- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN

Kupersembahkan cerpen Natal ini untuk semua yang merayakannya. Bolehlah ini disebut cerpen magis atau surealis. Apa pun, saya harap kisah ini bisa merefleksikan keimanan kita.

gambar38

(Kompas, 21 Desember 2008)

MAWAR DI TIANG GANTUNGAN

Cerpen Agus Noor

KUCERITAKAN apa yang kusaksikan. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karna aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi nampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Aku bahkan bisa menyentuhnya dengan ujung-ujung jemariku, seperti menyentuh kelembutan sutra yang berkibaran. Aku bisa melihat segala yang tidak mampu kau pandang dengan sepasang matamu.

Aku melihatnya di pinggir jalan itu. Seperti malam-malam sebelumnya, ia selalu muncul dengan gaun yang mengundang, kakinya jenjang, berdiri menunggu seseorang datang, dan kau menyebutnya pelacur. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung tahu. Namanya Mawar. 28 tahun lebih enam hari. Dia lahir saat hujan turun begitu lebat jam 9 pagi. Sebulan setelah melahirkannya, ibunya gila karena guna-guna istri muda simpanan suaminya. Aku melihat garis pedih dan hitam. Aku bisa melihat semua yang hendak disembunyikannya. Bilur jejak luka di tubuhnya, dua anaknya yang sakit-sakitan di rumah petak kontrakannya di pinggiran kota sana, masa lalunya yang penuh kesedihan, suaminya yang minggat, dua tahi lalat kecil di punggungnya. Sungguh, tak ada yang tak terlihat olehku yang buta. Juga hari paling nestapa dalam hidupnya yang bakal tiba. Itulah sebabnya aku menyukainya sejak pertama. Ia seperti dikutuk kecantikannya. Kuceritakan penglihatanku. Tapi ia hanya tertawa.

“Kenapa mesti takut? Berkali-kali aku kena garuk. Aku tahu bagaimana caranya mengatasi,” katanya. “Aku cuman perlu memberi sedikit kesenangan pada para petugas itu.”

Ia sebenarnya tak terlalu suka bicara. Sementara para pelacur lain berkeliaran sambil cekikikan genit setiap ada laki-laki muncul, ia memilih menyendiri. Kadang tampak ganjil juga melihat sosoknya di jalanan merah remang ini. Tapi itu membuatku jadi bisa sering mengajaknya bercakap. Pernah ia cerita tentang pelacur tua yang matanya menjadi buta karna rajasinga.

“Dan kamu, kenapa buta?” Ia sayu menatapku.

“Aku tak buta. Aku memang memilih tak punya mata.”

Lalu aku pun bercerita padanya.

Ketika sepasang malaikat membawa ruhku turun dari langit, mereka bergantian membisikan nasib yang akan kujalani. Kemudian ditiupkan ruhku pada rahim perempuan yang akan menjadi ibuku. Seperti tanah liat yang mulai terbentuk, disematkannya tangan dan kaki pada tubuhku, diberinya aku degub jantung. Aku senang sekali ketika sepasang malaikat itu mulai memberiku telinga mulut dan hidung. Kemudian ditunjukan padaku sepasang mata yang indah, dan berkata, “Mata ini akan membuatmu jelita. Tapi kau akan menderita karenanya.”

Lalu kukatakan pada malaikat itu, “Biarlah aku tak punya mata saja.”

“Bila kau tak punya mata, kau akan melihat banyak rahasia.”

“Kalau begitu, buat apa aku punya mata, bila aku bisa melihat tanpanya?”

Lalu mereka menyimpan sepasang mata itu.

“Baiklah, kami akan menaruh matamu ini di surga. Kelak, kamu bisa kembali mengambilnya.”

