<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: - CERITA YANG MENYERAP RUPA</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 14:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: heidy</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/#comment-284</link>
		<dc:creator>heidy</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 17:39:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=181#comment-284</guid>
		<description>Menarik. Saya justru tercerahkan dengan artikel ini daripada artikel di Kompas sebelumnya yang juga membahas tentang ilustrasi cerpen tetapi lebih banyak asumsi dengan praduga yang sulit dipertanggungjawabkan. Kalau tak salah itu tulisan Wahyudin yang mengklaim diri sebagai kurator seni rupa. Selamat, bung, tulisan Anda lebih inspiratif dalam mengapresiasi ilustrasi cerpen ketimbang kritik seni rupa ala Wahyudin yang sepertinya tidak tahu persoalan seni rupa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik. Saya justru tercerahkan dengan artikel ini daripada artikel di Kompas sebelumnya yang juga membahas tentang ilustrasi cerpen tetapi lebih banyak asumsi dengan praduga yang sulit dipertanggungjawabkan. Kalau tak salah itu tulisan Wahyudin yang mengklaim diri sebagai kurator seni rupa. Selamat, bung, tulisan Anda lebih inspiratif dalam mengapresiasi ilustrasi cerpen ketimbang kritik seni rupa ala Wahyudin yang sepertinya tidak tahu persoalan seni rupa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/#comment-268</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 14:22:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=181#comment-268</guid>
		<description>Hmm, kapan ya akan mengadakan &#039;komentar berhadiah&quot; lg? Ya, kalu ada momen yg tepat ajah. Soalnya, sy paling banter bisa ngasih hadiah yg saya mampu. Nanti kalo aku kasih hadiah penderitaan, kan banyak yg nolak. Hehehe...
Saya setuju dengan Anda, Mata. bahwa seringkali, cerpen yg menarik bisa terendus dari paragram pertama. Iwan Simatupang, di antara sastrawan Indonesia, adalah contoh yang bagus untuk dipelajari. Bagaimana Iwan membuka cerpen &quot;Tegak Lurus dengan Langit&quot;, misalnya, sampai saat ini terus membuat saya terkesan. Juga cerpen Iwan &quot;Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu&quot;. Ruuaaar biasanya kalimat pembukanya. Coba dech baca.
Tetapi ada hal lain yg juga perlu dipertimbangkan: yakni, bagaimana cerpen itu ditutup. Budi Darma pernah mengatakan, tantangan terbeasar menulis novel adalah bagaimana memulainya. Pembukaan novel Rafillus, misalnya, masih mencekam saya. Begini Budi darma membuka novel Rafillus itu: Rafillus mati dua kali...
Tapi, ending cerpen, saya kira akan menentukan apakah cerpen itu meninggalkan kesan atau tidak. Rata-rata cerpen Indonesia,bnyak yg gagal dalam penutupnya. Yg masih mengesankan saya hanya beberapa, antara lain: &#039;Seribu KUnang-kunang di Manhattan&#039;, &#039;Musim Gugur Kembali di Conneticut&#039; Umar Kayam (maaf kalu judulnya sayah tulis). Cerpen Kuntowijoyo, &quot;Anjing-anjing Menyerbu Kuburan&quot;, jg termasuk yg mengesankan saya dalam penutupnya. Lalu &#039;Pelajaran Mengarang&#039; Seno Gumira Ajidarma.
Ending yang berhasil, akan membuat cerpen itu punya gema yg panjang. Dan itu berarti mengatasi &quot;problem kependekan&quot;nya. Kita tahu, sebagai bentuk certa yg pendek, cerpen memang menarik dalam kependekannya. Artinya, kependekan itu tidak menjadi &#039;kekurangan&#039;, tetapi justru menjadi &#039;kelebihannya&#039;. Kelebihan itu bisa termaksimalkan apabila cerpen mampu meninggalkan kesan yg abadi dalam ingatan (ketika kita selesai membacana). Dengan begitu, cerpen justru tidak selesai begitu kita usai membaca, tetapi malah memercikkan imajinasi dalam kepala kita. Ia terus hidup dalam kesan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm, kapan ya akan mengadakan &#8216;komentar berhadiah&#8221; lg? Ya, kalu ada momen yg tepat ajah. Soalnya, sy paling banter bisa ngasih hadiah yg saya mampu. Nanti kalo aku kasih hadiah penderitaan, kan banyak yg nolak. Hehehe&#8230;<br />
Saya setuju dengan Anda, Mata. bahwa seringkali, cerpen yg menarik bisa terendus dari paragram pertama. Iwan Simatupang, di antara sastrawan Indonesia, adalah contoh yang bagus untuk dipelajari. Bagaimana Iwan membuka cerpen &#8220;Tegak Lurus dengan Langit&#8221;, misalnya, sampai saat ini terus membuat saya terkesan. Juga cerpen Iwan &#8220;Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu&#8221;. Ruuaaar biasanya kalimat pembukanya. Coba dech baca.<br />
Tetapi ada hal lain yg juga perlu dipertimbangkan: yakni, bagaimana cerpen itu ditutup. Budi Darma pernah mengatakan, tantangan terbeasar menulis novel adalah bagaimana memulainya. Pembukaan novel Rafillus, misalnya, masih mencekam saya. Begini Budi darma membuka novel Rafillus itu: Rafillus mati dua kali&#8230;<br />
Tapi, ending cerpen, saya kira akan menentukan apakah cerpen itu meninggalkan kesan atau tidak. Rata-rata cerpen Indonesia,bnyak yg gagal dalam penutupnya. Yg masih mengesankan saya hanya beberapa, antara lain: &#8216;Seribu KUnang-kunang di Manhattan&#8217;, &#8216;Musim Gugur Kembali di Conneticut&#8217; Umar Kayam (maaf kalu judulnya sayah tulis). Cerpen Kuntowijoyo, &#8220;Anjing-anjing Menyerbu Kuburan&#8221;, jg termasuk yg mengesankan saya dalam penutupnya. Lalu &#8216;Pelajaran Mengarang&#8217; Seno Gumira Ajidarma.<br />
Ending yang berhasil, akan membuat cerpen itu punya gema yg panjang. Dan itu berarti mengatasi &#8220;problem kependekan&#8221;nya. Kita tahu, sebagai bentuk certa yg pendek, cerpen memang menarik dalam kependekannya. Artinya, kependekan itu tidak menjadi &#8216;kekurangan&#8217;, tetapi justru menjadi &#8216;kelebihannya&#8217;. Kelebihan itu bisa termaksimalkan apabila cerpen mampu meninggalkan kesan yg abadi dalam ingatan (ketika kita selesai membacana). Dengan begitu, cerpen justru tidak selesai begitu kita usai membaca, tetapi malah memercikkan imajinasi dalam kepala kita. Ia terus hidup dalam kesan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mata</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/#comment-267</link>
		<dc:creator>mata</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 08:22:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=181#comment-267</guid>
		<description>berhubung saya ini bukan penyihir kata. maka saya tidak pernah bisa melihat arti ilustrasi yang tertera disetiap cerpen. tapi biasanya ketika saya sudah rampung membaca cerpen tersebut, lalu saya lihat ilustrasinya dan akhirnya saya manggut manggut sambil berkata. &quot;ohhh,,... begitu tho maksudnya.&quot; :)

