
Matinya Toekang Kritik (Death of a Critic), monolog karya Agus Noor, akan dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa di Esplanade Theatre Studio, Singapura, pada tanggal 12 Oktober 2009, mulai pukul 8 malam. Lakon satir politik perihal sosok tukang kritik ini akan dipentaskan dengan disertai subtitle bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Landung Simatupang dan Jennifer Lindsay. Lakon ini memadukan kepiawaian seni peran Butet Kartaredjasa, kekritisan teks dan permainan multimedia, yang membuatnya menarik dari aspek content pertunjukan sekaligus effect visual. Kedua hal itulah, nampaknya yang membuat lakon monolog itu kemudian cukup relevan untuk merefleksikan realitas Indonesia pada satu sisi, dan memperlihatkan pencapaian artistik pertumbuhan teater pada sisi lain.
Pada sisi pertama, pertunjukan Matinya Toekang Kritik ini menarik sebagai studi tentang Indonesia, terutama bagi mereka yang ingin memperoleh gambaran bagaimana persoalan sosial politik yang terjadi di Indonesia direfleksikan secara estetis dalam pertunjukan. Pada sisi yang kedua, ia bisa memberikan persfektif bagaimana teater modern Indonesia mengolah tema sosial politik dalam pertunjukannnya. Sebagaimana dalam setiap pertunjukan Butet, akan selalu ada hal aktual yang diolah. Maka, pada pertunjukan di Esplanade ini pun Butet secara kritis dan jenaka mengangkat isu-isu aktual, misalnya soal hubungan Indonesia Malaysia. Bahkan situasi sosial di Singapura pun disentilnya juga. “Teater saya adalah teater yang tumbuh bersama persoalan-perssoalan sosial di sekelilingnya. Teater saya bukanlah bentuk yang selesai, tetapi ia adalah sebuah proses yang terus menjadi dan bertumbuh. Selalu ada yang aktual yang terjadi di atas panggung,” kata Butet.
Lakon monolog berdurasi sekitar 1,5 jam ini sebelumnya juga pernah dipanggungkan di Visy Theatre, Brisbane Powerhouse, Australia, pada 9 Agustus 2007. Di Indonesia sendiri, lakon ini dipentaskan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Solo, Purwokerto dan Surabaya. Bila pada tanggal 12 Oktober 2009 itu Anda kebetulan lagi di Singapura, tak ada salahnya Anda menyempatkan menonton pertunjukan ini. Bila di Indonesia Anda belum sempat menjadi orang “berbudaya”, tak ada salahnya kalau di Singapura Anda justru sesekali menjadi orang berbudaya dengan menonton teater. Tentu akan terasa keren kan, pergi ke Singapura jadi orang berbudaya, bukan cuman jadi orang yang sibuk berbelanja.





waahhh sekalian jalan-jalan ke Singapura yaa. Oke deh, ntar ketemuan di sana klo sempet dateng…
Salam ziarah, Pak Agus,
Salam Syawal. Moga terus lestari berkarya. Barangkali selepas ini akan bermonolog pula di Malaysia.
Salam kembali, Tuan Kurauwi. Seoga Tuan pun terus lestari berkarya. Semoga saja bisa bermonolog di Malaysia. Ini tentu akan makin mengindahkan hubungan budaya dua negera yang akhir-akhir agak beiak-riak. Seni dan budaya, selalu bisa mempertemukan pengertan. Semoga sahaja.