- CERPEN “KOMPAS” PILIHAN 1970-1980

Oleh: Agus Noor

Aku tidak siap menerima perubahan-perubahan hidup yang tiba-tiba…

KUTIPAN di atas dipetik dari cerpen “Gamelan pun Telah Lama Berhenti” (Faisal Baraas), yang merupakan satu diantara 53 cerpen yang ada dalam antologi Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980: Dua Kelamin bagi Midin. Kutipan itu, seakan-akan, menjadi representasi tekstual dari cerpen-cerpen yang terhimpun dalam kumpulan itu, yang mengisyaratkan adanya “tragisme” yang terus-menerus direproduksi dalam sastra kita. Suatu “tragisme” yang merupakan kegagalan dan ketidakberdayaan “aku naratif” atau tokoh-tokoh yang hidup dalam cerita-cerita itu ketika bersikeras memahami dan menghadapi perubahan sosial yang dihadapinya. “Tragisme” itu, pun mengisyaratkan adanya kaitan kontekstual, antara teks-cerita dengan lingkungan sosial dimana cerpen-cerpen itu ditulis.

Simaklah deskripsi Oei Sien Tjwan, dalam cerpen “Serantang Kangkung” (hal. 222) ini: Udara siang di desaku biasanya tak pernah berdamai dengan siapa pun, kecuali dengan orang-orang kaya. Terasa tragis, bukan? ‘Udara’, yang mestinya tak memiliki pemihakkan kelas sosial, terasa berbeda kesejukannya bagi yang miskin dan kaya. Tapi ‘udara’ bisa juga dibaca sebagai suasana, keadaan, dimana nilai-nilai tidak sepenuhnya netral, karena ada kekuatan-kekuatan yang ikut mempengaruhi keadaan dan suasana “udara” yang dihirup itu.

Menjadi pertanyaan menarik, kenapa “tragisme” itu muncul berulang-ulang?

Bahkan, apabila kita membaca sejarah sastra Indonesia, maka kita juga akan menjumpai serentetan “tragisme” yang dihadapi tokoh-tokoh yang hidup di dalamnya. Mulai dari Siti Nurbaya sampai Srintil, Mulai dari Hanafi, Hasan, sampai Seto dan Larung. Rupanya, tragisme itu memang muncul akibat pertarungan “idiologi”, yang diam-diam diyakini oleh pengarang, ketika ia berhadapan dengan perubahan sosial yang dihadapinya. Seakan-akan ada “idiologi” – yang tidak sebatas dalam konsepsi politis – yang hidup dan diyakini dan tengah diperjuangkan oleh pengarang kita melalui karya sastra yang ditulisnya. Semacam keyakinan untuk memperjuangkan, atau sedapat mungkin mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan ditengah gerusan arus perubahan. Kita jadi ingat pada HB. Jassin yang memunculkan istilah “humanisme universal” untuk orientasi nilai yang dikembangkan sastrawan Angkatan 45. Nampaknya, orientasi nilai semacam itu masih berdeyut kuat dalam sastra kita, hingga sekarang. Tiada heran apabila cerita-cerita yang muncul pun tidak bergeser jauh dari semangat mengusung tema semacam itu. Mungkin, akar yang lebih menghunjam lagi adalah impresi romantisme, yang tidak gampang ditepiskan dari sejarah sastra kita. Suatu keyakinan, betapa sastra masih bisa menjadi “ruang alternatif” bagi segala kerumitan sosial, suatu wilayah yang mampu merefleksikan problem-problem sosial melalui seperangkat alat estetik yang dimiliki bahasa. Suatu romantisisme yang tak kunjung padam, istilah Faruk. Semangat itu seakan terus diupayakan untuk mengatasi “dunia yang terdegradasi”.

