Hasan Aspahani, menyebut dirinya pengrajin puisi. Sudah tentu, itu semacam kerendahan hati. Ia, boleh dibilang, tak hanya penyair Indonesia terkini yang produktif, tetapi juga selalu memperlihatkan kegelisahan estetiknya. Ketika kebanyakan penyair (kita) cenderung untuk secepatnya menemukan “rumah estetik”-nya, Hasan justru seolah menolak godaan untuk merasa mapan dalam sebuah “rumah estetik”. Setiap sajak yang ditulisnya, seolah sebuah awal untuk menjelajah. Ia seorang petualang estetis. Nyaris tanpa beban ia melenting dari suatu gaya ke gaya lainnya. Dan inilah yang paling saya sukai: karena sebagai pembaca saya jadi selalu berdebar menunggu karyanya: karya seperti apa lagi yang akan ia tulis? Itulah yang membuat Hasan berbeda dengan para penyair Indonesia lain, yang sudah terlalu saya hafal gaya penulisan puisinya, hingga saya sudah bisa menduga seperti apa sajak-sajak yang bahkan belum dituliskannya.
Beberapa fiksi mini yang dihasilkannya, bisa menjadi contoh “petualangan estetis” Hasan Aspahani. Atas seijin sang penyair, saya menurunkan karya-karyanya itu, supaya kita juga bisa ikut merasakan tamasya imaji-imaji yang diolahnya itu, dan tentu agar – sebagaimana Hasan dengan penuh ketekunan dan pergulatan mempelajari karya-karya penulis lain – kita juga bisa belajar dari karya-karnya.





Comments of Files