku yang hanya diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Teka-teki Wajah Pembunuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Inilah permainan yang kita sukai, menebak teka-teki: bila kelak kita mati terbunuh, seperti apakah wajah pembunuh itu? Kemudian kita masing-masing mengambil kertas dan pensil, membayangkan wajah itu, dan menggambarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita melipat kertas itu setelah selesai. Memasukkannya ke amplop, lantas membakarnya, agar kita bisa terus penasaran dan menebak-nebak wajah siapakah yang kau gambar dan aku gambar. Menyimpan rahasia memang selalu mendebarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku bisa menduga, wajah siapa yang kau gambar,” katamu, sambil memandangi api yang melahap kertas itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kubayangkan wajah itu hangus dalam api.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sumur Tua di Belakang Rumah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ada sumur tua di belakang rumah kakekmu. Konon, airnya selalu berwarna merah setiap purnama. Di jaman gestapu dulu, kakekmu dibantai dan dilempar ke sumur itu. Sejak itu, siapun tak berani mendekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi diam-diam kita suka ke sana, menjenguk ke dalamnya, berharap menyaksikan mayat kakekmu mengapung. Airnya memang begitu bening. Yang kita lihat justru bayangan mayat kita sendiri: memar, rusak dan berdarah karna kecelakaan. Meringkuk di dasar sumur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Puisi Cinta Semasa Remaja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tahu aku suka puisi. Karna itu, ketika kau jatuh cinta, kau memintaku menulis puisi. Kau sebut nama gadis yang telah membuatmu jatuh cinta. Aku pun segera tahu: itulah puisi paling bagus yang bakal berhasil aku tulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau senang sekali dengan puisi itu. “Kamu benar-benar bisa melukiskan seluruh perasaanku,” katamu. Tidak, aku tak menuliskan perasaanmu, jawabku. Dalam diam tentu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Mayat dalam Koper</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau menikah, aku memilih pergi mengembara. Ketika tak ada kabar, kau sering membayangkanku sudah mati. Kemudian dari para tetangga aku mendengar, bila sedang ronda kau suka cerita, kalau aku tak lain psikopat yang dicari-cari polisi. “Suatu hari psikopat itu memotong-motong tubuhnya sendiri. Dan sebelum polisi tiba, ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka selalu tertawa mendengar cerita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tabrak Lari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu hari sebagaimana diramalkan itu tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas. Malam harinya, istrimu begitu sedih setelah mendapat kabar kamu mati tertabrak ambulan yang langsung melarikan diri. Ambulan hantu, kata orang-orang. Ambulan yang disetiri mayat yang dibawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menangis menceritakan semua kisah ini padaku yang tadi pagi mati karna tabrak lari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span>Jakarta, 2009.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span>(Muncul di </span></em><span>Koran Tempo </span><em><span>Minggu, 29 Maret 2009)</span></em><strong><span><br />
</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=382&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/03/puzzlejpeg1.gif?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">puzzlejpeg1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- BUKU PENA KENCANA 2009</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 12:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Indonesia Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Pena Kencana 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[
Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya “Kartu Pos dari Surga”, di samping beberapa cerpen  “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=342&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-348" title="buku-pena-kencana-20092" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/buku-pena-kencana-20092.jpg?w=247&#038;h=370" alt="buku-pena-kencana-20092" width="247" height="370" /></p>
<p style="text-align:justify;">Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya <a title="Cerpen Kartu Pos dari Surga" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/" target="_self">“Kartu Pos dari Surga”</a>, di samping beberapa cerpen  “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. Laksana), “Terbang” (Ayu Utami), “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” (Azhari), “Cincin Kawin” (Danarto), “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan), “Perbatasan” (F. Dewi Ria Utari), “Usaha Menjadi Sakti” (Gunawan Maryanto), “Apel dan Pisau” (Intan Paramaditha), “Sonata” (Lan Fang), “Sebuah Jazirah di Utara” (Linda Christanty), “Semua untuk Hindia” (M. Iksaka Banu),  “Mbok Jimah” (Naomi Srikandi), “Smokol” (Nukila Amal), “Suap” (Putu Wijaya), “Foto Ibu” (Ratih Kumala), “Hari Ketika Kau Mati” (Stefanny Irawan),  “Lembah Kematian Ibu” (Triyanto Triwikromo), “Kamar Bunuh Diri” (Zaim Rofiqi), “Bila Jumin Tersenyum” (Zelfeni Wimra).<br />
Perihal cerpen-cerpen yang terpilih itu, Adi Wicaksono memberikan semacam <a href="http://penakencana.com/cerita-pendek-terbaik/pengantar-cerpen-2009" target="_self">catatan yang menjadi pengantar </a>buku tersebut.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/342/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/342/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=342&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/27/buku-pena-kencana-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/buku-pena-kencana-20092.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">buku-pena-kencana-20092</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- AKUARIUM</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 08:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cepen Agus Noor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[
 








PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=332&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                               &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-333 aligncenter" title="akuarium" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/akuarium.jpg?w=427&#038;h=153" alt="akuarium" width="427" height="153" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: <em>my days are just an endless dream of emptiness</em>&#8230;. Seakan muncul dari kegelapan yang jauh, <em>Krraaakk!!</em> Berhentilah memekik &#8212; Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya <em>eneg</em>. Usia tua yang celaka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di sudut kamar, Pitaya melihat istrinya tertidur, damai, mengapung dalam akuarium, bagai piranha raksasa. “Selamat pagi,” mendesis. Mencoba menghitung gelembung air, sekadar meyakinkan bahwa ia masih bisa bahagia hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Bangkit sungkan menuju lemari. Cuma mendapati beberapa potong roti berjamur dan sekerat daging busuk. Tak ada keju atau mentega. Melirik wajahnya di cermin: lihatlah, seekor keledai bangka! Bayangan itu membuat mulutnya kecut. Dan keledai tua itu beringsut menuju jendela, mencoba meraih kehangatan pagi, seperti anak kecil menyambut kedatangan mamanya pulang belanja membawa boneka. Tapi ujung jari-jarinya tetap menggigil, membuatnya berfikir, betapa kesepian adalah makhluk asing yang tak gampang dikenali. Lalu dari ujung jari-jarinya yang menggigil itu, muncul kupu-kupu. berpuluh kupu-kupu, yang segera menghambur keluar jendela.<span id="more-332"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menyaksikan kupu-kupu itu muncul dari ujung jari-jarinya, Pitaya sedikit merasa tak terlalu celaka. Dengan kegembiraan kanak-kanak, Pitaya menjentik-jentikkan ujung-ujung jarinya, menciptakan lebih banyak kupu-kupu bersayap jelita penuh warna, begitu mempesona, sehingga pagi berkilatan oleh bias cahaya aneka rupa. Ia lantas ingat pada sajak yang pernah dibacanya, tentang kata-kata yang menjelma kupu-kupu, menghambur berebut bunga-bunga yang menjelma warna-warna, menjelma cahaya, berebut cakrawala.<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a> Entah kapan ia membaca sajak itu. Lupa. Tapi ia ingat, Pikulan yang menyuruhnya membaca puisi itu. Pitaya jadi kangen pada kawan satu itu: Seorang yang menjaga puisi seperti menjaga hati nurani. Sampai ia merasa kembali lambungnya <em>eneg</em>. Menjauh jendela. <em>Uh</em>, ia akan sarapan sendirian lagi. Setangkup roti berjamur, susu yang telah rusak, atau sesekali sekaleng <em>coke</em> kedaluwarsa. Membuatnya menderita <em>hypoglycemia</em>. “Mestinya aku ke Dokter Piwaca,” membatin, “mengganti otakku dengan karet sintetis.” <em>Ck ck ck</em>. Bukankah Dokter Piwaca juga yang menganti jantungnya yang membusuk dengan jantung plastik?! Baiklah, nanti siang aku akan ke sana &#8212; sambil melirik istrinya, yang mati diperkosa, lima tahun lalu. Adalah ide Dokter Piwaca pula untuk mengawetkan mayat istrinya dalam akuarium, setelah merendamnya dalam cairan air raksa. “Agar kamu tak terlalu merasa sendirian, Tuan Pitaya,” kata Dokter Piwaca. Nyatanya ia selalu kesepian, dan selalu gemetar oleh ingatan kekejian. <em>Je hais ces brigands</em>. Sungguh, aku benci bandit-bandit itu! Mengingat semuanya, membuat Pitaya sengsara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">BEGITULAH, suatu hari, seorang laki-laki mengantar bingkisan untuknya. “Selamat ulang tahun, Tuan.” Menjabat tangannya dengan hangat. Sungguh laki-laki yang baik, batin Pitaya. Hanya orang baik yang ingat hari ulang tahun seseorang yang tak pernah dikenalnya dan memberikan padanya hadiah. Pitaya membuka kiriman itu, dan mendapati kepala putrinya yang berumur 12 tahun. Kepala mungil dengan pita biru muda di rambutnya. Alangkah cantik kepala itu, meski telah dipenggal dari lehernya. Kado istimewa! Pitaya gemetar. Lelaki itu melepas topinya, menyilangkan tangan ke dada, membungkuk memberi hormat. Takzim. “Semoga panjang umur, Tuan…” Tersenyum tulus. Itulah senyum paling tulus dari seorang pembunuh yang pernah dilihat Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa upacara kepala itu ia makamkan dekat beranda, dimana dulu ia juga menyimpan ari-ari putrinya tercinta. Agar ia bisa selalu memandanginya setiap kali duduk membenamkan kemarahan di kursi goyang. Ketakutan membuatnya kelihatan lebih tua. Sepanjang hari ia duduk-duduk di beranda, memandangi gundukan makam kepala anaknya, menyaksikan hari menjelma jelaga, dan sekuntum mawar perlahan tumbuh di atas makam itu. Sekuntum mawar yang bungkah merekah, memancarkan cahaya lembut kemerahan, seperti sulur cahaya yang begitu indah. Pitaya merasa, mawar itu tumbuh juga dalam jantungnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Petiklah mawar itu, istriku. Sematkan di telingamu, agar kau bisa mendengar setiap desis, setiap kata, setiap suara, yang dibisikkan anak kita tercinta. Aku merasa mendengar nyanyiannya&#8230;.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perempuan itu akan membimbing Pitaya masuk, membaringkannya penuh pengertian, dan mulai memijiti kaki Pitaya, melulurkan cinta dan ketabahannya. Mereka berdiam diri, menghabiskan malam dalam kamar. Sementara di luar, dunia berubah menjadi ladang pembantaian. Kerusuhan meledak di seluruh kota. Kematian seperti pakaian yang diobral di pinggir jalan. Rumah-rumah dirampok. Para wanita diseret dan diperkosa. Tiada hari tanpa pembunuhan, seperti slogan tiada hari tanpa olah raga. Wahai! Kejahatan seperti makanan pelengkap, yang diiklankan sepanjang hari. Entah dari mana iblis itu datang. Sepanjang malam gentayangan, menjejalkan mimpi hitam, seperti televisi yang tumbuh dalam kepala: memberi pelajaran bagaimana cara paling sempurna menusukkan pisau ke jantung orang. Membuat anak-anak terpana dan percaya, betapa gampangnya menghabisi seseorang; cukup ayunkan kelewang dan, <em>craapp</em>, kepala itu pun menggilinding dengan indahnya, dalam gerak lambat. Kemudian anak-anak itu belajar berkelahi di jalanan. Yang lain menjarah rumah, seperti kanker yang tak dapat dicegah. Penjahat menjadi jantung kota, membuat setiap orang merasa percuma telah membayar pajak, karena tak ada jaminan apa-apa, yang membuat mereka bisa merasa nyaman bercengkrama dalam rumah bersama keluarga. Begitu juga dengan Pitaya. Ia tak bisa apa-apa ketika suatu malam, laki-laki itu muncul kembali. Seperti setan, serta-merta laki-laki itu telah berdiri di tepi ranjang. “Masih ingat saya, Tuan?” ramah menyapa. Pitaya lihat lima orang berdiri di belakang laki-laki itu. “Izinkan kami membawa pergi semua barangmu, Tuan&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ambillah, dan cepat pergi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi mereka tak cuma mengangkut barang-barangnya. Mereka juga memperkosa istrinya. Bergiliran. Kemudian menyembelihnya&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kenangan yang selalu membuat kepalanya berderit. Ngilu. Membuat Pitaya ingat akan Dokter Piwaca. Sedikit opium, mungkin bisa menenangkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">RUANG tunggu rumah-sakit selalu berbau kematian. Suster penjaga duduk terkantuk-kantuk. Seorang tua bersyal merah di pojok. Pitaya tahu, biji mata kiri orang tua itu telah diganti biji kelereng besi &#8212; mungkin mata itu dicongkel dalam satu interogasi. Wajahnya mengingatkan seorang pencoleng yang mau dieksekusi. Waktu terasa lebih lamban di ruang tunggu seperti ini. Seorang perempuan tergeletak dengan perut menggunung penuh sampah, terus mengerang, sebentar lagi akan melahirkan rongsokan panci, kaleng, botol-botol plastik, potongan kayu, sepatu, lonjoran besi dan rombengan baju. Pintu periksa berkerit terbuka, seekor babi melenggang keluar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya,” suster penjaga memanggil namanya. Pitaya merasa kulitnya tiba-tiba mengeras, seperti ada yang diam-diam tengah tumbuh mengubah dirinya. Babi itu menguik, mengangguk pada Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ia bangkit. Melangkah lamban dengan keengganan memenuhi dada. Ia merasa tak ada guna menemui Dokter Piwaca.