Dan itulah, yang kemudian sangat kentara ketika membaca kumpulan cerpen Dua Kelamin bagi Midin ini. Adanya semangat untuk mengingat dan mencatat, segala ihwal yang tengah berlangsung gawat. Tidak mengherankan, apabila konflik yang berkembang dalam cerita-cerita ini, terasa sebagai suatu upaya rekonstruksi “kenyataan” ke dalam struktur cerita, yang selanjutnya diharapkan dapat dipakai sebagai seperangkat alat untuk memahami “kenyataan” atau “realitas” itu kembali. Dengan kata lain, nyaris semua cerita ditulis dalam semangat “realisme”. Para pengarang itu “hampir semua menulis dalam mazhab realisme”, tulis Seno Gumira Ajidarma dalam catatan editorialnya (hal. xxv). Di sini, kita juga bisa menduga, betapa semangat “realisme” itulah yang bisa jadi merupakan kemungkinan kenapa “tragisme” itu muncul: sebagai satu konsekuensi lain dari cara bercerita yang bersemangat “realisme” itu, dimana kisah kemudian menyiapkan diri bagi suatu surprise di akhir cerita. “Realisme”, dalam konteks ini ialah suatu semangat untuk merangkum dan menceritakan kembali apa yang dianggap sebagai kenyataan, realitas, yang dihadapi atau dihayati sang pengarang. Secara struktur dan bentuk, sebuah cerpen boleh jadi tidak memenuhi kaidah standar teori “realisme” (seperti “Malam Putih” Korrie Layun Rampan, “Subali Kawin” Noorca Marendra Massardi, “Mogok” F. Rahardi atau “Komkapanin” Hamid Jabbar – untuk menyebut beberapa contoh) tetapi terasa betul semangat untuk merangkum dan menceritakan kembali apa yang diyakini sebagai “kenyataan” itu.

Tentu saja, tak ada yang salah dengan pilihan “realisme” semacam itu. Yang menarik justru ketika “realisme” yang dikandung cerita-cerita itu ternyata lebih banyak menghadirkan beragam “tragisme” di akhir cerita. Apabila memang para pengarang itu tengah berupaya meneguhkan kenyakinan kepengarangannya dalam memahami kenyataan, maka “tragisme” itu adalah serangkaian kekalahan dalam menghadapi dan memahami kenyataan. Karena itu, menjadi menarik apabila kita menelisik: bagaimana para pengarang itu mengakhiri konflik, benturan nilai, yang berlangsung sepanjang cerita. Cara mengakhiri cerita (ending) kemudian menjadi semacam sikap, suatu keputusan yang mau tidak mau harus diambil oleh pengarang. Dan di sinilah, saya ingin menyimak “tragisme” yang berlansung, memalui ending cerita yang dipilih para pengarang itu.

CERPEN, karena kependekan ruang bercerita yang dimilikinya, seringkali menumpukan kekuatannya pada ending-nya. Satyagraha Hoerip pernah melakukan pembahasan terhadap ending cerpen-cerpen Indonesia, dimana ternyata tidak cukup banyak cerpen Indonesia yang cukup kokoh ketika mengakhiri ceritanya. Pada titik terakhir kalimat sebuah cerpen, sebuah awal sesungguhnya mulai terbangun dalam ruang interpretasi pembaca. Hingga sebagai suatu bangungan cerita, sebagai “arsi-teks-tur”, sebuah cerpen tidak berhenti menjadi “sebuah cerita yang pendek”, tetapi menjadi suatu silhuet bangunan yang memungkinkan kita untuk menginterpretasi dan memaknai ornamen dan detail (karakterisasi, konflik, plot) yang barangkali memang tidak terlalu banyak tersedia dalam “kependekan cerita” itu. Ending, dalam satu cerpen, bahkan terkadang menjadi satu strategi tekstual yang memang disiapkan, yang akan menjadi kekuatan cerita. Dan dalam konteks “realisme” serta “pertarungan kepentingan” sebagaimana yang terasa dalam kumpulan Dua Kelamin bagi Midin ini, ending menjadi terasa genting. Karena bagaimana sebuah cerita berakhir atau diakhiri bisa berarti suatu penyataan sikap keberpihakan, juga sikap dalam menghadapi “pertarungan kepentingan” tersebut.

