<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Noor_files &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/category/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2009 10:00:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='agusnoorfiles.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4a8cd90482d104293b36c5cdcbce672e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Noor_files &#187; Buku</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>- PENA KENCANA KE-2 TELAH TIBA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 09:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Anugerah Sastra Pena Kencana 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Terbaik Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Libur tlah tiba… libur tlah tiba…
 Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin, akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=293&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;">Libur tlah tiba… libur tlah tiba…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span style="font-size:10pt;"> Nyanyian kanak-kanak Tasya membuat saya tertawa. Mungkin karena saya memang pingin libur panjang. Saya ingin,<img class="size-full wp-image-295 alignright" title="gambar43" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar43.jpg?w=192&#038;h=245" alt="gambar43" width="192" height="245" /> akhir tahun ini menepi dari kehirukpikukan, dan membaca. Hanya membaca. Dan hanya membaca. Libur belum lagi tiba, tapi surat dari Panitia Pena Kencana lebih dulu tiba. Cerpen saya, “Kartu Pos dari Surga”, yang dimuat <em>Kompas</em>, 21 September 2008, masuk dalam “20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009”.<span id="more-293"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Hmm. Rupanya Anugerah Sastra Pena Kencana ke dua, sudah melewati seleksi penjurian. Buku itu, akan beredar bulan Februari 2009 nanti. Selain memilih 20 cerpen yang dianggap terbaik, sederet juri: Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Linda Christanty, Putu Wijaya, Sitok Srengenge, Sutradji Calzoum Bachry, juga telah memilih 60 Puisi Indonesia Terbaik – ini berbeda dengan tahun lalu, yang jumlahnya 100. Konon, karena para juri merasa kesulitan memenuhi kuota angka 100 bagi puisi. Kenapa? Tentu hanya juri – dan Tuhan tentu saja – yang bisa menjawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ini cerpen “Kartu Pos dari Surga”, yang terpilih itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:22pt;">Kartu Pos dari Surga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:14pt;">Cerpen Agus Noor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><img class="alignnone size-full wp-image-292" title="kartu-pos-dari-surga" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/kartu-pos-dari-surga.jpg?w=435&#038;h=308" alt="kartu-pos-dari-surga" width="435" height="308" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MOBIL</span></strong><span style="font-size:10pt;"> jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, “Biiikkk…Bibiiikkk…” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ada apa, Non?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MARWAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. “Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu <em>nanya</em> kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. “Saya <em>ndak</em> tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap 6 tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, “Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater ke mari…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan, kadang meledek istrinya, “Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru <em>playgroup</em>, Beningnya sudah pegang <em>hape</em>. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya <em>handphone,</em> agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. “Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana semasa mereka pacara, Ren bercerita dengan suara penuh kenangan, “Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk dipangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. “Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. “Mungkin aku memang <em>jadul</em>. Aku hanya ingin beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">KETUKAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> di pintu membuat Marwan bangkit, dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Nggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan menggandeng anaknya masuk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Besok Papa bisa anter Beningnya nggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Nganter ke mana? Pizza Hut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya menggeleng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kemana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ke rumah Pak Pos…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Kalu emang Pak Posnya sakit, biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD <em>Pokoyo</em>, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan <em>yacht </em>tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding gua. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Atau kamu bisa saja tulis katu pos buat dia. Seolah-oleh itu dari Ren..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">MOBIL</span></strong><span style="font-size:10pt;"> jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Wah, udah datang ya kartu posnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. “Ini bukan tulisan Mama…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak, dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barankali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya, ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut, dan mayatnya tak pernah ditemukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;">KETUKAN</span></strong><span style="font-size:10pt;"> gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Duabelas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Terburu Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran, dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Buka Beningnya! Cepat buka!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap, dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang beserakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">“Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. “Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti ngater kartu posnya sendiri…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:.5in;" align="right"><strong><span style="font-size:11pt;">Singapura-Yogyakarta, 2008</span></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=293&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/12/10/pena-kencana-ke-2-telah-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/gambar43.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gambar43</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/12/kartu-pos-dari-surga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kartu-pos-dari-surga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- KOMIK DRAMA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/13/komik-drama/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/13/komik-drama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 09:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Komik Drama]]></category>
		<category><![CDATA[Komik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Kita Tercinta]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Gandrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[

Saya pingin bikin buku “komik drama”, dan saya pingin ada komikus yang mau terlibat dalam proses ini. Begini. Naskah drama saya, “Presiden Kita Tercinta”, rencananya akan dipentaskan oleh Teater Gandrik pada bulan Juni 2009, nanti. Bersamaan dengan pementasan itulah, naskah itu ingin diterbitkan sebagai buku. Tapi saya membayangkan: itu bukan sekedar buku naskah drama. Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=267&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;">
<p style="text-align:center;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:10pt;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/komik.jpg"><img class="size-full wp-image-268 aligncenter" title="komik" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/komik.jpg?w=268&#038;h=332" alt="komik" width="268" height="332" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Saya pingin bikin buku “komik drama”, dan saya pingin ada komikus yang mau terlibat dalam proses ini. Begini. Naskah drama saya, “<a title="Petikan Naskah &quot;Presiden Kita Tercinta&quot;" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/10/28/presiden-kita-tercinta-sebuah-lakon/" target="_blank">Presiden Kita Tercinta”</a>, rencananya akan dipentaskan oleh Teater Gandrik pada bulan Juni 2009, nanti. Bersamaan dengan pementasan itulah, naskah itu ingin diterbitkan sebagai buku. Tapi saya membayangkan: itu bukan sekedar buku naskah drama. Tapi di dalamnya ada gambar-gambar adegan, menyerupai grafis komik. Nah, saya bayangkan saja, itu semacam buku “komik drama”, yakni komik yang menghadirkan adegan-adegan dalam naskah drama itu. Bagaimana bentuknya? Apa seperti komik biasa? Atau semacam novel grafis itu, dan nanti bisa disebut “drama grafis”? menurut saya, inilah proses yang menarik. Eksperimen kecil yang menarik untuk dicoba. Dialog-dialog dalam naskah drama, saya kira bisa menjadi bahan bagi “balon percakapan” tokoh sebagaimana dalam komik.