<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: - INTERMEZO: LELUCON DALAM FIKSI MINI</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 14:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: 2qman</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-742</link>
		<dc:creator>2qman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 09:32:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-742</guid>
		<description>nderek ngeyup Ndoro....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nderek ngeyup Ndoro&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-592</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:21:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-592</guid>
		<description>Fiksi mini, memang secara bentuk sangat-sangat pendek atau mini, jumlah katanya pun sedikit. Tetapi itu bukan berarti membuat fiksi mini kemudian menjadi &quot;cepat&quot;. Ada proses memilah dan meilih kata, menyusun frasa, memastikan suspen dan juga alur yang menarik. Dan itu membutuhkan waktu yang nggak sedikit. Satu fiksi mini yang saya tulis, mungkin bisa membutuhkan waktu setengah hari sampai satu hari: dari kelebatan ide, pengendapan, proses penulisan dan editing, untuk sampai final dan yakin secara bentuk.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Fiksi mini, memang secara bentuk sangat-sangat pendek atau mini, jumlah katanya pun sedikit. Tetapi itu bukan berarti membuat fiksi mini kemudian menjadi &#8220;cepat&#8221;. Ada proses memilah dan meilih kata, menyusun frasa, memastikan suspen dan juga alur yang menarik. Dan itu membutuhkan waktu yang nggak sedikit. Satu fiksi mini yang saya tulis, mungkin bisa membutuhkan waktu setengah hari sampai satu hari: dari kelebatan ide, pengendapan, proses penulisan dan editing, untuk sampai final dan yakin secara bentuk.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ali</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-591</link>
		<dc:creator>ali</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 04:40:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-591</guid>
		<description>fiksi mini,benarkah itu? ataukah hanya karena menulis di komputer males trus akhirnya menulis di hp yang karakternya terbatas, kemudian disebut fiksi mini?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>fiksi mini,benarkah itu? ataukah hanya karena menulis di komputer males trus akhirnya menulis di hp yang karakternya terbatas, kemudian disebut fiksi mini?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: sabbih</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-573</link>
		<dc:creator>sabbih</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 19:27:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-573</guid>
		<description>fiksi mini bikin waktu makin mini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>fiksi mini bikin waktu makin mini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: alieeseren</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-563</link>
		<dc:creator>alieeseren</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 17:13:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-563</guid>
		<description>saya merasa juga demikian, suhunya aja begitu pasti muridnya tidak jauh berbeda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya merasa juga demikian, suhunya aja begitu pasti muridnya tidak jauh berbeda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Arsyad Indradi</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-562</link>
		<dc:creator>Arsyad Indradi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 15:41:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-562</guid>
		<description>Fiksi mini atau orang menyebut istilah cerita mini (cermin )kupikir cocok sekali untuk di dunia maya ini di populerkan. Sebab tak banyak makan waktu untuk membacanya, pembaca langsung baca beberapa fiksi mini tanpa &quot; copy paste &quot; seperti halnya cerpen atau cerita yang panjang.Contoh Lelucon dalam fiksi  mini ini menarik dan mengasyikan lho.
Mas Agus kapan lagi ke Banjarmasin melihat pasar terapung. Sayang kemarin tak sempat ke Pulau Kembang menjenguki &quot; nenek moyang &quot; Bang Saut he he he
Salam sastra.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Fiksi mini atau orang menyebut istilah cerita mini (cermin )kupikir cocok sekali untuk di dunia maya ini di populerkan. Sebab tak banyak makan waktu untuk membacanya, pembaca langsung baca beberapa fiksi mini tanpa &#8221; copy paste &#8221; seperti halnya cerpen atau cerita yang panjang.Contoh Lelucon dalam fiksi  mini ini menarik dan mengasyikan lho.<br />
Mas Agus kapan lagi ke Banjarmasin melihat pasar terapung. Sayang kemarin tak sempat ke Pulau Kembang menjenguki &#8221; nenek moyang &#8221; Bang Saut he he he<br />
Salam sastra.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut Situmorang</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-560</link>
		<dc:creator>Saut Situmorang</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 13:38:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-560</guid>
		<description>*AGUS NOOR DAN SAUT SITUMORANG (sebuah sajak-prosa temuan)*


prosais Agus Noor yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari pencerahan intelektual-spiritual tapi gagal akhirnya memutuskan untuk mempelajari Zen dari penyair Saut Situmorang.

setelah lewat satu tahun penyair Saut memutuskan untuk menguji pemahaman Zen muridnya itu. suatu hari setelah matahari condong ke barat, sehabis hujan deras yang tiap hari turun di Jogja berhenti, Saut mengajak muridnya itu jalan-jalan ke Sarkem. Agus Noor tentu saja kaget mendengar ajakan suhunya itu tapi sebagai murid yang baik dia tidak berkata apa-apa dan mengikuti suhunya menyusuri jalan Pasar Kembang di ambang malam. seperti biasanya di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun tergenang air hujan dan becek di mana-mana. seperti biasanya juga di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun sunyi dari manusia. selagi enak-enaknya berjalan santai menyusuri aspal jalan di belakang suhunya, tiba-tiba Agus Noor melihat seorang pelacur berdiri bengong di trotoar jalan. pelacur yang nampak masih muda dan indah ehem-ehem itu mengenakan pakaian kebaya lengkap hingga bener-bener seperti bidadari Jawa yang ketinggalan pelangi sorgawi yang sudah digulung kembali oleh para dewa-dewa ke langit sorgaloka sana setelah hujan reda di bawah matahari yang cuma sapuan-sapuan warna merah di langit yang mirip kanvas Affandi di museumnya di pinggir Kali Gaja Wong di timur kota. pelacur itu sepertinya ingin menyebrang jalan tapi pakaian kebayanya membuatnya susah berjalan, lagi pula jalan yang becek bisa mengotorinya, ah...

tapi apa yang terjadi? penyair Saut Situmorang tiba-tiba saja berjalan mendekati pelacur indah itu, memeluknya, menggendongnya, menyebrangkannya ke sebrang jalan sana, lalu meneruskan jalannya! Agus Noor tentu saja kaget setengah mati dan terpaku di jalan melihat apa yang terjadi. Eh, kenapa suhu melakukan itu? Bukankah kami yang sedang mendalami spiritualisme ini haram menyentuh perempuan, apalagi pelacur?! apalagi pelacur muda dan indah?! Agus Noor melihat suhunya sudah agak jauh meninggalkannya seperti tak terjadi apa-apa segera buru-buru mengikutinya. Tapi sekali ini rasa penasarannya begitu besarnya sampai dia tak bisa lagi menguasainya. jangan-jangan suhu Saut Situmorang ini cuma seorang impostor, pura-pura Master Zen tapi sebenarnya seorang penipu ulung profesional kayak para guruku sebelumnya itu, jay hwa cat intelektual...

kerna tak tahan lagi prosais Agus Noor pun segera mendekati suhunya, penyair Saut Situmorang, dan berkata, &quot;Suhu! Suhu! apa yang Suhu lakukan tadi? Bukankah kita para spiritualis haram menyentuh perempuan apalagi pelacur muda dan indah tapi kenapa Suhu tadi bahkan memeluk dan menggendongnya segala?!&quot;

sambil tetap meneruskan langkah kakiNya menyusuri aspal jalan Pasar Kembang yang mulai diterangi lampu jalan satu-satu penyair Saut Situmorang berkata, &quot;Agus Noor muridku. kalok gak silap aku tadi meninggalkan perempuan itu di belakang sana. apa masih kau gendong dia?&quot;

Jalan Jaksa, Jakarta, 1 Februari 2009
21:30 pm</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>*AGUS NOOR DAN SAUT SITUMORANG (sebuah sajak-prosa temuan)*</p>
<p>prosais Agus Noor yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari pencerahan intelektual-spiritual tapi gagal akhirnya memutuskan untuk mempelajari Zen dari penyair Saut Situmorang.</p>
<p>setelah lewat satu tahun penyair Saut memutuskan untuk menguji pemahaman Zen muridnya itu. suatu hari setelah matahari condong ke barat, sehabis hujan deras yang tiap hari turun di Jogja berhenti, Saut mengajak muridnya itu jalan-jalan ke Sarkem. Agus Noor tentu saja kaget mendengar ajakan suhunya itu tapi sebagai murid yang baik dia tidak berkata apa-apa dan mengikuti suhunya menyusuri jalan Pasar Kembang di ambang malam. seperti biasanya di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun tergenang air hujan dan becek di mana-mana. seperti biasanya juga di mana-mana sehabis turun hujan deras, jalan Pasar Kembang pun sunyi dari manusia. selagi enak-enaknya berjalan santai menyusuri aspal jalan di belakang suhunya, tiba-tiba Agus Noor melihat seorang pelacur berdiri bengong di trotoar jalan. pelacur yang nampak masih muda dan indah ehem-ehem itu mengenakan pakaian kebaya lengkap hingga bener-bener seperti bidadari Jawa yang ketinggalan pelangi sorgawi yang sudah digulung kembali oleh para dewa-dewa ke langit sorgaloka sana setelah hujan reda di bawah matahari yang cuma sapuan-sapuan warna merah di langit yang mirip kanvas Affandi di museumnya di pinggir Kali Gaja Wong di timur kota. pelacur itu sepertinya ingin menyebrang jalan tapi pakaian kebayanya membuatnya susah berjalan, lagi pula jalan yang becek bisa mengotorinya, ah&#8230;</p>
<p>tapi apa yang terjadi? penyair Saut Situmorang tiba-tiba saja berjalan mendekati pelacur indah itu, memeluknya, menggendongnya, menyebrangkannya ke sebrang jalan sana, lalu meneruskan jalannya! Agus Noor tentu saja kaget setengah mati dan terpaku di jalan melihat apa yang terjadi. Eh, kenapa suhu melakukan itu? Bukankah kami yang sedang mendalami spiritualisme ini haram menyentuh perempuan, apalagi pelacur?! apalagi pelacur muda dan indah?! Agus Noor melihat suhunya sudah agak jauh meninggalkannya seperti tak terjadi apa-apa segera buru-buru mengikutinya. Tapi sekali ini rasa penasarannya begitu besarnya sampai dia tak bisa lagi menguasainya. jangan-jangan suhu Saut Situmorang ini cuma seorang impostor, pura-pura Master Zen tapi sebenarnya seorang penipu ulung profesional kayak para guruku sebelumnya itu, jay hwa cat intelektual&#8230;</p>
<p>kerna tak tahan lagi prosais Agus Noor pun segera mendekati suhunya, penyair Saut Situmorang, dan berkata, &#8220;Suhu! Suhu! apa yang Suhu lakukan tadi? Bukankah kita para spiritualis haram menyentuh perempuan apalagi pelacur muda dan indah tapi kenapa Suhu tadi bahkan memeluk dan menggendongnya segala?!&#8221;</p>
<p>sambil tetap meneruskan langkah kakiNya menyusuri aspal jalan Pasar Kembang yang mulai diterangi lampu jalan satu-satu penyair Saut Situmorang berkata, &#8220;Agus Noor muridku. kalok gak silap aku tadi meninggalkan perempuan itu di belakang sana. apa masih kau gendong dia?&#8221;</p>
<p>Jalan Jaksa, Jakarta, 1 Februari 2009<br />
21:30 pm</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: just hans not haris even hanis!</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-552</link>
		<dc:creator>just hans not haris even hanis!</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 03:01:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-552</guid>
		<description>mau fiksi mini,mau puisi ala jokpin, mau zen, mau de mello, whatever its said, kula paling remen tulisan kados niki :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mau fiksi mini,mau puisi ala jokpin, mau zen, mau de mello, whatever its said, kula paling remen tulisan kados niki <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bodrox</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-549</link>
		<dc:creator>bodrox</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 10:40:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-549</guid>
		<description>Jangan2 bukan fiksi? Btw, yang dihadiai pasti seneng.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan2 bukan fiksi? Btw, yang dihadiai pasti seneng.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Warga Bantul</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/02/01/intermezo-lelucon-dalam-fiksi-mini/#comment-543</link>
		<dc:creator>Warga Bantul</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 04:53:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=326#comment-543</guid>
		<description>saya paling senang membaca fiksimini semacam ini karena bahasanya yang sederhana tetapi banyak makna di dalamnya. Dan terkadang sifatnya tak terduga</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya paling senang membaca fiksimini semacam ini karena bahasanya yang sederhana tetapi banyak makna di dalamnya. Dan terkadang sifatnya tak terduga</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