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tuan Pitaya, pintu kamar periksa di sebelah sana. Tuan Pitaya!” suster itu berteriak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi Pitaya terus berjalan keluar ruang tunggu. Entah kenapa ia tak ingin berurusan lagi dengan dokter. Dokter cuma menjadikan tubuh pasien sebagai barang mainan yang diperlakukan seenak-udelnya. Lagi pula ia kini merasa tak terlalu membutuhkan dokter. Ia hanya butuh seseorang yang bisa meyakinkannya: betapa hidup ini masih ada gunanya. Mungkin Pikulan, desis Pitaya. Ia jadi ingin bertemu Pikulan, mendengarkannya berbicara. Pitaya selalu suka mendengar Pikulan bicara, karna kata-kata begitu hangat dalam mulutnya. <em>Hmm</em>, kehangatan. Itukah yang aku butuhkan, Pitaya mendesah. Jengah, Pitaya melirik pada papan nama di tembok yang tergantung miring: <em>Dokter Hewan Piwaca</em>. Membuat kulit Pitaya seakan tambah mengeras.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di pintu gerbang ia berpapasan dengan tiga ekor anjing, terpincang-pincang masuk rumah-sakit. Satu dari tiga ekor anjing itu ternyata Pitedah, kenalan Pitaya. Dia berubah menjadi anjing ketika bangun tidur pagi tadi. Menguik. “Ini lebih baik, Pitaya. Kota terlalu bahaya bagi orang tua macam saya.” Keduanya bertatapan, seperti sepasang kekasih yang mencoba menjenguk perasaan masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Selamat atas kebahagiaanmu,” bisik Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bicaramu membuatku merasa terhina, Pitaya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Berbahagialah orang yang telah menjadi anjing.” Pitaya mengelus kepala anjing itu. “Salam buat buat istrimu, Pitedah.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Dia telah mati dibacok, tiga hari lalu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku turut berduka&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Terima kasih.” Menguik. <em>Up</em>, anjing yang manis. Pitaya berharap, ia juga bisa jadi anjing suatu pagi nanti. Jadi istri Pitedah telah mati. <em>Hmm</em>. Bagaimana dengan Piwucal? Apa kabar Pitados dan Pikulan? Lama ia tak ketemu mereka. Belakangan ini Pitaya lebih banyak mengurung diri di kamar, memandangi mayat istrinya yang terapung tenang dalam akuarium; merasa perlu untuk setiap saat mengganti air akuarium itu, seperti mengganti popok bayi agar selalu bersih. Mungkin hari ini aku bisa ketemu mereka di kafe. Tentu banyak hal telah terjadi. Aku akan dengar cerita mereka. Berbincang-bincang dengan para orang tua celaka itu, Pitaya selalu merasa bagai rusa dalam kelompoknya. Kehangatan, <em>hmm</em>, kehangatan. Seakan ada yang mengerudungkan selimut ke punggungnya, setiap mendengar mereka bercerita. Terutama bila Pikulan yang bicara, suaranya seperti keluar dari hidung: gemetar sengau. Seperti mendengar derap baris kaki tentara. Seperti ada senjata yang menjaga kata-katanya. Ia berharap bertemu pikulan di kafe. Ia akan bertanya, kenapa bicaranya sengau begitu. Ia juga akan bertanya, apakah dia sering membayangkan pada suatu hari nanti dirinya menjelma anjing atau babi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">HUJAN turun ketika Pitaya keluar rumah sakit. Kabut mengelangut. Jalan-jalan kelabu. Air tumpah, seakan-akan ada kaca yang tiba-tiba mengurung Pitaya, membuatnya merasa berada dalam akuarium raksasa. Dingin. Ia merasa kulitnya berlendir. Ia lihat bangkai bus dan gerobak menjelma lokan. Seluruh bangunan menjelma karang. Ia mengambang, berenang bersama orang-orang yang lalu-lalang, yang menjadi ikan di antara ganggang dan kerang. Ada dunia lain dalam akuarium, yang membuat ujung jari-jarinya tak lagi menggigil kesepian, dan waktu menjadi terasa hangat di pergelangan tangannya, membawanya memasuki masa lalu, termangu di gigir waktu Paleolithic. Dunia putih kelabu, membentang lesu. Binatang-bintang purba bermunculan dari celah-celah terumbu waktu. Di atas kota, sebuah bahtera mengapung, seperti piring terbang raksasa yang memayungi seluruh kota,<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> mengapung di bawah cahaya bulan biru yang membuat alun dan riak air jadi berkilauan, seperti bongkahan es yang mencair. Dingin. Ribuan ikan berenang di bawah bahtera yang membawa berpasang-pasang binatang itu, berenang dalam keabadian. Deras. Pitaya mengapung dalam hujan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“<em>Aha</em>, Tuan Pitaya. Apa kabar? Hari yang cerah, bukan?!” Pitungkas, si pincang pelayan kafe, menyambut kemunculannya. Gembira.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku perlu segelas <em>brandy</em>,” Pitaya menggigil dalam hujan. Melepas topi panamanya, duduk memandang keluar jendela: hari yang cerah, seperti kata Pitungkas. Tak ada hujan. Namun Pitaya tetap menggigil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Anda kedinginan, Tuan Pitaya?” cemas menyodorkan <em>brandy</em>, Pitungkas membukakan jas kulit Pitaya seperti pemburu tengah menguliti beruang es tua yang sekarat. “Apakah sudah Tuan periksakan kembali jantung plastik Tuan? Mesti rutin, Tuan Pitaya! Dokter Piwaca pasti cemas pada kesehatan Tuan. Jangan merajuk, Tuan Pitaya&#8230;.” Pikulan terus bicara dengan kata-kata yang memar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Jangan omong terus seperti radio!