<span> </span>Bagaimana adegan itu bisa dihadirkan secara visual, hingga ketika membaca naskah itu, pembaca pun seperti menyaksikan gerak pertunjukan di buku “komik drama” itu. Begitulah gagasan awalnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Nah, mungkinkah, ada temen komikus yang mau terlibat? Atau mungkin Anda punya temen komikus, bisalah diinformasikan gagasan ini. Saya seneng sekali bila gayung ide ini bersambut.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=267&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/13/komik-drama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/11/komik.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">komik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- &#8220;PRESIDEN GUYONAN&#8221; BUTET KARTAREDJASA</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/10/30/presiden-guyonan-butet-kartaredjasa/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/10/30/presiden-guyonan-butet-kartaredjasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 06:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Butert Kartaredjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Dian Sastro]]></category>
		<category><![CDATA[Djaduk Ferianto]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Guyonan]]></category>
		<category><![CDATA[Slamet Rahardjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[
Ini ada acara menarik: pementasan dan launching buku “Presiden Guyonan” Butet Kartaredjasa. Dijadwalkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 26 November 2008. Pukul 20.00 WIB. Kebetulan ajah aku bantu-bantu ngeditorin buku itu, dan nyiapin pertunjukannya. Ini buku kumpulan kolom Butet, dan beberapa penampil akan mendukung menghadirkannya di panggung, seperti Dian Sastro, Slamet Rahardjo, Djaduk Ferianto [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=257&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/cover-presiden-guyonan2.jpg"><img class="size-full wp-image-256 aligncenter" title="cover-presiden-guyonan2" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/cover-presiden-guyonan2.jpg?w=265&#038;h=379" alt="" width="265" height="379" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini ada acara menarik: pementasan dan <em>launching</em> buku “Presiden Guyonan” Butet Kartaredjasa. Dijadwalkan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 26 November 2008. Pukul 20.00 WIB. Kebetulan ajah aku bantu-bantu ngeditorin buku itu, dan nyiapin pertunjukannya. Ini buku kumpulan kolom Butet, dan beberapa penampil akan mendukung menghadirkannya di panggung, seperti Dian Sastro, Slamet Rahardjo, Djaduk Ferianto dan Orkes Sinten Remen. Awal November ini kalian udah bisa nyari bukunya, pasti dapet. Asal nggak nyari di toko obat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=257&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/10/30/presiden-guyonan-butet-kartaredjasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/cover-presiden-guyonan2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-presiden-guyonan2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>- SELINGKUH ITU INDAH</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/04/18/selingkuh-itu-indah/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/04/18/selingkuh-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 14:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Galang Press]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Cerpen Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Selingkuh itu Indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[