Secara teoritik, kita mengenal dua kategori ending cerita: happy ending dan tragic ending. Apabila kita memakai dua kategorisasi semacam itu, akan segera terasa, betapa tragic ending banyak mewarnai cerpen-cerpen dalam kumpulan Dua Kelamin bagi Midin ini. Dari 53 cerpen, boleh dibilang hanya 5 cerpen yang berujung pada happy ending; suatu akhir yang menyiratkan kemampuan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut mengatasi persoalan yang menelikungnya. Selebihnya adalah serentetan akhir yang tragis. Bahkan, sejak cerpen pertama, “Malam Seorang Maling” (Jakob Sumardjo) kita sudah berhadapan dengan suasana tragis di akhir kisah: kematian seorang tokohnya. Kemudian cerpen paling buntut, “Sodom dan Gomora” (Agus Vrisaba) juga diakhiri dengan kematian tokoh utamanya. Bagi saya, ini bukan sebuah kebetulan. Tapi menjadi semacam tanda (kode tekstual) dimana kita bisa memulai memasukidan menghayati tragisme yang tengah berlangsung dalam cerita-cerita itu.

“Malam Seorang Maling”, berkisah tentang seorang maling yang menyelamatkan diri dari kejaran penduduk. Ia memang selamat, tetapi itu terjadi karena kesalahfahaman penduduk yang menangkap seorang pendatang, yang dikira adalah maling yang mereka kejar. Pendatang itu pun dihabisi sampai koit. Sementara “Sodom dan Gomora” menjadi alegori moral perihal kemunafikan Bapak Lutus, yang menampilkan diri sebagai pribadi yang religius, tetapi kemudian terbukti masih terikat dengan nilai-nilai duniawi. Bapak Lutus mati kaku berdiri dengan kepala menoleh ke belakang, seperti istri Lut, yang masih hirau dengan harta yang ditinggalkannya, hingga mati menjelma tiang garam. Cerpen pertama seakan memberi gambaran: betapa ditengah perubahan yang tak sepenuhnya difahami, “kita” ini ibarat seorang pendatang, orang baru, yang tidak faham apa-apa tetapi begitu saja terjebak dalam pusaran konflik. Tragisme muncul, karena para tokoh itu sesungguhnya belum terlalu siap betul ketika memasuki fase perubahan, dan karenanya menjadi korban. Tetapi, seperti Bapak Lutus, para tokoh itu juga tak sepenuhnya bisa meninggalkan lingkungan sosialnya yang tengah berubah itu. Ia masih terikat dengan lingkungan dimana ia hidup dan berada, seakan ada pertautan ingatan dan kenangan yang membuat mereka mencoba bertahan.

Upaya bertahan, mengatasi, menyiasati, menghadapi konflik-konflik yang dibawa perubahan itulah yang memunculkan serangkaian akhir yang tragis. Dan kematian, bayangan maut, menjadi semacam puncak dari tragisme itu. Ada 11 cerpen, yang berujung pada kematian. Seakan-akan kematian adalah hal yang tak terelakkan, sesuatu yang mesti ditanggung oleh para tokoh dalam cerita itu, karena ketidakberdayaan mereka menghadapi situasi dan kenyataan yang dihadapi. Bahkan, dalam cerpen “Belas” (Indra Adil), kematian menjadi jalan penyelesaian untuk mengakhiri persoalan: para gelandangan yang memenuhi jalan-jalan satu persatu dihabisi, dan itu karena dianggap sebagai solusi paling sahih untuk mengakhiri penderitaan mereka. Seorang “pembunuh misterius” menyampaikan pesan atas serangkaian kematian para gelandangan itu, “Kalian tak perlu merisaukan kesepuluh gelandangan yang telah meninggalkan kefanaan ini. Mereka telah tersenyum bahagia di seberang sana, setelah hak mereka kita isap di dunia. Wahai… betapa bahagia mereka.”.

Yang menarik, barangkali, meskipun bau kematian nyaris meruap di sekujur keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini, hanya satu cerpen yang memakai kata kematian sebagai judulnya secara langsung, yakni cerpen “Berita Kematian (Yudhistira ANM Massardi). Dalam cerpen ini kematian telah menjadi komoditi, menjadi konsumsi yang mengasyikkan, meski ia terasa menyesakkan. Ini memperlihatkan ironi, juga parodi dari serentetan kekalahan itu. Dan ini juga memperlihatkan bentuk “tragisme” yang lain, dimana para tokohnya tidak mati, tetapi mengalami kekalahan dan ketidakberdayaan diakhir kisah.

Situasi yang getir dan tragis terasa ketika para tokoh itu terombang-ambing dalam konflik yang membuat mereka tidak mampu sepenuhnya memahami apa yang mereka hadapi dan jalani. Perubahan telah menjadi rutin yang mesti dijalani bagi Midin, dalam “Dua Kelamin bagi Midin” (Arswendo Atmowiloto). Keyakinan atas sesuatu yang dianggap benar bisa menjadi kesalahfahaman bagi yang lain, ketika hubungan berlangsung tidak dalam kesejajaran, ketika ada yang menguasai dan dikuasai. Ada struktur kekuasaan yang tak bisa diatasi, hingga ketika seseorang masih berusaha menjadi seorang moralis, dalam cerpen “Tawanan” (Tahi Simbolon), hal itu malah tampak tolol dan hipokrit. Sementara persoalan orang kecil semacam Leman menjadi tidak terlalu penting bagi proyek besar pemberantasan buta huruf yang dicanangkan oleh negara, seperti dalam cerpen “Orde Lama” (AA. Navis). Sementara “Ramalan Para Kacung” (Sori Siregar), memeperlihatkan betapa perubahan itu justru membuat kebingungan, karena hierarki hubungan sosial yang mendadak berubah, dan tak bisa difahami. Sisi kebaikan yang disediakan oleh perubahan justru menjadi pil pahit. Hingga ketika mengganti penampilan (agar terlihat baru dan tidak ketinggalan jaman) Ima Burik dalam cerpen “Kalung” (Muhamad Ali), justru mengalami serangkaian malapetaka. Dan ketika mobilitas sosial secara vertikal berlangsung, yang muncul adalah bermacam kekonyolan seperti yang dialami Lohor Kelkel, seorang pelawak ndeso yang mesti tampil di Ibu Kota, setidaknya begitulah yang tergambarkan dalam cerpen “Sahabat Saya Lohor Kelkel” (Bakdi Soemanto).

Meki begitu, bukan berarti tak ada jalan untuk mengatasi konflik sosial dan psikologis semacam itu. Jalan yang banyak ditempuh, akhir cerita berupa satu ikhtiar membangun satu justifikasi bagi “kekalahan-kekalahan” para tokoh itu. Semacam eskapisme untuk menemukan pembenaran-pembenaran bagi sikap dan kekonyolan para tokoh itu menghadapi keadaan. Pada “Pesta” (Emha Ainun Nadjib), eskapisme itu betupa seabreg penyataan retoris dan filosofis yang membuat keidakmampuan sang tokoh memasuki lingkungan sosialnya yang baru, menjadi tampak gagah. Semua itu ialah siasat, jurus untuk berkelit dari rasa sakit, sebagaimana dalam cerpen “Kasut” (Bernardus Subekti Suryono), yang terombang-ambing mesti memilih kasut-baru dan kasut-lama, dan menyelesaikannya dalam mimpi. Atau bisa juga menumbuhkan kenyakinan dan kesabaran akan datangnya kebahagiaan setelah masa sulit dan sakit: “aku hanya menunggu dan puyeng mencari jalan untuk meniadakan penantian…bunting kakiku telah tua dan sebentar lagi meledak untuk memuntahkan sakit hatinya…”, bergitulah tragisme berlangsung di akhir cerpen “Kaki” (Darwis Khudori).