Tentu, kau bisa menduga, ketika aku lahir dan menatap dunia, perempuan itu langsung meraung ketika tahu anaknya tak punya mata. Ia begitu membenciku, dan tak pernah mau menatapku. Ia membuangku. Aku bahkan tak pernah tahu namanya. Seorang pemulung menemukanku di tempat pembuangan sampah, kemudian menjualku pada seseorang yang menampung para pengemis. Melihatku yang tak punya mata, ia seperti menemukan barang langka paling berharga. “Anak ini akan membuat iba siapa pun yang menatapnya. Anak ini akan membuat orang tak sungkan-sungkan melemparkan receh mereka.” Di rumah itu tinggal banyak anak-anak yang bagai barang rongsokan. Seorang anak kedua kakinya pengkor. Seorang anak tampak begitu idiot dengan air liur kental bacin yang terus berleleran. Ada yang bongkok. Ada yang gagu. Jileng. Perot. Digerogoti kusta. Bahkan seorang bocah yang tampak manis sengaja diiris telinganya dan dibiarkan jadi borok agar terlihat menyedihkan. Tentu, aku menjadi yang paling menyedihkan di antara mereka, dan karenanya bisa menghasilkan banyak uang setiap mengemis. Aku tahu, orang-orang lebih suka cepat-cepat memberi uang recehan mereka dan bergegas pergi ketimbang berlama-lama bersitatap denganku. Siapa yang tahan memandang wajah dengan sepasang liang hitam menganga?

Sengaja kubuka kelopak mataku, dan ia bergidik ngeri.

“Lihat, kau pun takut menatapku.”

Aku bisa memahami perasaannya. Seorang pelacur cantik bersandang dekat perempuan tua buta, kukira memang bukan pemandangan yang menyenangkan. Ia bisa kehilangan pelanggan.

“Bukannya aku tak percaya. Tapi dengan apa kau melihat, kalau kau tak punya mata?”

“Aku melihat dengan mata yang tak kau punyai. Aku bisa melihat seekor kelabang mendekam di balik batu itu. Aku bisa melihat suara kucing yang mengeong di atap rumah ujung jalan itu. Pandanglah ujung gang yang kelabu itu, aku bisa melihatnya mengembang dan mengkerut seperti gumpalan kabut. Aku bisa melihat kota ini seperti bola bekel raksasa yang lembek, aku bisa menyentuhnya dengan tanganku, cahaya seperti lumer di sela jariku. Aku bisa melihat menara jam di tengah kota bergumam muram tengah malam, kemudian meliuk merunduk. Aku bisa melihat maneken-maneken yang berkedip, menggeliat bosan terkurung etalase toko-toko sepanjang jalan ini. Mereka seperti pelacur-pelacur kesepian yang menunggu pelanggan dan sentuhan…”

Dia tertawa.

“Lihatlah, bahkan aku bisa melihat tawamu yang ungu kebiru-biruan memuai di udara.”

Ia kembali tertawa. Kutegaskan padanya, betapa setiap suara punya warna yang berbeda-beda. Kau mendengar suara, sementara aku bisa melihatnya. Ia terus tertawa. Aku tahu ia mulai nyaman di dekatku. “Kau menyenangkan. Caramu bercerita membuatku tak tertalu kesepian,” katanya.

Sejak itu aku sering menemaninya. Ia suka setiap aku menceritakan yang kulihat. Dunia yang kusaksikan membuatnya terpesona. Lalu kukatakan apa yang bakal menimpanya. Ia memang tak menuduhku berdusta, tapi tak percaya.

Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Barangkali ia pun merasakan firasat itu, tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil, dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan menabrak-nabrak dinding. Lepas 3 dini hari. Sebagian pelacur telah pergi. Ia berteduh di trotoar, rambutnya basah tertempias hujan. Di pojokan toko, aku rebahan pada tumpukan kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku seperti mendengar lecut petir, ketika kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia pun hendak lari. Tetapi para petugas sudah mengepungnya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Aku tahu mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Arak yang memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih beringas dari biasanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan nafas mereka ketika menyeringai tertawa. Mungkin saat itu aku berteriak. Mungkin tidak. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Aku bahkan nyaris dicekiknya, tapi petugas yang lain segera berteriak, “Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!”