bagi saya. mungkin ini anggapan pribadi saya ( entah orang lain ) hal yang paling menarik dalam sebuah cerpen adalah paragraf pembuka. mungkin hal ini yang membuat saya suka membaca cerpen2 karya agus noor. ketika membaca cerpen hikayat anjing &quot;ibu adalah anjing.&quot; atau membaca kupu kupu seribu peluru &quot;BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya bengkak karena dosa, dan sekujur tubuhnya bergetah nanah kena kusta! adakah ia sundal ataukah santa?&quot; atau bahkan cerpen lain yang membuat saya terus ingin membaca sampai selesai dan setelah selesai saya akan mengulanginya dari awal.

melihat seni rupa saya kira akan mempunyai makna dan arti yang luas. saya bingung dengan ini. maka jika ditanya saya pasti akan lebih suka membaca dan merangkai kata dengan pena dari pada melukis dengan kuas. tapi,... saya kira lebih bermakna lagi jika penggabungan itu dilakukan. sebuah seni rupa yang dijabarkan lewat kata.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>berhubung saya ini bukan penyihir kata. maka saya tidak pernah bisa melihat arti ilustrasi yang tertera disetiap cerpen. tapi biasanya ketika saya sudah rampung membaca cerpen tersebut, lalu saya lihat ilustrasinya dan akhirnya saya manggut manggut sambil berkata. &#8220;ohhh,,&#8230; begitu tho maksudnya.&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>bagi saya. mungkin ini anggapan pribadi saya ( entah orang lain ) hal yang paling menarik dalam sebuah cerpen adalah paragraf pembuka. mungkin hal ini yang membuat saya suka membaca cerpen2 karya agus noor. ketika membaca cerpen hikayat anjing &#8220;ibu adalah anjing.&#8221; atau membaca kupu kupu seribu peluru &#8220;BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya bengkak karena dosa, dan sekujur tubuhnya bergetah nanah kena kusta! adakah ia sundal ataukah santa?&#8221; atau bahkan cerpen lain yang membuat saya terus ingin membaca sampai selesai dan setelah selesai saya akan mengulanginya dari awal.</p>
<p>melihat seni rupa saya kira akan mempunyai makna dan arti yang luas. saya bingung dengan ini. maka jika ditanya saya pasti akan lebih suka membaca dan merangkai kata dengan pena dari pada melukis dengan kuas. tapi,&#8230; saya kira lebih bermakna lagi jika penggabungan itu dilakukan. sebuah seni rupa yang dijabarkan lewat kata.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Haris</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/11/cerita-yang-menyerap-rupa/#comment-266</link>
		<dc:creator>Haris</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 05:47:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=181#comment-266</guid>
		<description>Saya senang dengan istilah &#039;pembacaan terbalik&#039; anda. Itu yang saya lakukan setiap berkesempatan membaca cerpen Kompas Minggu. Membaca judulnya  dahulu sambil menikmati ilustrasinya. Kemudian saya tinggalkan sementara untuk membaca berita2 di halaman lain, sambil pikiran terus menebak isi cerita yang bakal saya dapatkan. (seperti sedang berusaha menebak isi kado dari bentuk dan bungkus kadonya)
Setelah tidak ada yang perlu dibaca lagi, baru saya mulai menikmati isi cerita pendek tsb. Selesai mambaca pun, saya kembali pada judul dan memandangi lukisannya lama-lama. Sembari mencoba-coba menafsirkan sendiri antara judul, isi cerita dan lukisannya. Kadang-kadang kepikiran sampai seharian.

Betapa ritual yang menyenangkan.

Kapan ngadaian komen yang berhadiah lagi? 

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya senang dengan istilah &#8216;pembacaan terbalik&#8217; anda. Itu yang saya lakukan setiap berkesempatan membaca cerpen Kompas Minggu. Membaca judulnya  dahulu sambil menikmati ilustrasinya. Kemudian saya tinggalkan sementara untuk membaca berita2 di halaman lain, sambil pikiran terus menebak isi cerita yang bakal saya dapatkan. (seperti sedang berusaha menebak isi kado dari bentuk dan bungkus kadonya)<br />
Setelah tidak ada yang perlu dibaca lagi, baru saya mulai menikmati isi cerita pendek tsb. Selesai mambaca pun, saya kembali pada judul dan memandangi lukisannya lama-lama. Sembari mencoba-coba menafsirkan sendiri antara judul, isi cerita dan lukisannya. Kadang-kadang kepikiran sampai seharian.</p>
<p>Betapa ritual yang menyenangkan.</p>
<p>Kapan ngadaian komen yang berhadiah lagi? </p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
