<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: - Orientasi Estetis Cerpen KOMPAS</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 14:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: &#8211; Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS &#171; Agus Noor_files</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-718</link>
		<dc:creator>&#8211; Perihal Cerpen-cerpen Terbaik KOMPAS &#171; Agus Noor_files</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 09:41:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-718</guid>
		<description>[...] ending yang &#8220;sangat moralis&#8221; seperti itu. Pesan sosial cerpen Smokol menjadi jelas, (dan ini sangat khas cerpen Kompas) karena ending-nya [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] ending yang &#8220;sangat moralis&#8221; seperti itu. Pesan sosial cerpen Smokol menjadi jelas, (dan ini sangat khas cerpen Kompas) karena ending-nya [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: rewn</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-384</link>
		<dc:creator>rewn</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 08:18:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-384</guid>
		<description>hoii met kenal juga ya semua nya salam bahagia buat kalian semua wahai jiwa jiwa sang pecinta....sebarkan cinta dan damai niscaya dunia jadi lebih bersahabat dengan kita semua</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hoii met kenal juga ya semua nya salam bahagia buat kalian semua wahai jiwa jiwa sang pecinta&#8230;.sebarkan cinta dan damai niscaya dunia jadi lebih bersahabat dengan kita semua</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: triyanto triwikromo</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-95</link>
		<dc:creator>triyanto triwikromo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 05:28:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-95</guid>
		<description>Tentang redaktur luar, o, saya membayangkan Eka Kurniawan bisa menjadi &quot;Redaktur Luar&quot;-nya Media Indonesia. Sayang MI yang pernah menjadi salah satu alternatif penting untuk mengekspresikan keindahan sastra Indonesia tak memiliki rubrik sastra hanya karena tak memiliki redaktur andal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tentang redaktur luar, o, saya membayangkan Eka Kurniawan bisa menjadi &#8220;Redaktur Luar&#8221;-nya Media Indonesia. Sayang MI yang pernah menjadi salah satu alternatif penting untuk mengekspresikan keindahan sastra Indonesia tak memiliki rubrik sastra hanya karena tak memiliki redaktur andal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ekakurniawan</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-74</link>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 03:15:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-74</guid>
		<description>wah, yg mengetahui prosedur tentu saja koran masing2. tapi mengenai tenaga out-sourching ini, kompas tampaknya emang punya tradisi. Selain Hasif amini mengurusi halaman puisi, ada juga radar panca dahana yang ngurusin halaman teroka. mereka berdua jelas bukan karyawan Kompas; tapi mereka dibayar untuk pekerjaan tersebut. kupikir sesederhana itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, yg mengetahui prosedur tentu saja koran masing2. tapi mengenai tenaga out-sourching ini, kompas tampaknya emang punya tradisi. Selain Hasif amini mengurusi halaman puisi, ada juga radar panca dahana yang ngurusin halaman teroka. mereka berdua jelas bukan karyawan Kompas; tapi mereka dibayar untuk pekerjaan tersebut. kupikir sesederhana itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: monasjunior</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-72</link>
		<dc:creator>monasjunior</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 08:00:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-72</guid>
		<description>Mmm.. lembaga seleksi, penggunaan &#039;orang luar&#039;, saya pikir ini praktek yang patut dicontoh. Kalau bisa, maukah Mas Eka menjabarkan prosedure pemanfaatan orang luar seperti diterapkan di Kompas atau Tempo tersebut? Mudah-mudahan, kami-kami di daerah bisa menirunya demi kebajikan seni khususnya wilayah sastra.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mmm.. lembaga seleksi, penggunaan &#8216;orang luar&#8217;, saya pikir ini praktek yang patut dicontoh. Kalau bisa, maukah Mas Eka menjabarkan prosedure pemanfaatan orang luar seperti diterapkan di Kompas atau Tempo tersebut? Mudah-mudahan, kami-kami di daerah bisa menirunya demi kebajikan seni khususnya wilayah sastra.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ekakurniawan</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-71</link>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 14:39:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-71</guid>
		<description>atau, ketika Kompas merasa tak memiliki &quot;orang dalam&quot; untuk mengurusi halaman sastranya, mereka akan memakai orang luar. contoh terbaik adalah halaman puisi Kompas: mereka pernah memakai Sutardji, dan sekarang Hasif Amini. Begitu pula Koran Tempo memakai &quot;orang luar&quot;: Nirwan Dewanto. tentu hal ini sangat ditentukan oleh kultur media bersangkutan untuk &quot;legowo&quot; memberikan beberapa halaman kepada yg mereka pikir lebih mampu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>atau, ketika Kompas merasa tak memiliki &#8220;orang dalam&#8221; untuk mengurusi halaman sastranya, mereka akan memakai orang luar. contoh terbaik adalah halaman puisi Kompas: mereka pernah memakai Sutardji, dan sekarang Hasif Amini. Begitu pula Koran Tempo memakai &#8220;orang luar&#8221;: Nirwan Dewanto. tentu hal ini sangat ditentukan oleh kultur media bersangkutan untuk &#8220;legowo&#8221; memberikan beberapa halaman kepada yg mereka pikir lebih mampu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-69</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 02:08:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-69</guid>
		<description>Sungguh persoalan yang menarik. Siapa yang bisa dan mau urun rembug, bertukar pikiran soal ini? Pasti menarik, bila banyak pikiran yang terlibat. Saya juga merasa: betapa pada banyak hal, rubrik sastra sangat identik dengan Sang Redaktur. Bukankah, dulu, majalah Sastra juga tak bisa dipisahkan dengan Jassin. Ato seperti Pujangga Baru dan STA?
Mestinya, sebagai lembaga, rubrik sastra bisa menjadi institusi yang tak terlalu terkait dengan personalitas redaktur. Kompas, saya kira, bisa mewujudkan itu lantaran sistem yang dibangunnya: untuk menentukan sebuah karya, dipilih oleh tim redaktur, bukan ditentukan oleh satu orang yang memiliki otoritas tunggal. Artinya, Kompas berupanya memperkuat lembaga seleksinya, bukan otoritas seleksi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh persoalan yang menarik. Siapa yang bisa dan mau urun rembug, bertukar pikiran soal ini? Pasti menarik, bila banyak pikiran yang terlibat. Saya juga merasa: betapa pada banyak hal, rubrik sastra sangat identik dengan Sang Redaktur. Bukankah, dulu, majalah Sastra juga tak bisa dipisahkan dengan Jassin. Ato seperti Pujangga Baru dan STA?<br />
Mestinya, sebagai lembaga, rubrik sastra bisa menjadi institusi yang tak terlalu terkait dengan personalitas redaktur. Kompas, saya kira, bisa mewujudkan itu lantaran sistem yang dibangunnya: untuk menentukan sebuah karya, dipilih oleh tim redaktur, bukan ditentukan oleh satu orang yang memiliki otoritas tunggal. Artinya, Kompas berupanya memperkuat lembaga seleksinya, bukan otoritas seleksi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: monasjunior</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-67</link>
		<dc:creator>monasjunior</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 11:06:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-67</guid>
		<description>Mmm yah, ini sebenarnya menarik. Yang lebih menarik, kami --mungkin bisa disebut penggiat sastra di daerah--, lebih tertarik bagaimana Kompas bisa menghidupkan sistem kesusastraannya pada halaman khusus mereka selama bertahun-tahun. Maksud saya, Sastra di Kompas tetap eksis, tidak berpengaruh terhadap peralihan generasi, alias, mempunyai proses regenerasi yang kuat. Patut dicontoh (ini pernyataan jujur dan tulus, tidak ada unsur paksaan apapun, red).

Sementara di media-media lokal, khususnya terbitan provinsi maupun kabupaten, dari tahun ke tahun melulu mengandalkan individu guna kemajuan halaman budaya mereka (terutama halaman yang memuat karya-karya sastra). 

Misalnya di Jambi, ada harian Jambi Independent, Jambi Ekspress dan Posmetro Jambi yang selalu eksis memuat karya-karya sastra pada koran mereka setiap hari Minggu. Malangnya, (karena saya berada di dalam lingkungan salah satu koran ini) saya jadi tahu, bahwa kemajuan kesusastraan media di Jambi, berbanding sejajar dengan individu si Redaktur Budaya.

Misalnya; si Badu adalah wartawan yang juga penggiat sastra di Jambi, diserahkan tanggungjawab sebagai redaktur halaman budaya di medianya, otomatis halaman itu sekaligus media itu, akan memiliki kekuatan khusus bagi dunia sastra untuk beberapa saat. Tetapi, begitu si Badu di mutasi ataupun dipindahtugaskan sebagai redaktur halaman lain, otomatis halamn budaya maupun media itu, seketika kehilangan &#039;roh&#039;. Kembali gersang tersebab pemegang halaman (redaktur)-nya, orang &#039;baru&#039;, yang seringkali tak berpengalaman di wilayah kesusastraan? 