Upaya lain ialah dengan memasuki wilayah moral, sebagai satu jalan untuk menyelesaikan persoalan. Ini seperti sebuah sikap yang dalam beberapa hal terasa selalu ingin ditegaskan: betapa sang tokoh boleh kalah secara sosial, secara faktual, tetapi ia mampu merebut kebenaran moral. Tetapi tidak banyak pilihan ending semacam itu berhasil secara tektual. Sering kebenaran moral yang diandaikan menjadi terasa artifisial. Dengan kata lain, serentetan tragisme itu tidak berhasil berubah menjadi satu pencerahan moral, sebuah katarsis sebagai puncak dari “tragisme” yang berlangsung. Barangkali cerpen “Serantang Kangkung” Oei Sien Tjwan adalah perkecualian. Secara pribadi, saya menganggap, inilah ending paling “menakjubkan” dari semua cerita dalam antologi ini.

APABILA kita menempatkan operasionalisasi wacana tragic ending semacam di atas, ke dalam apa yang oleh Seno disebut sebagai konteks jaman ketika cerpen-cerpen itu ditulis, maka kita bisa merasakan semangat jaman macam apa yang melahirkan serangkaian “tragisme” itu. Atau kalau memang cerpen-cerpen itu dianggap “mewakili”, maka kita bisa menbayangkan situasi semacam apakah yang diwakili oleh tragisme cerita-cerita itu. Bahkan, kita bisa melakukan perbandingan dengan cerpen-cerpen sebelum dan sesudah masa itu. Pertanyaan menarik bisa diajukan: kenapa cerpen-cerpen pada masa itu, mengisyaratkan adanya jaman yang letih, dimana semangat perlamanan, heroisme, tidak begitu gampang ditemukan. Adakah ini karena trauma hiruk-pikuk jaman sebelumnya yang penuh gelora semangat perlawananan? Ataukah itu muncul karena faktor eksternal (sosial politik) yang kian mulai terasa dan makin represif-hegemonik? Adakah ini sebuah gambaran semangat jaman yang anti-hero dalam sastra, sebagaimana pernah digagas oleh Iwan Simatupang? Sebuah jaman yang pesimistis. Jangan-jangan, semua tragic ending itu juga merepresentasikan situasi “kekalahan idiologis” yang dialami penulis, yang membuat para penulis kemudian terkurung dalam satu tema “tragisme” yang pesismistis dan fatalis. Satu situasi yang bahkan terus-menerus berlangsung pada kurun waktu setelahnya – bila kita membaca cerpen-cerpen sesudah tahun 80an, akan segera terasa betapa masih terus muncul “warna tragisme” itu. Seakan-akan tidak ada jalan keluar bagi sebuah ending cerita yang bebas dari tragisme.

Itu juga suatu tema yang bisa kita telisik lebih jauh. Dan kumpulan cerpen Dua Kelamin bagi Midin ini, telah memberikan satu persfektif bagi cara pandang kita untuk melihat pertumbuhan sastra berkaitan dengan lingkungan sosial yang mengonstruksinya. Itu satu spektrum lain, di antara pelbagai kemungkinan spektrum lainnya yang disediakan cerita-cerita dalam kumpulan ini. Tetapi, mesti juga kita ingat, bahwa ke 53 cerpen dalam buku ini adalah satu hasil “seleksi” dari 390 cerpen yang terbit pada kurun waktu itu, hingga “konteks jaman” yang tersediakan pun adalah “konteks jaman yang sudah terseleksi”, setidaknya suatu konteks jaman yang berada dalam formasi diskursif yang telah dipilih editor.

