Arsip untuk Kategori 'Cerpen'

- Sebutir Nasi untuk Pencuri

Sebutir Nasi untuk Pencuri

INI hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta weton-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan hari baik seperti itu, ia menjadi berhati-hati ketika memutuskan kapan ia mesti mencuri. Hingga bertahun-tahun menjadi pencuri, syukur alhamdulillah, semuanya lancar-lancar dan baik-baik saja saja. Lanjutkan membaca ‘- Sebutir Nasi untuk Pencuri’

- IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI

gambar

BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…

Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya. Lanjutkan membaca ‘- IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI’

- ASMARADANA

Asmarandana

INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.

Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…

Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya. Lanjutkan membaca ‘- ASMARADANA’

- RENDEZVOUS

rendevaouz

SUATU malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu.

Aku terapung terseret arus kesunyian cahaya yang menggenangi jalanan kota. Seperti bersampan, mobil meluncur pelan dan tenang. Kulihat malam menyepuhkan kelam, dan aku menikmatinya sebagaimana kelelawar terpesona pada kegelapan yang gaib. Begitulah, seperti biasanya, aku keluar rumah dengan gairah yang meruah, untuk menikmati gemerlap cahaya yang megah. Masih bisa kucium hangat senja menguap di kaca-kaca gedung-gedung yang berubah gemerlap, dan kusaksikan kota yang perlahan merekah dipulas gairah aneka warna cahaya. Aku meluncur pelan, dan kurasakan kesunyian perlahan-lahan mulai menghisap bias cahaya yang berpendaran, hingga suasana terasa keramat. Kota seperti penderita insomnia yang pucat dan mulai sekarat. Lanjutkan membaca ‘- RENDEZVOUS’

- 20 Keping Puzzle Cerita

puzzlejpeg1

Ambulan yang Lewat Tengah Malam

Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.


Sirene

Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak yang rewel, si ibu akan menakut-nakuti, “Nanti kau diculik ambulan…” Setiap ada sirene melintas, anak-anak yang tengah bermain gobag sodor atau petak umpet buru-buru berlarian masuk rumah. “Mereka selalu ngeri membayangkan ambulan yang disetiri mayatmu,” kataku.

Kau tersenyum mendengar kisah itu.


Kucing Hitam

Aku ingat, saat para tetangga datang melayat. Banyak yang penasaran kenapa kau mati begitu mendadak. Mereka bercakap nyaris berbisik, menduga-duga – mungkin ada juga yang diam-diam menggunjingkanmu – sementara jenazahmu berbaring tenang. Bau kematian seperti mengedap dalam ruangan.

Saat itulah, mendadak, seseorang menjerit, ketika melihat seekor kucing hitam melompati jenazahmu. Beberapa pelayat yakin: saat itu melihat matamu berkedip-kedip.

Lanjutkan membaca ‘- 20 Keping Puzzle Cerita’

- BUKU PENA KENCANA 2009

buku-pena-kencana-20092

Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya “Kartu Pos dari Surga”, di samping beberapa cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. Laksana), “Terbang” (Ayu Utami), “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” (Azhari), “Cincin Kawin” (Danarto), “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan), “Perbatasan” (F. Dewi Ria Utari), “Usaha Menjadi Sakti” (Gunawan Maryanto), “Apel dan Pisau” (Intan Paramaditha), “Sonata” (Lan Fang), “Sebuah Jazirah di Utara” (Linda Christanty), “Semua untuk Hindia” (M. Iksaka Banu), “Mbok Jimah” (Naomi Srikandi), “Smokol” (Nukila Amal), “Suap” (Putu Wijaya), “Foto Ibu” (Ratih Kumala), “Hari Ketika Kau Mati” (Stefanny Irawan), “Lembah Kematian Ibu” (Triyanto Triwikromo), “Kamar Bunuh Diri” (Zaim Rofiqi), “Bila Jumin Tersenyum” (Zelfeni Wimra).
Perihal cerpen-cerpen yang terpilih itu, Adi Wicaksono memberikan semacam catatan yang menjadi pengantar buku tersebut.

- AKUARIUM

akuarium

PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: my days are just an endless dream of emptiness…. Seakan muncul dari kegelapan yang jauh, Krraaakk!! Berhentilah memekik — Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya eneg. Usia tua yang celaka.

Di sudut kamar, Pitaya melihat istrinya tertidur, damai, mengapung dalam akuarium, bagai piranha raksasa. “Selamat pagi,” mendesis. Mencoba menghitung gelembung air, sekadar meyakinkan bahwa ia masih bisa bahagia hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Bangkit sungkan menuju lemari. Cuma mendapati beberapa potong roti berjamur dan sekerat daging busuk. Tak ada keju atau mentega. Melirik wajahnya di cermin: lihatlah, seekor keledai bangka! Bayangan itu membuat mulutnya kecut. Dan keledai tua itu beringsut menuju jendela, mencoba meraih kehangatan pagi, seperti anak kecil menyambut kedatangan mamanya pulang belanja membawa boneka. Tapi ujung jari-jarinya tetap menggigil, membuatnya berfikir, betapa kesepian adalah makhluk asing yang tak gampang dikenali. Lalu dari ujung jari-jarinya yang menggigil itu, muncul kupu-kupu. berpuluh kupu-kupu, yang segera menghambur keluar jendela. Lanjutkan membaca ‘- AKUARIUM’

- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN

Kupersembahkan cerpen Natal ini untuk semua yang merayakannya. Bolehlah ini disebut cerpen magis atau surealis. Apa pun, saya harap kisah ini bisa merefleksikan keimanan kita.

gambar38

Lanjutkan membaca ‘- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN’

- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA

Libur tlah tiba… libur tlah tiba…

Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin,gambar43 akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat Kompas, 21 September 2008, masuk dalam “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”. Lanjutkan membaca ‘- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA’

- SETANGKAI SUNYI

gambar16AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian? Lanjutkan membaca ‘- SETANGKAI SUNYI’

Halaman Berikutnya »


 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files