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kafe sepi. Penasaran, Pitaya kembali memandang keluar jendela. Benar, tak ada hujan. Ia malah melihat Pikulan berdiri di pintu, menenteng buku puisi seperti biasanya. terlalu sering dibawa-bawa, buku puisi itu jadi lusuh tak karuan. Pikulan mendekap buku puisi itu seperti mendekap hidupnya. Pitaya tak mengerti, kenapa ada orang bisa hidup cukup dengan membawa-bawa buku puisi. Kenapa ada orang merasa begitu bergairah, cuma karena puisi &#8212; seperti Pikulan. Tapi, jujur, Pitaya menyukai Pikulan melebihi apa saja, setelah istrinya. Tak pernah bosan Pikulan menyarankannya untuk membaca puisi. Cara dia mendorongnya untuk menyukai puisi, selalu membuatnya merasa nyaman. Kerap Pikulan mengajaknya ke perpustakaan kota, dan disodorkan ke hadapannya setumpuk buku puisi. <em>Yeah</em>, ia pun membacanya sesekali. Tapi ia tak pernah ngerti puisi. Apakah memang berguna membaca puisi di tengah kota yang penuh kekerasan macam ini? Ia sering merasa ada kekerasan juga dalam puisi, yang membuatnya bertambah menggigil di antara kata-kata yang berbau darah dan membayangkan kematian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sudah dengar Pitedah menjelma anjing?” sapa Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pikulan mengangguk. “Dan kamu, Pitaya, apakah sudah mendengar Pitados mati bunuh diri?” telunjuk Pikulan menyentuh kening, membentuk pistol, “Dorr!! Ia menembak kepalanya sendiri.” Mendengus. “Tadi malam. Aku mencoba menelponmu. Cuma dering.” <em>Uh</em>, tadi malam aku tertidur sejak sore, batin Pitaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Duduklah, aku akan mentraktirmu kopi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Terima kasih, Pitaya.” Pikulan mengelus tangan Pitaya. “Aku ada keperluan kecil.” Lalu beranjak pergi. Segera tertelan keriuhan jalan. terdengar seorang perempuan menjerit, “Jambret!! tetapi tak ada yang peduli. Di tempok ada grafiti merah, seperti kemarahan yang dibekukan: <em>ALL RAPISTS SHOULD BE CASTRATED! ALL CHILD ABUSERS SHOULD BE KILLED!! ANYONE ELSE-MURDERERS, CRIMINALS SENT SOMEWHERE TO ROT!!</em> Prasasti sunyi. Tak ada yang peduli. Kemanakah polisi-polisi itu saat ini? Kenapa mereka cuma sibuk ngurusi pelarangan baca puisi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pitaya duduk sendiri, didera iri, pada Pitedah yang telah jadi anjing, pada Pitados yang bisa mati bunuh diri. Telah lama ia ingin mati. Telah berkali-kali ia bunuh diri, tapi tak pernah mati. Seperti film seri yang terus-menerus diputar ulang di televisi, Pitaya selalu mendapati dirinya hidup kembali. Telah ia tenggak racun hingga jantungnya membusuk, tetapi Dokter Piwaca keparat itu berhasil menggantinya dengan jantung plastik. Diantara rasa iri itu, ia seperti mencium kembali bau yang membuatnya ngeri. Bau yang sunyi, teramat sunyi.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a> Membuatnya seperti berdiam di puncak menara dengan pintu terkunci. Lalu ia lihat bulan bulat biru muncul dari balik gedung-gedung menjulang, membuat silhuet menara-menara katedral dengan bayangan memanjang rebah di atas hamparan lapangan rumput, seperti gelandangan yang lelah rebahan ditemani burung-burung dara yang berkepakan di bawah cahaya bulan. Pitaya jadi teringat pada bahtera yang melintas di atas kota tadi. Mengalun tenang, sebagaimana bulan biru itu. Ia ingin turut berlayar bersama bahtera itu, dalam keabadian waktu. Pikiran itu membuatnya termangu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sudah malam, Tuan Pitaya.” Pitungkas mengemas gelas. Pitaya ingin terus duduk di situ menikmati bulan biru, menunggu kemunculan sebuah bahtera di atas kota. Tapi memang sudah malam. Udara lembab.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Pulanglah, Tuan Pitaya. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa, Tuan Pitaya. Itu baik bagi Anda. Selamat malam, Tuhan bersama Anda, Tuan Pitaya&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Yeah</em>, semoga Tuhan memang benar-benar ada, dan tak menderita amnesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">PULANG, meringkuk di depan pendiangan, dan tidur. Ya, apa lagi yang mesti dikerjakan selain itu? Ia melenggang seperti ganggang, merasakan kulitnya berkilatan di bawah bulan. Aku akan menjadi ikan, desisnya, sambil memandangi ujung-ujung jarinya yang membeku, bagai ada kupu-kupu yang hendak muncul dari situ.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kamar penuh bau sunyi, seperti wangi melati yang menguar dari tubuh istrinya yang mengapung tentram dalam akuarium: menyimpan cinta pada bulat bola matanya. <em>Yeah</em>, cinta, hanya ingatan yang terus dipertahankan orang-orang kesepian. Orang sebelah masih saja bernyanyi, datar, <em>you slip in to the silence of my dream last night</em>&#8230;., bagai memanggili kenangan manis ditengah kesakitan. Sepertinya ia pernah mendengar lagu itu, membuat Pitaya tanpa sadar ikurt bergumam: <em>Sweet memories&#8230; sweet memories&#8230; hmm&#8230;hmm&#8230;</em> Lirih. Alangkah jauh suara itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sambil memandangi mayat istrinya dalam akuarium kenangan Pitaya bangkit dan menggugahnya, membuatnya ingin menjadi sepasang kekasih abadi. Aku tak ingin lagi meninggalkanmu, istriku, bisiknya sambil mengecup kaca akuarium. Malam ini ia ingin tidur dalam akuarium, mendekap tubuh istrinya yang dingin oleh lendir, mendekap kenangan dan impiannya, panjang. Pitaya melepas pakaiannya. Sepi. Menatap akuarium itu, dunia yang membuatnya merasa memiliki cinta, kemudian masuk ke dalamnya. Cahaya biru bulan menerobos masuk celah jendela, menimpa sebagian sisi akuarium, seakan mengirim selembar langit biru. Pitaya mengapung, tertidur dalam akuarium, tak hendak bangun&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:12pt;"><span> </span><span> </span><strong><span> </span></strong></span><strong><span style="font-size:11pt;">Yogyakarta, 1995-1997</span></strong><span style="font-size:11pt;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Catatan:</span></strong></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a> Lihat sajak <em>Malam Pembredelan</em>, karya Joko Pinurbo.</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> Seperti satu adegan dalam film<em> Independence Day.</em></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a> Dari sajak Goenawan Mohamad,<em> Parikesit</em>.</p>
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
<p class="MsoEndnoteText">
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=332&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/09/akuarium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2009/02/akuarium.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">akuarium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/23/mawar-di-tiang-gantungan/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/23/mawar-di-tiang-gantungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 10:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen magis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Natal]]></category>
		<category><![CDATA[surealis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Kupersembahkan cerpen Natal ini untuk semua yang merayakannya. Bolehlah ini disebut cerpen magis atau surealis. Apa pun, saya harap kisah ini bisa merefleksikan keimanan kita.