Karena itu menjadi penting mencermati, bagaimana formasi diskursif itu disusun. Sebagai editor, Seno menempatkan kumpulan ini tidak semata-mata sebagai peta pertumbuhan estetik cerpen-cerpen pada masa itu. Tetapi lebih pada sebuah upaya untuk memberikan gambaran bagaimana “pertarungan kepentingan” berlangsung dalam cerita-cerita dan konteks sosial yang mengkonstruksinya. Ketika memilih cerpen, Seno tidak lagi berhenti pada cerpen dalam kaitannya sebagai kanon sastra, “yang sibuk dengan teknikalitas dan virtuositas – yang menerut Seno memang jarang ditemukan – , melainkan lebih memilih “cerpen dalam konteksnya dengan pertarungan idiologi” yang berlangsung pada kurun waktu itu (hal. xvi). Menjadi wajar, apabila cerita-cerita yang terhampar kemudian merupakan serangkaian kisah “pertarungan kepentingan”, di mana kelompok-kelompok bawah, mereka yang terpinggirkan, lingkungan sosial yang merupakan subordinate groups, berusaha melawan dominasi makna dan wacara kelompok sosial yang lebih menguasai, lebih mendominasi. Dan, dari “pertarungan” semacam itulah, “tragisme” bermunculan. Dan karenanya, “tragisme” itu (bisa jadi!) juga muncul (antara lain) karena konsekuensi dari cara kerja editor. Bagaimana dengan “gambaran jaman” yang coba dihadirkan oleh 337 cerpen yang tidak masuk seleksi?

Ada ketidakcermatan kecil yang dilakukan editor. Dalam kerjanya, untuk memperluas spektrum cerita, ia berusaha untuk “tidak memilih kembali penulis yang sudah terpilih”. Tetapi, “ternyata” ada dua nama penulis, yang kalau tidak keliru adalah satu orang, yakni Dharmadji S.S dengan cerpen “Bong Suwung”, dan Dharmaji Sosropuro dengan cerpen “Patek”. Ada indikasi, betapa dua nama itu adalah satu orang. Di biodata singkat, yang muncul hanya nama Dharmadji Sosropuro, yang membuat “bisa menduga-duga” betapa initial S.S di belakang nama Dharmadji adalah singkatan dari Sosropuro. Juga bila kita baca dua cerpen itu, dengan memperhatikan setting cerita kedua cerpen itu, akan terendus kalau keduanya ditulis oleh orang yang tinggal di kota yang sama, yakni Yogya. Kemudian, bila menilik gaya bercerita, yang berada dalam “mazhab realisme”, akan terasa kalau itu ditulis oleh orang yang sama. Dalam catatan saya, di beberapa koran lokal Yogya, memang kerap terjumpai nama Dharmadji Sosoropuro dan Dharmaji S.S, sebagai orang yang sama. Dan setelah saya cek ke beberapa teman, dua nama itu memang adalah orang yang sama.

Tetapi “kekeliruan” kecil itu, justru memberikan gambaran lain tentang cerpen-cerpen yang berkembang masa itu. Dimana “mazhab realisme” yang berkembang mengisyaratkan (1) pemakaian gaya dan cara berbahasa yang “standar”, (2) adanya tema utama, yang nyaris merata dalam keseluruh penulis pada masa itu. Dan sebagai konsekuensinya, (3) struktur cerita pun menjadi relatif serupa, juga (4) adanya hubungan kontekstual dan referensial antara teks-cerita dengan konteks sosialnya. Jangan-jangan dari sinilah kita bisa menelisir “genetika” apa yang sering kita istilahkan sebagai “sastra koran”? Mungkinkah apa yang sering dikeluhkan sebagai beban sosial, aktualitas, yang banyak muncul dalam cerpen-cerpen kita, justru memang merupakan “orientasi estetis” yang sudah mulai dikembangkan sejak masa itu?

Sebagai buku yang merangkum sejarah pertumbuhan cerpen Indonesia, buku ini menjadi relevan ketika dunia penulisan cerpen sudah sedemikian canggih pada saat ini. Saya justru merasakan, betapa “ketidakcanggihan” cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, memperlihatkan spektrum yang membawa kita pada makna sastra. Kedalaman makna yang dicapai melalui cerita yang terkesan “sederhana”, bukan melalui “kecanggihan” bercerita atau berbahasa. Seperti pada cerpen “Hujan Terus Menderu” (Djadjak MD.), atau “Perasaan yang Sangat Ajaib Kosongnya” (Mohamad Diponegoro), betapa saya merasa ada makna yang terus bergema bahkan ketika saya telah lama selesai membacanya.

