<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: - Cerita yang Bergelut dengan Bahasa</title>
	<atom:link href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/</link>
	<description>Dunia Para Penyihir Bahasa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 14:09:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-619</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 19:00:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-619</guid>
		<description>&quot;kebanyakan&quot; masyarakat kita, saat ini, memang lebih membutuhkan hiburan ketika membaca (sastra). Barangali ini karena faktor tradisi membaca masyarakat kita. Orang yang hanya membutuhkan hiburan saat membaca, pasti mencari bacaan-bacaan yg menghibur juga. Tapi saya percaya, ada pembaca yang tidak semata membutuhkan hiburan. Atda pembaca yang membutuhkan tantangan atas bacaan yang dihadapinya...
Dalam menghadapi itu, setiap pengarang akan mengambil jalannya sendiri-sendiri. Bila ingin memenuhi kebanyakan selera pembaca, penuhilan kebutuhan itu. Bila tidak, ia akan mengambil pembaca yang &quot;sedikit&quot; itu.
Ada memang, pengarang yang ingin &quot;berumit-rumit&quot;, meski ada peluang untuk menyampaikannya dengan sederhana. tetapi ini menyangkut gaya dan jalan yang dipilih oleh penulis. Setiap penulis ingin membangun &quot;rumahnya&quot;, &quot;identitasnya&quot;. Ini memang jargon modernisme, yang mengunggulkan otentisitas dalam diri manusia (pengarang). Sebagai penulis, saya sendiri ingin selalu menemukan &quot;bahasa ungkap&quot; atau metafora yang segar, yang mungkin menggugah dan menginspirasi pembaca.
Pada tulisan saya ini, memang ada kecenerungan besar dari penulis kita yang sibuk dengan gaya, sibuk menemukan strukur penceritaan (yang barangkali teresan ruwet), tetapi, itu mungkin pilihan estetiknya. terhadap ini, sebenranya sikap kita gampang: tinggal hentikan saja membacanya, dan pilih bacaan yang menurut kita lebih bagus. Kalau setiap penulis &quot;berhak&quot; mengembangkan gaya tulisannya, maka pembaca pun &quot;berhak&quot; memilih bacaan yg disukainya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;kebanyakan&#8221; masyarakat kita, saat ini, memang lebih membutuhkan hiburan ketika membaca (sastra). Barangali ini karena faktor tradisi membaca masyarakat kita. Orang yang hanya membutuhkan hiburan saat membaca, pasti mencari bacaan-bacaan yg menghibur juga. Tapi saya percaya, ada pembaca yang tidak semata membutuhkan hiburan. Atda pembaca yang membutuhkan tantangan atas bacaan yang dihadapinya&#8230;<br />
Dalam menghadapi itu, setiap pengarang akan mengambil jalannya sendiri-sendiri. Bila ingin memenuhi kebanyakan selera pembaca, penuhilan kebutuhan itu. Bila tidak, ia akan mengambil pembaca yang &#8220;sedikit&#8221; itu.<br />
Ada memang, pengarang yang ingin &#8220;berumit-rumit&#8221;, meski ada peluang untuk menyampaikannya dengan sederhana. tetapi ini menyangkut gaya dan jalan yang dipilih oleh penulis. Setiap penulis ingin membangun &#8220;rumahnya&#8221;, &#8220;identitasnya&#8221;. Ini memang jargon modernisme, yang mengunggulkan otentisitas dalam diri manusia (pengarang). Sebagai penulis, saya sendiri ingin selalu menemukan &#8220;bahasa ungkap&#8221; atau metafora yang segar, yang mungkin menggugah dan menginspirasi pembaca.<br />
Pada tulisan saya ini, memang ada kecenerungan besar dari penulis kita yang sibuk dengan gaya, sibuk menemukan strukur penceritaan (yang barangkali teresan ruwet), tetapi, itu mungkin pilihan estetiknya. terhadap ini, sebenranya sikap kita gampang: tinggal hentikan saja membacanya, dan pilih bacaan yang menurut kita lebih bagus. Kalau setiap penulis &#8220;berhak&#8221; mengembangkan gaya tulisannya, maka pembaca pun &#8220;berhak&#8221; memilih bacaan yg disukainya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: novitasridewi</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-613</link>
		<dc:creator>novitasridewi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 06:29:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-613</guid>
		<description>salam kenal ms agus,

menurut saya, masyarakat pada umumnya lebih membutuhkan hiburan dari cerita yang ditawarkan.