 
(Kompas, 21 Desember 2008)
MAWAR DI TIANG GANTUNGAN
Cerpen Agus Noor
 
KUCERITAKAN apa yang kusaksikan. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karna aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=298&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Kupersembahkan cerpen Natal ini untuk semua yang merayakannya. Bolehlah ini disebut cerpen magis atau surealis. Apa pun, saya harap kisah ini bisa merefleksikan keimanan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;"> <img class="alignnone size-full wp-image-299" title="gambar38" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar38.jpg?w=348&#038;h=311" alt="gambar38" width="348" height="311" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span id="more-298"></span><em><span style="font-family:&quot;">(Kompas, 21 Desember 2008)</span></em><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">MAWAR DI TIANG GANTUNGAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Cerpen Agus Noor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&quot;">KUCERITAKAN</span></strong><span style="font-family:&quot;"> apa yang kusaksikan. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karna aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi nampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku, seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu muncul dengan gaun yang mengundang, kakinya jenjang, berdiri menunggu seseorang datang, dan kau menyebutnya pelacur. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung tahu. Namanya Mawar. 28 tahun lebih enam hari. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam 9 pagi. Sebulan setelah melahirkannya, ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan suaminya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Aku bisa melihat semua yang hendak disembunyikannya. Bilur jejak luka di tubuhnya, dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah petak kontrakannya di pinggiran kota sana, masa lalunya yang penuh kesedihan, suaminya yang minggat, dua tahi lalat kecil di punggungnya. Sungguh, tak ada yang tak terlihat olehku yang buta. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Itulah sebabnya aku menyukainya sejak pertama. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Kuceritakan penglihatanku. Tapi ia hanya tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi,” katanya. “Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul, ia memilih menyendiri. Kadang tampak ganjil juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karna rajasinga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Dan kamu, kenapa buta?” Ia sayu menatapku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Aku tak buta. Aku memang memilih tak punya mata.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Lalu aku pun bercerita padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit, mereka bergantian membisikan nasib yang akan kujalani. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk, disematkannya tangan dan kaki pada tubuhku, diberinya aku degub jantung. Aku senang sekali ketika sepasang malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Kemudian ditunjukan padaku sepasang mata yang indah, dan berkata, “Mata ini akan membuatmu jelita. Tapi kau akan menderita karenanya.” </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Lalu kukatakan pada malaikat itu, “Biarlah aku tak punya mata saja.” </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">“Bila kau tak punya mata, kau akan melihat banyak rahasia.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">“Kalau begitu, buat apa aku punya mata, bila aku bisa melihat tanpanya?”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">“Baiklah, kami akan menaruh matamu ini di surga. Kelak, kamu bisa kembali mengambilnya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Tentu, kau bisa menduga, ketika aku lahir dan menatap dunia, perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Ia begitu membenciku, dan tak pernah mau menatapku. Ia membuangku. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah, kemudian menjualku pada seseorang yang menampung para pengemis. Melihatku yang tak punya mata, ia seperti menemukan barang langka paling berharga. “Anak ini akan membuat iba siapa pun yang menatapnya. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka.” Di rumah itu tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Seorang anak kedua kakinya pengkor. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus berleleran. Ada yang bongkok. Ada yang gagu. Jileng. Perot. Digerogoti kusta. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Tentu, aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka, dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Aku tahu, orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlama-lama bersitatap denganku. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Sengaja kubuka kelopak mataku, dan ia bergidik ngeri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Lihat, kau pun takut menatapku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Aku bisa memahami perasaannya. Seorang pelacur cantik bersandang dekat perempuan tua buta, kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Ia bisa kehilangan pelanggan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Bukannya aku tak percaya. Tapi dengan apa kau melihat, kalau kau tak punya mata?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu,<span> </span>aku bisa melihatnya mengembang dan mengkerut seperti gumpalan kabut. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa yang lembek, aku bisa menyentuhnya dengan tanganku, cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam, kemudian meliuk merunduk. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip, menggeliat bosan terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian yang menunggu pelanggan dan sentuhan…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Dia tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">“Lihatlah, bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Ia kembali tertawa. Kutegaskan padanya, betapa setiap suara punya warna yang berbeda-beda. <em>Kau mendengar suara, sementara aku bisa melihatnya</em>. Ia terus tertawa. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. “Kau menyenangkan. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Sejak itu aku sering menemaninya. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Dunia yang kusaksikan membuatnya terpesona. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Ia memang tak menuduhku berdusta, tapi tak percaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Barangkali ia pun merasakan firasat itu, tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil, dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan menabrak-nabrak dinding.<span> </span>Lepas 3 dini hari. Sebagian pelacur telah pergi. Ia berteduh di trotoar, rambutnya basah tertempias hujan. Di pojokan toko, aku rebahan pada tumpukan kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku seperti mendengar lecut petir, ketika kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia pun hendak lari. Tetapi para petugas sudah mengepungnya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Aku tahu mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Arak yang memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih beringas dari biasanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan nafas mereka ketika menyeringai tertawa. Mungkin saat itu aku berteriak. Mungkin tidak. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Aku bahkan nyaris dicekiknya, tapi petugas yang lain segera berteriak, “Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Lalu kesaksikan mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Melemparkannya ke mobil patroli. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Begitu nyata dalam penglihatanku. Wajah Mawar pucat, bibirnya bengkak kena pukul, seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding, ketika Mawar menjerit. Mereka menyumpal mulutnya. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa, kemudian bergiliran memperkosanya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu, bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari binatang terluka. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit panjang. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil diraihnya. Ia mengamuk dengan buas. Dihujamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang terkapar…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Begitulah kejadiannya. Kuceritakan apa yang kusaksikan, tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Padahal bukan aku yang dusta, tapi mereka. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Mereka bilang mereka tengah patroli seperti biasa. Mawar mereka bawa dan nasehati baik-baik ketika mendadak ia mengamuk. Rupanya ia mabok berat. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat – yang sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ada bercak darah di pisau itu. Dan selanjutnya kau tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: katanya Mawar baru saja membunuh seorang pelanggan yang tak membayarnya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti, ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Ia pembunuh yang telah memotong-motong delapan korbannya. Pelacur dan pembunuh. Itu alasan yang cukup untuk menyeretnya ke tiang gantungan. Kalian seketika merasa nyaman, karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin melenyapkan maksiat dari kota. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Mereka selama ini membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzinah. Segala yang cabul mesti dimusnahkah, karena begitulah menurut undang-undang yang baru kalian sahkan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota, dicambuk dan dirajam, kemudian digantung sebagai tontonan. Kusaksikan senja yang memar, burung gagak merah berkaokan, dan angin yang muram berkesiur pelan membuat tubuh itu terayun di tiang gantungan. Sampai malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Keesokan harinya kalian gempar. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Di pasar. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. Di warung dan kafe. Di pangkalan ojek. Di seluruh kota. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai sekarang pun kalian masih terus kasuk-kusuk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Karna bagaimana pun tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Siapa yang membawanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Baiklah, kuceritakan apa yang telah kusaksikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Setelah mayat itu digantung, kalian pun bubar. Sebagian kalian tertunduk, seakan ingin menghapus bayangan buruk. Tapi kalian tak ingin terus menerus disesah kengerian dan sesal karena saat itu hari Natal. Kalian mesti ke gereja. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Maka malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Hujan rinai turun, malam mengelabu. Aku sendirian di alun-alun itu, memandangi tubuh Mawar yang tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu berterbangan dihembus angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang menyanyatkan keperihan bersama lebuh dan dingin yang mulai membaluri kota sementara sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Saat itulah, ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh suka cita, aku tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah, seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Matanya seperti bintang bening. Seyumnya seperti anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Rambutnya ikal dan panjang. Ia berjalan anggun, seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air, meski sesekali tampak limbung karena menahan luka dilambungnya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Kudengar ia berseru, seperti memanggil nama pelacur itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-family:&quot;">Aku begitu terkesima menyaksikannya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya keemasan yang cemerlang. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan, dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu, kemudian menurunkannya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Kudengar kalian masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Seperti pengantin<span> </span>membopong mempelainya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-family:&quot;">Kuceritakan ini pada kalian, tapi kalian menuduhku pendusta.***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt .5in;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Yogyakarta, 2008</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=298&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/23/mawar-di-tiang-gantungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar38.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar38</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 09:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah Sastra Pena Kencana 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Terbaik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Libur tlah tiba… libur tlah tiba…
 Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin, akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=293&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Libur tlah tiba… libur tlah tiba…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span style="font-size:10pt;"> Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin,<img class="size-full wp-image-295 alignright" title="gambar43" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar43.jpg?w=192&#038;h=245" alt="gambar43" width="192" height="245" /> akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat <em>Kompas</em>, 21 September 2008, masuk dalam “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”.<span id="more-293"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hmm. Rupanya Anugerah Sastra Pena Kencana ke dua, sudah melewati seleksi penjurian. Buku itu, akan beredar bulan Februari 2009 nanti. Selain memilih 20 cerpen yang dianggap terbaik, sederet juri: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Linda Christanty, Putu Wijaya, Sitok Srengenge, Sutradji Calzoum Bachry, juga telah memilih 60 Puisi Indonesia Terbaik – ini berbeda dengan tahun lalu, yang jumlahnya 100. Konon, karena para juri merasa kesulitan memenuhi kuota angka 100 bagi puisi. Kenapa? Tentu hanya juri – dan Tuhan tentu saja – yang bisa menjawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ini cerpen “Kartu Pos dari Surga”, yang terpilih itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:22pt;">Kartu Pos dari Surga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;">Cerpen Agus Noor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><img class="alignnone size-full wp-image-292" title="kartu-pos-dari-surga" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/kartu-pos-dari-surga.jpg?w=435&#038;h=308" alt="kartu-pos-dari-surga" width="435" height="308" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MOBIL</span></strong><span style="font-size:10pt;"> jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…Bibiiikkk…” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ada apa, Non?