Saya jadi ingat metafora Budi Darma, ketika mencoba menjelaskan seputar cerita-cerita yang bepretensi “menawarkan keelokan dan kecanggihan nalar bahasa” sebagaimana yang menggejala saat ini. Semua itu – menurut Budi Darma dalam wawantulis dengan Sony Karsono di Jurnal Prosa 3 – “ibarat perempuan yang terlihat anggun, cantik dan nampak cerdas. Namun kalau diajak bicara, ternyata dia tidak secerdas penampilannya, dan karena itu, keanggunannya dan kecantikannya menjadi luntur”.

Apabila membaca sastra ialah satu upaya untuk mencari, menemukan atau memberi makna yang tersedia pada teks-cerita, maka pada beberapa cerpen dalam kumpulan ini, saya menemukan “keanggunan dan kecantikan makna” yang sungguh tidak gampang luntur…

About these ads

12 Responses to “- CERPEN “KOMPAS” PILIHAN 1970-1980”


  1. 1 Mas Kopdang Mei 29, 2008 pukul 10:41 am

    Bung..Anda seorang cerpenis atau kritikus..?

  2. 2 agusnoorfiles Mei 30, 2008 pukul 10:49 am

    Mestinya, saya ingin sekali tak menulis kritik (sastra). Mestinya ini tugas dan kewajiban mereka yang merasa dirinya kritikus sastra. Tapi, apakah yang saya tulis ini, memang kritik sastra? Saya hanya tahu: ada kekosongan kritik sastra. Ini laten, dan makin akut saja, dalam sastra kita. Kadang saya merasa, banyak sekali karya-karya bagus, yang pantas (dan harus) mendapatkan kritik yang layak, agar pembaca makim mahfum, makin tercerahkan, makin bisa bergelut bersama-sama, mencoba membangun dunia makna, atau apa saja. Dan itu, mestinya bisa diemban perannya oleh kritikus sastra kita. Tapi kemana mereka?

  3. 3 cahayasura Juni 12, 2008 pukul 6:38 am

    Adduuhh…panjang banget tulisannya, serius lagi. :-)

  4. 4 rumji Maret 2, 2009 pukul 6:32 am

    Pada buku yang ke berapa tentang kumpulan cerpen kompas yang memuat Linda Christanty dengan cerpen “Daun-Daun Kering” dan Debra H Yasin “Sang Penegak” ?

    Mungkin perlu ada buku tentang semua cerpen yang pernah dimuat di kompas sejak harian kompas mulai ada di Bumi ini. Bagusnya memang dibagi tiap tahun seperti sejak tahun 2003 sampai sekarang.

    Trima kasih

  5. 5 ruger Maret 2, 2009 pukul 6:34 am

    Adakah cerpen yang pernah dimuat di kompas tapi dimuat juga di media lain?

  6. 6 agusnoorfiles Maret 2, 2009 pukul 2:41 pm

    Pernah terjadi beberapa kejadian, dua cerpen di muat di dua media, bahkan ada cerpen dimuat di lebih dari dua media. Begitu pun, pernah ada satu cerpen yang dimuat Kompas, muncul di media lain. Tapi, biasanya, itu karena faktor tekhnis: pengarang mengirimkan cerpen itu ke beberapa media, kemudian karena tak ada konfirmasi maka cerpen itu muncul di media berlainan.

  7. 7 agusnoorfiles Maret 2, 2009 pukul 2:49 pm

    Dua cerpen yang kamu sebut, adalah cerpen-cerpen yang memenankan lomba penulisan cerpen Kompas. Di tahun 80an, Kompas memang pernah menenggarakan lomba penulisan cerpen, dan pemenangnya cerpen Debra Yatim itu. Buku “Dua Kelamin bagi Midin” adalah pilihan cerpen yang pernah terbit sejak mula Kompas. Lalu dilanjutkan “Riwayat Negeri Haru” yang dieditori Radhar Panca Dahana. Setelah itu, Kompas menerbitkan buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas, sejak yag berjudul “Kado Istimewa”, hingga sekarang…