bagaimana pengarang dapat memahami situasi ini?

mengingat peran penting yang (seharusnya) diemban pengarang yakni menghadirkan pesan bermutu melalui suguhan cerita yang menarik -dapat dimengerti tanpa harus mengerutkan kening terlebih dahulu-.seringkali ketika saya membaca suatu karya, dengan &#039;nyambi&#039; membuka kamus istilah dari beragam disiplin ilmu (sebagai referensi/alat bantu pemahaman).namun saat saya menemukan maknanya, saya jadi kecewa, ternyata pengungkapan tersebut sebenarnya dapat digunakan cara yang lebih sederhana.bayangkan, jika kebanyakan pembaca harus membuang sekian waktunya untuk mengejar sesuatu yang (maaf)sebenarnya tidak terlalu penting?

terimakasih, maju terus pengarang Indonesia . . . .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal ms agus,</p>
<p>menurut saya, masyarakat pada umumnya lebih membutuhkan hiburan dari cerita yang ditawarkan.</p>
<p>bagaimana pengarang dapat memahami situasi ini?</p>
<p>mengingat peran penting yang (seharusnya) diemban pengarang yakni menghadirkan pesan bermutu melalui suguhan cerita yang menarik -dapat dimengerti tanpa harus mengerutkan kening terlebih dahulu-.seringkali ketika saya membaca suatu karya, dengan &#8216;nyambi&#8217; membuka kamus istilah dari beragam disiplin ilmu (sebagai referensi/alat bantu pemahaman).namun saat saya menemukan maknanya, saya jadi kecewa, ternyata pengungkapan tersebut sebenarnya dapat digunakan cara yang lebih sederhana.bayangkan, jika kebanyakan pembaca harus membuang sekian waktunya untuk mengejar sesuatu yang (maaf)sebenarnya tidak terlalu penting?</p>
<p>terimakasih, maju terus pengarang Indonesia . . . .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-283</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 13:43:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-283</guid>
		<description>langitjiwa,salam kenal. aku pun ingin menyelam dalam pengetahuanmu, pengetahuan siapa saja, dari mana saja...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>langitjiwa,salam kenal. aku pun ingin menyelam dalam pengetahuanmu, pengetahuan siapa saja, dari mana saja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: langitjiwa</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-281</link>
		<dc:creator>langitjiwa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 10:05:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-281</guid>
		<description>ajari aku,mas noor. pada samudera ilmumu.
dan salam kenal selalu dariku langitjiwa

salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ajari aku,mas noor. pada samudera ilmumu.<br />
dan salam kenal selalu dariku langitjiwa</p>
<p>salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agusnoorfiles</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-277</link>
		<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 10:30:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-277</guid>
		<description>Duh, ko mampirnya sebentar, jd nggak sempet ketemu. Hehehe. Semoga kamu makin tekun menulis...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Duh, ko mampirnya sebentar, jd nggak sempet ketemu. Hehehe. Semoga kamu makin tekun menulis&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: harie insani putra</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-276</link>
		<dc:creator>harie insani putra</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 14:12:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-276</guid>
		<description>mampir di sini...jabat tangan....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mampir di sini&#8230;jabat tangan&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: si pemimpi</title>
		<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-43</link>
		<dc:creator>si pemimpi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 05:24:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/30/cerita-yang-bergelut-dengan-bahasa/#comment-43</guid>
		<description>ya...mungkin lbh matang urusan eksperimentasi, tp lebih buruk dlm hal 1. logika cerita 2. kedalaman perenungan &amp; sublimasi cerita &amp; terlalu mengejar &#039;keanehan&#039; 3. terlalu terbelenggu budaya cerpen koran. begitu menurut sy mas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya&#8230;mungkin lbh matang urusan eksperimentasi, tp lebih buruk dlm hal 1. logika cerita 2. kedalaman perenungan &amp; sublimasi cerita &amp; terlalu mengejar &#8216;keanehan&#8217; 3. terlalu terbelenggu budaya cerpen koran. begitu menurut sy mas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