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MARWAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu <em>nanya</em> kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. “Saya <em>ndak</em> tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap 6 tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, “Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater ke mari…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan, kadang meledek istrinya, “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru <em>playgroup</em>, Beningnya sudah pegang <em>hape</em>. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya <em>handphone,</em> agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana semasa mereka pacara, Ren bercerita dengan suara penuh kenangan, “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk dipangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. “Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang <em>jadul</em>. Aku hanya ingin beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">KETUKAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> di pintu membuat Marwan bangkit, dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Nggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan menggandeng anaknya masuk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Besok Papa bisa anter Beningnya nggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Nganter ke mana? Pizza Hut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya menggeleng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kemana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ke rumah Pak Pos…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kalu emang Pak Posnya sakit, biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD <em>Pokoyo</em>, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan <em>yacht </em>tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding gua. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Atau kamu bisa saja tulis katu pos buat dia. Seolah-oleh itu dari Ren..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MOBIL</span></strong><span style="font-size:10pt;"> jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Wah, udah datang ya kartu posnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak, dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barankali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya, ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut, dan mayatnya tak pernah ditemukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">KETUKAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Duabelas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Terburu Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran, dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Buka Beningnya! Cepat buka!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap, dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang beserakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti ngater kartu posnya sendiri…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:.5in;" align="right"><strong><span style="font-size:11pt;">Singapura-Yogyakarta, 2008</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=293&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar43.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar43</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/kartu-pos-dari-surga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kartu-pos-dari-surga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- SETANGKAI SUNYI</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/25/setangkai-sunyi/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/25/setangkai-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 05:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Imajis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=276&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><strong><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/gambar16.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-277" title="gambar16" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/gambar16.jpg?w=291&#038;h=365" alt="gambar16" width="291" height="365" /></a>AKU</strong> tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian?<span id="more-276"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di sela bunga-bunga mawar yang mekar dan di bawah gerimis yang membasahi senja, setangkai sunyi itu tampak begitu bening dalam kehindahannya. Seakan bunga keabadian yang tumbuh dari duka abadi. Seperti segala yang bermula dari sunyi, ia menjadi terlihat begitu berarti. Bukankah dunia ini juga sebermula dari sunyi? Entahlah. Aku tak mengerti. Aku tak terlalu memahami. Tetapi yang pasti, kini, di hadapanku telah tumbuh setangkai sunyi yang begitu cemerlang, basah dan murni. Memancarkan keredupan yang menentramkan hati. Segala yang kupandang seperti menjelma bentangan luas yang lembut dan segar. Langit bersih seperti permukaan agar-agar. Aku menyaksikan dunia yang selama ini hanya ada dalam harapan. Aku menyaksikan sekawanan burung merpati terbang meniti sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku memejam menyaksikan itu semua. Ini bukan dunia menyedihkan yang kukenal. Dan aku, tiba-tiba, menemukan diriku yang termangu di beranda, seperti luluh di bawah cahaya pucat rembulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tapi bayangan buruk itu berkeredap lagi. Bayangan yang tak ingin kau kekalkan dalam ingatan, tetapi selalu muncul seperti gedoran di tengah malam. Mengejutkan dan membuatnya tergeragap ketakutan. Aku menyaksikan darah menggenang di lantai…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bayangan itu begitu jelas, meski aku bersikeras tak ingin mengingatnya lagi. Aku baru saja pulang menjelang tengah malam dengan keletihan. Aku bayangkan Asih, istriku yang bermata lembut, akan membukakan pintu dan segera menyiapkan secangkir kopi hanya untuk meneduhkan penat. Anak-anakku mungkin masih ada yang tengah belajar. Atau mungkin mereka malah masih nonton televise. Atau mungkin mereka sudah tertidur di kursi ruang keluarga, sementara televise masih saja menyala. Asih, barangkali juga terkantuk menunggu kepulanganku. Ia selalu ingin membukakan pintu untukku. “Agar aku selalu tahgu kau telah kembali,” katanya. Itulah kenapa ia tak suka bila aku bersikeras untuk menduplikat saja kunci pintu. “Kalau kau bawa kunci, kau jadi punya alasan untuk kembali lebih malam, atau malah pulang dini hari…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dan suami yang terbiasa pulang dini hari, akan tergoda untuk tidak pulang, dan lupa kalau ada yang tengah menunggu di rumah. Aku tersenyum setiap Asih mengatakan itu sambil lalu. Aku tahu kecemasannya, dan karenanya aku makin mencintainya. Ah, betapa menyenangkan membayangkan ada kehangatan yang menunggu di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tapi malam itu aku menemukan rumah begitu ganjil. Pintu setengah terbuka, dan darah berceceran di lantai. Perabotan terguling berantakan. Asih tertelungkup dengan kepala pecah. Ida, Renaldi, Inan dan Betita – anak-anakku tercinta – terkapar dengan mata terbelalak. Seakan ketakutan masih lekat di kelopak mata mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Benarkah<span> </span>semua itu sungguh-sungguh nyata? Benarkan darah, kekerasan dan pembantaian tidak cuma terjadi di televisi? Jadi, semua berita di koran-koran itu tidak mengada-ada? Perampokan terjadi di mana-mana. Pembunuhan setiap saat terjadi di mana-mana.