Lalu kesaksikan mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Melemparkannya ke mobil patroli. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Begitu nyata dalam penglihatanku. Wajah Mawar pucat, bibirnya bengkak kena pukul, seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding, ketika Mawar menjerit. Mereka menyumpal mulutnya. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa, kemudian bergiliran memperkosanya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu, bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari binatang terluka. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit panjang. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil diraihnya. Ia mengamuk dengan buas. Dihujamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang terkapar…

Begitulah kejadiannya. Kuceritakan apa yang kusaksikan, tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Padahal bukan aku yang dusta, tapi mereka. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Mereka bilang mereka tengah patroli seperti biasa. Mawar mereka bawa dan nasehati baik-baik ketika mendadak ia mengamuk. Rupanya ia mabok berat. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat – yang sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ada bercak darah di pisau itu. Dan selanjutnya kau tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: katanya Mawar baru saja membunuh seorang pelanggan yang tak membayarnya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti, ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Ia pembunuh yang telah memotong-motong delapan korbannya. Pelacur dan pembunuh. Itu alasan yang cukup untuk menyeretnya ke tiang gantungan. Kalian seketika merasa nyaman, karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin melenyapkan maksiat dari kota. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Mereka selama ini membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzinah. Segala yang cabul mesti dimusnahkah, karena begitulah menurut undang-undang yang baru kalian sahkan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota, dicambuk dan dirajam, kemudian digantung sebagai tontonan. Kusaksikan senja yang memar, burung gagak merah berkaokan, dan angin yang muram berkesiur pelan membuat tubuh itu terayun di tiang gantungan. Sampai malam.

Keesokan harinya kalian gempar. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan!

Di pasar. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. Di warung dan kafe. Di pangkalan ojek. Di seluruh kota. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai sekarang pun kalian masih terus kasuk-kusuk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Karna bagaimana pun tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Siapa yang membawanya?

Baiklah, kuceritakan apa yang telah kusaksikan.

Setelah mayat itu digantung, kalian pun bubar. Sebagian kalian tertunduk, seakan ingin menghapus bayangan buruk. Tapi kalian tak ingin terus menerus disesah kengerian dan sesal karena saat itu hari Natal. Kalian mesti ke gereja. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Maka malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Hujan rinai turun, malam mengelabu. Aku sendirian di alun-alun itu, memandangi tubuh Mawar yang tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu berterbangan dihembus angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang menyanyatkan keperihan bersama lebuh dan dingin yang mulai membaluri kota sementara sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan.

Saat itulah, ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh suka cita, aku tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah, seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Matanya seperti bintang bening. Seyumnya seperti anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Rambutnya ikal dan panjang. Ia berjalan anggun, seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air, meski sesekali tampak limbung karena menahan luka dilambungnya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Kudengar ia berseru, seperti memanggil nama pelacur itu.

Aku begitu terkesima menyaksikannya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya keemasan yang cemerlang. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan, dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu, kemudian menurunkannya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Kudengar kalian masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Seperti pengantin membopong mempelainya.

Kuceritakan ini pada kalian, tapi kalian menuduhku pendusta.***

Yogyakarta, 2008

About these ads

16 Responses to “- MAWAR DI TIANG GANTUNGAN”


  1. 1 dan! Desember 23, 2008 pukul 1:27 pm

    kesaksian yang luar biasa.
    tentang tuhan bagi mereka yg disingkirkan.
    begitulah sejatinya tuhan. begitulah selayaknya iman. meski tak terjelaskan..

    bravo. selamat natal.

  2. 2 muhsyariattajuddin Desember 24, 2008 pukul 2:23 pm

    wuiih dahsyat cerpennya mas… saya udah baca ahad kemaren di kompas… ingatkan saya ketika kita diskusi dengan beberapa mahasiswa dan satu meja di taman budaya banjarmasin tempo hari yang mempertayakan agama mas agus. tepat ketika jedah diskusi dan makan siang merumuskan rekomendasi KCI itu hari… membuat aku menggigil dan hanya bisa berucap DAHSYAT dari MANDAR SULBAR…

  3. 3 Rizqi Desember 24, 2008 pukul 3:12 pm

    Sebagai seonggok bunga mawar, ia senantiasa menanti merah..

