- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA

Oleh Agus Noor

Pertumbuhan sastra berada dalam tegangan antara melakukan inovasi dan melanjutkan tradisi (literer) yang sudah tersedia. Begitu pun yang terjadi dalam pertumbuhan cerpen kita, yang ditandai dengan upaya pencarian atau ‘eksperimentasi’ untuk melakukan inovasi bentuk dan cara bercerita yang sudah ada, tetapi juga memiliki watak untuk ‘mempertahankan’ sekaligus melanjutkan bentuk dan cara bercerita yang sudah tersedia. Karena itulah, pertumbuhan cerpen kita memiliki benang merah pertumbuhan yang cukup kentara, simultan, sekaligus muncul pula upaya-upaya untuk melakukan inovasi atau eksperimentasi tema, bentuk, sampai gaya bercerita. Kita bisa menengok kecenderungan itu melalui kerangka periodisasi sastra yang kita kenal (dimana kita bisa melihat kecenderungan yang terjadi dalam cerpen kita pada periode waktu tertentu) untuk mengidentifikasi inovasi atau “eksperimentasi” apa saja yang dilakukan oleh para cerpenis kita.

Sebelum tahun 1920, cerpen masih dilihat sebagai bacaan ringan dengan fungsi utama sebagai bacaan hiburan. Cerita-cerita “Melayu rendah” memperlihatkan hal itu. Tetapi, pada periode ini pula, bentu cerpen mulai menemukan embrionya dalam sastra Indonesia. Sampai pada era balai Pustaka, yang antara lain ditandai dengan terbitnya kumpulan cerpen Suman Hs dan Kasim Ahmad. Istilah cerpen mulai dikenal sebagai bagian dari bentuk ekspresi sastra.

Pada Idrus dan sejamannya, terjadi upaya untuk lebih ‘memartabatkat’ cerpen sebagai bentuk karya sastra, melalui upaya pemantapan struktur bercerita yang lebih serius dibanding dengan apa yang dihasilkan oleh M. Kasim atau Suman Hs. Cerpen semacam Jalan Lain ke Roma dan kemudian Parlemen Baru Telah Dibuka di Rumah Saya yang ditulis Idrus seperti memperlihatkan satu upaya untuk menemukan koherensi cerita, kesatuan bentuk dan struktur cerita yang lebih terjaga – yang oleh HB Jassin dikatakan sebagai cerpen yang lebih “mempunyai teori sastra agak mendalam”. Realisme memang masih menjadi mainstream utama penceritaan, sebagaimana juga periode sebelumnya. Tak mengherankan, kita tak dikejutkan dengan beragam “eksperimentasi yang aneh-aneh” pada periode ini. Tetapi kita bisa merasakan, betapa realisme pada jaman itu banyak dikembangkan sebagai upaya untuk menemukan struktur dan bentuk sastra yang berbeda dengan sebelumnya. Dimana tekhnik dan komposisi cerita terasa lebih “nyastra”. Maka, pada periode ini, “secara formal” bentuk cerpen kian dikukuhkan sebagai satu genre tersendiri dalam sastra modern (di) Indonesia.

Cerpen-cerpen yang dihasilkan setelahnya (generasi Kisah dan Sastra), melanjutkan kematangan bentuk, komposisi, strutur dan plot yang kian terkuasai dengan baik. Tapi hal itu tidak mendorong para penulis melakukan “inovasi” bentuk. Penjelajahan isi dan tema justru lebih kentara pada periode ini. Ada semacam gairah untuk menemukan “tema-tema baru” yang berbeda dengan sebelumnya, sebagaimana diperlihatkan cerpen Musium Asrul Sani, Inem Pramudya Ananta Toer, mau pun Salju di Paris Sitor Situmorang, sampai Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu Iwan Simatupang. Keberadaan majalah Kisah dan Sastra terutama, memungkinkan eksplorasi tematik itu. Tema cerita tak lagi sebatas pada kisah realis sehari-hari, tetapi juga sudah menjelajah ke tema yang lebih kuat aspek psikologisnya, juga tema-tema politik dan metafisik yang bersifat gaib. Dengan kata lain, para kurun waktu itu penjelajahan tema menjadi wilayah yang digarap dengan inovatif dengan tetap berpijak pada realisme sebagai gaya cerita utama. Penjelajahan tematik itu, seolah-olah juga merupakan satu upaya untuk menemukan otentisitas penceritaan. Satu hal, yang kemudian banyak menumbuhkan indentifikasi atara sosok pengarang dengan tema yang ditulisnya: dimana Bur Rasuanto, misalnya, kemudian banyak diidentifikasi melalui tema perburuhan yang banyak dijelajahinya.

