Arsip untuk Kategori 'Cerpen'

- 20 Keping Puzzle Cerita

puzzlejpeg1

Ambulan yang Lewat Tengah Malam

Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.


Sirene

Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak yang rewel, si ibu akan menakut-nakuti, “Nanti kau diculik ambulan…” Setiap ada sirene melintas, anak-anak yang tengah bermain gobag sodor atau petak umpet buru-buru berlarian masuk rumah. “Mereka selalu ngeri membayangkan ambulan yang disetiri mayatmu,” kataku.

Kau tersenyum mendengar kisah itu.


Kucing Hitam

Aku ingat, saat para tetangga datang melayat. Banyak yang penasaran kenapa kau mati begitu mendadak. Mereka bercakap nyaris berbisik, menduga-duga – mungkin ada juga yang diam-diam menggunjingkanmu – sementara jenazahmu berbaring tenang. Bau kematian seperti mengedap dalam ruangan.

Saat itulah, mendadak, seseorang menjerit, ketika melihat seekor kucing hitam melompati jenazahmu. Beberapa pelayat yakin: saat itu melihat matamu berkedip-kedip.

Lanjutkan membaca ‘- 20 Keping Puzzle Cerita’

- BUKU PENA KENCANA 2009

buku-pena-kencana-20092

Buku Pena Kencana: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009, telah menampakkan wujudnya. Selain buku yang menghimpun cerpen itu, juga ada kategori puisi, yang merangkum ‘60 Puisi Indonesia Terbaik 2009’. Di antara 20 cerpen yang terpilih itu, ada cerpen saya “Kartu Pos dari Surga”, di samping beberapa cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” (A.S. Laksana), “Terbang” (Ayu Utami), “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” (Azhari), “Cincin Kawin” (Danarto), “Gerimis yang Sederhana” (Eka Kurniawan), “Perbatasan” (F. Dewi Ria Utari), “Usaha Menjadi Sakti” (Gunawan Maryanto), “Apel dan Pisau” (Intan Paramaditha), “Sonata” (Lan Fang), “Sebuah Jazirah di Utara” (Linda Christanty), “Semua untuk Hindia” (M. Iksaka Banu), “Mbok Jimah” (Naomi Srikandi), “Smokol” (Nukila Amal), “Suap” (Putu Wijaya), “Foto Ibu” (Ratih Kumala), “Hari Ketika Kau Mati” (Stefanny Irawan), “Lembah Kematian Ibu” (Triyanto Triwikromo), “Kamar Bunuh Diri” (Zaim Rofiqi), “Bila Jumin Tersenyum” (Zelfeni Wimra).
Perihal cerpen-cerpen yang terpilih itu, Adi Wicaksono memberikan semacam catatan yang menjadi pengantar buku tersebut.

- AKUARIUM

akuarium

PAGI menerobos jendela, menebar kehangatan. Mata Pitaya perlahan membuka, silau oleh cahaya pagi, seperti sekuntum melati. Menggeliat, jengah mendapati selapis hari terbaring di piring roti. Sunyi itu masih tercium juga, membuat ujung-ujung jarinya menggigil penuh kecemasan. Gorden yang terbuka, tergantung dingin seperti kulit binatang buruan yang tengah dikeringkan. Ia lupa menutupnya semalam. Dari ruang sebelah, seseorang bernyanyi dengan suara angsa digorok: my days are just an endless dream of emptiness…. Seakan muncul dari kegelapan yang jauh, Krraaakk!! Berhentilah memekik — Pitaya ingin berteriak, tapi tak ada suara. Lambungnya eneg. Usia tua yang celaka.

Di sudut kamar, Pitaya melihat istrinya tertidur, damai, mengapung dalam akuarium, bagai piranha raksasa. “Selamat pagi,” mendesis. Mencoba menghitung gelembung air, sekadar meyakinkan bahwa ia masih bisa bahagia hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Bangkit sungkan menuju lemari. Cuma mendapati beberapa potong roti berjamur dan sekerat daging busuk. Tak ada keju atau mentega. Melirik wajahnya di cermin: lihatlah, seekor keledai bangka! Bayangan itu membuat mulutnya kecut. Dan keledai tua itu beringsut menuju jendela, mencoba meraih kehangatan pagi, seperti anak kecil menyambut kedatangan mamanya pulang belanja membawa boneka. Tapi ujung jari-jarinya tetap menggigil, membuatnya berfikir, betapa kesepian adalah makhluk asing yang tak gampang dikenali. Lalu dari ujung jari-jarinya yang menggigil itu, muncul kupu-kupu. berpuluh kupu-kupu, yang segera menghambur keluar jendela. Lanjutkan membaca ‘- AKUARIUM’

- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN

Kupersembahkan cerpen Natal ini untuk semua yang merayakannya. Bolehlah ini disebut cerpen magis atau surealis. Apa pun, saya harap kisah ini bisa merefleksikan keimanan kita.

gambar38

Lanjutkan membaca ‘- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN’

- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA

Libur tlah tiba… libur tlah tiba…

Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin,gambar43 akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat Kompas, 21 September 2008, masuk dalam “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”. Lanjutkan membaca ‘- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA’

- SETANGKAI SUNYI

gambar16AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian? Lanjutkan membaca ‘- SETANGKAI SUNYI’

- DUNIA SERENA

gambar3

GEMERINCING kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus pilar-pilar cahaya matahari yang menyemburat celah-celah awan, meniti lengkung pelangi. Lalu, dari langit yang gemerlapan dan penuh nyanyian, muncullah peri-peri mungil bersayap bening, membawa keranjang penuh bunga aneka rupa.

“Selamat datang, Serena… Selamat datang….” Lanjutkan membaca ‘- DUNIA SERENA’

- 6 FIKSI MINI

– Untuk Meltarisa

Sebutir Debu

Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.

Anjing

Ketika mendapati dirinya berubah jadi anjing, ia merasa itu kejadian paling membahagiakan dalam hidupnya.

Misteri Mutilasi

Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke tepi kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.

Dongeng Romeo & Juliet

Akhirnya Romeo dan Juliet menenggak racun bersama. Dan mereka pun bahagia selama-lamanya.

Wajah Seorang Pembunuh

Ia menggambar wajah. Ia merasa sangat mengenalinya. Itu wajah yang bertahun lalu membunuhnya.

Bayi

Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.

- PEMBURU

Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra HORISON, diantara sepuluh cerpen yang terbit di majalah itu sepanjang tahun 1990-2000. Roslan Jomel, kawan penulis di Malaysia, mengabarkan kalau cerpen ini baru saja dimuat di suplemen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di majalah Dewan Sastera (yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia), bulan Agustus 2008 ini.

Lanjutkan membaca ‘- PEMBURU’

- L’ABITUDINE

Cerpen Agus Noor

SERINGKALI Andini membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menentramkan.

“Sungguh, Jos! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Aku akan bangkit dengan bergairah, membuka jendela, dan seketika aku menjelma burung kolibri…” Andini bicara sembari memegangi gelas fruit punch yang sedikit gemetar dalam gengamannya, kemudian mengarahkan pandangannya pada lembah yang terjamah basah, menghindari tatapan Joesephine. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”

Josephine, yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”

“Kenapa?” Lanjutkan membaca ‘- L’ABITUDINE’

Halaman Berikutnya »


 

Juli 2009
S S R K J S M
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files