  8. 8 muri Maret 14, 2009 pukul 12:08 pm

    nuwon sewu. saya adalah penggemar sastra ( pembaca ). Lama-kelamaan saya pengen juga nulis, saya belajar nulis cerpen kira2 sudah 5-6 tahun,sampai sekarang blas ngga’ bisa. saya sudah punya buku2 penulisan, buku2 kumpulan cerpen satu lemari.saya sampai nangis karena ngga’ bisa2 nulis. terus saya browsing2 internet sampe bokongku tepos, sampai akhirnya sekarang dengan berbagai perjuangan bisa kerja jadi operator warnet ( akhirnya ) supaya browsing gratis. bagi yang membaca tulisanku ini terutama tuan rumah Mr. agus noor,tolong sara2nya.aku juga punya buku2 agus noor lho :Kepada bapak presiden yang terhormat,rendervous,selingkuh itu indah ( yang terakhir dipinjam temenku dan katanya ilang.sampe sekarang aku masih benci ma tu orang ).terima kasih

  9. 9 agusnoorfiles Maret 14, 2009 pukul 4:09 pm

    mungkin aku ada sedikit saran, yang bisa dipakai untuk memulai “belajar” menulis. Pertama, untuk menjadi penulis yang bagus harus bisa menyusun bahasa atau kalimat yang bagus dulu. DUlu, saya memulai dari nasehat ini juga.
    Saya, mula-mula menulis, tidak dengan harapan berhasil menuliskan satu cerpen. tetapi belajar dulu menyusun bahasa, dalam hal ini diskripsi. Nah, kamu bisa memulai, misalkan mendiskripsikan ruangan di mana kamu kerja. Atau kamar kamu. Atau rumah kamu. Kemudian bisa juga kamu belajar dulu mendiskripsikan orang-orang yang kamu anggap menarik: matanya, wajahnya, cara jalannya, atau sesuatu yang menarik dari orang itu. nah, itu akan membentuk kemampuanmu menyusun kalimat. atau kamu bisa menulsikan peristwa dalam satu harimu, lanaskap yg kamu lihat, gerimis, hujan, bunga dan sebagainya. Ini akan berguna akan kita menjadi lancar terlebih dulu menyusun kalimat, membangun metafora, gaya bahasa dan sebagainya.
    Soalnya, bila belum-belum kita ngotot bisa menghasilkan satu kisah, alih-alih berhasil kadangkala malah frustasi. Cobalah ini dulu. Bila kamu sudah merasa lanacr dan mahir, mulailah menyusun satu plot cerita..

  10. 10 muri Maret 16, 2009 pukul 3:38 pm

    mr.agus noor,terima kasih sekali. Jujur saja aku terharu banget dapat balasan. Seniman yang paling aku hargai adalah penulis dan aku menganggap penulis bagaikan Dewa karena hanya dengan huruf kemudian kata kemudian kalimat kemudian paragraf bisa mempengaruhi manusia bahkan dunia, bisa membawa perubahan. pernah aku berpikir pada saat aku frustasi: Para penulis itu makanannya apa sik…..Terima kasih sarannya.

  11. 11 ibe Komadu April 19, 2010 pukul 8:06 am

    Apakah cerpen Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Ajip Rosidi, Ayatrohaedi, Suman Hs, Julius S.Sirayanamual, Nasjah Djamin, Umbu Landu Paranggi, Leon Agusta, Titis Basino, Hanna Rambe, Rivai Apin, Leila S Chudori, Nining I Soesilo, HB Jassin, Maroeli Simbolon, Idrus, Asrul Sani, H.Munawar Kalahan, Linus Suryadi AG, Jamal D.Rahman dan Yvonne de Fretes pernah dimuat di Kompas dan terpilih sebagai cerpen terbaik?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Point your camera phone at the QR code below : qrcode


enter this URL on your mobile : http://buzzcity.mobi/agusnoorfiles
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives Files

Photo Files

COVER BUKU PUISI CIUMAN

Kumpulan cerpen Agus Noor

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

More Photos

Catagories of Files


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 417 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: