Dear Agus Noor…
Bisakah saya minta sedikit penjelasan seputar ide cerpen Permen yang Anda tulis? Cerpen itu pernah dimuat di Kompas, 5 Juni 2007. Saya saat ini sedang mendapat tugas untuk menganalisis sebuah cerpen, dan saya memilih cerpen Permen itu….
Ah, masihkah perlu seorang penulis menjelaskan apa yang telah ditulisnya? Maka saya pun tak terlalu menanggapi pertanyaan yang dikirim lewat email itu. Saya takut, ketika saya memberikan “testimoni”, maka itu menjadi satu-satunya tafsir tunggal yang dianggap sahih. Kenapa kita tak baca saja cerpen itu sebagai sebuah teks, dan setiap kepala bebas mengimajinasikannya? Tentu itu akan lebih memperkaya cara kita membaca, menafsir, dan melihat dunia… Karna itu, Puan dan Tuan, sila baca saja cerpen itu… Lanjutkan membaca ‘- PERMEN’





Comments of Files