<span> </span>Pembantaian di mana-mana. Dulu tiada hari tanpa olah raga, kini tiada hari tanpa pembunuhan. Dunia telah menjadi penuh kisah kekejaman. Kini aku bisa merasakan, betapa bukan kematian benar yang menakutkan, tetapi cara bagaimana kita matilah yang membuat kita ngeri. Cara istri dan anak-anakku mati, selalu membuatku merinding. Membuatku selalu bertanya, benarkan ini dunia yang diinginkan Tuhan ketika menciptakannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><strong>AKU</strong> masih termangu di beranda, menyaksikan setangkai sunyi itu tumbuh mekar dan makin mengesankan, sementara kegelapan mulai menampakkan diri bersama gerimis. Pagar dan pepohonan membasah, jalanan berkilat dan makin muram, sedang pohon-pohon tampak menggigil ganjil. Aku melihat setangkai sunyi itu bergoyang-goyang dijentikan angin. Ada suasana gaib yang ditimbulkannya. Seperti ada kesedihan yang diuntai jadi bunga keindahan. Atau semacam kesyahduan dan kerelaan yang tulus dalam duka tak berkesudahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Makin lama setangkai itu makan mekar membesar, dan aku semakin berdebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di jalanan, orang-orang masih saja lalu-lalang tanpa mempedulian gerimis. Apakah yang membuat mereka tidak mempedulikan gerimis? Kenapa tergesa-gesa? Apakah mereka juga menyimpan ketakutan ketika melintas gang remang atau jalan tampa penerangan? Kulihat seseorang melangkah bergegas. Mungkin tadi ia lama berdiri di halte, sementara rinai gerimis membuat sekelilingnya jadi tampak mengerikan: seperti ada rahang besar yang akan menelannya. Dan ia jadi gugup, lalu memutuskan untuk segera jalan kaki. Tak jauh dari halte itu, barangkai, ia melihat ada seseorang yang terbunuh ketika baru saja turun dari taksi. Pastilah banyak peristiwa terjadi di luar sana. Sepasang kekasih yang berjalan sambil bergandengan tangan tiba-tiba di hampiri segerombolan pemuda. <span> </span>Gadis itu panik. Tanpa babibu gerombolan itu memukuli kekasihnya hingga terkapar dalam got. Lalu gadis itu<span> </span>hanya bisa merasakan berate kerongkongannya kering dan segumpal jerit membuat lehernya sesak ketika gerombolan pemuda ity mulai menyeretnya masuk ke dalam bangunan kosong terbengkalai. Mungkin ada beberapa orang yang menyaksikannya. Tapi tak berani berbuat apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Banyak kisah disembunyikan kota namun kita tak tahu maknanya. Apa pentingnya semua itu bagi kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Masih saja aku termangu di beranda dengan secangkir kopi yang telah dingin memandangi setangkai sunyi itu ketika kudengar teriakan riang memanggilku dari dalam rumah. Ah, suara itu! Terdengar penuh pengertian. Suara lembut Asih yang bagai selalu menawarkan kelembutan yang membuatku ingin berada di dekatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masuklah. Nantu kau masuk angin…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Suara itu masih saja terdengar dalam ingatan. Sampai aku yakin ia memang masih hidup. Dan ia memang tetap hidup. Dalam ingatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku masih saja mendengar suara pertengkaran Ida dan renaldi memperebutkan lauk pauk ketika makan malam. Masih kudengar derai tawa mereka yang renyak ketika menonton televisi. Masih begitu jelas jeritan dan tawa mereka ketika saling kejar-kejaran sambil saling melempar bantal. Suara Inan bermain piano. Betita yang merengek minta dikelonin. Lalu kudengar suara Asin menyuruh Ida dan Renaldi belajar. Aku ingat pada mata si bungsu yang menatap manja. Sepasang mata itu mirip sekali dengan mata ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayo, kamu panggil Ayahmu masuk… Biar kamu dikelonin Ayah, ya…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku mendengar langkar ringan betika mendekati pintu. Kurasakan betika hati-hati mendekatiku. Aku menengok ke arah pintu itu. Tak ada siapa-siapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tapi aku yakin Betita masih ada. Ia mungkin malu, sembunyi di balik pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku selalu measa semuanya ada dan nyata. Sebagaimana setiap kali aku bangun pagi dengan malas karena tak tahu harus melakukan apa dengan hidup yang makin hampa dan membosankan ini, kemudian mendapati kesibukan pagi ketika bayangan anak-anak berkelebatan ingin cepat berangkat sekolah.<span> </span>Aku mendengar celoteh mereka menikmati roti. Aku mendengar denting sendok di piring. Aku mencium harum kopi mengambang di udara pagi. Dan aku bejalan mendakati meja makan. Mendapati nasi goreng yang sedap. Terhidang sempurna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dan aku termangu memandangnya. Mencoba meyakinkan betapa segalanya masih seperti semula. Anak-anak dan istriku tak pernah mai dengan cara mengerikan seperti yang kusaksikan. Ah, siapa yang bisa menghapus kenangan? Mereka tetap berkeliaran dalam rumah. Itu lebih baik, batinku. Dari pada mereka berlarian di luar rumah. Mereka bisa saja sewaktu-watu mati dengan cara mengerikan. Untuk kedua kali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masuklah. Sudah malam. Nanti kamu masuk angin…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Suara itu kembali memanggil. Aku bangkit, dan menyempakan memetik setangkai sunyi yang tumbuh dalam rimbun kesepianku itu. Aku ingin memberikan setangkai sunyi itu buat istriku. Biarlah nanti ia akan menaruhnya di vas bunga di samping potret keluarga. Agar kami bisa selalu memandangi dan menikmatinya bersama-sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><strong>SETIAP </strong>kali ada kenalan atau kerabat yang datang, mereka sangat terpukau dengan setangkai sunyi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar-benar menakjubkan!” pekik mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya. Aku tak pernah membayangkan kalau ada sekuntum bunga yang begini indah. Saya bukanlah orang yang suka bunga, tetapi jujur, saya langsung jatuh cinta melihat bunga ini. Bunga apakah ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Itu bukan bunga,” kataku. “Itu kesunyian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah, aku tak mengerti maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kalian memang tak bakal mengerti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lantas aku mengajak mereka ke halaman, menunjukkan serimbun sunyi yang bermekaran. Mereka terpesona. Mereka dengan gembira memetik dan membawanya pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dan aku, selalu, kembali merasa makin sepi setelah mereka pergi. Kembali disergap kehampaan ketika merasakan dunia yang makin tidak mempesona. Sendiri merawat<span> </span>kesunyian yang tumbuh di halaman. Begitulah. Aku rawat bunga sunyi itu hingga tumbuh subur. Aku tanam bunga sunyi itu di sekeliling pagar. Di bawah jendela kamar, agar setiap aku bangun pagi bisa kuhirup harum baunya yang menentramkan. Kutanam bunga sunyi itu di setiap pojok rumah dan juga lahan-lahan kenangan yang seringkali sayup-sayup membuatku menangis sendirian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setangkai sunyi yang mula-mula aku temukan tumbuh di antara rerimbun bunga-bunga itu kini telah memenuhi halaman dan setiap bagiah rumah. Setangkai sunyi itu kini bermekaran di mana-mana. Setiap menghirup keharumannya aku seperti melayang dan mengapung. Kelopaknya selalu berkilat. Daun-daunnya selalu basah. Tangkainya selalu bergoyangan. Aku melihat anak-anakku berlarian riang seperti kupu-kupu yang beterbangan dari satu tangkai sunyi ke tangkai sunyi lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setiap pagi aku selalu menyaksikan setangkai sunyi itu berbunga. Dan setiap kali itu pula aku masih merasakan keperihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tegal, 1994.</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=276&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/25/setangkai-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/gambar16.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar16</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>