Arsip untuk Januari 10th, 2008

- Potongan Fragmen “SIDANG SUSILA”

Inilah bocoran dari naskah Sidang Susila, yang akan di pentaskan Teater Gandrik!

Mulai tanggal 21 Februari 2008, Teater Gandrik akan mementaskan lakon Sidang Susila. Naskah lakon ini ditulis oleh Ayu Utami dan Agus Noor. Sebuah kolaborasi estetis yang cukup memikat, mengingat keduanya merupakan dua penulis papan atas Indonesia. Teater Gandrik sendiri merupakan kelompok yang bermastuatin di Yogyakarta, dan telah menghasilkan beberapa repertoar yang menjadi bagian sejarah teater Indonesia. Ciri khas dari kelompok Teater Gandrik ialah pola teater sampakan, yang mengolah jagat pemanggungan sebagai bangunan dramatik yang serius tetapi juga main-main dalam pemahaman semangat teater rakyat.

Latihan awal “Sidang Susila” Teater Gandrik
Sidang Susila merupakan lakon bergaya satir seputar rezim yang ingin memonopoli kebenaran moralitas. Rezim Moral itu berkeyakinan bahwa proyek moral mesti diselenggarakan untuk mencapai ketertiban moral. Untuk itulah diperlukan Undang-undang Dasar Moral Negara. Ketika undang-undang tersebut ditetapkan, maka monopoli dan penguasaan atas kebenaran moralitas pun menjadi cara untuk menangkapi para warga yang dianggap mengganggu stabilitas moral negara. Nah, salah satu warga yang dianggap tidak bermoral itu adalah Susila. Dia menjadi orang yang dianggap sebagai “penjahat moral” pertama yang ditangkap dan disidangkan.

Kira-kira begitu inti ceritanya.

Ssssstttt…

Ada juga bocoran yang pasti menarik: lakon Sidang Susila ini juga akan disutradarai oleh Butet Kartaredjasa. Wow! Jelas menarik, kan? Butet yang selama ini lebih banyak tampil sebagai aktor, kini “naik derajatnya” jadi: sutradara. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Butet jadi sutradara teater. Sebelumnya ia juga pernah menyutradarai lakon Inspektur Agung (karya Nicolas Gogol) bersama Teater Paku. Ada satu hal lagi yang menarik: pada Sidang Susila ini, Butet juga akan memerankan satu karakter tokoh yang menarik… (Tahu gak, sepanjang karier keaktorannya, baru kali inilah Butet memerankan karakter sebagaimana di Sidang Susila ini! Tapi, Maaf, untuk sementara belum bisa dibocorkan). Penasaran, kan? Makanya, jangan sampai lewatkan pertunjukan ini.

Tapi kalau pingin tahu bocoran naskah Sidang Susila, sudah diijinkan. Simak saja petikan fragmen dari lakon tersebut di bagian berikut. Sebuah fragmen yang menggambarkan bagaimana Susila disidang sebagai pesakitan moral. Lanjutkan membaca ‘- Potongan Fragmen “SIDANG SUSILA”’

- A Full Moon Rising over the Town

tuk-wp.jpgForce Majeure” merupakan tema Utan Kayu International Literary Biennale tahun 2007. Pada event sastra itu, para sastrawan dari pelbagai Negara bertemu dan membacakan karya-karyanya. Datang, antara lain Arup Kumar Dutta (India), Chris Keulemans (Netherlands), Cyril Wong (Singapura), Edmundo Paz Soldan (Bolivia), Feryal Ali-Gauhar (Pakistan), Gassan Zaqtan (Palestine), Hau Yu-hsiang (Taiwan) Hassan Daoud (Lebanon), Idanna Pucci (Italy), Jerome Kugan (Malaysia), Kimberly M. Blaeser (USA), Sam Wagan Watson (Australia), Sharanya Manivannan (India), Shin Joon Seun (South Korea), dll. Sementara sastrawan dari Indonesia antara lain Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Shindunata, Darmanto Jatman, Dewi Lestari, Joko Pinurbo, Agus Noor dan beberapa nama lainnya.

Pada Utan Kayu International Literary Biennale itu, Agus Noor tampil membawakan repertoar pendek yang didasarkan atas cerpennya Purnama di Atas Kota. Terjemahan cerpen tersebut, A Full Moon Rising over the Town, bisa dibaca di sini:
Lanjutkan membaca ‘- A Full Moon Rising over the Town’


 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives Files

Photo Files

Buku Pena Kencana 2009

PRESIDEN GUYONAN

Potongan Cerita di Kartu Pos

Kumpulan Cerpen "Selingkuh Itu Indah"

More Photos

Catagories of Files