Selingkuh Itu Indah, kumpulan cerpen Agus Noor berisi 15 cerita. Antara lain Pulang, Kupu-kupu Kuning Kemilau, Nocturno, Dongeng Hitam buat Kekasih, Solitude, Teror. Sehimpunan cerita dalam buku ini oleh Ayu Utami disebutkan memperlihatkan “ide-ide tentang perkawinan yang disikapi dengan sinis dan ironis, seperti merayakan sisi manusia yang tidak terang.” Pada beberapa cerita, Agus Noor membawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=103&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/04/selingkuh-itu-indah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-104" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/04/selingkuh-itu-indah.jpg?w=303&#038;h=404" alt="" width="303" height="404" /></a></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">Selingkuh Itu Indah</span></em><span style="font-size:12pt;font-weight:normal;">, kumpulan cerpen Agus Noor berisi 15 cerita. Antara lain Pulang, Kupu-kupu Kuning Kemilau, Nocturno, Dongeng Hitam buat Kekasih, Solitude, Teror. Sehimpunan cerita dalam buku ini oleh Ayu Utami disebutkan memperlihatkan “ide-ide tentang perkawinan yang disikapi dengan sinis dan ironis, seperti merayakan sisi manusia yang tidak terang.” Pada beberapa cerita, Agus Noor membawa kita pada kisah sehari-hari yang dikisahkan dengan penuh intensitas dan puitis, terkadang membawanya ke suasana surealis, dimana relitas dan mimpi berbaur, benda-benda seperti hidup dan menyapa kita dengan seluruh pesonanya. </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Bila Anda kesulitan mendapatkan buku ini di toko buku, Anda bisa memesannya langgsung ke penerbit Galang Press, Jl. Anggrek 3/34 Baciro Baru Yogyakarta 55225 Telp. (0274) 554985, 554986 Fax. (0274) 554985, atau bisa juga melalui email: <strong>galangpress@gmn.net.id</strong></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=103&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/04/18/selingkuh-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/04/selingkuh-itu-indah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>- Esai Tentang &#8220;Potongan Cerita di Kartu Pos&#8221;</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/esai-tentang-potongan-cerita-di-kartu-pos/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/esai-tentang-potongan-cerita-di-kartu-pos/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 07:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[Hamsad Rangkuti]]></category>
		<category><![CDATA[Putu Wijaya]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seno Gumira Ajidarma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/esai-tentang-potongan-cerita-di-kartu-pos/</guid>
		<description><![CDATA[Potongan Cerita di Kartu Pos ialah prosa Agus Noor yang berkisah perihal banyak peristiwa. Sejumlah cerita yang ditulisnya terasa  menawarkan imaji yang lebih menyayat ketimbang para pendahulunya, semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya. Kebanyakan cerita yang ditulis Agus Noor lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=18&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="background:transparent none repeat scroll 0 50%;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span><span style="font-size:x-small;"><em>Potongan Cerita di Kartu Pos </em><span style="font-style:normal;">ialah prosa </span>Agus Noor yang berkisah perihal banyak peristiwa. Sejumlah cerita yang ditulisnya terasa  menawarkan imaji yang lebih menyayat ketimbang para pendahulunya, semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya. Kebanyakan cerita yang ditulis Agus Noor lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu.  Setidaknya, itulah yang rasakan oleh <strong>Alex R Nainggolan</strong>, seorang penulis yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi UNILA. Sebagai penulis Alex sudah banyak menghasilkan karya berupa cerpen, puisi, esai dan tinjauan buku yang termaktub dalam majalah sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Pembaruan, dll. Benerapa karyanya juga termuat dalam antologi <em>Ini Sirkus Senyum</em>&#8230; (Bumi Manusia, 2002); Eelegi gerimis Pagi (KSI, 2002); Grafitti Imaji (YMS, 2002); <em>Puisi Tak Pernah Pergi </em>(KOMPAS, 2003); <em>La Runduna</em> (CWI &amp; Menpora RI, 2005), dll. Bagaimanakah pencapaian-pencapaian kreatif Agus Noor dalam kumpulan prosanya ini, simak selengkapnya&#8230;.</span></span></span></span><span id="more-18"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Suara Karya, Sabtu 16 Desember 2006</strong></span></span><br />
<strong><span style="color:#000000;"><span style="font-size:medium;">Kartu Pos dalam Cerita Pendek</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Oleh Alex R. Nainggolan</span></span></strong><span style="font-size:x-small;"> </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Sebuah kartu pos memang merupakan sebuah benda yang &#8220;klasik&#8221; saat-saat ini. Beragam berita bisa saja tertulis di sana. Jika dulu kartu pos merupakan alat yang efisien untuk mengabarkan suatu peristiwa, sekarang orang-orang justru lebih memilih alat komunikasi lainnya. Lewat ponsel, misalnya-yang langsung berkabar saat itu juga. Dengan media SMS, dengan cepat menuju pada tempatnya. Murah, cepat dan efisien. Lantas mengapa seorang Agus Noor, penulis cerita pendek yang lumayan produktif kembali mengangkat masalah kartu pos? Jika dulu Chairil Anwar bercakap masalah puisinya dengan H. B. Jassin dengan kartu pos, memang terasa aura kehangatan di sana. Sapaan kata, dengan pelbagai kegalauan hatinya dapat dirasakan yang kesemuanya disimpan dengan rapi di PDS H.B. Jassin.</span><br />
</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Barangkali karena klasik itu tadi. Segala hal yang kuno menjadi antik. Penggunaan kartu pos sebagai pengantar kabar kembali dikuak. Dengan demikian, segala hal yang penuh dengan aroma nostalgia tercuat lagi. Kesan yang tumbuh di sana, ialah sebuah pesan yang penuh dengan canda meski tetap serius. Tulisan-tulisan tangan dari seorang sahabat yang dirindukan dengan pelbagai tanggapannya terhadap cerpen-cerpennya. Semuanya itu dapat disimak dalam kumpulan cerita pendek terbarunya, diterbitkan oleh Kompas pada bulan September 2006. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Setelah menerbitkan kumpulan monolog <em>Matinya Toekang Kritik</em>, Agus menghimpun sejumlah cerpennya yang tergabung dalam <em>Potongan Cerita di Kartu Pos</em>. melalui prosanya Agus berkisah banyak peristiwa. Terkadang ia hanya menyentil sebagian misteri kehidupan. Sejumlah cerita yang ditulisnya mengingatkan kita pada gaya kisah realis, dengan pelopornya semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya-meskipun imaji yang ditawarkan agus terasa lebih menyayat. Kebanyakan cerita yang ditulisnya lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Agus tidak serta mertya berkhotbah ihwal mana yang baik atau tidak. Ia dengan luwes memaparkan realita tersebut. Membalutnya dengan imaji yang terasa seperti puisi. Ia mengambil sikap untuk menjadi juru cerita saja, tida lebih. Membiarkan ceritanya untuk ditafsirkan secara luas. Dengan demikian, cerita-ceritanya dapat masuk ke dalam benak pembaca-katakanlah untuk mencerna kembali apa yang dimaksud pengarang. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Kumpulan ini terdiri dari sembilan cerita. Pun ada sebuah cerita yang terdiri dari tiga bagian. Lainnya juga terkadang merupa puzzle, acak-acakkan-sehingga jika ingin tahu keseluruhan cerita secara utuh pembaca harus membacanya dulu sampai habis. Kemudian menyusunnya kembali di kepala. Setelah itu baru terang, apa yang diumaksud pengarang. Alur cerita bisa dengan segera memadat, kemudian cair kembali. Ketegangan demi ketegangan bisa hadir berulangkali dalam cerpen-cerpennya. Agus dengan lihai menjungkirkan peristiwa, membuntingi realitas untuk kemudian menertawakannya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Dalam &#8220;Komposisi Sebuah Ilusi&#8221; misalnya imajinasi tokoh dengan maneken. Maneken yang hadir bergantian dengan tokoh laki-laki sehingga lebih cocok sebagai dialog. Imajinasi yang liar-mungkin muncul dari bawah sadar kian menguatkan cerita ini. Setiap penuturan dibalas dengan paragraf lainnya. Kebinalan gairah untuk bersetubuh hadir bergantian. Dengan ketertarikan secara seksual. Meski pada akhirnya laki-laki dan boneka tersebut memang bercinta dan si lelaki mati. Mungkin oleh cinta? Agus mendeskripsikan aroma percintaan tersebut dengan diksi yang puitis: Kami saling pandang sama-sama terangsang. Kami segera bergegas ke sebalik rimbun pepohonan. Kami saling pagut saling regut. Peri dan mambang bermunculan dari dalam gelap, memandangi kami yang sama-sama menggelinjang telanjang. (halaman 12).</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Keidentikan Agus ialah seringnya ia mengangkat masalah-masalah sosial dalam ceritanya. Kritik yang dilakukannya lebih diselimuti oleh aroma penindasan. Masalah gelandangan (kaum kere, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma) hadir dalam cerpen &#8220;Pagi bening Seekor Kupu-kupu&#8221; dan &#8220;Mata Mungil yang Menyimpan Dunia&#8221;. Meskipun Agus lebih menyamarkan semua idiom tersebut dengan kupu-kupu, atau sebuah mata. Kupu-kupu yang identik dengan metamorfosanya bertemu dengan bocah. Masalah ketimpangan antara si miskin dan kaya diangkat Agus dengan menyodorkan bentuk yang lain. Proses perubahan bocah menjadi kupu-kupu yang asyik mengintip perilaku hidup bocah lainnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Kecemburuan dengan pelbagai perbandingan sehingga muncul keinginan untuk bertukar tempat antara bocah dan kupu-kupu. Pada bagian II dengan bahasa polos yang kebocahan Agus menulis begini: pasti seneng. Enggak perlu ngamen. Enggak perlu kepanasan. Enggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Enggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu enggak mati, dan bapak enggak terus-terusan mabuk. Pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Enggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan. (halaman 45).</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Tawaran bahasa yang dikembangkan Agus, barangkali teramat biasa. Namun bagaimana ia meraciknya, sehingga menelingkupi relung-relung batin pembacanya, merupakan sebuah keajaiban. Yang mengingatkan saya pada tawaran sejumlah cerita yang pernah ditulis Chekov, sebuah realitas yang dijabarkan, tanpa bermaksud menggurui pembacanya. Maka kita serasa diajak tamasya ke sebuah tempat, di mana kita dilepas dalam pengembaraan sendiri-sendiri saja. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Penjengukan terhadap upacara kehidupan manusia diramu dengan rumus yang sama: sederhana. Narasi yang mengisyaratkan bila kita mampu memeras inti dari hidup ini dengan tidak tergesa-gesa. Dan kita tidak diajak untuk menenggelamkan keterlarutan kita terhadap sebuah kesedihan, misalnya, dengan berlarat-larat. Dengan sigap Agus menawarkan keterpesonaan lain. Sehingga ia dapat dengan utuh merangkum sebuah kisah.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Pun dalam &#8220;Mata Mungil yang Menyimpan Dunia&#8221;, ia menyadap peristiwa kekaguman seseorang terhadap sebuah mata. Anehnya mata tersebut milik gelandangan yang kerap bermain-main di kolong jembatan. Barangkali kita yang setiap hari bertemu dengan gelandangan macam itu, jarang memerhatikannya. Barangkali kita terlalu angkuh untuk menatapnya, sebab kita terlanjur merasa jijik untuk melihatnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Namun Agus dengan sekejap mengisyaratkan bentangan peristiwa lain. Ia menulis begini dalam cerpen tersebut: Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Dunia yang tenang bening terbentang dalam mata mungil bocah itu. Dunia yang seolah-olah terus berpendaran dan perlahan membesar, hingga segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela batuan hitam. (halaman 167). Barangkali memang benar adanya jika dikatakan bahwa mata adalah jendela jiwa. Melalui mata seluruh rasa terpancar, dengan warna-warni kehidupan di dalamnya.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Kritik yang dilontarkan Agus juga tak hanya berada di lingkar kehidupan horisontal. Ia pun mencoba untuk &#8220;menegur&#8221; penguasa lewat cerpennya. Cerpen &#8220;Cerita buat Bapak Presiden&#8230;&#8221;, misalnya Agus mengambil seorang tokoh yang ingin bertemu dengan Presiden yang diibaratkan dapat mendengar semua keluhan rakyatnya. Semula memang mendengarkan. Namun lama kelamaan dengan terbatasnya waktu, Presiden itu sendiri yang mengatakan untuk hanya mendengarkan perkataannya. Ah, betapa sulitkah untuk menjadi pendengar yang baik? Cerpen yang mengingatkan saya pula pada kisah Seno Gumira Ajidarma tentang nasib pendengar yang baik. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:x-small;">Demikianlah. Cerpen memang merupakan dunia tersendiri, setidaknya yang dirasakan oleh penulisnya sendiri. Dengan cepat setiap kali membaca sebuah cerita, terlepas apakah cerita tersebut realis atau imajiner-setiap orang bisa menertawakan sendiri ketololannya, ataupun penyesalan yang dilakukan diam-diam. Sebagai bahan permenungan cerita dapat segera larut di pikiran pembaca. Sebab, bagaimanapun pembaca merupakan raja terbesar. Tanpa adanya pembaca sebuah karya sehebat apapun tidak akan pernah &#8220;berbunyi&#8221;. Memang seluruh cerpen dalam buku ini telah dipublikasikan di media massa. Bahkan beberapa cerpen pernah diikutkan dalam antologi lain. Meskipun demikian sebagai kumpulan, cerita yang terjalin tetap menarik untuk disimak. Upaya Agus untuk membongkar seluruh sisi kehidupan, baik itu yang gelap maupun tidak layak diapresiasi. Sebagai pengamat kehidupan. Jika hidup tak melulu putih. Sebagai juru kisah Agus telah tampil dengan kisahnya. Seperti dongeng seribu satu malam. Namun Agus menyuguhkan hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Hidup yang malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, meminjam ungkapannya dalam cerpen Pesan Seorang Pembunuh. Barangkali kita dapat untung dengan membaca sejumlah cerita dari Agus. *** </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=18&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/esai-tentang-potongan-cerita-di-kartu-pos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;POTONGAN CERITA DI KARTU POS&#8221;</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/</link>
		<comments>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 07:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Noor]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Satmoko Budi Santosa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/</guid>
		<description><![CDATA[
Judul Buku : Potongan Cerita di Kartu Pos
Pengarang : Agus Noor
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, September 2006
Tebal Buku : vi+173 Halaman
Kumpulan Cerpen Agus Noor, Potongan Cerita di Kartu Pos, memperlihatkan upaya tekhnis dan estetis Agus Noor sebagai seorang penulis cerpen untuk menjelajahi bermacam gaya dan kemungkinan bercerita, sekaligus eksplorasi tema. Bagaimana mengolah tema [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=16&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoBodyText" style="text-align:left;" align="left"><a title="cover-3-wp.jpg" href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2007/12/cover-3-wp.jpg"><img src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2007/12/cover-3-wp.jpg" alt="cover-3-wp.jpg" /></a></p>
<p><span style="font-size:9pt;">Judul Buku : Potongan Cerita di Kartu Pos<br />
Pengarang : Agus Noor<br />
Penerbit : Penerbit Buku Kompas<br />
Cetakan : I, September 2006<br />
Tebal Buku : vi+173 Halaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Kumpulan Cerpen Agus Noor, <em>Potongan Cerita di Kartu Pos</em>, memperlihatkan upaya tekhnis dan estetis Agus Noor sebagai seorang penulis cerpen untuk menjelajahi bermacam gaya dan kemungkinan bercerita, sekaligus eksplorasi tema. Bagaimana mengolah tema dengan menekankan gaya bercerita, sangat terasa dalam buku ini. Maka sebagai penulis cerpen pun Agus Noor seakan mengukuhkan satu sikap estetik: bahwa seorang penulis mestilah tidak berhenti dengan satu gaya atau <em>style</em>. Tulisan Satmoko Budi Sastosa, berikut ini, bisa menjadi rujukan untuk melihat proses kreatif Agus Noor. Tulisan ini diambil dari <em>Jawa Pos</em> (Minggu, 26 November 2006). Selengkapnya, silakan simak “Estetika Kefasihan Pengarang Bercerita” berikut…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-16"></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:20pt;color:red;">Estetika Kefasihan Pengarang Bercerita </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:14pt;">Oleh Satmoko Budi Santosa</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">KEMBALI dunia sastra Indonesia digairahkan oleh penerbitan buku kumpulan cerpen berjudul Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor. Bagi yang jeli mengamati proses kreatif Agus Noor sepanjang kepengarangannya pastilah bakalan bersepaham bahwa kumpulan cerpen ini adalah buku kelima yang dihasilkannya, setelah sebelumnya ia menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul <em>Memorabilia</em> (1999), <em>Bapak Presiden yang Terhormat</em> (2000), <em>Selingkuh Itu Indah</em> (2001), dan <em>Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia</em> (2004). </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Sedikit berbeda dengan buku-buku kumpulan cerpen yang sebelumnya dihasilkan, di dalam buku ini Agus Noor terlihat lebih matang dalam bereksperimen. Baik dari sisi spesifikasi tema &#8211;karena ada cerpen yang hanya berbicara soal kupu-kupu &#8212; maupun alur penceritaan. Lihat saja pada cerpen yang berjudul Puzzle Kematian Girindra, misalnya. Cerpen ini dibagi dalam beberapa bagian, berkisah tentang misteri kematian tokoh Girindra. Cerita berkelindan pada sejumlah kemungkinan penyebab kematian Girindra. Juga pada tokoh-tokoh yang terlibat sepanjang kehidupan Girindra. Yang menarik adalah teknik penceritaan yang memang seperti permainan puzzle. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Jadi, pembaca yang telah mengikuti alur cerita sampai bagian lima, misalnya, bisa saja menjadi harus membaca bagian pertama lagi karena ada petunjuk teknis dari pengarang bahwa penyebab atau alasan tertentu memang hanya bisa dirujuk di bagian pertama.</span></p>
<p>Teknik penceritaan yang tak lazim semacam ini, jelas menuntut kejelian dan ketangkasan penguasaan alur. Dan, saya kira, sebagai pengarang, Agus Noor telah berhasil membangun irama keterkejutan kepada pembaca: teknik penceritaan yang dipaparkannya berhasil mengguncang-guncang ketegangan.</p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Teknik penceritaan menarik lainnya ada pada cerpen yang berjudul Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos. Cerpen ini menceritakan bahwa seorang tokoh telah mendapatkan beberapa kiriman kartu pos. Dan, seorang tokoh tersebut mendapatkan kartu-kartu pos yang ternyata bersambung. Setiap kartu pos memuat potongan cerita yang akan dilanjutkan pada kartu pos berikutnya. Tentu saja, dari segi teknik penceritaan bisalah disebut bahwa teknik semacam itu adalah model cerita berbingkai dengan media berupa kartu pos. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Yang perlu dikritisi adalah, terlepas dari keberhasilan upaya pembangunan teknik penceritaan yang mengedepankan aspek alur, Agus Noor telah menggiring paradigma pembaca bahwa celah-celah pengembangan estetika sungguh tak terbatas. Di situlah esensi kehadiran kreator bakal teruji, apakah seorang pengarang memang akan berperan sebagai pengisah yang piawai atau cuma melanjutkan klise bahwa kerja mengarang telanjur terjebak pada gaya-gaya tertentu yang seolah-olah menjadi pakem, baik realis, surealis, absurd, maupun yang lainnya, tanpa adanya kebaruan apa pun, misalnya dari sisi teknik penceritaan. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Bagi saya, alternatif teknik penceritaan yang dikembangkan Agus Noor, dengan menyentuh &#8220;khasanah puzzle&#8221; dan cerita berbingkai, telah mengonkretkan kredonya sendiri bahwa sebaiknya cerpen-cerpen yang ada di dalam buku mengemban konsekuensi eksperimentasi yang beragam dan luas. Ingat, Agus Noor adalah pengarang yang senantiasa menganjurkan keterbatasan ruang eksperimentasi cerpen di koran haruslah mendapatkan solusi. Rupa-rupanya, format buku menjadi pilihan memikat untuk mengembangkan eksperimentasi karena aspek keluasan halaman, keterbebasan dari risiko &#8220;norma moral dan sosial&#8221;, dan sebagainya. Meskipun memang, tak semua cerpen Agus Noor yang ada di buku ini memuat aspek eksperimentasi, terutama dalam hal teknik penceritaan dan kepanjangan halaman. Beberapa cerpen lainnya toh masih tetap &#8220;berformat&#8221; koran, padahal jika mau dikembangkan lagi juga bisa lebih memikat. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:9pt;">Membaca cerpen-cerpen Agus Noor di buku ini, bagi saya juga mengukuhkan pandangan bahwa ruang-ruang alternatif penjelajahan imajinasi memang sebaiknya senantiasa diciptakan. Kita tahu, banyak cerpenis Indonesia yang telanjur terjebak pada &#8220;tema-tema dan teknik yang monoton&#8221;, katakanlah yang &#8220;konvensional&#8221; dengan penggambaran deskripsi realisme warna lokal maupun sebagaimana estetika yang belakangan marak yang mengemban unsur-unsur seksisme sebagai wilayah ekspresi. Dengan kata lain, sesungguhnya banyak tema dan pendekatan teknik penceritaan yang berserak yang bisa dijumput dan digarap, di luar yang sudah umum dikerjakan oleh sejumlah cerpenis lain.</span></p>
<p>Dengan kata lain pula, sebetulnya sebuah cerpen memang bisa saja tak harus terbebani pesan moral atau apa pun, karena pretensinya yang hanya ingin bereksperimen itu sendiri. Resep estetik yang bisa dipraktikkan oleh para penulis cerpen lain setelah membaca buku ini adalah soal penguasaan/kefasihan teknik bercerita yang sungguh-sungguh memegang peranan penting, sebelum tema dan varian lain yang menggelayuti tubuh sebuah cerpen terkuasai, untuk sebuah hasil penciptaan secara sadar. (*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agusnoorfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agusnoorfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agusnoorfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agusnoorfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agusnoorfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agusnoorfiles.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agusnoorfiles.wordpress.com&blog=2288864&post=16&subd=agusnoorfiles&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ef8af9ba24747e9cc14405a0f5b86df0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">agusnoorfiles</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2007/12/cover-3-wp.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-3-wp.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>