Nah, pertanyaannya? Bagaimana di media nasional selain Kompas? Apakah juga terjadi seperti di media lokal, alias, kemajuan kesusastraan amat mengandalkan kemampuan individu redaktur atau penanggungjawab halaman budaya? Mungkin Mas bisa bantu jembatani. Atau rekan-rekan yang lain.

Terima Kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mmm yah, ini sebenarnya menarik. Yang lebih menarik, kami &#8211;mungkin bisa disebut penggiat sastra di daerah&#8211;, lebih tertarik bagaimana Kompas bisa menghidupkan sistem kesusastraannya pada halaman khusus mereka selama bertahun-tahun. Maksud saya, Sastra di Kompas tetap eksis, tidak berpengaruh terhadap peralihan generasi, alias, mempunyai proses regenerasi yang kuat. Patut dicontoh (ini pernyataan jujur dan tulus, tidak ada unsur paksaan apapun, red).</p>
<p>Sementara di media-media lokal, khususnya terbitan provinsi maupun kabupaten, dari tahun ke tahun melulu mengandalkan individu guna kemajuan halaman budaya mereka (terutama halaman yang memuat karya-karya sastra). </p>
<p>Misalnya di Jambi, ada harian Jambi Independent, Jambi Ekspress dan Posmetro Jambi yang selalu eksis memuat karya-karya sastra pada koran mereka setiap hari Minggu. Malangnya, (karena saya berada di dalam lingkungan salah satu koran ini) saya jadi tahu, bahwa kemajuan kesusastraan media di Jambi, berbanding sejajar dengan individu si Redaktur Budaya.</p>
<p>Misalnya; si Badu adalah wartawan yang juga penggiat sastra di Jambi, diserahkan tanggungjawab sebagai redaktur halaman budaya di medianya, otomatis halaman itu sekaligus media itu, akan memiliki kekuatan khusus bagi dunia sastra untuk beberapa saat. Tetapi, begitu si Badu di mutasi ataupun dipindahtugaskan sebagai redaktur halaman lain, otomatis halamn budaya maupun media itu, seketika kehilangan &#8216;roh&#8217;. Kembali gersang tersebab pemegang halaman (redaktur)-nya, orang &#8216;baru&#8217;, yang seringkali tak berpengalaman di wilayah kesusastraan? </p>
<p>Nah, pertanyaannya? Bagaimana di media nasional selain Kompas? Apakah juga terjadi seperti di media lokal, alias, kemajuan kesusastraan amat mengandalkan kemampuan individu redaktur atau penanggungjawab halaman budaya? Mungkin Mas bisa bantu jembatani. Atau rekan-rekan yang lain.</p>
<p>Terima Kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-63</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 07:24:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-63</guid>
		<description>Hhmm... asyik juga tuh isyu ato bocorannya. Kita tunggu aja. Dan, minggu-minggu ini, emang minggu-minggu yang ditunggu oleh para penulis yang cerpennya muncul di Kompas setahun lalu, kan? Hehehe... Sebagaimana biasanya, minggu-minggu ini akan datang surat yang akan memberitahukan kalo &quot;cerpen kita&quot; terpilih masuk ato tidak. &quot;Penafsir Kebahagiaan&quot; mestinya masuk. Kamu lagi banyak berdoa, ya, Ka?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hhmm&#8230; asyik juga tuh isyu ato bocorannya. Kita tunggu aja. Dan, minggu-minggu ini, emang minggu-minggu yang ditunggu oleh para penulis yang cerpennya muncul di Kompas setahun lalu, kan? Hehehe&#8230; Sebagaimana biasanya, minggu-minggu ini akan datang surat yang akan memberitahukan kalo &#8220;cerpen kita&#8221; terpilih masuk ato tidak. &#8220;Penafsir Kebahagiaan&#8221; mestinya masuk. Kamu lagi banyak berdoa, ya, Ka?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ekakurniawan</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/orientasi-estetis-cerpen-kompas/#comment-59</link>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 17:47:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/?p=72#comment-59</guid>
		<description>tradisi juri dari luar kompas kayaknya bakal terus berlanjut. kudengar (perlu konformasi) untuk tahun 2008, jurinya Sapardi dan Ayu Utami (saya tidak tahu ini rahasia apa tidak. kalo rahasia, jelas udah bocor, hehehe). seperti apa seleranya, perlu ditunggu beberapa minggu lagi ... :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tradisi juri dari luar kompas kayaknya bakal terus berlanjut. kudengar (perlu konformasi) untuk tahun 2008, jurinya Sapardi dan Ayu Utami (saya tidak tahu ini rahasia apa tidak. kalo rahasia, jelas udah bocor, hehehe). seperti apa seleranya, perlu ditunggu beberapa minggu lagi &#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