Gairah untuk melakukan inovasi yang lebih mengacu pada struktur dan bentuk, baru terasa bergairah di kurun 70an. Inilah kurun dimana gairah untuk melakukan “eksperimenasi” terasa menyala-nyala. Kehadiran majalah Horison, menjadi signifikan di sini. “Eksperimentasi” para penulis yang banyak dipublikasikan lewat Horison itu mengarah pada tiga hal. Pertama, pada upaya menemukan bentuk “gaya (ber)-bahasa”. Dimana “gaya bahasa” menjadi sentrum penceritaanaan, hingga bahasa-lah yang kemudian membentuk setiap anasir cerita. Cerpen-cerpen “terror” Putu Wijaya, seperti Sepi atau Maya, memperlihatkan hal itu. Tapi hal ini juga sangat terasa pada cerpen-cerpen Wildam Yatim, yang tenang dan kaya detail. Atau bahkan pada cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan Umar Kayam, dimana suasana dalam cerita ditentukan oleh (gaya) bahasa. Kedua, upaya untuk menemukan bentuk-bentuk tekhnik penceritaan, menyangkut penokohan dan struktur/alur cerita, dimana efek-efek dramatik cerita kemudian banyak dihasilkan memalui tekhnik-tekhnik penceritaan itu. Kita bisa melihat tekhnik repetisi penceritaan pada cerpen Sukri Membawa Pisau Belati Hamsad Rangkuti atau pada cerpen “Garong” Taufik Ismail. Sementara cerpen “Krematorium Itu Untukku”, “Laki-laki Lain” juga “Tiga Laki-laki Terhormat” Budi Darma memperlihatkan tekhnik penokohan yang “alusif”: dimana tiap karakter seakan-akan mengacu pada karakter lainnya. Inilah tekhnik penceritaan dan penokohan yang kemudian banyak dikembangkan Budi Darma pada cerpen-cerpen yang ditulisnya selepas periode Orang-orang Blomington, seperti tampak pada “Gauhati”, “Derabat” atau “Mata yang Indah”. Ketiga,pada upaya untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk “tifografi penceritaan”, dimana elemen-lelem visual dari huruf, tanda baca sangat mempengaruhi struktur penulisan cerita, dan bagaimana cerita itu “ditampilkan secara visual”, hingga cerita bisa saja memakai elemen rupa sebagai baian strukturnya. Danrto banyak melakukan hal ini, seperti judul cerpennya yang memakai gambar panah menancap di lambang hati, atau seperti “cepen-rupa”-nya “nguung…nggung cak cak…” itu. Yifigarata S. Grapputin banyak memanfaatkan tanda baca (semacam titik, koma, tanda seru, dll) menjadi bangunan bentuk cerita., seperti seri “Cerita Pendek”-nya yang lebih 9 seri itu.

Itulah periode yang begitu semangat melakukan “ekperimentasi”. Dengan para eksponen seperti Danarto, Budi Darma, Putu Wijaya, sampai Hmid Jabbar,Yudhistira Adi Nugraha, Kurniawan Junaedi, Eddy D. Iskandar, Joko Sulistyo, Ristata Siradt, juga Arswendo Atmowiloto yang menggembangkan “cerpen-cepen dinding”-nya. Struktur dan bentuk-bentuk tifografi yang “aneh”, seperti dimungkinkan hadir karena ruang “eksperimentasi” diberikan oleh media yang menyertai pertumbuhannya. Rupanya, media menjadi bagian penting dari pertumbuhan cerpen ini. Pasang surut cerpen kita, dengan segala macam “eksperimentasinya”, memang berkait erat dengan media yang menjadi sarana publikasinya.

Tak mengherankan, surutnya media sastra Horison si seputar 80an, membuat peluang “ekperimentasi” pada cerpen pun menjadi surut pula. Majalah Zaman, memang memberikan ruang yang sangat apresiatif atas cerpen-cerpen dengan “cerita aneh”, yang mengesankan upaya “eksperimentasi” juga. Eksplorasi “kisah yang ganjil” pun menjadi warna tersendiri. Surealisme dan absurdisme menjadi gaya bercerita yang banyak dipakai oleh banyak penulis, seperti Seno Gumira Ajidarma dengan “Bayi Siapa Menagis di Semak-semak?” sebagai satu contohnya.