  4. 4 agusnoorfiles Desember 24, 2008 pukul 3:44 pm

    Aduh, Banjarmasin…aku selalu mengenang kota ini. Salam ya buat temen-temen yg dulu sempat ngobrol-ngobrol…

  5. 5 mata Desember 26, 2008 pukul 12:30 pm

    emmm…
    sekilas seperti cerpen “kupu kupu seribu peluru” yang pernah mas agus tulis beberapa tahun silam. mungkin saya melihat ending ceritanya.

    tapi apapun itu saya suka mas. mengingat sepertinya agus noor lama sekali tidak pernah menulis cerpen yang surealis seperti ini.

    two thumb

    oh ya,dan saya suka diawal paragraf nama saya disebut sebut. hahahaha

  6. 6 agusnoorfiles Desember 26, 2008 pukul 5:43 pm

    Mata….itu emang salah satu imaji yang saya suka selain mawar dan kupu-kupu. Ada beberapa cerpen saya yang mengolah imaji mata (Mata Mungil yang Menyimpan Dunia, misalnya). Sedang kupu-kupu (Pagi Bening Seekor Kupu-kupu, Kupu-kupu di Bawan Sepatu, Kupu-kupu Seribu Peluru, seperti yang kau sebut itu). Mawar ada di “Tak Ada Mawar di Jalan Raya”, “Mawar di Kening Aida”.
    Ya, memang ada kaitannya dengan cerpen yang kau sebut. Saya hanya mengubah naratorologinya. Pada Mawar di Tiang Gantungan, sudut pandang penceritaan justru pada saksi mata yang buta. Sedang pada Kupu-kupu Seribu Peluru, tokoh buta itu yang diceritakan. Itu menjadi semacam eksplorasi cara bercerita.

  7. 7 mata Desember 27, 2008 pukul 5:51 am

    dan bisa jadi cerpen ini masuk nominasi cerpen pilihan kompas 2008 :)

    mas,… boleh dipostingkan cerpen “mawar di kening aida” ? saya belum baca soalnya.

  8. 8 agusnoorfiles Desember 28, 2008 pukul 7:53 am

    Cerpen “Mawar di Kening Aida”, ada dikumcer Rendevouz (Kisah Cinta yang Tak Setia). Udah sulit ya dicari di toko buku? Aku cari file-nya, nggak ketemu.

  9. 9 Alal Desember 30, 2008 pukul 11:19 am

    Dahsyat…… Dua jempol ke atas! Aku emang penasaran waktu di balikpapan mas agus cerita ttg MAWAR DI TIANG GANTUNGAN. Semoga kita ketemu lagi ya. Alal. (broker)…..

  10. 10 agusnoorfiles Desember 30, 2008 pukul 2:56 pm

    Ya, tentu saja, saya pun berharap kita terus saling berkabar. Salam buat semuanya

  11. 11 Badrul MC Februari 8, 2009 pukul 1:19 pm

    Bapak guru, kenapa aku jadi merindukan matamu?, gimana kalau kau menemuiku, biar pecah ketuban rindu, emmuuuuuuaach!!!

  12. 12 Badrul MC Februari 8, 2009 pukul 1:32 pm

    emmuuuuuuaach!!!
    kecup sayang dari muridmu yang terbuang…

  13. 13 max Januari 7, 2010 pukul 5:37 am

    pertama kali baca nih! sungguh keren abis. tanks

  14. 15 Bambang Heru Juli 1, 2012 pukul 6:22 pm

    Amazing !!! dua jempol pun tak cukup untuk mengungkapkan keindahan bahasa dan ide cerita yang original.
    Salut…


  1. 1 – Cerpen Agus Noor di Pena Kencana 2010 « Agus Noor_files Lacak balik pada Februari 10, 2010 pukul 5:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 389 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: