Agus Noor, menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos. Laman ini menjadi taman pertemuan bagi pikiran dan gagasan, seputar karya-karya Agus Noor. Pertukaran seputar gagasan penciptaan dan proses kreatif tentulah akan lebih menyenangkan dan mencerahkan. Karya-karya Agus Noor yang berupa cerpen juga banyak terhimpun dalam beberapa buku, antara lain: Jl. Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005), Ripin (Cerpen Kompas Pilihan, 2007), Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia, (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002), Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika), 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (Pena Kencana), dll.
Menerima penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta 1992. Mendapatkan sertifikat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1992 untuk tiga cerpennya: “Keluarga Bahagia”, “Dzikir Sebutir Peluru” dan “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”. Sedang cerpen “Pemburu” oleh majalah sastra Horison, dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. Dan cerpen “Piknik” masuk dalam Anugerah Kebudayaan 2006 Departemen Seni dan Budaya untuk kategori cerpen.
Dua draf novelnya masih ia simpan. Ia sangat yakin, bahwa di dunia ini ada tiga Agus Noor, yang serupa dan persis sama. Makanya, bila suatu hari Anda berjumpa dengan seseorang yang mengaku Agus Noor atau mirip Agus Noor, boleh jadi itu bukan Agus Noor yang sebenarnya. Mungkin itu kembarannya. Untuk memastikan apakah itu Agus Noor sungguhan atau bukan, Anda bisa konfirmasi ke: agus2noor@yahoo.co.id



Halo mas…jadi enak neh komunikasinya kalo mas punya blog. Apa kabar?
Halo mas agus. Salam kenal
Salam kenal mas Agus.
Saya juga Agus Simatupang.
Sepertinya anda ini punya jiwa seni ya.
Oklah. Selamat berkarya.
…
apa kabar, bro?
Baik… Gimana, kamu udah ngeblog jg, ya? Ntar deh aku mampir..
ehm..istilah yang bagus..Penyihir Bahasa.
istilahnya Pak Karno tuh Pemuja Aksara..
salam kenal
–ternyata, tak semua penyihir itu jahat–
Ehm… salam kenal juga..
slmt malam dan salam kenal,mas.
kalau boleh saya link blognya.
salamku,
langitjiwa.
om, avatarnya juga beda dengan aslinya lo :P. om jeger masih tinggal di tirtonirmolo itu? kalau iya, blognya saya masukin di projotamansari.com ya. blog aggregrator buat orang yang tinggal dan lahir di bantul. Ya om ya?
Langitjiwa, salam kenal jg. Tentu, saya mempersilakan untuk melink blog ini. Terimakasih. Untuk Veta, saya masih termaktub warga mBantul kok..
ok om, berarti tak masukin di projotamansari.com ya
apat kutipan ini dari blog pakde.com:
“Penulis Jogja, Agus Noor, yang sudah lebih dulu ngeblog, kabarnya juga mau dibantu Eka pindah ke domain sendiri.”
bener nih mau pindah domain sendiri? kalo ada yg bisa gw bantu, japri aja. belum lama ini Jokpin juga akhirnya membeli jokopinurbo.com, ehehehehe …
Mas,,Salam kenal ya,,,,
main2 ke blog ane,,,^^
lagi browsing di ktr, dan lagi perhati’in Sidang Susila bisa ketemu blog ini.sekalian buat referensi belajar nulisku.
salut buat Sidang Susila ya..
Nonton Sidang Susila, ya? oke deh… Mungkin dlm waktu dekat ini aku mo posting-in naskah Sidang Susila itu. Biar mereka yg ga sempet nonton, bisa baca… Oh, ya, untk semuanya, salam, salam dan salam… maaf klo jawaban saya kadang telat banget..
salam kenal pak,
hanya penikmat cerpen yang sedang jalan-jalan
salam
ya sama sama. hihihi
sebenarnya udah lama ngintip di sini. mau diam, tapi ga tahan juga. aku mulai jatuh cinta pada cerpen-cerpen Bung sejak membaca INTERMESO di Horison. Aku minta ijin link blog ini ya. Dan, aku masih sedang belajar, moga bisa seperti Bung. Sori aku memanggilmu ‘Bung’ meski usiaku lebih muda. Bukankah sastra juga bagian dari ajaran menjunjung semangat egaliter? hehe. salam.
maksudku intermeso untuk sapardi. hehe
Sungai, aku suka dipanggil Bung, atau apa saja. Semangat egaliter, sudah pasti, mesti ada dalam sastra. Karya sastra, sesungguhnya, tak ada kaitannya apa pun dengan usia. Yg terpenting ialah kematangan seseorang. Ia bisa berusia belia, tetapi kalo karyanya matang, ya yg tua harus takzim hormat padanya. Seperti, saya pun, pasti akan hormat pada Bung, sungai, yang mengalir menuju kedalaman jiwa…
Salam kenal dari Solo mas…
Ijin posting naskahnya di weblog kami yah…buat menambah perpustakaan naskah kami. Sekalian nge-link ke sini
Silakan.. Salam buat kawan2 Teater Delik semuanya…
oya bung, sesekali mampirlah ke blogku, siapa tahu bung selera. rindu juga kami yang masih belajar ini diperhatikan orang besar. hehe
aku dah dapat naskah sidang susila, dapatnya di gramedia.tertarik aja ma sentilan2 sosial.
Salam kenal dari Bandung…
_dee_
Salam kenal juga… Bagaimana Bandung? makin semrawutkah? Terakhir aku ke Bandung, aku sudah langsung ga tahan dengan lalu-lintasnya. Tapi mie kocok deket stasiun itu, selalu membuatku pingin kembali…
salam kenal, pak
numpang duduk sambil baca-baca
Silakan baca-baca…klo sambil ngopi, jgn lupa bagi-bagi kopinya…
Mas Agus,
wah, senang sekali aku bisa menemui blogmu di sini. Saya pengagum cerpen-cerpenmu sejak di Jogja. Cerpen pertamamu yang kubaca kalau tidak salah berjudul “tragedi secangkir kopi” yang dimuat di Jurnal Ulumul Qur’an.
Lalu kubeli Selinkuh itu Indah. Pacarku yang ga begitu suka sastra langsung pinjam itu kumpulan cerpen. Ia bawa ke kos. Eh, malah digilir semua penghuni kosnya sampai lecek-lecek dan lemnya lepas. Setelah itu pacarku mendatangi tempat fotokopi dekat Mirota Kampus untuk mengelem kembali kumpulan cerpenmu. Ah, kumpulan cerpenmu selalu mengingatkanku padanya, yang sudah jauh entah kemana.
Terima kasih mas, novelmu itu berjasa sekali padaku.
Sekedar saran, kalau postingnya kepanjangan, mendin naskahnya di PDF-kan atau filenya disediakan untuk didownload. Bisa taruh di box.net atau di wordpress ini file-file itu. Capek juga bacanya di blog ini kalau kepanjangan.
Makasih.. Koreksi, judul cerpennya “Badai Secangkir Kopi”…Duh, aku malh sdh nggan punya copy-nya tuh.
Trims, sarannya. Persoalannya: aku kadang ga ngerti caranya.Gaptek bahasa kerennya. Hehehe. Tapi oke juga, nanti aku belajar dulu ya.
cuma mau ngucapin MERDEKA !!!,…
ikut panjat pinang apa ndak mas ? hahahahaha,… semoga diusia 63th Indonesia makin jaya. Amin…