Begitu pun ketika koran menjadi medium yang banyak dipakai untuk menghadirkan cerpen. Banyak penulis memakai surealisme dan absudirme sebagai gaya, sebagai semacam cara untuk menemukan efek dramatik dan estetis tertentu dalam cerita. Tapi periode ini memperlihatkan surutnya gairah untuk melakukan “eksperimentasi”. Meski itu tidak berarti melempemnya semangat untuk melakukan inovasi dalam bercerita. Hanya saja, peran Koran sebagai media utama penerbitan cerpen memang tidak terlalu memungkinkan bagi semangat eksperimentasi yang terlalu aneh. Kalau pun ada upaya untuk melakukan inovasi, itu lebih pada pencarian yang tidak lagi terobsesi pada bentuk, tetapi lebih pada cerita. Cerita-cerita yang aneh dan ganjil menjadi warna tersendiri, tetapi tak memperlihatkan tekhnik penceritaan yang beragam – atau bahkan ganjil juga. Gaya penceritaan yang linear dengan narasi yang bersifat langsung dan deskriptif menjadi gaya utama yang dipakai hampir semua penulis. Hal itu membuat satu konsekwensi, dimana perkembangan yang terjadi kemudian lebih bergerak pada deep structure cerita, bukan pada surface structure, atau bentuk visual karya.

Yang menarik, ketika majalah sastra semacam Horison (dan kemudian) Kalam, yang mulai kembali menemukan perannya, tapi kita tetap tak menemukan semangat “ekperimentasi” (bentuk) pada cerpen-cerpen yang terbit di dalamnya. Realisme sebagai mahzab permerian dan penceritaan nampaknya telah menjadi mainstream yang tak gampang dilepaskan. Dalam mahzab realisme itu, sastra cerpen menjadi medium untuk menyampaikan pesan dan gagasan-gagasan social. Cerpen-cerpen yang tumbuh menjadi sangat ‘sosiologis’ dan kuat denga pretensi sosial. Itulah yang terasa selama periode 1980an sampai 1990an.

Semangat untuk menemukan “pengucapan” baru memang masih terasa, terutama menyangkut otensisitas (ber)-bahasa. Dan itu kian terasa kuat memasuki periode tahun 2000an. Inilah suatu periode ketika Kalam (beserta Komunitas Utan Kayu) seolah menegaskan posisinya sebagai laboratorium bahasa,. Ini bisa dipahami sebagai satu upaya untuk melakukan antitesis, atau melawan kecenderuan sosiologis yang memang sudah begitu akut dalam sastra kita, terutama pada cerpen-cerpen Koran. Itulah satu hal, yang kemudian rupanya menjadi “proyek” Kalam, dimana cerita (baca: sastra) adalah soal bagaimana berbahasa – bertarung dengan bahasa. Bila kita membaca cerpen-cerpen mutakhir kita, cerpen-cepen yang di tulis semenjak akhir 90an sampai kurun saat ini, kita akan melihat proyek “eksperimentasi” cara bercerita dan berbahasa semacam ini: dimana sebuah cerita kemudian diolah memalui struktur atau gaya penceritaan tertentu, point of view yang beragam, polisemi bahasa, atau angle penceritaan yang kadang campur aduk sebagai satuan narasi penceritaan. Seperti terjadi pertarungan untuk mengatasi narasi. Mungkin, pada periode saat ini, “ekperimentasi” bercerita adalah satu upaya untuk menangani bermacam narasi. Semacam kepingan-kepingan yang mesti ditata ulang melalui pemakaian beragam tekhnik berbahasa, agar sastra menjadi ekspresi naratif sekaligus juga menjadi wacana yang menyediakan keterlimpahan makna.

Inilah periode mutakhir pertumbuhan cerpen kita. Pada periode ini, kita bisa melihat semangat “eksperimentasi” itu melalui (1) gaya (ber)-bahasa dan (2) pada gaya (ber)-cerita. Seperti yang dinyatakan di atas, bahwa ‘sastra adalah sebuah peluang untuk membangun, menciptakan, menyusun menghasilkan “sebuah bahasa”. Maka yang pertama-tama, tantangan seorang penulis cerita ialah menghasilkan “sebuah bahasa”, yang akan membuat sebuah karya-sastra memiliki otentisitas sebagai sebuah teks sastra. Untuk itulah, “sebuah bahasa” (dalam cerpen) memerlukan seperangkat cara untuk bercerita yang berupa gaya atau tekhnik, agar menghasilkan sebuah narasi yang mendukung gagasan, isi, maupun struktur cerita. Dengan kata lain. ‘bahasa cerita’, terkait erat dengan ‘gaya cerita’ yang dipakai/dipilihnya. Dan di sanalah bermacam penjelajahan dan kemungkinan berbahasa coba dilakukan oleh para penlis cerita kita, sebagaimana terasa pada karya-karya Joni Ariadinata, Gus tf Sakai, Triyanto Triwikromo, Puthut EA, Dinar Rahayu, Eka Kurniawan, Stefani Irawan, Intan Paramaditha dan yang lainnya.

Kita misalnya, bisa menilih (gaya) bahasa yang dikembangkan Joni Ariadinata yang padat, keras, cepat dan menimbulkan efek keserempakan peristiwa, dengan sinisme tertentu yang keras pada formalisme bahasa. Atau pada cara Triyanto Triwikromo yang menghadirkan “kegemparan” imaji: membuat cerita kadang hadir serupa karnaval yang meriah dengan simbolisasi dan imaji. Atau juga pada efek puitis yang cenderung repetitif dari bahasa Gus tf Sakai, yang padat, menimbulkan kesak efektifitas narasi pada satu sisi, sekaligus menimbulkan pesona dari ketakterselesaiannya dalam bercerita: semacam gaya untuk membangun cerita, sekalisus menunda menyelesaikannya. Hal yang juga terasa pada gaya bahasa Puthut EA, terutama pada kumpulan cerpennya Dua Tangisan Satu Malam, yang memaksimakan efek puistis dalam narasi, dengan sudut pandang penceritaan yang sering kali bergerak dalam kenangan. Kemungkinan-kemungkinan berbahasa seperti itu, telah menciptakan efek estetis tertentu, yang membuat bahasa Indonesia menjadi kian kaya, baik secara metafora maupun struktur ungkapan dan sintaksisnya.

Sementara itu, berkaitan dengan gaya bercerita, kita akan segera berjumpa dengan berbagai varian gaya dan cara untuk menyusun struktur cerita – berkaitan dengan upaya membangun “sebuah bahasa” tersebut. Pada cerpen-cerpen AS. Laksana, “Seto Menjadi Kupu-kupu” misalnya, banyak dipakai tekhnik penceritaan bertumpuk-tumpuk untuk memberi ruang bagi banyak narator untuk saling menginterupsi plot cerita. Atau tekhnik pergantian poin of view narator pada cerpen Déjà vu: Kathmandu Veven Sp. Wardana. Pun pada cerpen Radhar Panca Dahana, Lelaki dengan Bibir Tersenyum atau Mayat di Tepi Semak, cara bercerita yang dikembangkannya memperlihatkan upaya untuk menangani begitu banyaknya narasi yang hadir secara serempak dalam ruang dan waktu yang sama. Gaya bercerita seperti itu “lumayan baru” bagi cerpen-cerpen kita, meski sesungguhnya gaya seperti ini sudah cukup lama ada dalam khasanah sastra dunia.

Gaya bercerita dengan memakai tekhnik “multi level narator”, hingga alur cerita dituturkan oleh beberapa tokoh (pencerita) dilakukan oleh Triyanto Triwikomo dalam Seperti Gerimis yang Meruncing Memerah. Sementara pada cerpen karya Triyanto lainya, yakni Lumpur Kuala Lumpur kita menemukan struktur cerita yang lebih berupa rangkaian “kolase cerita”, atau satuan-satuan cerita, yang tersusun menjadi satu banguanan cerita. Di mana plot jalin-menjalin dan saling kait, bukan dikarenakan kausalitas linear sebagaimana plotting pada umumnya cerpen konvensional. Kesatuan cerita, seolah-olah hanya dipersatukan oleh tema yang sama.

Sementara para penulis cerita seperti Stefani Irawan, Intan Paramaditha seringkali memakai beberapa sudut pandang penceritaan: seolah upaya untuk memberikan bermacam suara menemukan artikulasinya. Dan di situlah, bahasa sastra menjadi memiliki pesona, sekaligus kekuatan untuk mengembangkan dirinya sebagai sebuah wacana di antara pelbagai wacana (bahasa) lainnya.

Dilihat dari hal tersebut, pertumbuhan cerpen pada periode mutakhir ini memperlihatkan pencapaian inovatif yang jauh lebih matang ketimbang bermacam “eksperimentasi bentuk visual’ yang terjadi tahun 70an. Yang terjadi pada periode mutakhir ini, pencapaian estetis lebih memberikan peluang penafsiran melalui cara berbahasa dan bercerita yang dikembangkannya.

About these ads

1 Response to “- EKSPERIMENTASI DALAM CERPEN INDONESIA”


  1. 1 RYUUNICHI November 6, 2008 pukul 8:28 am

    THx UNTUK MATERI INI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 389 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: